
Setelah selesai mandi, bang Agus mulai memeluk tubuh ku dari belakang. Dia menciumi tengkuk leher hingga ke bahu ku.
"Geli, bang."
Bahu ku langsung bergidik, karena mendapatkan sentuhan yang bisa membuat bulu kuduk ku meremang.
"Say, abang pengen." bisik bang Agus.
Bang Agus memboyong tubuh ku ke atas ranjang, dan membaringkan tubuh ku sambil terus menciumi bibir ku.
"Kita mulai sekarang ya, say! Abang udah pengen banget nih." bisik bang Agus lagi.
"Iya, bang. Mulai lah, aku sudah siap menerima nya!" jawab ku lirih.
Aku tersenyum menatap wajah bang Agus, yang sudah tampak gelisah tidak karuan, akibat menahan hasrat nya yang sedang menggebu-gebu.
Mendengar jawaban ku, bang Agus langsung melancarkan serangan nya. Dia mulai mencumbui seluruh tubuh ku dengan lembut, dan penuh kasih sayang.
Hingga akhirnya, pergumulan panas pun terjadi di atas ranjang kamar hotel tersebut. Setelah selesai melancarkan aksinya, bang Agus mencium pucuk kepala ku dengan mesra.
"Makasih ya, say. Abang bahagiaaa banget hari ini." bisik bang Agus.
"Bahagia kenapa?" tanya ku bingung.
"Ya karena bisa memiliki mu hari ini lah, sayang." balas bang Agus.
"Oh, kirain." balas ku.
"Kirain apa, hayo?" goda bang Agus, sambil menoel hidung ku yang berada di bawah kungkungan nya.
"Hehehe, gak papa, bang." balas ku salah tingkah.
Bang Agus tersenyum, dan merebahkan tubuh nya di samping ku. Aku memiringkan badan, dan memeluk bang Agus dari samping kanan nya. Aku juga meletakkan satu kaki ku di atas perut nya, sambil mengelus-elus bulu dada nya.
"Hhhmmm, aku boleh tanya sesuatu gak, bang?" ucap ku ragu.
"Boleh, emang nya mau tanya apa an? Kayak nya serius banget." jawab bang Agus.
Sebelum mengungkapkan isi hati ku pada bang Agus, aku memejamkan mata sejenak, dan menghembuskan nafas berat.
__ADS_1
Setelah agak sedikit tenang, aku kembali melontarkan pertanyaan kepada selingkuhan lima langkah, yang sedang berada di dalam pelukan ku.
"Kalau seandainya bang Darma menceraikan ku, apakah abang sudah siap untuk menikahi ku?" tanya ku dengan dada yang berdebar-debar.
"Iya, sayang. Abang siap menikahi mu, kapan pun dan dimana pun. Jangan kan nunggu sampe si Darma menceraikan mu, sekarang pun abang sudah siap menikahi mu, jika dirimu menginginkan nya." jawab bang Agus.
Hati ku merasa lega, setelah mendengar jawaban bang Agus. Aku mencium pipi bang Agus, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
"Makasih ya, bang. Aku sangat bahagia mendengar nya." bisik ku pelan.
Bang Agus menggenggam erat tangan ku, yang sedang menjalar di dada nya. Lalu, mencium punggung tangan ku sambil berkata...
"Kita kabur sekarang aja yok, say! Kita pergi dari kota ini, dan membangun rumah tangga di kampung abang. Gimana, mau gak, say?" tanya bang Agus serius.
Aku langsung terdiam sesaat. Kemudian, aku beranjak dari tubuh bang Agus, dan duduk di atas kursi. Lalu, aku melilit kan handuk untuk menutupi sebagian tubuh ku, dan menyalakan rokok.
"Kenapa, say?" tanya bang Agus.
Aku yang sedang asyik dengan pikiran ku sendiri pun, sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan bang Agus. Melihat reaksi ku seperti itu, kening bang Agus langsung mengkerut. Dia terlihat bingung dengan tingkah aneh ku.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari ku, bang Agus pun mulai melangkah mendekati ku, dan duduk di kursi yang berada di samping ku.
"Gak ada apa-apa, bang. Aku cuma lagi pusing aja, mikirin rumah tangga ku yang sedang berantakan, seperti saat ini." jawab ku dengan pandangan kosong, menatap langit-langit kamar.
"Ngapain di pikirin lagi sih, say? Kan ada abang, yang siap menerima mu kapan saja." balas bang Agus.
Bang Agus tampak bersungguh-sungguh dengan semua ucapan nya. Dia terus berusaha meyakinkan, agar aku tidak perlu mengkhawatirkan masalah rumah tangga ku saat ini.
Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, kepada bang Agus. Aku diam seribu bahasa, dan sama sekali tidak menanggapi ucapan nya.
"Mau sampai kapan, kau mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat lagi seperti itu, say?" tanya bang Agus.
"Entah lah, bang. Aku juga bingung, dengan nasib rumah tangga ku ini."
Aku menghisap rokok, dan menatap mata bang Agus sekilas. Kemudian, aku kembali menerawang tentang rumah tangga ku yang sudah di ujung tanduk.
"Aku akan ikuti aja dulu alur nya. Kalau memang aku sudah tidak sanggup, aku pasti akan mundur, dan mengakhiri hubungan ku dengan bang Darma." jelas ku.
"Apa hargai apa pun keputusan mu. Abang harap, itu adalah keputusan yang terbaik untuk mu, say." balas bang Agus.
__ADS_1
"Iya, bang. Makasih ya, sudah mau ngertiin keadaan ku." jawab ku.
"Sama-sama, say." balas bang Agus sambil menyalakan rokok nya.
Suasana hening sejenak, aku dan bang Agus sibuk dengan pikiran masing-masing. Sambil menghisap rokok, bang Agus pun kembali membuka suara nya.
"Say, abang boleh nanya satu hal gak?" ujar bang Agus.
"Silahkan, bang."
Aku mematikan api rokok ke dalam asbak, dan menyeruput jus wortel yang terletak di atas meja.
"Apakah ada lelaki lain di hati mu, selain abang dan Darma?" tanya bang Agus.
Jus wortel yang sedang aku seruput, langsung tersembur keluar dari mulut ku, dan membasahi tangan bang Agus yang sedang duduk di samping ku. Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan bang Agus.
"Degh, apa maksud dari pertanyaan nya ini? Apakah dia sudah mengetahui hubungan ku dengan Rendi?" batin ku mulai gelisah, sambil melirik ke arah bang Agus.
"Atau, bang Agus hanya menduga-duga saja, ya." lanjut ku.
Karena mendapatkan semburan dari ku, bang Agus langsung beranjak dari kursi, dan berjalan beberapa langkah, untuk mengambil tisu yang berada di meja rias.
"Minum gini aja kok bisa sampe nyembur gitu sih, say? Maka nya kalo minum itu pelan-pelan dong, sayang."
Bang Agus mengoceh sambil terus membersihkan mulut ku, yang masih belepotan jus wortel, dengan beberapa lembar tisu.
Setelah selesai, bang Agus lanjut membersihkan tangan nya sendiri, lalu membuang tisu kotor itu ke dalam tong sampah.
"Maaf ya, bang. Aku gak sengaja." ucap ku lirih.
"Iya, gak papa, sayang." jawab bang Agus sambil melempar senyum pada ku.
Setelah semua nya bersih, bang Agus duduk di tempat nya semula, dan kembali mempertanyakan hal yang sama dengan ku.
"Gimana tentang pertanyaan abang tadi, say. Apakah ada lelaki lain di hati mu, selain kami berdua (bang Agus dan bang Darma)?"
Bang Agus menatap mata ku dalam-dalam. Dia tampak sangat serius, ingin mendengar kan jawaban dari ku.
"Hmmmm, emang nya kenapa, bang? Kok tiba-tiba abang nanya nya gitu?" tanya ku balik.
__ADS_1