SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa terasa pagi menjelang. Saat membuka mata, aku langsung melihat wajah tampan yang sedang tertidur lelap di depan ku.


Setelah puas memandangi wajah lelaki ku itu, aku pun segera beranjak dari ranjang dan membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah selesai, aku mendudukkan diri di kursi lalu menyalakan rokok.


Dengan pandangan kosong menerawang, aku terus saja memandang ke arah Rendi yang masih setia bergulung di bawah selimut nya.


"Aktifkan ponsel bentar, ah. Mana tau ada berita menarik hari ini." gumam ku.


Aku mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tas yang tergeletak di atas meja tv. Setelah mendapatkan nya, aku mulai mengaktifkan nya dan melihat pesan-pesan masuk yang berjejer di layar ponsel ku.


Mata ku langsung mendelik saat melihat beberapa pesan yang di kirimkan oleh bang Darma suamiku.


"Ck, dia ini mau nya apa sih sebenarnya? Bikin emosi aja nih orang." gerutu ku pelan.


"Lagi dimana, dek? Lagi di hotel ya sama para selingkuhan mu? Pulang lah ke rumah, ada yang mau abang omongin dengan mu."


Itu lah pesan-pesan yang di kirimkan bang Darma pada ku.


"Kira-kira dia mau ngomongin masalah apa ya?" batin ku.


Aku terus menatap layar ponsel yang sedang menyala di genggaman tangan ku dengan kening yang mengkerut.


"Emang nya kau mau ngomongin masalah apa?" tanya ku membalas pesan dari suami gila ku itu.


Tak lama kemudian, bang Darma pun langsung membalas pesan ku.


"Gak enak kalau ngomong nya di ponsel. Lebih baik kau pulang aja dulu, biar kita omongin baik-baik di rumah." balas bang Darma.


"Ya udah, nanti siang aku pulang." balas ku.


"Oke, aku tunggu." balas bang Darma menutup percakapan pesan.


Selesai berbalas pesan dengan bang Darma. Aku mulai membuka pesan yang di kirimkan oleh bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.


"Sekarang lagi dimana, say? Kenapa kios nya belum di buka? Kamu baik-baik aja kan, say? Abang khawatir dengan keadaan mu, sayang."


Ini lah kata-kata yang di kirimkan oleh bang Agus pada ku. Dia tampak sangat mengkhawatirkan ku saat ini.


"Aku lagi di rumah sepupuku, bang. Nanti siang aku pulang ke rumah." balas ku.


Tak butuh waktu lama, bang Agus pun membalas pesan ku.


"Oh, kirain lagi dimana. Ya udah, jaga diri baik-baik ya, say. Kalau udah pulang jangan lupa kabari abang!" balas bang Agus.


"Iya, botaaak." balas ku menutup percakapan pesan dengan bang Agus, si botak tuyul ku itu.


Selesai membalas pesan dari bang Agus, aku beralih membuka pesan dari Naya sepupu teraneh ku itu.


"Apa kabar, Yu? Udah lama kau gak main ke rumah ku, apa kau masih marah sama aku ya?" tanya Naya melalui pesan teks nya.


"Gak lah, untuk apa aku marah gak ada guna nya juga. Aku sekarang lagi setres mikirin suami ku. Nanti lah kalau ada waktu senggang, aku pasti main ke rumah mu." balas ku.


Setelah selesai membalas pesan mereka bertiga, aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja tv. Lalu aku mulai berjalan mendekati Rendi yang masih terlelap di atas ranjang.


"Nyenyak kali tidur nya kebo satu ini." gumam ku.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan dan berhati-hati, aku masuk kembali ke dalam selimut dan memberikan kecupan-kecupan kilat di wajah Rendi.


Karena merasa terganggu dengan kelakuan nakal ku, akhirnya Rendi pun mulai membuka mata dan menyunggingkan senyuman genit nya pada ku.


"Pagi, sayangku." sapa ku dengan senyum yang mengembang.


"Pagi juga, cintaku." balas Rendi.


Rendi langsung menarik tubuh ku ke dalam dekapan nya, lalu menghujani wajah ku dengan ciuman nakal nya.


"Iiihhhh, lepasin! Mandi dulu sana, mulut masih bau jigong gitu pun udah main nyosor anak orang aja!" gerutu ku pura-pura kesal.


"Siapa anak orang, Yu?" tanya Rendi bingung.


"Ya aku lah, emang nya siapa lagi?" jawab ku sewot.


"Oh kirain, hehehe." balas Rendi cengar-cengir.


"Kirain anak nyet gitu?" tanya ku dengan mata mendelik menatap wajah Rendi.


"Hahaha, tau aja isi hati orang." gelak Rendi.


"Ya tau lah, kan dari haritu udah aku bilang kalau aku anak dukun." balas ku asal.


"Iya, percaya deh." ujar Rendi pasrah.


Setelah melewati drama pagi dengan Rendi, dia pun langsung bangkit dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


Sesudah membersihkan diri nya, Rendi kembali mendekati ku dan mengajak ku untuk bergumul ria kembali.


"Ayo, siapa takut! Tapi siap tu kita langsung pulang ya, bang. Soal nya tadi suamiku nyuruh aku pulang, ada yang mau di omongin kata nya." ujar ku.


"Oh gitu, ya udah siap main nanti kita langsung pulang." balas Rendi setuju.


"Oke," jawab ku.


Saat hendak memulai aksinya, tiba-tiba Rendi teringat sesuatu.


"Eh, kayak nya semalam ada cewek cantik yang janji mau mijatin badan abang!" sindir Rendi.


"Kirain udah lupa, ternyata masih ingat juga dia rupanya, hihihi." gumam ku sambil cekikikan.


Rendi terus saja menatap wajah ku sambil cengar-cengir salah tingkah.


"Iya iya, aku inget kok sama janji ku semalam. Tapi sekarang gini aja deh, abang mau pilih yang mana, mau olahraga atau di pijatin?" tanya ku.


"Dua-duanya, sayang." jawab Rendi.


"Ya gak bisa gitu lah, jangan serakah kali jadi orang. Harus pilih salah satu aja gak boleh dua-duanya!" tolak ku.


"Yaaaahh, masa harus gitu sih!" balas Rendi kecewa.


"Ya udah cepetan, abang mau pilih yang mana?" desak ku.


Rendi terdiam sejenak, dia tampak sedang berperang dengan isi kepala nya sendiri. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya dia pun memberikan keputusan nya.

__ADS_1


"Kita olahraga aja lah kalo gitu, pijat nya lain kali aja." jawab Rendi.


'Hihihi, tau aja dia mana yang lebih enak." cibir ku sambil cekikikan.


"Ya iya lah, siapa pun pasti tau mana yang lebih enak dan nikmat, hahaha." ujar Rendi sambil tertawa ngakak.


Setelah selesai berhaha-hihi berdua, Rendi pun melancarkan aksinya kembali. Dia mulai menggerayangi tubuh ku dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut nya pada ku.


Dan akhirnya, permainan panas nan nikmat itu pun kembali terjadi. Setelah berpacu selama kurang lebih dua jam lama nya, Rendi pun menyudahi permainan nya dan menjatuhkan tubuh basah nya di atas badan ku.


"Ah, lega nyaaaa." ujar Rendi dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Ayo mandi, bang! Biar kita pulang." seru ku.


"Ya, sayang." balas Rendi.


Dia langsung beranjak dari atas badan ku dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun turut mengekori langkah nya dari belakang.


Selesai membersihkan diri, kami berdua pun memakai pakaian masing-masing, dan sedikit merapikan ranjang yang sudah berantakan seperti kapal pecah akibat pergumulan panas tadi.


"Udah selesai, Yu?" tanya Rendi sambil melihat ponsel nya.


"Udah, ayo kita keluar!" jawab ku sambil menggandeng lengan Rendi.


Kami berdua berjalan beriringan menuju lantai dasar. Setelah menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis, Rendi menggenggam erat tangan ku dan kembali melangkah menuju parkiran.


"Mau abang antar sampe rumah gak, Yu?" tanya Rendi.


"Gak usah, bang. Aku bawa motor sendiri kok, tuh motor nya." jawab ku.


"Oh, ya udah deh. Hati-hati di jalan ya, sayang!" ujar Rendi.


Rendi memeluk tubuh ku dan menyelipkan uang ke dalam genggaman tangan ku.


"Iya, abang juga hati-hati ya!" balas ku.


"Ya, sayang." balas Rendi.


Selesai berpamitan, Rendi pun mulai menjalankan mobil nya dan berlalu pergi dari hadapan ku.


Begitu juga sebaliknya, aku segera mengendarai motor matic ku menuju ke arah rumah bang Darma, dengan hati yang berdebar-debar tidak karuan.


Sesampainya di depan rumah, aku memarkir kan motor di teras dan melangkah masuk ke dalam sambil mengucap kan salam.


"Assalamualaikum," salam ku.


"Wa'laikum salam," balas bang Darma.


Bang Darma menjawab salam ku dengan senyum sumringah nya. Dia duduk santai di sofa ruang tamu sambil menghisap rokok nya.


"Ada perlu apa nyuruh aku pulang?" tanya ku sambil mendudukkan diri di depan nya.


"Aku cuma mau bilang, kalau aku akan nikah siri dengan Dina secepatnya." jawab bang Darma dengan santai nya.


"APA?" pekik ku dengan mata terbelalak lebar.

__ADS_1


__ADS_2