
Pagi menyapa, aku dan bang Darma kembali ke rutinitas masing-masing. Selesai sarapan mie goreng dan 1 gelas teh manis hangat, bang Darma langsung pergi bekerja menggunakan ojek.
Aku masih tetap teguh pada keputusan ku, untuk tidak mengizinkan bang Darma menggunakan motor ku untuk pergi bekerja. Biar dia bisa sadar, biar dia jera dan tidak lagi ceroboh, saat mengambil keputusan.
Setelah kepergian bang Darma, aku memulai aktivitas seperti biasa. Memasak, mencuci, membersihkan dalam dan luar rumah. Yang terakhir, membuka kios dan menyusun barang-barang dagangan dengan rapi.
Sedang sibuk menyusun barang, tiba-tiba bang Agus mengagetkan ku dari belakang sambil menepuk kedua pundak ku.
"SAY," pekik bang Agus dengan suara yang cukup keras.
"Eh copot eh copot! Astaga, bang. Bikin kaget aja sih, untung aja aku gak sampe pingsan, saking kaget nya."
"Hehehe, maaf lah, say. Jangan marah ya, sayang kuu!"
Aku mengelus dada dengan nafas yang ngos-ngosan, karena saking kaget nya, atas tingkah jahil bang Agus barusan.
"Lain kali, jangan gitu lagi ya, bang! Gak baik, buat kesehatan orang yang mudah terkejut seperti aku."
"Iya, say. Maaf ya, lain kali abang gak akan ulangi lagi."
"Oke, sekali ini aku maaf kan. Tapi ingat, kalau sekali lagi abang berbuat seperti ini, maka aku akan memberikan hukuman untuk abang. Cam kan itu!"
"Widiih, sadis banget sih, say. Gak boleh gitu lah, sayang!"
Bang Agus memelukku dan mengecup kilat bibir ku. Aku langsung berontak, melepaskan diri dari pelukan nya yang sangat erat itu. Melihat aku yang sedang menggeliat ingin melepaskan diri, bang Agus malah semakin mempererat pelukannya itu.
"Lepasin, botaaakk!" Nanti, kalau ada orang yang lihat, gimana coba?"
"Biar aja lah, say. Biar cepat ketahuan, biar cepat juga kita menikah!"
Aku terus meronta-ronta dalam pelukan bang Agus. Tapi, bukan nya di lepas kan, bang Agus malah semakin menjadi-jadi. Dia menciumi leher ku dan bibir ku dengan rakus. Aku terus saja mengelak atas aksi brutal nya itu.
Dan pada akhirnya, aku menggigit bahu nya dengan sekuat tenaga. Bang Agus langsung terpekik dan melepaskan pelukannya yang menyesakkan itu.
"Adooohh! Sakit banget, say. Kejam betul sih, wanita ku ini."
"Sokor, siapa suruh bertingkah yang aneh-aneh siang bolong gini!"
Bang Agus meringis kesakitan, dan langsung melihat bahu nya, yang aku gigit barusan. Mata nya membulat, setelah melihat bahu nya yang merah dan berbekas itu.
__ADS_1
"Ngeri kali gigitan mu, say? Sampe membekas gini, udah kayak drakula aja."
"Maka nya jangan macam-macam, gigi ku ini tajam dan berbisa. Kalo tidak cepat di obati bekas gigitan ku itu, bisa-bisa abang kena rabies nanti nya!" jawab ku asal.
"Ah, ada-ada aja say ini lah. Kayak gukguk aja pake acara rabies segala, hahaha."
"Gak percaya ya sudah, di bilangin bener-bener kok malah ngeyel. Lihat aja nanti malam, pasti membiru tu bekas gigitan ku!"
Aku berucap sambil memasang wajah serius pada bang Agus, agar dia percaya dengan semua kata-kata ku tadi. Bang Agus langsung melongo mendengar ucapan ku, dia menggelengkan kepala nya, tanda tidak percaya.
"Ah, gak mungkin. Gak usah nakut-nakutin lah, say!"
"Siapa yang nakut-nakutin sih, bang?"
"Diri mu lah, say! Lagian, gak bakalan mempan tau, di kira abang anak kecil, apa? Di takut-takutin gitu, langsung percaya aja, hahaha."
Bang Agus tertawa ngakak mendengar ocehan ku, dan dia kembali melangkah mendekati ku.
"Stop, berhenti di tempat! Jangan berbuat yang aneh-aneh lagi lah, bang. Aku lempar pake sepatu ini nanti, kalau abang berani macam-macam lagi!"
Aku merentang kan telapak tangan ke depan bang Agus, untuk menyuruh nya berhenti, dan mengambil satu sepatu sport dari barang dagangan, yang sudah aku susun tadi.
Dia pun langsung menghentikan langkah nya, dan terpaku di tempat. Bang Agus melihat ke arah sepatu sport, yang ada di tangan ku.
"Maka nya, jangan bandel jadi orang. Kalo di bilangin itu harus nurut, jangan melawan trus."
"Siapa yang bandel sih, say? Abang kan cuma melepaskan rasa kangen, maka nya sampai nekat gitu tadi."
"Helehh, alasan. Pulang sana, gih!"
"Loh, kok abang malah di usir sih, say?" balas bang Agus.
"Gak kasian apa, lihat abang? Udah lah di aniaya, mau di lempar sepatu, trus sekarang malah di usir pulak. Tega nya diri mu, say. Sungguh tega nya, tega nya, tega nya..."
"Berisik, BOTAK!" Di suruh pulang kok, malah nyanyi pulak dia." Pekik ku kesal.
Aku langsung memotong ucapan bang Agus itu, sambil menatap sinis pada nya.
"Udah, balek sana! Ganggu aja tuyul satu ini, kayak gak ada kerjaan lain aja."
__ADS_1
"Iya iya, abang bakalan balek kok, say. Tapi..." Bang Agus menjeda ucapan nya.
"Gak ada tapi-tapian, udah balek sana!"
"Iiihhh, galak amat sih nyonya Agus ini. Abang gigit nanti tu lidah, biar tau rasa!"
"Enak aja, mau gigit-gigit lidah bini orang. Gigit lidah biawak aja, sono!"
"Hahaha, ogah ah. Masa, di suruh gigit lidah biawak pulak."
"Ya udah, abang pulang ya, sayang! Jangan nakal-nakal ya di rumah, cctv abang banyak loh, disini."
"Iya, abang ku yang gantengnya sejagat raya. Aku gak bakalan macam-macam, kok!"
"Hahaha, oke lah, say. Abang pulang dulu, ya!" pamit bang Agus.
Dan tiba-tiba, "cup" bang Agus mengecup bibir ku sekilas, dan dia pun langsung lari kocar-kacir keluar dari kios ku.
"Hihihi, ada-ada saja ulah botak tuyul satu itu. Udah kayak maling panci aja lama-lama tingkah nya itu."
Aku terkikik geli sendiri sambil geleng-geleng kepala, melihat bang Agus yang lari pontang-panting setelah mencuri ciuman di bibir ku.
Setelah selesai otot-ototan, dengan bang Agus. Tak lama berselang, Yuni pun tiba dengan menggunakan ojek online. Dia langsung menghampiri ku, yang masih berada di dalam kios.
"Ck, malas kali pun rasa nya, aku harus jumpa sama ini anak." Batin ku.
"Assalamualaikum, buk."
"Wa'laikum salam, ada perlu apa lagi, Yun?"
Aku langsung bertanya, tanpa basa-basi lagi dengan nya. Dan dia ingin menyalim tangan ku, tapi langsung aku tepis dengan cepat.
"Gak usah salim-saliman lagi dengan ku, Yun! Dan gak usah, pura-pura baik juga di depan ku. Aku gak akan pernah bisa tertipu, oleh wajah sok polos mu itu, ingat itu!" ucap ku lantang.
Yuni langsung tertunduk, dan menangis di depan ku. Dia tidak berani lagi menatap wajah ku, yang sudah berubah menjadi sangat mengerikan, seperti zombie yang ingin menggigit memangsa nya.
Kalau saja, aku berkaca di cermin. Mungkin, aku juga akan takut sendiri melihat wajah serem ku itu.
"Maafkan aku, buk."
__ADS_1
Yuni meminta maaf sambil terus menangis, bahkan dia sampai sesegukan di depan ku.
*Jika sekali saja seseorang menjadi pencuri, maka gelar itu akan selama nya melekat di diri nya*