SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Nekat


__ADS_3

Setelah beberapa saat merenung, tiba-tiba bang Agus pun muncul dari balik pintu dengan membawa beberapa bungkus makanan di tangan nya.


Bang Agus meletakkan semua makanan itu di atas meja, lalu mulai membuka nya satu persatu. Setelah selesai, bang Agus pun melambaikan tangan nya ke arah ku sambil berkata...


"Sini, say! Udah abang siapin nih makanan nya." seru bang Agus.


"Ya," balas ku lalu berjalan mendekati nya, dan duduk di kursi kosong yang ada di depan nya.


Aku dan bang Agus pun mulai menyantap makanan masing-masing, dengan suasana hening dan santai tanpa percakapan apa pun.


Selesai makan, kami berdua pun duduk santai sambil menyalakan rokok masing-masing. Setelah beberapa menit saling berdiam diri, bang Agus pun mulai membuka perbincangan.


"Gimana kabar rumah tangga mu, say? Baik-baik aja kan?" tanya bang Agus.


"Ya, begitulah."


Jawab ku lirih sambil menghembuskan nafas kasar. Kemudian aku pun menyandarkan punggung ke bahu kursi, dan mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar.


Dengan pandangan kosong menerawang, aku pun mulai menceritakan kejadian yang sudah terjadi tadi siang.


"Semakin hari bocah tengik itu semakin nekat saja dengan perbuatan nya." ujar ku.


"Semakin nekat? Maksud nya nekat yang bagaimana?" tanya bang Agus bingung sambil menautkan kedua alisnya.


"Semakin nekat untuk mendapatkan bang Darma." jawab ku.


"Oooohh, itu. Kirain nekat apaan." balas bang Agus lalu kembali menghisap rokok nya.


"Emang dia ada melakukan apa lagi?" tanya bang Agus.


"Tadi siang dia datang ke rumah, trus kami berdua berantem." jawab ku.


Mendengar kata berantem, bang Agus pun langsung menoleh dan menatap ku dengan penuh tanda tanya.


"Berantem kenapa?" selidik bang Agus.


"Dia menerobos masuk ke dalam rumah. Trus dia ngata-ngatain aku juga. Siapa yang gak emosi coba, kalau di gituin sama anak kecil seperti dia?" ujar ku kesal.


"Hmmmm, iya juga sih." balas bang Agus sambil manggut-manggut.


Aku dan bang Agus pun kembali terdiam, kami sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Beberapa saat kemudian, bang Agus pun kembali bersuara.


"Kalau abang boleh saran sih, mendingan lepaskan aja suami mu itu. Biarkan dia bahagia dengan perempuan pilihan nya. Untuk apa lagi mempertahankan orang yang sudah tidak mencintai mu, bikin sakit hati aja." usul bang Agus.


Aku tidak membalas perkataan bang Agus, aku hanya diam sambil mencerna kata-kata nya yang menurut ku benar ada nya. Melihat keterdiaman ku, bang Agus menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ucapan nya kembali.


"Kau tidak perlu khawatir, say. Kalau pun seandainya kalian berpisah, abang pasti akan langsung menikahi mu dan membahagiakan mu." lanjut bang Agus dengan wajah serius.


Mendengar penuturan bang Agus, aku pun langsung menoleh dan menatap wajah nya dalam-dalam. Aku bisa melihat kesungguhan hati nya dari tatapan mata nya tersebut.


"Apakah aku memang harus melepaskan bang Darma, demi kebahagiaan kami berdua?" tanya ku dalam hati.


Melihat tatapan ku yang sedikit berbeda, bang Agus pun kembali bertanya pada ku.

__ADS_1


"Kenapa, say? Apakah kau masih ragu dengan ucapan abang tadi?" tanya bang Agus.


"Ragu sih enggak, tapi..." aku menggantung kata-kata ku, lalu kembali mendongak ke atas.


"Tapi kenapa? Apakah kau masih mencintai Darma?" desak bang Agus.


"Bukan, bukan karena itu. Aku hanya belum siap untuk memulai kehidupan baru lagi." jawab ku.


Bang Agus pun langsung mendengus dan memalingkan wajah nya ke samping, setelah mendengar jawaban ku barusan. Dia tampak sangat kecewa, karena kata-kata ku tidak sesuai dengan harapan nya.


"Ya udah lah, terserah kau aja. Semua keputusan ada di tangan mu. Abang gak bisa memaksa atau pun melarang mu. Kau itu sudah dewasa, kau pasti bisa menentukan yang terbaik buat hidup mu sendiri." ujar bang Agus pasrah.


"Tapi ingat, jangan pernah memaksakan diri, jika dirimu sudah tidak sanggup lagi menghadapi nya." lanjut bang Agus dengan penuh peringatan.


Bang Agus terus saja memberikan wejangan pada ku, agar aku tidak salah dalam mengambil keputusan untuk ke depannya.


"Iya, makasih ya bang atas pengertian nya." balas ku.


Bang Agus hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, dia pun mematikan api rokok nya lalu merangkak naik ke atas ranjang.


"Bobok yok, say! Mata abang udah mulai ngantuk nih." seru bang Agus.


"Ya," balas ku lalu naik ke atas ranjang, dan merebahkan diri di samping bang Agus.


Dengan posisi yang saling berpelukan, kami berdua pun mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, aku dan bang Agus pun langsung terlelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.


* Beralih ke kediaman Dina *


Setelah mengunci pintu, Yuni langsung duduk di depan meja rias lalu mengeringkan rambut nya dengan menggunakan hair dryer. Setelah itu dia pun merias diri secantik mungkin, lalu memakai pakaian minim dan transparan.


Yuni sengaja berdandan seperti itu, untuk memikat hati Darma. Agar lelaki pujaan nya itu semakin lengket dan tergila-gila pada nya.


Dengan senyum yang mengembang dan wajah yang berseri-seri, Yuni pun mulai mendekati Darma yang masih tertidur pulas di atas kasur empuk nya. Dia berbaring miring di sebelah tubuh Darma, lalu membingkai wajah lelaki itu sambil bergumam...


"Aku tidak akan membiarkan mu dekat-dekat dengan perempuan gila itu lagi, sayang. Aku akan menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki mu seutuh nya." gumam Yuni dengan senyum jahat nya.


Karena merasa terganggu dengan sentuhan lembut Yuni, akhirnya Darma pun mulai terjaga dari tidur lelap nya. Dia mengerjap-ngerjap kan mata nya, sambil bertanya...


"Udah jam berapa, sayang?" tanya Darma sembari menggeliat kan badan nya.


"Jam tujuh, emang kenapa? Abang lapar ya?" tanya Yuni balik.


"Iya, kalian ada masak apa tadi?" tanya Darma lagi.


"Gak ada masak apa-apa, kan abang tau sendiri kalau mamak malas masak. Kalau memang abang lapar, biar Yuni pesan kan makanan online aja. Gimana, mau gak?" tawar Yuni.


"Oke, itu pun jadi lah, dari pada gak makan apa-apa." balas Darma menyetujui tawaran Yuni.


Oke, tunggu bentar ya!" ujar Yuni.


Lalu ia pun segera bangkit dari kasur, dan mengambil ponsel nya yang tergeletak di atas meja rias. Sambil mengotak-atik benda pipih nya, Yuni pun kembali bertanya kepada Darma.


"Abang mau makan apa?" tanya Yuni.

__ADS_1


"Ayam geprek sama teh manis dingin aja." jawab Darma.


"Oh, oke." balas Yuni.


Setelah itu, Darma pun beranjak dari kasur lalu melilitkan handuk ke pinggang nya.


"Abang mau mandi ya?" tanya Yuni.


"Iya, emang nya kenapa?" tanya Darma balik.


"Awas ya, jangan macem-macem sama mamak lagi." jawab Yuni dengan penuh penekanan.


Kening Darma langsung mengkerut, setelah mendengar peringatan keras dari Yuni. Dia sama sekali tidak mengerti akan maksud dari ucapan Yuni barusan.


"Kau itu ngomong apa sih? Macem-macem apa maksud nya?" tanya Darma bingung.


"Pikir aja sendiri!" jawab Yuni ketus, lalu kembali menyibukkan diri dengan ponsel nya.


Darma menghela nafas berat sambil menggeleng-gelengkan kepala nya. Dengan pikiran yang masih terlihat bingung, Darma pun mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kamar Yuni.


Saat hendak membuka pintu kamar mandi, Darma di kejutkan dengan kedatangan Dina yang secara tiba-tiba dari belakang nya.


"Eh eh eh, mau ngapain kau kesini?"


Tanya Darma heran, sambil terus memandangi tubuh Dina dari atas sampai bawah, yang hanya di balut dengan handuk kecil.


Bukan nya menjawab pertanyaan Darma, Dina malah celingukan kesana kesini untuk memantau situasi sekitar.


Setelah di rasa aman, Dina pun langsung menarik tangan Darma ke dalam kamar mandi, lalu mengunci pintu nya rapat-rapat. Melihat gerak-gerik aneh Dina, Darma pun seolah-olah sudah mengerti akan maksud dari kelakuan mantan istri nya tersebut.


"Kau mau ngapain sih, Din? Nanti kalo kita ketahuan Yuni, gimana coba?"


Tanya Darma pura-pura gelisah, padahal sebenarnya dia sudah tahu tentang keinginan Dina melakukan hal itu.


"Halah, gak usah pura-pura bego lah. Kau pasti sudah tau kan, apa tujuan ku mengajak mu kesini?" cibir Dina.


"Ayo cepat, layani aku sekarang! Mumpung Yuni sedang lengah." titah Dina lalu melepaskan handuk nya, dan menggantung nya di belakang pintu.


Melihat tubuh polos Dina yang sudah terpampang jelas di hadapan nya, Darma pun langsung menelan ludah nya dengan kasar, dan mata yang membulat sempurna.


Karena sudah tergiur dengan kemolekan tubuh Dina, tanpa pikir panjang lagi Darma pun langsung menerkam tubuh mantan istri nya itu secara membabi-buta.


Darma mencium bibir Dina dengan rakus, lalu menempelkan telapak tangan nya di dua benda kenyal milik Dina. Setelah itu, dia pun memasukkan tombak nya ke dalam milik Dina, dan mulai melancarkan aksinya dengan kecepatan tinggi.


Dan akhirnya, pergumulan panas nan nikmat pun terjadi di kamar mandi tersebut. Suara-suara desah*an mereka pun mulai menggema, dan memenuhi setiap sudut ruangan tersebut.


Setelah berpacu selama hampir setengah jam dengan berbagai gaya dan posisi, akhirnya Darma dan Dina pun mencapai puncak kenikmatan dan menyudahi permainan mereka.


"Makasih ya, Dar. Kau memang sungguh luar biasa, sampai-sampai aku kewalahan menghadapi hasrat mu tadi."


Puji Dina lalu mengecup kilat bibir Darma, dan bergegas keluar dari kamar mandi.


"Ya, sama-sama." balas Darma dengan senyum yang mengembang di bibir nya.

__ADS_1


__ADS_2