SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Besar Pasak Dari Pada Tiang


__ADS_3

"Jangan-jangan, itu nomor Dina atau Yuni." batin ku.


"Angkat aja lah, bang! Siapa tau yang nelpon itu kawan kerja abang." usul ku.


"Oke, dek." jawab bang Darma.


Dengan perasaan ragu, akhir nya bang Darma pun menerima panggilan itu. Dia segera mengaktifkan pengeras suara di ponsel nya, agar aku juga bisa ikut mendengarkan percakapan nya.


"Halo, ini siapa ya?" tanya bang Darma.


"Halo ini Yuni, pak." jawab Yuni dengan suara cempreng nya.


"Oh, kau rupanya, Yun. Bapak kira tadi siapa, ada perlu apa?" tanya bang Darma.


"Pak, kenapa nomor ku sama nomor mamak bapak blokir semua?" tanya Yuni balik.


"Mana ada bapak blokir nomor kalian. Bapak aja dari semalam gak ada pegang ponsel kok." jawab bang Darma.


"Kalau bukan bapak, trus siapa lagi? Atau jangan-jangan ini semua ulah istri bapak yang gila itu." umpat Yuni dengan nada lantang.


Bang Darma langsung menoleh pada ku, setelah mendengar ucapan anak nya barusan. Tatapan mata bang Darma seolah-olah sedang bertanya kepada ku.


Aku yang mengerti arti tatapan mata nya itu pun, langsung menggeleng kan kepala tanda tidak tahu. Melihat gelengan ku, bang Darma pun langsung manggut-manggut sambil berkata...


"Bukan, Yun. Bukan ibuk mu yang melakukan semua itu. Dia juga dari semalam gak ada pegang-pegang ponsel bapak kok." jawab bang Darma.


"Heleh, belain aja terus istri bapak itu. Gak usah perduli kan aku lagi." balas Yuni ketus.


"Kau gak boleh ngomong gitu sama ibuk mu, Yun! Kau harus sopan kalau ngomong sama dia. Biar bagaimana pun juga dia ini istri bapak, paham!" ujar bang Darma tegas.


"Udah lah, gak usah ngomongin tentang dia lagi bikin kesal aja." gerutu Yuni.


Bang Darma menggeleng-gelengkan kepala nya. Dia tampak sedikit kesal karena mendengar ucapan yang cukup kasar dari anak semata wayang nya.


"Jadi kapan bapak mau belikan motor untuk Yuni? Jangan bisa nya cuma janji-janji aja lah, pak. Bosan Yuni nungguin nya." tanya Yuni ketus.


"Ya sabar dulu lah, Yun! Nanti bapak akan coba usahakan cari pinjaman sama bos bapak." jawab bang Darma.


Bang Darma kembali menoleh kepada ku, dia menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Bang Darma terlihat gusar dan bingung dengan permintaan anak nya.


"Usahakan secepatnya lah, pak. Biar Yuni bisa jalan-jalan lagi sama mamak. Yuni bosan di rumah terus, pak." rengek Yuni.


"Iya iya, nanti bapak usahakan. Udah dulu ya, bapak mau keluar cari pinjaman." balas bang Darma.


"Oke, pak. Semoga berhasil ya, pak. Nanti kalau uang nya udah dapat, cepat kabari Yuni ya!" balas Yuni girang.


"Iya, nanti bapak kabari." balas bang Darma sambil menutup panggilan dari Yuni.


"Hufff, punya anak satu aja udah bikin pusing kayak gini. Gimana kalau punya anak banyak ya?" gerutu bang Darma.

__ADS_1


"Dasar anak mu aja yang banyak tingkah plus kebanyakan gaya." cibir ku.


"Maksud adek apa ngomongin Yuni kayak gitu?" tanya bang Darma dengan nada tinggi.


Raut wajah bang Darma berubah menjadi sangar seketika. Dia tampak emosi dan tidak terima, kalau aku mengata-ngatai anak kesayangan nya yang tidak tahu diri itu.


Aku menghela nafas berat melihat reaksi bang Darma yang terlihat sudah mulai tersulut emosi. Dengan hati yang sedikit dongkol, aku pun kembali membuka suara.


"Anak mu itu gaya nya aja yang selangit. Tapi otak nya bodoh nol besar. Selalu aja memaksa kan kehendak nya sendiri, tanpa pernah perduli dengan keadaan orang tua nya." lanjut ku.


"Besar pasak dari pada tiang, itu lah istilah yang cocok buat anak kesayangan mu itu." tambah ku lagi.


Setelah mendengar penuturan ku, bang Darma pun mendengus kesal. Dia masih tidak terima dengan semua ucapan ku.


"Jangan ngomong gitu lah, dek! Yuni itu kan anak kita, jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk membahagiakan nya. Kita juga harus memenuhi semua keinginan nya." jelas bang Darma mulai melunak.


Kening ku langsung mengkerut menanggapi penjelasan bang Darma. Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran suami ku yang satu ini.


"Hello, sadar woy! Dia itu anak mu bukan anak ku, ingat itu baik-baik ya suami ku sayang!" balas ku tegas.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi punya anak sambung seperti dia." lanjut ku penuh penekanan.


"Kok makin ngelantur gitu sih ngomong nya, dek?" balas bang Darma tak mau kalah.


Bang Darma tampak berusaha menahan emosi nya yang sudah mulai naik sampai ke ubun-ubun. Dia selalu geram dan jengkel jika sudah berdebat dengan ku.


"Yang selalu di ributkan, asik masalah anak muuuu aja. Bosan juga lama-lama denger nya." cibir ku.


Bang Darma tampak semakin kesal setelah mendengar ocehan-ocehan ku yang tidak ada habisnya, persis seperti beo yang terus saja berceloteh ria tanpa henti.


"Udah udah, gak udah di ributkan lagi! Bikin tambah pusing kepala ku aja." balas bang Darma ketus.


Bang Darma ngedumel sambil melangkah keluar dari kamar. Dia membanting pintu utama dengan sangat kuat, sehingga membuat dinding kamar sedikit bergetar.


"Dasar, laki-laki gila!" sungut ku.


Setelah kepergian bang Darma, aku langsung merebahkan diri di atas ranjang. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sambil bergumam...


"Nasib mu lah, bang...bang... Punya anak satu, bukan nya membantu meringankan beban mu, malah selalu ngerusuhin hidup mu."


Sedang fokus-fokus nya menerawang, tiba-tiba aku tersentak kaget karena mendengar suara dering ponsel ku sendiri.


"Ya Allah, bikin kaget aku aja nih ponsel." gerutu ku sambil mengelus dada.


Dengan gerakan malas, aku berusaha merentangkan tangan untuk meraih ponsel yang masih terus berdering di bagian tengah meja.


"Huh, akhir nya dapat juga."


Aku menghela nafas panjang, setelah berhasil mendapatkan ponsel dengan penuh perjuangan.

__ADS_1


"Bang Agus," gumam ku sambil menatap layar ponsel.


"Mau ngapain lagi si botak tuyul satu ini nelpon aku?" batin ku.


Dengan berat hati, akhir nya aku pun menerima panggilan dari selingkuhan lima langkah ku itu.


"Halo, assalamualaikum." salam ku.


"Wa'laikum salam, calon bidadari surga ku." jawab bang Agus.


"Halah, lebay banget sih jadi orang. Kayak anak ABG aja pake acara menggombal segala. Gak bakalan mempan, tau gak!" cibir ku panjang lebar.


"Bah, kok langsung ngomel-ngomel gitu sih, say? Udah kayak kaleng rombeng aja mulut nya." balas bang Agus.


"Eh, botak. Jangan asal ngomong aja muncung mu itu, ya! Enak aja bilangin mulut ku kayak kaleng rombeng. Mau minta di sunat lagi apa dedek mu itu, hah." gerutu ku kesal.


"Hahaha, jangan lah, say. Kalau di sunat lagi, bakalan jadi pendek lah dedek abang." balas bang Agus.


"Ya gak papa lah, malah beneran. Biar gak bisa minta jatah lagi sama ku." jawab ku asal.


"Iisss, kejam kali wanita ku ini. Nanti kalo punya abang udah gak bisa digunakan lagi gimana, say? Abang udah gak bisa lagi lah memuaskan mu di ranjang." balas bang Agus lagi.


"Gampang kok, bang. Abang gak usah khawatir ya! Aku bakalan cari pengganti mu secepat nya, hahaha." balas ku.


Aku menjawab sambil tertawa terbahak-bahak. Aku merasa geli sendiri dengan ucapan ku barusan.


"Gak boleh, enak aja mau cari pengganti abang! Gak akan abang biar kan itu terjadi, camkan itu baik-baik." balas bang Agus tegas.


"Bercanda kok, bang. Ngomong gitu aja kok langsung tensian sih, ntar cepat tua loh." ledek ku.


"Emang abang udah tua kok, ngapain mesti takut lagi?" jawab bang Agus.


"Nah, itu sadar. Tapi kenapa masih kegatalan terus sama istri tetangga sendiri?" tanya ku.


"Nama nya juga cinta, say. Kita gak akan pernah tau akan kemana hati ini akan berlabuh." jawab bang Agus.


"Iya juga, sih. Tumben abang pintar, biasa nya oon tingkat nasional, hihihi." balas ku sembari cekikikan.


"Sembarang, bilangin abang oon! Mau minta di hukum ya?" ujar bang Agus.


"Ogah, pasti ujung-ujungnya minta jatah." balas ku cuek.


"Hahahaha, kok tau, say?" tanya bang Agus.


"Ya tau lah, aku kan anak dukun. Jadi aku bisa tau isi hati dan isi kepala abang." balas ku asal.


"Dasar gemblung, hahaha." balas bang Agus.


Bang Agus kembali tertawa terbahak-bahak, karena merasa lucu mendengar celotehan ku.

__ADS_1


__ADS_2