SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Usulan Yuni


__ADS_3

"Kapok, siapa suruh kuping nya mendadak pekak, hihihi." cibir ku sembari cekikikan.


"Siapa yang mendadak pekak sih, sayang kuuu?" tanya bang Agus.


Bang Agus kembali memeluk ku, lalu mendaratkan kecupan-kecupan kilat nya di seluruh wajah ku.


Mendapat serangan mendadak seperti itu, dengan kekuatan penuh, aku pun langsung menjauhkan wajah bang Agus dengan telapak tangan ku.


"Iiihhhh, jauh dikit kenapa sih. Dari tadi kok nemplok terus nih anak tokek, bikin geli aja."


Rengek ku sambil terus menempel kan telapak tangan ku di wajah bang Agus.


"Sembarangan bilangin abang anak tokek, mau minta di hukum kayak nya dia nih." ancam bang Agus dengan senyum menyeringai.


"Ogah," jawab ku cuek.


"Ogah nolak ya, hahaha." gelak bang Agus.


"Yeee, ge er. Ogah kena hukuman maksud nya, botaaak." cibir ku kesal.


Setelah mendengar ucapan ku, bang Agus pun langsung naik ke atas tubuh ku dan merentangkan kedua tangan ku. Lalu dia juga mendekat kan wajah nya dengan ku, sembari berucap...


"Kita buat anak bentar, yok!" ujar bang Agus sembari tersenyum dan menaik turun kan kedua alis nya.


"Halah, udah sering di buat pun gak jadi-jadi juga kok." jawab ku cuek.


"Kalo belum gak jadi juga, ya kita harus buat terus lah sampai jadi." balas bang Agus.


"Helehh, modus. Bilang aja mau minta jatah terus. Pake alasan buat anak sampe jadi segala, basi tau gak!" cibir ku.


"Hehehehe, tau aja." balas bang Agus cengar-cengir.


"Jadi gimana, mau kan nerima tawaran abang tadi?" tanya bang Agus.


"Ya udah boleh, tapi bentar aja ya. Soal nya aku lagi males yang begituan." jawab ku.


"Ya, bentar aja kok. Palingan tiga atau empat jam aja." balas bang Agus dengan santai nya.


"Whaaaattt? Gak salah tuh?" pekik ku dengan mata yang membulat sempurna.


"Hahahaha, ya enggak lah. Mana mungkin abang sanggup main selama itu, aneh-aneh aja." gelak bang Agus.


"Yang aneh itu abang, bukan aku. Dia sendiri tadi yang ngomong, dia sendiri pulak yang ngeles. Huuuuu, dasar botak tuyul gila!" umpat ku kesal dengan bibir mengerucut.


"Iya deh, abang yang aneh. Ngalah aja lah, dari pada gak dapat jatah nanti nya." gumam bang Agus pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga ku.


"Heh, botak! Ngomong apa barusan, hah?" tanya ku sambil menatap pada nya.


"Eh, anu itu. Gak ada ngomong apa-apa kok, say." jawab bang Agus gelagapan.


Aku terus saja menatap bang Agus dengan mata elang ku. Sedangkan yang di tatap, malah cengar-cengir salah tingkah di depan ku.


"Udah gak usah cengar-cengir terus, serem tau gak. Abang jadi gak main nya? Kalau gak jadi, aku mau tidur aja." tanya ku.

__ADS_1


"Ya jadi lah, say. Gak lihat apa dedek abang udah bangun kayak gini?" tutur bang Agus sembari menunjukkan milik nya pada ku.


"Ya udah maka nya cepetan! Kapan mulai nya kalau dari tadi ngoceh terus mulut nya." omel ku.


"Iya iya, sabaran dikit kenapa sih. Ngebet amat, udah gak tahan lagi ya?" tanya bang Agus.


Mendengar pertanyaan bang Agus, aku pun langsung menjitak kuat jidat nya sembari berkata...


Peletak...


"Bukan gak sabaran, botaaak. Tapi aku udah ngantuk mau tidur." jawab ku ketus.


Mendapatkan jitakan kuat di jidat nya, bang Agus pun kembali memekik sambil memegangi jidat nya sendiri.


"Adoooh, dari tadi kok kena siksa terus sih. Di kira gak sakit apa?" oceh bang Agus sembari meringis kesakitan.


"Sokor," umpat ku.


"Lihat nih, langsung loyo dedek abang kau buat, say!" ujar bang Agus kembali menunjukkan milik nya pada ku.


"Hahahaha, malah beneran lah kalo gitu. Itu artinya dedek abang ngerti, kalau lawan main nya lagi gak selera melayani nya." tutur ku sembari tertawa terbahak-bahak.


"Halah, pandai kali ngeles nya." omel bang Agus dengan wajah masam nya.


"Ya udah, gak usah pake acara merujak segala. Mendingan kita bobok aja yok!" tutur ku.


Aku mengajak bang Agus untuk tidur bersama ku, sembari melambaikan tangan ke arah nya. Bukan mendekat, bang Agus malah mengernyitkan dahi nya.


"Ck, maksud nya merajuk loh, botaaak. Masa gitu aja gak paham sih, ndeso banget!" cibir ku.


"Oalah, kirain dirimu lagi pengen makan rujak. Ternyata merajuk toh, hahaha." gelak bang Agus sambil menggaruk-garuk kepala plontos nya.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak selingkuhan lima langkah ku itu.


"Udah ah, gak usah haha hihi terus. Ayo kita bobok, aku udah ngantuk berat nih, hoam!" seru ku sembari menguap lebar.


"Oke, say. Tapi bangun tidur nanti kita main ya!" balas bang Agus.


"Iya," jawab ku.


Setelah melewati perdebatan panjang dengan si botak tuyul, akhirnya dia pun mengalah dan mulai merangkak naik ke atas ranjang.


Bang Agus memeluk ku dan menyelimuti tubuh kami berdua, dari ujung kaki sampai sebatas bahu. Setelah itu aku dan bang Agus pun mulai memejamkan mata masing-masing.


Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tertidur lelap dengan saling berpelukan satu sama lain.


*Kembali ke Darma dan Yuni*


Setelah menceritakan tentang pertemuan nya dengan Agus, Darma pun langsung melarang Yuni untuk tidak berbicara dengan suara kuat.


Darma takut ketahuan oleh Agus, dan dia juga takut kalau Agus akan membocorkan perbuatan nya, kepada masyarakat yang ada di sekitar rumah nya.


Selesai berbincang tentang Agus, Darma pun mengajak Yuni untuk segera memakan makanan yang sudah di beli nya dari luar hotel.

__ADS_1


"Ayo kita makan, Yun! Perut bapak udah lapar banget nih dari tadi." seru Darma.


"Ya, ayo!"


Balas Yuni sembari beranjak dari ranjang, dan duduk di kursi rotan yang sudah tersedia di dalam kamar hunian mereka tersebut.


Setelah selesai menyantap makanan masing-masing, Yuni dan Darma kembali duduk di pinggiran ranjang.


Darma mulai menyalakan rokok nya, lalu menghembuskan asap nya secara kasar ke udara. Melihat wajah gusar Darma, Yuni pun kembali melontarkan pertanyaan nya.


"Bapak lagi mikirin apa sih? Kok muka nya kusut gitu?" tanya Yuni heran.


"Ya mikirin apa lagi, kalau bukan mikirin tentang Ayu." jawab Darma.


"Ck, ngapain lagi sih mikirin dia. Kurang kerjaan banget jadi orang." gerutu Yuni kesal.


Mendengar suara Yuni, Darma reflek menoleh dan menatap wajah Yuni dengan kening mengkerut.


"Emang nya salah ya, kalau bapak mikirin istri bapak sendiri?" tanya Darma.


"Ya salah lah, ngapain juga bapak mesti pusing-pusing mikirin perempuan kayak dia. Udah lah mandul, jelek, tukang selingkuh pulak tuh." oceh Yuni.


"Mendingan bapak mikirin Yuni aja, dari pada mikirin dia." lanjut Yuni.


"Untuk apa bapak harus mikirin dirimu? Kau kan sekarang ada di samping bapak. Sedangkan Ayu, dia entah ada dimana sekarang. Bapak sedikit khawatir dengan keadaan nya." balas Darma.


Hati Yuni langsung berdenyut sakit saat mendengar penuturan Darma. Dia merasa sangat cemburu dengan ibu sambung nya tersebut.


"Paling dia lagi asyik bersenang-senang, dengan para selingkuhan nya di luar sana." jawab Yuni asal.


"Jangan seuzon dulu, belum tentu yang kau katakan itu benar. Emang nya kau pernah lihat, kalau Ayu jalan dengan laki-laki lain, gak pernah kan?" tanya Darma.


"Iya, sih. Tapi kan bapak sendiri yang bilang kalau dia selingkuh." balas Yuni masih tetap kekeuh menyudutkan Ayu di depan Darma.


"Ya, memang bapak yang bilang. Tapi bapak juga belum pernah memergoki perselingkuhan nya itu."


"Bapak belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri, kalau dia benar-benar selingkuh dari bapak." tutur Darma.


"Gimana bapak mau lihat, kalau bapak sendiri aja gak pernah ngekori kemana pun dia pergi." ujar Yuni.


"Iya ya, kok bapak gak kepikiran sampe kesitu selama ini." balas Darma membenarkan ucapan Yuni.


"Tu lah, maka nya sekali-sekali bapak harus selidiki kemana dia pergi. Biar bapak bisa membuktikan sendiri perselingkuhan nya itu." usul Yuni.


"Ya lah, nanti bapak akan ngikutin kemana dia pergi.


"Naaah, gitu dong. Bapak jangan mau di tipu-tipu terus sama dia." balas Yuni girang.


"Iya, bapak paham. Makasih ya, sayang. Makasih udah mau ngasih saran sama bapak." ujar Darma.


"Iya sama-sama, pak. Nanti Yuni bantu bapak, Yuni juga akan selidiki siapa-siapa aja para selingkuhan nya itu." balas Yuni sembari tersenyum miring.


"Ya, ide bagus juga tuh." ujar Darma menyetujui ucapan Yuni.

__ADS_1


__ADS_2