SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kembali Cekcok


__ADS_3

Yuni meminta maaf, sambil menangis sesenggukan di depan ku. Aku hanya terdiam melihat nya, tidak ada rasa kasihan atau simpatik sedikit pun di hati ku, untuk diri nya lagi.


Yang aku rasa kan saat ini hanya lah rasa kesal, kecewa, marah dan benci pada anak tiri ku itu. Sudah berulang kali, dia mempermainkan aku dan bang Darma.


Dan sudah berulang kali juga, dia berbuat kesalahan yang sangat fatal. Kali ini, perbuatan nya sudah tidak bisa, di maaf kan lagi.


"Simpan saja air mata buaya mu itu, Yun! Aku gak akan pernah percaya lagi, dengan semua kebohongan mu itu."


Aku mendudukkan tubuh ku di kursi plastik, dan melipat kedua tangan ku di perut. Aku tersenyum miring, melihat akting anak tiriku itu.


"Pandai sekali dia bersandiwara seperti itu, di depan ku." Batin ku.


"Kau ada perlu dengan ku, atau dengan bapak mu, Yun?"


"Ada perlu sama bapak, buk."Jawab nya lirih.


"Oh, ya udah kalau gitu. Berhubung bapak mu sedang bekerja, lebih baik kau pulang aja dulu, Yun!" ucap ku.


"Nanti, setelah bapak mu pulang, baru kau kesini lagi!" tambah ku.


"Ibuk kok berani ngusir aku sih, ini kan rumah bapak ku, dan aku berhak datang kesini kapan pun aku mau!"protes Yuni.


Yuni mendongak dan menatap ku sinis, dia tidak terima dengan kata-kata ku tadi. Mendengar jawaban Yuni barusan, darah ku langsung mendidih di buat nya.


"Heh, anak ingusan! Kau itu mau nya apa sih sebenarnya, hah?" tantang ku.


"Asal kau tau, ya! Aku berhak mengatur apa pun, yang ada di rumah ini. Karena apa? Karena aku, adalah istri nya Darma."


"Kalau bapak mu itu sakit, yang ngurus siapa, kalau bukan aku? Yang mengurus kebutuhan dan hidup nya selama ini itu siapa, kalau bukan aku?"


"Jadi, jangan pernah sekali-kali kau mengatur ku di rumah ini, ingat itu baik-baik!" ucap ku tegas.


"Aku mau, ibuk pisah dengan bapak ku! Biar bapak ku bisa rujuk lagi, dengan mamak ku."

__ADS_1


"Aku gak suka dengan ibuk, aku mau nya mamak ku yang jadi istri nya bapak, bukan ibuk." Oceh Yuni.


"Oh ya? Coba, kau tanya sendiri sama bapak mu itu. Mau gak dia berpisah dengan ku, mau gak dia rujuk lagi dengan mamak mu itu?" balas ku.


"Hahaha, mimpi mu ketinggian, Yun."


Aku tertawa ngakak mendengar keinginan gila nya itu. Setelah puas mentertawai Yuni, aku kembali berceloteh pada nya.


"Kau pikir, bisa segampang itu menendang ku dari rumah ini, hah? Jangan mimpi anak kecil, kau itu gak ada guna nya buat bapak mu itu."


"Jaga mulut mu itu ya, buk! Jangan sembarangan kalo ngomong, aku itu anak kandung nya." Jawab Yuni.


"Kalau bapak ku itu meninggal, doa ku lah yang paling berguna nanti untuk nya." Tambah Yuni.


"Ow ow ow, pemikiran bodoh macam apa itu? Apa harus nunggu bapak mu mati dulu, baru kau mau mendoakan nya?" balas ku.


"Apa kau yakin, kau masih ingat mendoakan nya, kalau nanti bapak mu itu mati?" cibir ku.


"Ya, pasti ingat lah. Aku kan anak satu-satunya, doa dari siapa lagi yang di harap kan bapak ku, kalau bukan doa dari anak nya?"balas Yuni santai.


"Kemungkinan, kau gak akan ingat lagi, kalau kau pernah punya seorang bapak!"


"Lagian, kau juga tidak pernah sholat. Gimana kau mau mendoakan, orang tua mu sendiri?" sindir ku pedas.


"Gak usah sok tau, aku sholat atau tidak!" Jawab Yuni lantang.


"Dan itu, juga bukan urusan ibuk, aku mau sholat kek, atau tidak kek. Gak usah campuri urusan pribadi ku. Ingat itu!"


"Kau kira, aku gak tau. Kau itu menunaikan sholat atau tidak, Yun?" tanya ku.


"Ya, pasti gak tau lah. Kita kan gak tinggal satu rumah, gimana ibuk bisa tau, aku sholat atau tidak?"


"Aku bisa tau, dari kutek yang tidak pernah lekang dari kuku mu itu. Dan dari rambut mu yang selalu berubah-ubah warna, setiap kali datang kesini."

__ADS_1


"Itu semua menandakan, kalau kau tidak pernah mengerjakan sholat, paham!"


Yuni langsung tertunduk malu, mendengar sindiran pedas ku itu. Dia terdiam sesaat, tidak mengoceh seperti beo lagi. Aku pun ikut terdiam, sambil terus menatap tajam pada nya.


Setelah beberapa menit hening, Yuni pun kembali bersuara, sambil mengotak-atik ponsel nya.


"Ya, udah lah kalo gitu. Aku pulang aja, males disini lama-lama. Bikin mood ku rusak aja, jadi nyesal pun aku tadi datang kesini!"


Aku mengerutkan kening, mendengar ocehan bocah tengik yang satu ini. Aku langsung beranjak dari kursi, berdiri tepat di hadapannya sambil melipat kedua tangan ku di perut.


"Heh, bocah sableng! Yang nyuruh kau datang kesini itu siapa, hah?"


"Ya, kan aku datang kesini, karena mau jumpai bapak ku. Bukan untuk jumpai, ibuk!" balas Yuni.


"Gak usah pura-pura amnesia kau, Yun! Kau kan udah tau sendiri, jam berapa bapak mu itu pulang kerja?"


"Jadi, ngapain kau kerajinan datang-datang kesini jam segini?" selidik ku.


"Suka-suka aku lah, kenapa rupa nya?" tantang Yuni.


Setelah selesai mengucap kan kalimat terakhir nya itu, ojek yang di pesan Yuni pun datang. Ojek itu berhenti, tepat di depan kios ku.


Yuni langsung keluar tanpa permisi dari kios, dan berlari kecil menghampiri ojek nya itu. Setelah Yuni naik ke atas motor, ojek itu pun langsung menjalan kan motor nya, dan mereka pun berlalu pergi.


"Huh, capek juga menghadapi anak sableng itu. Bener-bener menguras energi dan emosi, kalau sudah berhadapan dengan dia dan juga babon nya itu."


Aku bergumam, sambil mendudukkan tubuh ku kembali di atas kursi plastik. Aku memejamkan mata, sambil memijit-mijit kening ku yang mulai terasa pusing.


"Semoga saja, suatu hari nanti sifat mu itu bisa berubah, Yun. Dan semoga saja, kau bisa menjadi anak baik dan juga solehah. Amin amin ya rabbal a'lamin."


Setelah merasa rileks, aku masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di atas sofa panjang. Aku kembali memijit, dan menarik-narik rambut ku sendiri.


"Huh, kalau udah ada pikiran yang berat, ya gini ini. Pasti kepala ku langsung kumat, itu anak beranak bikin pusing aja kerjaan nya."

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang, mengingat kejadian demi kejadian. Yang akhir-akhir ini, selalu saja mengganggu ketenangan, hidup ku dan bang Darma.


"Semoga saja, semua ini hanya mimpi." Gumam ku pelan.


__ADS_2