
Bang Darma tampak kesal, karena tidak mendapatkan uang sepeser pun, dari dalam tas kecil ku.
"Untung aja, semua uang itu sudah aku belikan perhiasan. Kalau tidak, bisa gawat urusan nya." batin ku.
Karena tidak mendapatkan apa pun dari tas ku, bang Darma mengalihkan pandangan nya, ke jari tangan dan juga leher ku. Begitu juga dengan Yuni dan Dina. Mata mereka berdua, juga tertuju pada perhiasan yang melekat di tubuh ku.
"Kenapa kalian tengok aku kayak gitu?" tanya ku pada Yuni dan Dina.
Bukan nya menjawab, Yuni malah tersenyum miring, dan beralih menatap bang Darma.
"Ambil aja semua emas-emas nya itu, pak! Kalo di jual semua, pasti banyak tuh duit nya. Biar Yuni bisa beli motor baru secara tunai, tidak kredit lagi." ujar Yuni.
"Iya, bener banget apa yang di kata kan Yuni. Ambil aja semua perhiasan yang ada di badan nya itu, biar kami jual sekarang!" sambung Dina.
Setelah mendengar penuturan mereka berdua, aku pun mulai siap siaga dengan gerak-gerik bang Darma. Aku langsung beranjak dari sofa, dan berjalan beberapa langkah ke arah pintu. Lalu, aku berdiri tepat di samping pintu utama.
Melihat gerakan ku yang mulai menghindar, Yuni pun kembali mengompori bang Darma. Dia semakin memanas-manasi bapak nya, agar segera merampas semua perhiasan ku.
"Cepetan ambil, pak! Nanti keburu dia kabur, pak! Kalo sampe dia kabur, nanti Yuni gak jadi beli motor nya, pak." ujar Yuni.
Bang Darma menoleh pada Yuni, dan mengangguk kan kepala nya. Dia menyetujui permintaan nyeleneh anak nya tersebut.
Aku yang melihat anggukan kepala bang Darma pun, langsung berlari keluar rumah. Aku segera naik ke atas motor, dan melajukan nya dengan cepat.
Setelah melewati empat rumah, aku langsung berhenti di pinggir jalan. Aku menoleh ke belakang, melihat bang Darma, Yuni, dan Dina yang sedang berdiri di depan teras.
"Tuh kan, bapak lama banget sih gerak nya. Jadi kabur beneran dia kan." gerutu Yuni.
"Iya nih, jadi laki-laki kok lelet banget. Coba dari tadi cepat gerak nya, pasti gak bakalan bisa kabur dia." sambung Dina.
"Aaagghhh, berisik! Ini semua juga gara-gara ulah kalian berdua." bentak bang Darma.
"Kok gara-gara kami pulak? Emang dasar istri mu aja yang gak tau diri. Main kabur-kaburan gitu aja." balas Dina tak mau di salah kan.
Dina mengerucut kan bibir nya, dan melipat kedua tangan nya di atas perut. Bang Darma tampak sangat gusar, melihat tingkah kedua wanita yang ada di depan nya.
__ADS_1
Bang Darma mengacak-acak rambut nya dengan kasar, sambil berjalan mondar-mandir di depan teras. Aku hanya tersenyum kecut, mendengar dan melihat semua kelakuan mereka bertiga.
"Jadi sekarang gimana, pak? Kapan Yuni bisa beli motor baru nya? Bapak itu bisa nya, cuma ngasi janji palsu terus sama Yuni." tanya Yuni dengan nada memaksa.
"Sabar dulu lah, Yun! Kalo bapak sudah mendapatkan, semua perhiasan si Ayu. Bapak pasti akan memberikan semua perhiasan itu, untuk mu." jawab bang Darma.
"Janji ya, pak!" balas Yuni dengan senyum yang merekah.
"Iya, sayang. Bapak janji." balas bang Darma, sambil memeluk dan membelai rambut anak nya.
"Ya udah, sekarang kalian pulang aja, ya! Nanti kalo bapak udah berhasil mengambil perhiasan nya, bapak akan ke rumah kalian." ujar bang Darma.
"Yeyy, makasih ya, pak." balas Yuni girang.
Setelah beberapa saat berhenti, untuk melihat drama romantis mereka bertiga. Aku kembali melajukan kendaraan roda dua ku, menuju ke arah rumah Naya, saudara sepupu ku.
Sampai di rumah Naya, aku memarkirkan motor ku di teras rumah nya. Kemudian, aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tok tok tok...
"Wa'laikum salam, ya bentar!" jawab Naya dari dalam rumah nya.
Tak lama kemudian, pintu rumah Naya pun terbuka lebar. Tanpa di persilahkan oleh si tuan rumah, aku langsung nyelonong masuk dan duduk di ruang tamu nya.
"Ini anak bener-bener, ya! Gak tau sopan santun banget, sih. Main nyelonong aja. Udah kayak hantu apa tuh nama nya, lupa aku? Yang datang gak di jemput, pulang gak di antar?" tanya Naya.
"Jin iprit mungkin, Nay." jawab ku asal.
"Bukan, Yu." balas Naya.
"Lah, trus hantu apa an?" tanya ku.
Naya tampak berpikir keras, dia terlihat fokus untuk mengingat nama hantu, yang di maksud nya tadi. Aku terkikik geli, melihat raut wajah Naya yang tampak sangat lucu dan aneh menurut ku.
"Halah, kok bisa lupa sih aku, sama nama hantu itu." gerutu Naya.
__ADS_1
"Udah ah! Ngapain sih, mikirin yang gak penting? Kurang kerjaan banget jadi orang." sungut ku sambil menepuk lengan Naya dengan kuat.
"Adoooh! Sakit, nyet." pekik Naya.
Naya memekik dengan suara yang melengking, sambil meringis kesakitan akibat tepukan ku barusan.
"Helehh, gitu aja kok sakit sih, Nay!" cibir ku.
"Ya iya lah, kalo gak sakit, gak mungkin aku menjerit kaya tadi." balas Naya kesal.
"Oke oke, aku minta maaf, ya." balas ku.
"Hah, tumben banget makhluk yang nama nya Ayu ini, minta maaf dengan ku. Biasa nya harus otot-ototan dulu, tapi hari ini kok beda ya?" selidik Naya.
"Huh, aku lagi malas berdebat dengan mu, Nay. Kepala ku lagi pusing nih, gara-gara mikirin rumah tangga ku." jawab ku.
Aku menghela nafas berat, dan menyandarkan kepala ku di bahu kursi. Naya semakin penasaran dengan gelagat ku yang tampak lesu dan muram. Tidak seperti biasa nya, yang lincah dan menjengkelkan bagi nya.
"Emang nya kenapa lagi sih, Yu?" tanya Naya.
Aku memejamkan mata sejenak, kemudian aku kembali menatap wajah Naya, dengan mata yang sudah berembun. Aku langsung berhambur ke dalam pelukan Naya.
Tangisan ku langsung pecah, dan semakin menjadi-jadi di dalam dekapan sepupuku itu. Naya membelai rambut ku dengan lembut. Dia juga menepuk-nepuk bahu ku, seolah-olah memberikan semangat untuk ku.
"Sabar, Yu! Kalau memang sudah tidak sanggup lagi, lepas kan saja suami mu itu! Ngapain di tungguin lagi, sih? Di luaran sana, masih banyak laki-laki yang bisa membahagiakan mu." ujar Naya.
Naya melepaskan pelukan nya, dia tampak sangat sedih, melihat keadaan ku saat ini. Naya dengan serius menatap mata ku, yang sudah terlihat memerah dan sembab, akibat menangis tadi.
"Emang nya ada apa, Yu? Cerita kan lah dengan ku! Siapa tau aku bisa bantu." tanya Naya lagi.
"Bang Darma, Nay. Bang Darma semakin keterlaluan dengan ku. Dia ingin merampas semua perhiasan dan uang ku, untuk di berikan kepada anak nya." jawab ku.
"Hah, kau serius, Yu? Masa sih, suami mu tega melakukan hal itu dengan mu?" tanya Naya ragu.
"Iya, aku serius, Nay. Maka nya aku cepat-cepat kabur dari rumah. Karena mereka bertiga ingin merampas semua milik ku." balas ku.
__ADS_1
"Ya Allah, Yu. Masa sampe segitu nya, sih. Jahat banget suami mu itu." gerutu Naya.