
Pagi menjelang, suara hiruk pikuk kendaraan bermotor saling bersahutan, di depan rumah. Aku dan bang Darma beranjak dari ranjang, dan melakukan rutinitas sehari-hari.
Selesai meminum satu gelas teh manis hangat, bang Darma langsung berangkat kerja, dengan menggunakan ojek pangkalan. Setelah kepergian bang Darma, aku mulai berperang dengan alat-alat dapur.
Memasak nasi beserta lauk pauk nya, lalu menyimpan makanan tersebut di dalam lemari makan. Selesai masak, aku mencuci semua alat-alat dapur, dan menata nya dengan rapi di atas rak piring.
"Hah, akhirnya selesai juga."
Selesai dengan kerjaan dapur, aku membuka kios. Merapikan dan membersihkan debu-debu yang menempel, di barang dagangan ku tersebut.
"Kring kring kring,"
Ponsel ku berdering di atas meja ruang tamu, aku segera keluar dari kios dan berlari kecil menuju meja, untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'laikum salam, say. Lagi ngapain, cinta ku, sayang ku, permata hatiku?" jawab bang Agus.
"Lagi kesurupan jin botol ya, bang?"
"Siapa yang kesurupan jin botol sih, say?" tanya bang Agus.
"Ya, abang lah! Kan gak mungkin, pak lurah yang kesurupan. Aneh-aneh aja nih, botak."
"Hahahaha, enak aja bilangin abang kesurupan jin botol. Udah keren dan ganteng gini kok, di bilang jin botol pula."
"Udah, gak usah haha hihi terus! Ada perlu apa abang nelpon aku, hah?"
"Bah, judes kali kekasih hatiku ini. Jangan marah-marah terus dong, say! Hari ini abang gajian loh, say."
"Lah trus, apa hubungannya dengan ku kalau hari ini, abang gajian?"
"Ya, udah pasti ada hubungannya lah, say. Emang nya, dirimu gak mau ya, dapat jatah bulanan dari abang?"
"Enak aja, siapa juga yang bilang gak mau? Sedangkan anak kecil aja mau, kalau di kasi uang. Apa lagi aku, yang udah bangkotan." protes ku.
"Oh, kirain tadi gak mau, say."
"Pasti mau lah, sayang ku." balas ku.
"Hmmm, kalo udah urusan uang, manis kali itu bibir ngomong nya. Coba kalo urusan yang lain, judes nya nauzubillah."
"Hihihi, tau aja nih, botak." Aku terkikik mendengar ocehan bang Agus.
"Ya udah, abang kerja dulu ya, say. Nanti sore, kalau udah pulang kerja, abang singgah ke rumah, ya!"
__ADS_1
"Oke, sayang. Aku akan sabar menunggu kedatangan mu."
"Uluh uluh, manis kali gombalan maut mu itu, say."
"Udah, ah. Tadi kata nya mau kerja lagi,
kalo abang ngomong terus, kapan kerja nya?"
"Hahaha, tuh kan! Udah mulai keluar lagi tanduk nya."
"Sembarangan kalo ngomong, di kira aku ini embek, apa? Punya tanduk segala. Udah ya, bang. Assalamualaikum," aku memutuskan panggilan sepihak.
"Wa'laikum salam, sayang." balas bang Agus.
Setelah panggilan dengan bang Agus berakhir, aku kembali ke dalam kios, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
"Huh, gara-gara si botak tuyul nih, kerjaan ku gak siap-siap jadi nya!" gerutu ku dalam hati.
Sedang asyik membersihkan barang dagangan, mbak Tuti si tetangga kepo pun muncul di depan pintu kios, tanpa mengucapkan salam.
"Lagi ngapain, mbak Ayu?"
"Eh copot eh copot, astaghfirullahal'azim. Ya Allah, mbak Tuti ngagetin aja sih, untung aja aku gak jantungan ini, mbak!"
"Ini orang apa-apa an sih, mau tau aja urusan orang lain. Kayak gak ada kerjaan lain aja, hantu satu ini." Aku membatin sambil tersenyum miring.
"Oh iya, mbak Tuti. Aku memang lagi bingung nih, barusan mama kandung ku nelpon."
"Lah, mama nya nelpon kok malah bingung pulak, mbak Ayu? Emang nya, mama mbak Ayu ngomong apa?"
"Kata nya sih, mau bagi-bagi warisan. Aku dapat jatah 5 hektar perkebunan sawit, yang sudah siap panen. Trus, di tambah lagi 3 bangunan ruko berlantai dua." Jawab ku asal.
"Wah, lumayan banget tuh warisan nya, mbak Ayu. Aku juga mau, kalo dapat warisan seperti itu, mbak!"
Mbak Tuti membalas ucapan ku, dengan semangat empat lima. Wajah nya langsung berbinar cerah, mendengar harta yang begitu banyak nya.
"Hihihi, emang enak di kibulin. Dasar, matre!" batin ku.
"Mbak Tuti, ada perlu apa kesini, mbak?"
"Oh, anu itu, mbak..." Mbak Tuti menjeda ucapan nya.
"Anu itu apa, mbak Tuti?" selidik ku.
"Aku mau minta tolong, mbak. Aku mau pinjam uang, dua ratus ribu aja. Bisa gak, mbak Ayu?"
__ADS_1
Mbak Tuti duduk di kursi plastik, yang sudah tersedia di dalam kios ku. Dia berucap dengan wajah memelas, tangan nya memilin-milin ujung baju kaos nya sendiri.
Aku yang sedari tadi berdiri, sambil membersihkan barang dagangan, Langsung duduk di samping mbak Tuti, dan menatap wajah sayu nya itu.
"Pinjam uang buat apa, mbak Tuti?"
"Buat beli beras dan keperluan dapur lain nya, mbak." jawab mbak Tuti.
"Oohh, bisa kok, mbak. Tunggu bentar ya, mbak! Aku ambil kan uang nya di kamar dulu, ya"
"Iya, mbak Ayu."
Aku bergegas melangkah menuju kamar, dan mengambil dompet yang ada di dalam lemari. Kemudian, menarik uang merah sebanyak dua lembar, dari dalam dompet tersebut.
Setelah menyimpan kembali dompet itu ke dalam lemari, aku pun melangkah ke dalam kios, dan memberikan uang itu kepada mbak Tuti.
"Ini uang nya, mbak!"
"Iya, mbak Ayu. Makasih banyak ya, mbak. Insya Allah, nanti aku balekkan uang nya setelah suami ku gajian ya, mbak!"
"Oke, mbak. Balas ku.
"Kalau begitu, aku pamit pulang ya, mbak Ayu. Mau belanja ke warung dulu, sekalian mau masak juga."
"Iya, mbak Tuti."
Setelah berpamitan, mbak Tuti langsung keluar dari kios. Dan berjalan menuju warung, yang hanya berjarak dua rumah dari kios ku itu.
Waktu terus berlalu, tak terasa siang pun berganti sore. Sekitar pukul empat, bang Agus sudah pulang bekerja. Sebelum pulang ke rumah nya, dia sempat kan untuk singgah sebentar ke dalam kios, untuk menemui ku.
" Ini jatah bulanan mu, say!"
"Iya, bang. Makasih banyak ya, bang."
"Sama-sama, say. Ya udah, abang pulang dulu ya, sayang ku."
"Oke, bang." jawab ku.
Bang Agus menyerahkan amplop coklat pada ku, dan mengecup kilat bibir ku. Setelah itu, bang Agus berjalan ke rumah nya, yang hanya berjarak lima langkah dari rumah ku itu.
Setelah kepergian bang Agus, aku masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa ruang tamu sambil membuka amplop dari bang Agus. Aku langsung menghitung uang dari bang Agus itu, dengan senyum yang sumringah.
"Alhamdulillah, dapat rezeki. Besok, uang ini aku kirim kan buat ayah aja, ah!"
Aku berucap sambil tersenyum dan mendekap uang itu di dada ku.
__ADS_1