
Melihat kegarangan Ayu, Yuni pun semakin memundurkan langkahnya ke belakang. Ia terlihat semakin ketakutan, melihat wajah monster yang sedang menantang nya untuk berkelahi.
"Waduh, makin horor aja nih perempuan. Dari pada mati konyol, mendingan aku cepat-cepat kabur dari sini," batin Yuni semakin panik.
Dengan tekad yang sudah bulat seperti telur ayam, Yuni pun berbalik badan dan bersiap-siap untuk pergi. Saat hendak melangkah, tiba-tiba nasib apes pun menghampiri nya.
Kaki Yuni tersandung oleh sandal nya sendiri. Dan itu berhasil membuat nya kembali terjatuh dan tersungkur di lantai teras.
"Aduuuuh, sakiiiiit!" pekik Yuni sambil memegangi lutut nya yang tampak sedikit memar, akibat ulah nya sendiri.
Melihat rival nya kembali kelesotan di lantai, tawa Ayu pun kembali meledak. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut nya.
"Hahahaha, sokor! Kualat kau kan," umpat Ayu.
Wajah Yuni pun semakin masam mendengar ocehan Ayu. Ia tampak sangat geram dan kesal dengan perkataan Ayu barusan.
Sedangkan Ayu, ia sama sekali tidak menghiraukan raut wajah lawan nya. Ia tetap saja melontarkan kata-kata pedas, kepada bocah tengik yang ada di hadapannya.
"Maka nya jangan pernah macam-macam dengan ku, kalau kau tidak ingin mendapatkan karma instan. Hantu yang ada di badan ku ini pasti akan murka dan marah besar, kalau kau terus-terusan mengganggu hidup ku," oceh Ayu asal.
Glek... Yuni menelan ludah nya dengan kasar.
"Apa iya sih, di badan perempuan gila ini ada hantu nya?" batin Yuni ragu.
Masih dengan posisi kelesotan di lantai, Yuni pun sibuk memikirkan ucapan Ayu yang sangat tidak masuk akal menurut nya.
"Apa? Ha-hantu? Ma-mana mungkin di badan cungkring mu ada hantu nya? Jangan mengada-ada kalo ngomong," tanya Yuni tergagap.
Melihat ketakutan Yuni, Ayu pun mempunyai ide untuk semakin menakut-nakuti nya. Ia tersenyum miring, lalu berjongkok di depan Yuni dan berkata...
"Ya, di badan ku ini ada penunggu nya. Jadi jangan berani macam-macam dengan ku. Kalau tidak kau akan, kreekk," ujar Ayu dengan wajah serius dan meletakkan jari telunjuk di leher nya.
Ayu memperagakan seolah-olah sedang memotong leher nya dengan jari nya sendiri. Dan itu membuat Yuni semakin kalang kabut di buat nya. Bahkan keringat dingin pun mulai bermunculan di permukaan wajah nya.
"Kapok kau bocah tengik! Emang enak di kibulin, hahahaha!" batin Ayu girang.
Setelah menakut-nakuti Yuni, Ayu kembali berdiri dan menatap sinis kepada gadis selingkuhan suami nya, yang masih tampak anteng duduk di lantai teras rumah nya.
Karena sudah lelah menghadapi musuh nya itu, Ayu pun mengusir nya dengan kasar.
"Pulang sana! Ngapain masih nonggok di situ? Bikin rusak penglihatan ku saja," usir Ayu ketus.
"Iya iya, cerewet kali sih muncung dower mu itu. Aku juga ogah berlama-lama disini, bikin mual perut ku saja tau gak," jawab Yuni tak mau kalah.
__ADS_1
Setelah menjawab perkataan Ayu, Yuni pun segera bangkit dan merapikan penampilan nya. Sebelum melangkah kan kaki nya, Yuni pun menatap tajam ke arah Ayu, lalu berkata...
"Heh, perempuan gila! Kau ingat baik-baik ya. Aku mengalah bukan berarti aku takut dengan mu. Aku hanya malas meladeni kelakuan gila mu itu, paham!" ucap Yuni dengan penuh penekanan.
"Ya ya ya, terserah kau saja lah. Aku juga lebih malas dan muak menghadapi orang gila seperti mu. Hush hush, minggat sana!" usir Ayu.
Ia tersenyum sinis dan melambai-lambai kan tangan nya, persis seperti mengusir seekor binatang dari rumah nya.
"Awas kau ya, tunggu aja pembalasan ku!" ancam Yuni lalu melangkah pergi dari hadapan Ayu.
"Hahahaha, udah kayak mak lampir yang ada di tv-tv aja tuh bocah. Tunggu pembalasan ku, hiii hiiii hiii," ledek Ayu sembari menirukan suara tokoh mak lampir.
Ayu menggeleng-gelengkan kepala nya, sambil terus memandangi kepergian Yuni yang sedang berjalan menuju pangkalan ojek, yang berada tidak jauh dari kediaman nya.
Setelah Yuni menaiki salah satu ojek dan berlalu pergi, Ayu pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu utama kembali.
Dengan langkah malas-malasan, Ayu pun berjalan menuju kamar dan menjatuhkan tubuh lelah nya di atas ranjang.
"Hufff, akhir nya selesai juga pertempuran antar pulau nya," gumam Ayu sembari menghela nafas lega.
"Istirahat bentar, ah. Mumpung bang Darma lagi keluar," gumam Ayu lagi.
Kemudian ia pun memiringkan badan nya, dan memeluk guling kesayangan nya. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba Ayu tersentak kaget karena mendengar suara gedoran pintu yang cukup kuat.
"Dek, buka pintu nya, dek! Dek, cepat buka pintu nya!" teriak Darma sambil terus menggedor-gedor pintu.
Mendengar suara Darma yang sangat memekakkan telinga, Ayu pun segera bangkit dari ranjang dan berjalan dengan langkah lebar menuju pintu.
"Ck, bikin rusuh aja pun hantu satu ini!" gerutu Ayu kesal.
Ceklek...
Setelah pintu terbuka lebar, Darma pun langsung memeluk tubuh Ayu dengan erat. Ia tampak sangat bahagia dengan wajah berbinar cerah. Sedangkan Ayu, ia mematung seketika. Ia terlihat kebingungan dengan tingkah aneh suami nya.
"Ini orang kenapa sih? Kesurupan jin iprit kali ya?" batin Ayu menduga-duga.
Setelah beberapa saat memeluk tubuh istri nya, Darma pun mulai merenggang pelukan nya. Ia beralih memegangi kedua pipi Ayu, lalu berkata...
"Dek, abang ada kabar gembira buat mu," ucap Darma dengan senyum mengembang di bibir nya.
"Kabar gembira apa?" tanya Ayu masih dengan mode kebingungan.
"Abang sudah menemukan pembeli yang cocok. Besok dia akan datang untuk mengecek rumah ini," ujar Darma menjelaskan.
__ADS_1
"Ooohhh, itu. Kirain tadi apaan?" balas Ayu dingin.
Wajah Darma yang tadi nya berbinar-binar, kini langsung berubah masam, ketika melihat reaksi Ayu yang tampak biasa-biasa saja saat mendengar penjelasan nya.
"Loh, kok cuma gitu aja sih respon nya, dek?" tanya Darma heran.
"Lah, trus aku harus gimana? Apa aku harus jingkrak-jingkrak? Atau aku harus salto-salto di depan abang gitu?" tanya Ayu sembari menautkan kedua alisnya.
"Ya gak gitu juga keles. Setidak nya ada komentar yang lain kek. Masa cuma oh doang sih? Gak asik banget denger nya," protes Darma.
Ia pun berjalan dengan langkah gontai menuju ruang tamu, lalu merebahkan tubuh nya di atas sofa panjang.
Begitu juga dengan Ayu, ia mengekori langkah Darma dan mendudukkan diri di depan suami nya. Melihat wajah cemberut Darma, Ayu pun hanya tersenyum tipis lalu kembali bersuara.
"Emang nya siapa yang ingin membeli rumah ini?" tanya Ayu membuka percakapan kembali.
"Rudi, teman kerja abang dulu," jawab Darma.
"Ooohhh, Rudi toh," balas Ayu sembari manggut-manggut.
Suasana pun hening sesaat, Ayu dan Darma sama-sama terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Setelah beberapa saat saling berdiam diri, Ayu pun kembali membuka percakapan.
"Trus, gimana rencana abang selanjutnya? Emang kita mau pindah kemana?" tanya Ayu lalu mengambil rokok dan menyalakan nya.
"Pindah ke kampung abang aja. Di sana harga tanah kosong masih murah. Jadi kita bisa beli tanah yang agak lebar, untuk membangun rumah dan bisa untuk berkebun juga," jelas Darma panjang lebar.
Darma bangkit dari rebahan nya dan duduk di sebelah Ayu. Ia juga menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.
"Waaahh, ide bagus tuh. Jadi aku bisa menanam beberapa macam sayuran nanti nya," ujar Ayu dengan penuh semangat.
"Yupz, betul sekali. Abang juga berpikiran yang sama seperti mu. Abang mau nanam ubi kayu, ubi jalar, jagung, kangkung, kacang panjang dan lain sebagainya," sambung Darma dengan senyum sumringah.
Darma sedang membayangkan, betapa bahagia nya hidup nya nanti, jika impian nya itu terwujud. Begitu pun dengan Ayu, ia juga sedang membayangkan kehidupan baru nya nanti.
Setelah beberapa saat saling menghayal dan merenung, Ayu dan Darma pun kembali berbincang-bincang mengenai rencana kepindahan mereka.
"Ngomong-ngomong, gimana dengan kedua benalu mu itu? Apakah kau juga memberitahu mereka, jika kita akan pindah dari kota ini?" tanya Ayu penasaran.
"Tidak, abang tidak akan memberitahu mereka. Abang malas berhubungan dengan mereka lagi," jawab Darma sembari menghisap rokok nya.
"Oh, syukur lah kalo gitu," balas Ayu sedikit lega mendengar keputusan suami nya.
"Semoga saja di sana nanti, kita bisa hidup bahagia seperti dulu lagi ya, dek!" ucap Darma penuh harap.
__ADS_1
"Aaamiiiiin, mudah-mudahan saja demikian," balas Ayu mengamini perkataan Darma.