
Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas ranjang sambil memainkan ponsel ku kembali. Suasana hening dan mencekam pun kembali terjadi, di dalam kamar. Aku tetap memilih diam, tanpa bertanya apa pun pada suamiku itu.
"Kenapa sikap mu sekarang berubah, dek?"
Bang Darma bertanya, tanpa menoleh sedikit pun pada ku. Dia tetap fokus dengan ponsel nya sendiri. Aku reflek menoleh pada nya, dengan kening yang mengkerut bingung.
"Yang berubah itu aku atau kau, bang? Jangan memperkeruh keadaan lah! Udah jelas-jelas yang salah itu mereka berdua, kenapa jadi aku yang di pojok kan?" tanya ku.
"Iya, mereka memang salah. Tapi, kau juga salah, dek." balas bang Darma.
"Emang nya, dimana letak kesalahan ku?" tanya ku penasaran.
"Tindakan mu tadi sudah benar-benar keterlaluan, dek. Kau tadi hampir mencelakakan Dina, tau gak!" balas bang Darma mulai ngegas.
"Aku hanya membalas perbuatan nya, apa itu salah? Apa abang gak lihat, dia menampar pipi ku tadi, hah?"
Aku mulai tersulut emosi lagi, akibat ucapan bang Darma yang seolah-olah memojokkan ku. Ternyata, dia masih tidak terima atas perbuatan ku, pada mantan istri nya tadi.
"Iya, abang lihat kok. Tapi, bukan begitu cara membalas nya, dek. Perbuatan mu itu terlalu kejam, tau gak!" balas bang Darma
Dia masih tetap kekeuh menyalahkan ku. Setelah mendengar jawaban bang Darma, aku pun langsung duduk di hadapan nya. Aku menatap tajam mata nya. Melihat aku duduk, bang Darma pun ikut mendudukkan dirinya di depan ku.
"Kenapa, abang terus memojokkan ku? Kenapa, abang terus menyalahkan ku? Kenapa, abang terus menerus membela mereka berdua? KENAPA?" pekik ku.
Aku memberikan pertanyaan beruntun kepada suami ku itu. Bang Darma langsung terdiam seketika, dia terlihat salah tingkah. Karena mendapatkan tatapan yang menusuk dari ku. Setelah menghembuskan nafas kasar, bang Darma pun kembali bersuara.
"Siapa yang memojokkan dan menyalahkan mu sih, dek? Dan siapa juga, yang membela mereka?" tanya bang Darma balik.
"Ya abang lah, emang nya siapa lagi kalo bukan abang?" balas ku tak mau kalah.
"Abang gak ada maksud sedikit pun untuk membela mereka, dek. Hanya saja, abang tidak suka melihat tindakan nekat mu tadi. Itu aja kok, gak ada maksud lain lagi." jawab bang Darma.
"Emang nya kenapa, dengan aksi nekat ku tadi. Abang gak rela ya, kalau aku menyakiti Dina?" selidik ku.
__ADS_1
Bang Darma langsung tertunduk, dia tidak berani menatap wajah ku. Yang sudah tampak merah padam, dan terlihat menyeramkan tersebut. Ya, memang ku akui, aku sangat emosi dan geram melihat bang Darma saat ini.
Ingin rasa nya, aku mencakar wajah yang ada di hadapanku sekarang. Karena tidak mendapatkan jawaban dari bang Darma. Akhirnya, aku pun membentaknya dengan suara yang cukup menggema, di dalam kamar.
"JAWAB, BANG!"
Bang Darma langsung tersentak kaget, dan reflek mendongakkan kepala nya, karena mendengar bentakan ku. Nafas ku terasa semakin sesak, akibat emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
"Kau itu apa-apaan sih, udah mulai berani kau melawan ku, ya?" jawab bang Darma sambil mengepalkan tangannya.
"Selagi aku di jalan yang benar, aku tidak akan pernah takut pada siapapun, kecuali pada yang maha kuasa." balas ku lantang.
"Jangan mentang-mentang aku selalu diam, kau seenak nya aja menginjak-injak harga diri ku. Jangan kau pikir, aku takut dengan mu!"
"Selama ini aku memang diam. Tapi, bukan berarti aku takut dengan kalian semua, ingat itu baik-baik!" lanjut ku.
Akhirnya, semua uneg-uneg ku itu pun pecah. Emosi ku kembali meledak-ledak pada bang Darma. Aku sangat kesal, kecewa dan geram. Semua rasa itu, campur aduk jadi satu pada bang Darma saat ini.
Bang Darma menggantung ucapan nya. Dia kembali membuang nafas kasar, dan kepalan tangan nya memukul ranjang dengan kuat. Melihat reaksi bang Darma seperti itu, aku pun kembali bertanya pada nya.
"Kalau tidak, apa? Apa yang akan kau lakukan? Kau mau pukul aku, atau kau mau kita pisah, hah? Jawab sekarang! Biar aku tau, biar aku bisa menentukan jalan hidup ke depan nya." desak ku.
Bang Darma langsung membelalakkan mata nya. Dia tampak sangat terkejut, mendengar pertanyaan ku barusan. Raut wajah nya tampak sangat gusar dan frustasi. Bang Darma menarik-narik rambut nya sendiri, dengan kedua tangan nya.
Setelah emosi nya sedikt mereda, bang Darma akhirnya melunak. Dia kembali bersuara dengan nada rendah, tidak segarang waktu pertama tadi.
"Kau itu ngomong apa sih, dek? Jangan pernah lagi berkata pisah, sama abang ya, dek! Abang paling tidak suka mendengar kata-kata itu, dari bibir mu." pinta bang Darma mulai memelas.
"Trus, mau mu sekarang itu apa, hah?" tanya ku.
Bang Darma kembali terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Wajah nya tampak semakin bingung dan gelisah tidak karuan.
"Jangan pernah menantang ku atau pun merendahkan ku, bang! Aku ini masih muda, wajah ku juga tidak jelek. Masih banyak laki-laki di luar sana, yang mau menjadi suami ku." lanjut ku.
__ADS_1
"Kok ngomong nya gitu sih, dek? Abang kan cuma ingin melarang mu, untuk melakukan hal-hal yang sudah di luar batas kewajaran. Kenapa jadi kemana-mana sih, ngomong nya?" balas bang Darma.
"Udah lah, aku capek! Capek hati, capek badan, capek pikiran juga. Semua ini gara-gara ulah anak kesayangan mu itu."
"Udah, jangan ganggu aku lagi, aku mau tidur! Biar tenang dikit, otak ku ini." ucap ku menutup percakapan.
Setelah mengucap kan kata terakhir itu, aku segera membaringkan tubuh ku dan memunggungi bang Darma. Aku memeluk guling, dan berpura-pura memejamkan mata.
Bang Darma hanya bisa pasrah dan ikut membaringkan diri nya di belakang ku. Dia juga memunggungi ku, sambil memeluk guling nya. Tak butuh waktu lama, bang Darma pun tertidur pulas, dengan dengkuran halus dari hembusan nafas nya.
"Dasar, kebo! Pantang nempel sama bantal, pasti langsung ngorok!" gerutu ku dalam hati.
Aku menoleh ke belakang, memastikan kalau bang Darma memang benar-benar sudah tertidur lelap. Setelah yakin kalau bang Darma sudah tidur, aku pun merentangkan tangan untuk mengambil ponsel, yang terletak di atas meja.
Aku mengetik pesan teks, dan mengirim kan nya pada bang Agus, kekasih lima langkah ku itu.
"Udah tidur belum, bang?"
Pesan yang aku kirim itu pun langsung centang biru, tanda sudah di baca oleh bang Agus. Tak lama kemudian, balasan dari bang Agus pun masuk.
"Belum, say. Emang nya ada apa, say?"
"Gak papa, bang. Aku cuma iseng aja kok, abang lagi ngapain?"
"Bohong, gak mungkin chat malam-malam gini, kalau gak ada masalah apa-apa!"
Bang Agus menerka dan menduga-duga. Dia sama sekali tidak percaya dengan jawaban ku tadi.
"Beneran, bang. Ngapain juga aku harus bohong, gak ada guna nya, tau!" balas ku.
"Lah trus, mau ngomong apa, say?"
"Hmmm, aku...aku..."
__ADS_1