SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Sawah Sepetak


__ADS_3

Mendengar pekikan Darma yang cukup memekakkan telinga, Ayu pun langsung beranjak dari sofa dan bergegas menemui suaminya ke dalam kamar.


"Apa sih? Udah kayak tinggal di hutan aja pake teriak-teriak segala." omel Ayu lalu duduk di tepi ranjang.


Ia memandangi Darma yang sedang menggeliat-geliat kan badan nya seperti ular, dengan kening mengkerut.


"Tolong pijatin kaki ku, dek!" pinta Darma sambil meringis memegangi kaki nya.


"Emang kaki mu kenapa?" tanya Ayu lalu mengalihkan perhatian nya ke arah kaki Darma.


"Entah lah, tiba-tiba langsung kram gitu." jawab Darma.


"Ooohh, naik betis mungkin tuh. Ya udah, sini aku pijatin!" ujar Ayu lalu mengambil minyak angin dan memijat-mijat kaki suami nya.


Setelah memijat selama hampir sepuluh menitan, Ayu pun menyudahi pijatan nya lalu bertanya...


"Gimana, udah enakan belum?" tanya Ayu.


"Ya lumayan lah, udah agak mendingan dikit." jawab Darma lalu menyandarkan punggung nya ke bahu ranjang.


"Maka nya jangan pecicilan terus kerjaan mu, kualat kan jadi nya." cibir Ayu.


Darma menautkan kedua alisnya, saat mendengar ucapan Ayu. Ia tampak tidak terima atas perkataan istrinya tersebut.


"Siapa yang pecicilan sih? Orang lagi enak-enak tidur kok, tau-tau langsung kram gitu." balas Darma sewot.


Karena tidak ingin berdebat dengan istri nya, Darma pun mengalihkan pembicaraan.


"Tadi kayak nya ada suara laki-laki, suara siapa itu?" tanya Darma penasaran.


Degh...


Ayu langsung terkejut dan berdebar-debar, ketika mendapat pertanyaan dari suaminya. Ia tidak menyangka, jika Darma mendengar percakapan nya dengan pak Kades tadi.


"Haduhh, mampus aku. Kok dia bisa dengar ya? Padahal kan dia lagi tidur tadi?" gerutu Ayu dalam hati.


Dengan perasaan gugup dan was-was, Ayu pun menatap wajah Darma lalu menjawab...


"Oohhh, itu suara pak Kades. Tadi dia nyari baju kemeja, tapi gak ada yang cocok ke badan nya." bohong Ayu dengan mimik wajah serius.


"Oh, pak Kades toh. Kirain tadi siapa." balas Darma.


Darma pun langsung percaya begitu saja, tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun kepada istri nya.


"Dek, perut mu laper gak?" tanya Darma.


"Enggak, emang kenapa?" tanya Ayu bingung.


"Perut abang laper nih, pengen ngemil sesuatu." jawab Darma sambil nyengir kuda.


"Emang mau ngemil apaan? Kalau aku goreng kan batu kerikil pake tepung, mau gak?" canda Ayu.


"Mau, tapi makan nya bareng-bareng ya." jawab Darma.


"Ogah, perut ku udah kenyang, jadi abang aja yang makan. Gimana, mau gak? Biar aku goreng kan sekarang." tawar Ayu.


"Males lah, masa abang di suruh makan sendiri." balas Darma lalu memanyunkan bibir nya.

__ADS_1


"Hihihi," Ayu terkikik geli melihat wajah masam suami nya.


Karena merasa kesal dengan istrinya, Darma pun bangkit dari ranjang dan menyampirkan handuk ke pundak nya.


"Mau kemana?" tanya Ayu.


"Mau ke mall. Udah tau bawa handuk gini, masih aja nanya mau kemana." jawab Darma ketus, lalu melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi.


"Iya juga ya, hihihi." gumam Ayu kembali cekikikan.


Setelah membersihkan diri, Darma pun kembali ke kamar lalu mengambil baju kemeja dan celana panjang dari dalam lemari. Selesai berpakaian dan merapikan diri, Darma menghampiri Ayu sambil menadahkan tangan nya.


"Minta uang mu seratus, dek! Abang mau beli bakso beranak." ujar Darma.


"Gak ada." jawab Ayu cuek.


Wajah Darma langsung cemberut saat mendengar jawaban istrinya.


"Ck, cepat lah, dek! Masa seratus aja gak ada sih? Pelit banget jadi orang. Perut abang udah lapar nih." rengek Darma sambil terus menadahkan tangan nya ke wajah Ayu.


"Masa gak ada rasa kasihan nya dikit pun sih, kejam bener!" lanjut Darma masih terus berusaha membujuk Ayu.


"Cepat lah, sayang kuuu! Entar lama-lama abang bisa pingsan loh, gara-gara kelaparan." rengek Darma lagi.


Mendengar ucapan Darma yang tidak masuk akal, Ayu pun memutar bola mata malas, lalu berkata...


"Mau pingsan kek, mau nungging kek, mau jungkir balik kek, bodo amat." balas Ayu ketus.


"Ck, jangan gitu lah, dek! Masa tega sih, lihat abang kelaparan gini?" lanjut Darma masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.


Karena merasa bosan dengan rengekan Darma, Ayu pun akhirnya mengalah dan mengambil selembar uang dari dalam dompet nya.


"Oke, siap tuan putri." balas Darma dengan wajah berbinar cerah.


Setelah mendapatkan uang dari Ayu, Darma pun langsung bergegas keluar kamar. Beberapa detik kemudian, ia pun kembali ke kamar dan menghampiri Ayu yang masih duduk di tepi ranjang, sambil mengotak-atik ponsel nya.


"Loh, kok balik lagi?" tanya Ayu heran.


"Mana kunci motor nya? Sini, biar lebih cepat gerak nya!" jawab Darma sambil menadahkan tangan nya kembali.


Tanpa bertanya apa-apa lagi, Ayu pun mengambil kunci motor nya dari dalam laci meja, lalu menyerahkan nya ke tangan Darma.


"Nah, nanti isikan minyak nya sekalian." ujar Ayu.


"Oke," jawab Darma.


Setelah itu Darma pun langsung melangkah keluar, dan pergi membeli makanan dengan mengendarai motor matic Ayu. Setengah jam kemudian, Darma pun kembali sambil menenteng dua bungkusan di tangan nya.


"DEK, INI MAKANAN NYA." pekik Darma dari ruang tamu.


"Ya, bentar!" balas Ayu dari dalam kamar.


Setelah meletakkan ponsel nya di atas meja, Ayu segera keluar dari kamar dan duduk di hadapan Darma.


"Nah, ini pesanan mu tadi." ujar Darma, lalu menyodorkan kotak martabak ke depan Ayu.


Ayu tidak membalas ucapan Darma. Ia mengambil kotak martabak itu lalu membuka nya.

__ADS_1


"Waaahh, mantap betul nih martabak." tutur Ayu dengan senyum lebar nya.


Lalu ia pun mengambil sepotong dan memakan nya dengan lahap. Begitu juga dengan Darma, ia menyalin bakso nya ke dalam mangkok lalu memakan nya.


"Mau cicip gak, dek?" tawar Darma.


"Gak ah, aku makan ini aja." tolak Ayu sambil menunjuk ke arah martabak nya.


"Oh, ya udah." balas Darma lalu melanjutkan makan nya kembali.


Darma dan Ayu menyantap makanan nya masing-masing dengan santai dan tenang, tanpa percakapan apa pun lagi. Tak butuh waktu lama, bakso beranak milik Darma pun ludes tak bersisa.


"Eegghh, alhamdulillah." Darma bersendawa dengan suara yang cukup kuat.


Sedangkan Ayu, ia masih terus mengunyah martabak nya, sambil sesekali melirik ke arah Darma yang tampak sangat kekenyangan memegangi perut nya.


Setelah menghabiskan martabak sebanyak empat potong, Ayu pun menyudahi kunyahan nya, lalu menyimpan sisa nya ke dalam lemari makan.


"Loh, kok gak di habiskan, dek?" tanya Darma sembari menyalakan rokok nya.


"Udah kenyang, sisa nya buat nanti aja." jawab Ayu.


"Oh," balas Darma.


Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari pun mulai gelap. Sepasang suami istri itu pun naik ke atas ranjang, dan mengistirahatkan diri masing-masing.


Saat Ayu hendak memejamkan mata nya, tiba-tiba ia tersentak kaget ketika tangan nakal Darma menelusup masuk ke dalam lingerie nya, dan mengelus-elus pucuk bukit kembar nya.


Ayu tidak menolak ataupun melarang perbuatan Darma. Ia hanya diam sambil menikmati kegiatan nakal suami nya tersebut. Karena sudah tidak sanggup menahan hasrat nya, Darma pun mulai menciumi tengkuk leher Ayu dengan nafas yang mulai memburu.


"Dek, abang pengen." bisik Darma dengan suara serak dan menggigit pelan telinga Ayu.


"Pengen apa? Nyangkul sawah ya?" canda Ayu.


"Iya, nyangkul sawah mu yang sepetak ini. Gimana, boleh gak?" tanya Darma lalu menempelkan telapak tangan nya ke milik Ayu, dan membelai nya dengan lembut.


Ayu tidak menjawab, ia hanya mengangguk menyetujui permintaan suaminya. Melihat anggukan Ayu, Darma pun langsung tersenyum lebar dan mulai melancarkan aksinya.


Darma mencumbui tubuh Ayu dari atas sampai bawah, tanpa terlewatkan satu inci pun. Ia tampak sangat bersemangat dan bergairah, saat menjamah tubuh istri nya tersebut.


Setelah selesai dengan cumbuan nya, Darma pun mulai mengarah kan tombak keras nya ke milik Ayu.


"Abang mulai sekarang ya, sayang!" ujar Darma dengan mata sayu nya.


"Iya," jawab Ayu sembari mengangguk.


Setelah mendapat persetujuan istrinya, Darma pun langsung menancapkan tombak nya dengan sekali hentakan dan "bless," tombak Darma pun masuk dengan sempurna tanpa hambatan apa pun.


Setelah itu, Darma pun mulai melakukan gerakan nya dengan kecepatan penuh dan sedikit kasar. Hingga membuat Ayu semakin tidak karuan, karena menahan rasa sakit dan nikmat yang bercampur aduk jadi satu.


Setelah satu jam berpacu dengan berbagai gaya dan posisi, Darma pun semakin mempercepat gerakan nya. Hingga akhirnya, mereka berdua pun mencapai kenikmatan secara bersamaan.


"Bang, aaakkh." pekik Ayu dengan tubuh menegang dan mata terpejam.


Ayu memuncak sambil melingkarkan kedua kaki nya di pinggul Darma, lalu menekan nya dengan kuat. Begitu pun dengan Darma, ia mengerang sambil terus menyemburkan benih nya ke dalam rahim Ayu.


Setelah pergumulan panas nan nikmat itu berakhir, Ayu dan Darma pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan hasil permainan mereka.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka berdua pun kembali membaringkan diri di atas ranjang dan memejamkan mata kembali.


Tak lama berselang, Ayu dan Darma pun terlelap dan masuk ke alam bawah sadar masing-masing, dengan posisi saling berpelukan di bawah selimut, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka berdua.


__ADS_2