SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Terpaksa Menyetujui


__ADS_3

"Kalau iya emang nya kenapa, hah?" tanya Dina ketus.


"Ya, gak papa sih. Aku cuma kasihan aja sama Yuni. Takut nya terjadi sesuatu dengan nya, gara-gara obat tidur mu itu." jawab Darma.


Dia tampak sedikit khawatir dengan keadaan gadis kecil nya tersebut. Darma tidak rela, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Yuni, akibat ulah mantan istri nya itu.


"Tenang aja, gak bakalan terjadi apa-apa kok. Itu hanya obat tidur dosis rendah. Gak ada efek samping apa pun kalau meminum obat itu, percaya lah!" balas Dina.


Dina berusaha meyakinkan Darma, agar dia tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan Yuni. Dan Dina juga membelai wajah Darma dengan lembut, dan senyum yang sumringah di bibir nya.


"Udah, gak usah di pikirkan lagi masalah Yuni. Aku juga sering kok meminum obat itu, kalau aku lagi susah tidur." lanjut Dina.


"Hufff, ya udah deh. Aku percaya dengan mu. Lagian, kau itu kan ibu nya. Gak mungkin lah kau tega melakukan hal yang tidak-tidak dengan anak mu sendiri, ya kan!" ujar Darma penuh penekanan.


"Yups, betul sekali." balas Dina sembari tersenyum lebar, hingga menampilkan deretan gigi putih nya.


Suasana hening sejenak, dalam keadaan yang masih sama-sama polos di atas ranjang, Darma dan Dina hanyut dalam lamunan dan khayalan masing-masing.


"Jadi gimana tentang syarat ku itu, Dar? Apa Yuni udah tau masalah itu?" tanya Dina memecah keheningan.


"Udah, tapi aku gak bilang kalau aku harus melayani mu juga. Aku cuma bilang, kalau kau mau ikut tinggal bersama kami." jawab Darma.


"Oh gitu, trus apa tanggapan dia? Apa dia setuju?" selidik Dina.


"Sebenarnya sih dia gak setuju." jawab Darma jujur.


"Loh, emang kenapa? Apa alasan nya gak setuju?" tanya Dina.


"Ya Karena dia takut, kalau kau akan mengganggu kesenangan kami nanti nya. Dia juga gak mau kalau kau mengatur-atur hidup nya, dan menyuruh ini itu padanya." jelas Darma.


"Dasar, anak gak tau di untung! Bisa-bisa nya dia bicara seperti itu pada ibu nya sendiri." umpat Dina geram.


Dina sangat kesal dan kecewa dengan anak nya sendiri. Dia tidak pernah menyangka, jika anak yang di lahirkan nya dan di besar kan nya dengan penuh kasih sayang, akan berbuat setega itu dengan nya.


Mendengar umpatan kesal dan wajah kecewa Dina, Darma pun merasa tidak tega untuk menjelaskan secara rinci, apa yang sudah di katakan oleh Yuni.


"Udah, gak usah sedih! Nanti aku coba bujuk dia lagi, biar dia mau menerima syarat mu itu." ujar Darma.


Raut wajah Dina yang tadi nya murung, kini langsung berubah cerah, secerah sinar matahari di siang bolong.


Dina reflek menoleh ke arah Darma yang masih setia berbaring telentang di sebelah nya, dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar.


"Serius, Dar?" tanya Dina.

__ADS_1


"Iya serius, nanti aku usahakan. Aku coba ngomong baik-baik sama dia." jawab Darma.


Darma menoleh ke samping, lalu menyunggingkan senyum manis nya pada Dina. Dia membalas tatapan mata Dina, yang sedari tadi terus saja memandanginya.


"Kenapa lihatin aku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanya Darma heran.


"Gak papa, gak ada yang salah kok. Aku malah seneng dengar nya. Itu artinya, kau mendukung keinginan ku itu Ya kan, bener gak?" tanya Dina.


Darma menghela nafas panjang. Dia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya dia sependapat dengan Yuni, untuk menolak persyaratan Dina tersebut.


Tapi setelah melihat wajah Dina yang penuh harap, Darma pun berubah pikiran. Dia jadi tidak tega untuk menolak keinginan mantan istri nya itu.


"Ya, gitu lah." jawab Darma dengan nada terpaksa.


Dina kembali tersenyum lebar, saat mendengar jawaban Darma. Dia merasa sangat bahagia, karena Darma masih mau berhubungan dengan nya.


"Yey, akhirnya Darma luluh juga dengan rayuan maut ku. Dia pasti masih ada rasa dengan ku. Aku yakin itu, hahaha." batin Dina girang.


Dina mengira kalau Darma masih mencintai nya, padahal Darma terpaksa menyetujui keinginan nya, hanya semata-mata karena rasa kasihan, tidak lebih.


Selesai berbincang-bincang mengenai rencana mereka selanjutnya, Darma pun mulai beranjak dari ranjang lalu memakai pakaian nya kembali.


Begitu juga dengan Dina, dia juga ikut turun dari ranjang, dan mengambil pakaian dari dalam lemari lalu memakainya. Selesai berpakaian, mereka berdua keluar dari kamar dan duduk di kursi ruang tamu.


"Oke," balas Darma.


Darma langsung bangkit dari kursi, lalu melangkahkan kaki nya menuju kamar Yuni. Darma membuka pintu kamar, lalu mengarahkan pandangan nya kepada Yuni, yang masih tampak setia dengan mimpi indah nya di atas kasur.


"Huh, syukur lah dia masih tidur." gumam Darma.


Darma menghela nafas lega, lalu kembali menutup pintu kamar Yuni. Setelah itu dia kembali melangkah menuju ruang tamu, dan mendudukkan diri di tempat semula.


"Gimana, dia udah bangun belum?" tanya Dina penasaran.


"Belum, masih nyenyak banget tidur nya." jawab Darma.


"Oh, syukur lah kalo gitu." balas Dina lega.


Dina juga sama seperti Darma, dia merasa sangat lega dan tenang karena anak nya tidak mengetahui, apa yang sudah di lakukan nya dengan Darma.


"Din, aku pulang ke rumah bentar ya! Ada yang mau aku omongin dengan Ayu." ujar Darma.


"Mau ngomong masalah apa?" tanya Dina mulai curiga.

__ADS_1


"Ya masalah apa lagi, kalau bukan masalah aku dan Yuni." jawab Darma.


"Yakin?" selidik Dina tidak percaya.


"Ya, yakin lah. Emang kau pikir, aku mau ngapain pulang ke rumah?" oceh Darma ketus.


"Siapa tau aja kau mau minta jatah sama perempuan gila itu." cibir Dina sembari tersenyum miring.


Wajah Darma langsung berubah kesal, setelah mendengar ucapan Dina. Dia tidak suka jika Dina terlalu mencampuri urusan nya dengan Ayu. Dan Darma juga tidak senang jika Dina selalu menjelek-jelekkan istri nya tersebut.


"Kalau iya, emang nya kenapa? Dia itu masih istri sah ku. Aku berhak meminta atau pun memberi jatah pada nya, paham!" ujar Darma tegas.


"Loh, kok malah marah sih? Aku kan cuma..."


Dengan cepat, Darma pun langsung memotong ucapan Dina. Dia tidak ingin mendengar Dina menghina atau pun merendahkan Ayu lagi di depan nya.


"Udah cukup, Din! Gak usah ngomong apa pun lagi tentang istri ku. Biar bagaimana pun kelakuan nya, dia tetap lah istri ku, ingat itu!" ujar Darma lantang.


Setelah memberi peringatan keras kepada Dina, Darma langsung bangkit dari tempat duduk nya, lalu melangkah keluar dari rumah Dina.


Dengan hati yang kesal dan emosi, Darma berdiri di depan teras dan memanggil tukang ojek, yang sedang mangkal tak jauh dari tempat nya berdiri.


"Ojek!" pekik Darma sembari melambaikan tangan nya.


"Oke, bang!" jawab si tukang ojek sambil mengacungkan jempol nya pada Darma.


Tukang ojek itu segera menyalakan mesin motor nya, lalu datang menghampiri Darma yang sedang berdiri di depan teras rumah Dina.


"Antar kan ke jalan B, ya!"


Ujar Darma sembari naik ke atas motor, dan memakai helm yang di berikan oleh si tukang ojek.


"Siap, bang." balas si tukang ojek, lalu melajukan kendaraannya menuju alamat yang di ucapkan oleh Darma.


Sedangkan Dina, dia hanya terpaku di depan pintu rumah nya, sambil terus memandangi kepergian mantan suaminya tersebut. Dina merasa sedih, karena Darma masih saja membela Ayu.


Padahal Ayu sudah berkhianat dan menduakan cinta Darma. Tapi Darma tetap saja mempertahankan Ayu di sisi nya.


"Kenapa kau begitu mencintai nya, Dar? Apa yang kau harapkan dari nya." gumam Dina dengan mata yang mulai berembun.


"Padahal dia itu perempuan jahat, perempuan ular. Tapi kenapa kau masih saja menyayangi nya, ketimbang aku dan Yuni." lanjut Dina.


Air mata yang tadi nya hanya menggenang di pelupuk mata nya, kini berhasil lolos dan mengalir di kedua pipi Dina.

__ADS_1


Dia sangat kecewa dan terluka, melihat Darma yang masih sangat mencintai istri nya tersebut.


__ADS_2