SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Makan Diluar


__ADS_3

Setelah memutuskan panggilan dari bang Agus, aku pun segera berganti pakaian dan menyimpan ponsel di dalam tas kecil. Setelah itu, aku menyampirkan tas itu di bahu, dan berjalan dengan langkah cepat menuju pintu utama.


Sesudah mengunci pintu, aku langsung berjalan sebanyak lima langkah ke depan rumah bang Agus. Aku celingukan kesana kesini untuk melihat situasi sekitar.


"Hufff, untung aja suasana lagi sepi malam ini." gumam ku.


Sesampainya di teras rumah selingkuhan ku itu, ternyata bang Agus sudah menunggu ku sambil duduk di atas motor nya.


"Ayo kita berangkat, bang! Mumpung lagi sepi nih." ujar ku.


"Oke, say." balas bang Agus.


Aku bergegas naik ke atas motor, sambil menutup sebagian wajah ku dengan tas. Setelah itu, bang Agus pun langsung menjalankan kendaraan roda dua nya, dengan kecepatan yang cukup kencang.


Setelah jarak kami sudah agak jauh dari rumah, bang Agus mulai menurunkan kecepatan laju kendaraan nya.


Karena merasa kedinginan akibat di terpa hembusan angin, aku pun melingkarkan kedua tangan ku di pinggang bang Agus.


Aku memeluk tubuh nya dari belakang, dan meletakkan dagu ku di bahu kanan nya.


"Dingin ya, say?"


Bang Agus bertanya sambil menggenggam tangan ku, yang sedang menempel di perut nya.


"Iya, bang. Dingin banget angin nya." jawab ku.


"Sabar ya, say! Bentar lagi kita nyampe kok." balas bang Agus.


"Iya," jawab ku.


Aku semakin mempererat pelukan ku ke punggung bang Agus. Beberapa saat kemudian, bang Agus pun menghentikan kendaraan nya di depan rumah makan pondok lesehan, yang di bawah nya di kelilingi oleh kolam ikan.


"Waaahh, bagus banget tempat nya, bang!" ujar ku dengan wajah berbinar.


Aku turun dari motor dengan pandangan yang terus saja menatap kagum, ke arah pondok-pondok yang berjejer di atas kolam ikan tersebut.


Lampu-lampu kecil berwarna-warni yang mengelilingi di setiap pondok, semakin menambah keindahan dan keromantisan tempat tersebut.


"Ayo, say! Kita cari tempat yang masih kosong di sana."


Bang Agus menunjuk ke arah pondok-pondok yang berada tidak jauh, dari tempat parkiran motor. Setelah itu, bang Agus menggenggam erat tangan ku dan mengajak ku untuk berjalan bersama nya.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, aku dan bang Agus pun mulai berjalan beriringan menuju ke lokasi.


Setelah berjalan beberapa langkah, kami berdua pun berhenti di salah satu pondok yang masih terlihat kosong.


"Kita duduk disini aja ya, say!" ujar bang Agus.


"Iya, bang." balas ku.


Aku duduk bersila di atas lantai kayu, yang sudah di alasi karpet berwarna hijau. Begitu juga dengan bang Agus, dia juga duduk bersila di sebelah ku sambil menyalakan rokok nya.


Tak lama kemudian, salah satu pelayan wanita pun datang menghampiri kami berdua. Dia membawa dua buku menu di tangan kanan nya.


"Silahkan di lihat-lihat dulu menu nya, kak!" ujar si pelayan dengan ramah.


Setelah melihat beberapa macam makanan yang ada di buku menu, aku pun menoleh ke arah bang Agus yang terlihat anteng, dengan rokok di tangan nya. Dia sama sekali tidak membuka buku menu yang ada di depan nya.


"Abang mau makan apa?" tanya ku sambil menyenggol lengan bang Agus.


"Sama in aja kayak pesanan mu, say!" jawab bang Agus.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku.

__ADS_1


"Mbak, saya pesan ikan nila bakar dua porsi, trus sama jus wortel nya dua juga ya!" pinta ku.


Aku menyerahkan dua buku menu itu ke tangan si pelayan, sambil menyunggingkan senyum kepada nya. Setelah menerima buku menu, si pelayan itu pun kembali membuka suara nya.


"Oke, kak. Mohon di tunggu ya, kak!"


Jawab si pelayan sambil mengatupkan kedua tangan di dada nya, dan berlalu pergi dari hadapan kami.


"Ya, mbak." balas ku.


Setelah pelayan itu pergi, aku mengambil kotak rokok dan korek yang tergeletak di depan bang Agus.


"Aku boleh merokok disini gak, bang?" tanya ku.


"Boleh, say." jawab bang Agus.


Setelah mendapatkan persetujuan bang Agus, aku langsung mengambil rokok itu sebatang lalu menyalakan nya.


"Abang sering makan di sini ya?" tanya ku.


"Gak juga, say. Dulu sih pernah beberapa kali makan di tempat ini, bersama anak dan istri abang sewaktu kami belum berpisah."


"Tapi setelah kami bercerai, abang udah gak pernah lagi makan disini. " jawab bang Agus.


"Oh gitu toh. Berarti tempat ini menyimpan banyak kenangan tentang keluarga abang, ya?" tanya ku lagi.


"Ya begitu lah, say. Maka nya abang gak pernah lagi makan disini."


Jawab bang Agus dengan pandangan menerawang. Sedangkan aku, aku hanya manggut-manggut menanggapi penuturan bang Agus.


"Say, abang boleh nanya sesuatu gak? Tapi jawab nya harus jujur ya!" tanya bang Agus.


"Iya boleh, abang mau nanya apa?" tanya ku balik.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, aku langsung menoleh kepada bang Agus. Dia menatap wajah ku dengan penuh selidik. Setelah menghela nafas panjang, aku pun mulai menjawab pertanyaan bang Agus.


"Kalau cinta, mungkin udah gak ada lagi, bang. Tapi kalau sayang, mungkin masih ada. Ya, walau pun hanya tinggal sedikit sih." jawab ku.


"Sedikit maksud nya?" tanya bang Agus lagi.


"Maksud nya rasa sayang ku dengan nya sekarang, tidak sebesar waktu sebelum bertengkar dulu. Abang paham gak?" tanya ku balik.


"Enggak," jawab bang Agus sambil menggeleng kan kepala nya.


"Oalah, botak...botak...Gimana lagi aku harus menjelaskan nya? Masa gitu aja gak paham sih, bikin tensi ku naik aja!" gerutu ku kesal.


"Hahahaha, malah emosi pulak dia jadi nya." ledek bang Agus.


"Siapa yang gak emosi, kalau lawan bicara nya kayak abang gini?" balas ku ketus.


"Emang nya abang kenapa, say?" tanya bang Agus.


"Udah gini," balas ku.


Aku menempelkan jari telunjuk di kening ku, dengan posisi miring.


"Hahaha, enak aja bilangin abang udah gila, mau minta di hukum lagi kayak kemaren ya?" tanya bang Agus kembali tertawa terbahak-bahak.


"Ogah, badan ku lagi gak fit nih. Aku kecapekan gara-gara ulah bang Darma." jawab ku.


"Emang nya di apain sama dia, say?" selidik bang Agus.


"Apa lagi kalau bukan bertempur di atas ranjang." jawab ku santai.

__ADS_1


"Hah! Serius, say?" pekik bang Agus dengan mata terbelalak.


"Iya serius, botaaak. Untuk apa aku harus bohong, gak ada guna nya juga." jawab ku.


Bang Agus langsung memalingkan wajah nya ke arah lain, sambil membuang nafas kasar berulang-ulang. Dia tampak sangat kecewa dan sedih, setelah mendengar kejujuran ku barusan.


"Heh, botak! Kok malah buang muka sih? Kenapa, marah ya?" tanya ku.


Aku menyenggol-nyenggol lengan bang Agus sampai berulang kali. Hingga membuat nya sedikit tergeser dari tempat duduk nya.


"Makanya jangan nanya yang macem-macem sama ku! Tadi kata nya di suruh jujur, udah di jawab jujur kok malah langsung kesurupan pulak dia." ledek ku.


Aku tersenyum miring, melihat ekspresi wajah bang Agus yang sedang memanyunkan bibir tebal nya. Mendengar ledekan ku, bang Agus pun langsung menoleh dan mencubit ujung hidung ku


"Hahaha, siapa yang kesurupan sih, say? Kau ini memang pandai sekali mengalihkan pembicaraan." gelak bang Agus.


"Oh, kirain kesurupan. Soal nya tadi ku lihat, abang langsung berubah jadi patung Pancoran, hihihi." jawab ku asal sambil cekikikan.


"Hahaha,"


Bang Agus kembali tertawa setelah mendengar ocehan-ocehan receh ku. Selesai berhaha hihi bersama, sang pelayan pun datang dengan dua nampan di tangan nya.


"Silahkan di nikmati hidangan nya, kak!" ujar si pelayan.


"Oke, makasih ya, mbak." balas ku.


Setelah menghidangkan makanan di atas meja, sang pelayan wanita itu pun langsung bergegas pamit untuk kembali ke tempat nya.


"Ayo kita makan, bang! Perut ku udah lapar banget nih." ujar ku.


"Iya, say." balas bang Agus.


Tanpa basa-basi lagi, kami berdua pun langsung menyantap makanan itu dengan lahap dan hening, tanpa percakapan apa pun lagi.


Aku dan bang Agus hanya fokus, dengan makanan yang ada di piring masing-masing. Setelah selesai makan, bang Agus pun kembali bertanya pada ku.


"Kita mau langsung balek atau mau jalan-jalan dulu, say?" tanya bang Agus sambil menyeruput jus wortel nya.


"Langsung balek aja lah, bang. Takut nya nanti bang Darma kecarian pulak, karena tidak melihat ku di rumah." jawab ku.


"Oh, kirain mau jalan-jalan dulu. Ya udah deh, ayo kita balek sekarang!" ujar bang Agus.


"Oke," balas ku.


Setelah selesai membayar tagihan makanan, aku dan bang Agus pun langsung bergegas naik ke atas motor dan pergi meninggalkan pondok lesehan tersebut.


Tak lama kemudian, kami berdua pun sudah tiba di depan rumah bang Agus.


"Gak singgah dulu, say?" tanya bang Agus.


"Gak lah, bang. Aku mau langsung balek ke rumah aja, takut keburu bang Darma pulang nanti. Lain kali aja aku singgah." jawab ku.


"Oh, oke lah. Kalau ada apa-apa, cepat kabari abang ya, say!" bang Agus mewanti-wanti ku.


"Iya, bang. Ya udah, aku pulang dulu ya!" pamit ku.


Aku melangkah meninggalkan bang Agus yang masih berdiri di depan rumah nya, sambil terus menatap kepergian ku.


Setelah sampai di depan pintu rumah bang Darma, aku segera merogoh tas untuk mengambil kunci.


Saat ingin memasukkan kunci ke lubang pintu, tiba-tiba aku terlonjak kaget karena melihat pintu yang terbuka lebar.


Mata ku langsung membulat, ketika melihat wajah lelaki yang sangat menyeramkan di hadapan ku itu.

__ADS_1


"Dari mana saja kau?" bentak bang Darma dengan suara menggelegar.


__ADS_2