SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Motor Hilang (kualat)


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa terasa malam pun tiba. Setelah kami berdua selesai makan malam, kami pun kembali berkumpul di dalam kamar.


Bang Darma mulai sibuk dengan kegiatan rutin nya yaitu bermain ponsel. Sedangkan aku, aku duduk selonjoran di samping nya sambil mengotak-atik ponsel ku.


Suasana pun jadi hening, karena kami berdua sibuk dengan ponsel masing-masing.


Sedang asyik melihat video-video kocak di ponsel nya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Yuni. Bang Darma pun langsung menerima panggilan dari anak kesayangan nya.


Kring kring kring...


"Halo, ada apa lagi?"


Bang Darma bertanya dengan nada ketus kepada anak semata wayang nya. Dan aku hanya bisa berdiam diri, sambil mendengarkan percakapan mereka yang di beri pengeras suara oleh bang Darma.


"Motor baru punya mamak hilang, pak." balas Yuni.


"APA? Kok bisa hilang?" tanya bang Darma.


Bang Darma langsung terpekik kaget, karena mendengar berita yang menurutnya sangat mengejutkan.


Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku adalah orang yang paling bahagia mendengar kata-kata indah Yuni barusan.


Aku langsung tersenyum miring menanggapi ucapan Yuni, sambil terus berpura-pura mengotak-atik ponsel ku sendiri.


"Sukurin! Itu lah karma instan dari Tuhan untuk penipu kelas teri seperti kalian, hahaha." batin ku girang.


"Hilang nya semalam, pak. Waktu mamak pulang dari rumah teman nya." jawab Yuni.


"Trus, gimana ceritanya kok bisa hilang?" tanya bang Darma lagi.


"Mamak lupa ngambil kunci motor nya karena buru-buru pergi ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, motor nya udah gak ada lagi, pak." jelas Yuni.


"Emang, parkir nya dimana?" tanya bang Darma semakin antusias ingin mengetahui cerita nya.


"Di depan rumah, pak. Karena mamak sedang buru-buru, maka nya dia lupa ngambil kunci dari motornya itu, pak." jawab Yuni.


Aku yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka pun langsung mengerutkan kening.


Aku geram melihat respon bang Darma. Dia tampak masih sangat perduli dengan keadaan Yuni dan ibu nya itu.


"Ini orang apa-apa an sih. Ngapain lagi dia masih perduli dengan babon nya si Yuni itu?"

__ADS_1


Aku membatin dan menatap tajam kepada bang Darma. Aku kesal dengan reaksi nya yang berlebihan seperti itu. Karena merasa di perhatikan, bang Darma langsung reflek menoleh pada ku.


Bang Darma tampak salah tingkah, melihat tatapan mata ku yang sangat tajam seperti mata elang.


Setelah melihat mata ku, bang Darma pun langsung terdiam. Dia tidak bertanya apa pun lagi kepada anak nya.


"Sejak motor nya hilang mamak nangis terus, pak." ujar Yuni.


"Dari semalam sampai sekarang, mamak gak berhenti-berhenti nangis nya, pak. Gak mau makan gak mau ngapa-ngapain lah pokoknya." tambah Yuni menjelaskan tentang keadaan ibu nya.


"Ya kalau sudah hilang seperti itu, mau gimana lagi? Nama nya juga musibah, ya harus sabar lah!"


Bang Darma menjawab sambil sesekali melirik pada ku. Aku masih tetap berpura-pura cuek dan acuh, sambil terus menguping pembicaraan anak dan bapak itu.


"Tu lah, kualat kan jadi nya! Maka nya jangan suka nipu jadi orang. Langsung dapat balasan nya sekarang kan!" umpat ku dalam hati.


Mendengar jawaban bapak nya, Yuni pun kembali berceloteh mengadukan nasib yang sedang menimpa ibu gila nya.


"Jadi gimana ini, pak? Kalau mamak nangis terus dan gak mau makan, nanti mamak bisa sakit, pak." tanya Yuni.


"Bapak juga gak tau harus gimana lagi, Yun? Ya udah lah biarin aja, nanti kalau dia lapar kan pasti makan juga." jawab bang Darma santai.


Yuni mulai protes dengan jawaban bapak nya. Dia tidak terima jika bang Darma bersikap acuh dengan ibu kesayangan nya.


"Bukan gitu maksud bapak, Yun." jawab bang Darma.


"Trus maksud bapak apa, ngomong kayak gitu tadi?" tambah Yuni semakin menjadi-jadi.


"Udah lah, bapak ngantuk mau tidur!"


Bang Darma langsung memutuskan panggilan dari Yuni, dan meletakkan ponsel nya di atas meja. Setelah itu, dia pun langsung memeluk guling dan merubah posisi nya memunggungi ku.


Beberapa saat kemudian, dengkuran halus pun terdengar dari hembusan nafas nya yang sudah teratur. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suami ku itu.


"Apakah kau masih mencintai mantan mu itu, bang? Apakah kau masih ingin hidup bersama mereka kembali? Kalau memang iya, silahkan pergi, bang. Silahkan pergi dari hidup ku!" batin ku.


Aku berucap dalam hati, sambil terus menatap punggung bang Darma. Lelaki yang hidup bersama ku selama 6 tahun lebih.


Sedang hanyut dalam lamunan, tiba-tiba pesan teks masuk di ponsel ku. Ternyata yang mengirim pesan itu adalah anak tiriku Yuni. Aku langsung membaca pesan itu dengan mata yang membulat sempurna.


"Ini anak udah ikut-ikutan gila seperti ibu nya atau gimana sih?"

__ADS_1


Aku membatin karena geram dan jengkel membaca kata-kata dari Yuni.


"Sekarang puas ibuk kan? Udah berhasil mempengaruhi bapak ku untuk membenci mamak ku."


Itu lah kata-kata yang di kirim kan Yuni pada ku. Entah apa maksud nya anak itu, sudah menuduh ku yang tidak-tidak. Aku pun langsung membalas pesan nya.


"Maksud mu apa nuduh aku seperti itu, hah?" balas ku.


"Kalau kau mau tau kenyataan yang sebenarnya, lebih baik kau tanya kan sendiri dengan bapak mu itu!" balas ku lagi.


"Heleh, alasan aja. Tinggal ngaku aja kok susah kali sih!" balas Yuni.


"Untuk apa aku mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan? Anda sehat?" balas ku.


"Ya gak mungkin ngaku lah. Mana ada maling mau ngaku, kalau semua maling ngaku penjara bakalan penuh!" sindir Yuni.


"Yups, bener sekali. Tumben kau pintar, Yun. Biasa nya oon tingkat nasional." balas ku.


"Maling memang gak bakalan mau ngaku. Contoh nya seperti kalian berdua itu. Udah maling motor orang tapi gak mau di salahin, hahaha!" gelak ku.


"Yang lebih gila nya lagi, malah lebih galak maling nya pulak dari pada yang punya motor, hahaha!"


Aku kembali terkekeh karena langsung memukul mati kata-kata Yuni. Sekarang dia termakan oleh ucapan nya sendiri.


"Rasakan kau bocah tengik! Ayu di lawan, hihihi."


Aku membatin kembali sambil terkikik geli. Aku merasa puas karena sudah membalas dengan kata-kata yang sangat pedas pada nya.


"Kurang ajar kau ibu tiri gila. Tunggu aja pembalasan ku, kau pasti akan menyesal karena sudah menghinaku dan ibu ku, lihat aja nanti!" ancam Yuni.


"Silahkan aja, balas kan lah dendam kesumat mu itu, aku tunggu!" tantang ku tak mau kalah.


"Ya aku akan pastikan, kalau kau akan secepatnya di ceraikan oleh bapak ku!" tambah Yuni.


"Ya ya ya, laksanakan lah dengan sebaik mungkin tugas dari ibu mu itu!" balas ku.


"Aku akan selalu siap menunggu hasil dari perjuangan mu, untuk memisah kan aku dengan bapak mu." balas ku lagi.


Setelah mengirimkan pesan itu, aku langsung memblokir nomor Yuni. Agar dia tidak lagi mengganggu ketenangan ponsel ku.


Ingat ya, bukan mengganggu ketenangan ku. Tapi mengganggu ketenangan ponsel ku, hahaha.

__ADS_1


__ADS_2