SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Bacaan dari Dina


__ADS_3

"Abang mau memakan mu sebentar, ayo lah!" rengek bang Darma.


"Males," jawab ku cuek.


"Ayo lah, dek! Gak kasian apa lihat abang? Abang lagi pengen banget nih, dek."


Bang Darma terus saja merengek seperti anak kecil. Dia bergelayut di lengan kiri ku dengan wajah memelas.


"Nanti malam aja, kalau sekarang badan ku masih capek!" jawab ku dingin.


"Jadi beneran nih, gak mau melayani abang?" tanya bang Darma serius.


"Ya," jawab ku.


"Ya udah lah, tapi nanti malam abang tagih janji mu tadi!" jawab bang Darma.


Karena keinginan nya tidak aku penuhi, akhir nya bang Darma pun menyerah, dan berjalan dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar. Wajah nya di tekuk lesu, karena penolakan ku.


Aku hanya tersenyum dan menggeleng kan kepala, melihat tingkah-tingkah aneh suami ku itu. Aku bingung menghadapi masalah, yang tidak ada habis nya seperti saat ini.


Sifat dan perilaku bang Darma pun akhir-akhir ini sering berubah-ubah. Terkadang dia baik dan manja. Terkadang dia juga kasar, dan sering berbuat hal yang di luar batas kewajaran.


"Ada apa sebenarnya dengan mu, bang? Kenapa sifat mu sekarang sangat berbeda, tidak seperti Darma yang aku kenal dulu?" gumam ku.


"Aduh, tenggorokan ku kering banget rasa nya."


Karena merasa haus, aku langsung menghentikan kegiatan bersih-bersih di dalam kios. Kemudian aku melangkah masuk ke dalam rumah, untuk mengambil air dingin yang berada di dalam kulkas.


Saat hendak membuka kulkas, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel bang Darma yang terletak di atas meja kamar. Dalam keadaan pintu kamar yang di tutup rapat, bang Darma pun menerima panggilan itu dengan suara pelan.


Karena penasaran, aku pun langsung menempel kan telinga di daun pintu, dan mulai mendengar kan perbincangan antara bang Darma dengan seseorang.


"Halo, ada apa lagi sih, Din?" tanya bang Darma kesal.


"Yuni bilang, perempuan gila itu ada di rumah mu sekarang, apakah itu benar?" tanya Dina.


"Kalo iya, kenapa rupanya? Ini rumah ku, aku berhak membawa siapa pun ke rumah ini, termasuk istri ku." jawab bang Darma tegas.


"Kau tanya kenapa? Apa kau lupa dengan rencana kita Darma? Kau kan sudah berjanji dengan ku, kalau kau akan merampas semua uang dan perhiasan istri mu itu, tanpa harus membawa nya pulang ke rumah mu." pekik Dina.

__ADS_1


"Aku sudah berubah pikiran, aku tidak akan merampas apa pun dari istri ku. Dan satu lagi, jangan pernah mengganggu rumah tangga ku lagi, camkan itu baik-baik!" balas bang Darma.


Aku tersenyum sumringah di balik pintu. Aku sedikit lega mendengar penuturan bang Darma. Aku mulai teringat kembali, masa-masa indah bersama bang Darma dulu.


"Mudah-mudahan saja kau berubah seperti dulu lagi, bang." harapan ku dalam hati.


Setelah merenung sejenak, aku pun kembali menguping pembicaraan mereka berdua.


"Tidak, kau tidak boleh berubah pikiran, Darma! Kau harus menepati janji mu. Kau harus menuruti semua keinginanku!" balas Dina.


"Jangan mimpi di siang bolong, Dina! Asal kau tau ya, aku tidak akan tunduk lagi kepada mu. Aku juga tidak akan menuruti apa pun keinginan mu." jawab bang Darma.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, bang Darma langsung terdiam, karena mendengar suara Dina yang sedang membacakan sesuatu.


Karena merasa curiga dengan bacaan yang sedang di lafadz kan oleh Dina, dengan gerakan cepat, aku langsung membuka pintu.


Kemudian, aku merampas dengan paksa ponsel bang Darma, yang berada di dalam genggaman tangan nya.


Setelah itu, aku segera menonaktifkan ponsel nya, dan meletakkan nya di atas meja. Lalu aku menatap wajah bang Darma yang tampak aneh dengan kening yang mengkerut.


Bang Darma hanya terdiam dan terpaku di tepi ranjang, dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan. Melihat kondisi bang Darma seperti itu, aku pun berinisiatif untuk membaca kan ayat kursi di telinga nya.


"Bismillahirrahmanirrahim,"


Aku mulai membaca kan ayat kursi, dan ayat-ayat pendek lain nya di telinga bang Darma. Setelah selesai, aku langsung berlari kecil menuju dapur, untuk mengambil segelas air putih.


Setelah mendapatkan nya, aku kembali lagi ke dalam kamar. Aku duduk di samping bang Darma, lalu mengusap kan air yang ada di dalam gelas itu ke wajah nya.


Aku kembali melafazkan ayat-ayat Allah, di depan wajah bang Darma. Dan alhamdulillah, dengan izin Allah, bang Darma pun akhirnya kembali sadar seperti semula.


"Alhamdulillah, akhirnya kau sadar juga, bang." gumam ku.


Setelah meletakkan gelas yang berisi kan air itu di atas meja, aku langsung memeluk erat tubuh bang Darma, dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipi ku.


"Kau kenapa, dek?" tanya bang Darma heran.


"Gak papa, bang." jawab ku lirih.


Aku mulai melepaskan pelukan ku dari tubuh bang Darma. Kemudian, aku menghapus air mata dengan kedua punggung tangan ku.

__ADS_1


Sedangkan bang Darma, dia tampak sangat kebingungan melihat ku, yang sedang menangis di depan nya.


"Kalau gak ada apa-apa, kenapa kau menangis?" selidik bang Darma.


Bang Darma terus menatap mata ku dengan serius. Dia seakan-akan tidak percaya dengan jawaban ku barusan.


"Mata ku kelilipan debu, bang." bohong ku.


"Oh, kirain ada apa." balas bang Darma.


Setelah mendengar jawaban ku, bang Darma beranjak dari tempat duduk nya, dan mulai berjalan menuju pintu.


"Mau kemana, bang?" tanya ku.


"Mau mandi, dek. Badan abang gerah banget nih." jawab bang Darma.


"Oh ya udah, mandi lah!" balas ku.


Bang Darma menyampirkan handuk di bahu nya, dan melangkah keluar dari kamar. Setelah bang Darma pergi, aku segera mengaktifkan ponsel nya kembali.


Setelah itu, aku mencari kontak Dina dan Yuni, dan langsung memblokir nomor mereka berdua.


"Dasar benalu-benalu gak tau diri. Tega sekali kalian melakukan hal syirik seperti itu kepada suami ku."


Aku mengumpat, sambil meletakkan ponsel bang Darma kembali ke atas meja.


Selesai membersihkan diri, bang Darma kembali masuk ke dalam kamar. Dia membuka lemari pakaian, untuk mengambil baju kaos dan celana pendek.


Setelah itu, bang Darma langsung memakai pakaian nya, dan lanjut melaksanakan shalat ashar. Aku yang sedari tadi duduk di tepi ranjang, hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik nya dengan hati yang sangat lega.


"Dek, kita keluar yok!" ajak bang Darma sambil melipat sarung dan sajadah nya.


"Keluar kemana?" tanya ku.


"Perut abang lapar nih, kita makan bakso beranak yang ada di taman, yok!" jawab bang Darma.


"Oh, oke. Aku tutup kios dulu ya!" balas ku.


"Ya, tutup lah." ujar bang Darma, sambil menyisir rambut nya di depan cermin lemari pakaian.

__ADS_1


__ADS_2