
Yuni menangis sampai sesenggukan sambil terus memeluk kaki Dina. Air mata buaya nya terus saja mengalir tanpa henti sejak mendapatkan amukan dari ibu nya.
Yuni menangis bukan karena dia menyesali perbuatannya, tapi dia hanya berakting di depan Dina, agar Dina percaya dan mau memaafkan kesalahannya.
"Kalau bukan karena takut di usir dari rumah ini, males banget rasa nya aku harus berakting seperti ini." batin Yuni.
Yuni melirik ke arah Darma yang sedang terduduk lesu di lantai. Dia tersenyum miring ke arah bapak nya sekilas, setelah itu dia kembali melanjutkan akting nya di bawah kaki Dina.
"Tenang aja ya, pak. Kalau ada waktu luang, kita pasti akan bersenang-senang lagi." batin Yuni.
Dina yang sedari tadi hanya terdiam, sambil melipat kedua tangan nya di perut pun mulai menunduk kan kepala nya. Dia menatap iba kepada Yuni yang masih saja bersimpuh di kaki nya dengan linangan air mata.
"Ya udah, sekali ni mamak maafkan kesalahan mu." tutur Dina.
"Tapi kalau sampai sekali lagi kau melakukan kesalahan yang sama, maka mamak gak akan segan-segan untuk mengusir mu dari rumah ini, ingat itu baik-baik!" lanjut Dina.
"Iya, mak. Yuni janji, Yuni gak akan ulangi perbuatan ini lagi." balas Yuni sembari tersenyum dan menghapus air mata nya.
Yuni segera bangkit dari lantai dan duduk di tepi ranjang Dina, masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun di badan nya.
"Balek ke kamar mu sana! Mamak mau bicara empat mata dulu sama bapak mu." usir Dina pada Yuni.
"Iya, mak."
Balas Yuni sambil terus berpura-pura memasang wajah lesu dan murung di hadapan Dina. Yuni mulai melangkah keluar dari kamar Dina, dan masuk ke kamar pribadi nya sendiri.
Sesudah memakai pakaian di kamar nya, Yuni pun kembali keluar dan mengintip Darma dan Dina melalui lubang pintu.
"Jadi penasaran, sebenarnya mereka mau ngomongin apaan sih."
"Atau jangan-jangan mereka mau main pulak di dalam, maka nya aku di suruh keluar biar gak mengganggu permainan mereka." batin Yuni menduga-duga.
Setelah kepergian Yuni dari kamar nya, Dina pun langsung bergegas mengunci dan mulai mendekati Darma, sambil menyunggingkan senyum sinis nya.
"Ka-kau mau ngapain, Din?" tanya Darma gugup.
Bukan nya menjawab, Dina malah semakin menajamkan tatapan nya. Lalu dia melayangkan telapak tangan nya ke udara dan..
Plak...
Cap lima jari pun akhirnya mendarat indah di pipi kanan Darma, dan itu berhasil membuat Darma meringis kesakitan, sambil memegangi pipi merah nya tersebut.
"Kau itu apa-apaan sih, Din! Sakit tau gak." omel Darma kesal.
"Sakit yang kau dapatkan tidak ada apa-apanya, di banding kan dengan sakit yang sudah kau toreh kan di hati ku." balas Dina.
"Maaf kan aku, Din. Aku khilaf, aku tidak sadar saat melakukan perbuatan itu dengan Yuni. Aku seperti terhipnotis saat melihat tubuh Yuni." bohong Darma.
"Halah, gak usah banyak alasan. Bilang aja kau memang ingin merusak masa depan Yuni, karena dia bukan anak kandung mu, iya kan!" pekik Dina.
Yuni yang sedari tadi mengintip pun langsung terlonjak kaget, saat mendengar ucapan Dina barusan.
"Hah, aku bukan anak kandung bapak?" batin Yuni terkejut.
"Kalau dia bukan bapak kandung ku, trus sebenarnya bapak kandung ku siapa dong?"
"Pantesan aja bapak mau melayani ku, ternyata karena aku bukan darah daging nya sendiri." lanjut Yuni bingung.
"Ah, bodo amat lah. Mau dia bapak ku atau bukan, yang penting aku bisa bercinta terus dengan nya." gumam Yuni pelan.
Setelah selesai bergelut dengan isi kepala sendiri, Yuni pun kembali menempelkan mata nya di depan lubang pintu.
"Bukan gitu, Din. Aku sama sekali gak ada niat sedikit pun untuk merusak masa depan Yuni, hanya karena dia bukan anak kandung ku. Tapi..."
__ADS_1
Darma menggantung kata-kata nya, dia sangat ragu dan bimbang untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwasanya Yuni lah yang selalu memaksa nya, untuk melayani hasrat anak nya tersebut.
"Tapi apa, hah? Cepat katakan!" desak Dina dengan suara lantang.
"Ta-tapi karena...karena aku khilaf. Ya, aku khilaf." bohong Darma gugup.
Darma semakin panik dan gelisah melihat wajah horor Dina. Dia tidak sanggup untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Darma takut kalau Dina akan menghajar Yuni lagi, kalau dia sampai tahu kebenaran yang sesungguh nya.
"Kau itu memang laki-laki bajin**n, Darma. Pergi kau dari sini sekarang juga, aku jijik lihat muka mu yang sok polos itu!" pekik Dina.
Dina mengusir Darma sambil menunjuk ke arah pintu kamar nya. Darma langsung tersentak kaget, saat mendengar suara Dina yang cukup memekakkan telinga di hadapan nya.
"Kok malah ngusir sih, Din! Trus rencana pernikahan kita gimana?" tanya Darma.
"Nanti aja kita bicarakan masalah itu, sekarang aku mau menenangkan otak ku dulu. Tolong tinggalkan aku sendiri!"
Jawab Dina tegas sembari memalingkan wajah nya ke samping. Dia tidak sanggup lagi menatap wajah lelaki yang sangat di cintai nya.
Hati Dina terlanjur sakit dan perih, akibat perbuatan kedua orang yang sangat di sayangi nya.
"Oke, kalau memang itu mau mu aku akan pergi sekarang juga. Tapi kalau hati mu sudah merasa tenang, tolong kabari aku! Agar kita bisa membahas masalah pernikahan kita lagi." tutur Darma.
"Ya," balas Dina lirih.
Mendengar ucapan Darma, Yuni langsung terdiam sejenak. Dia sedang berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini, agar dia bisa terus bersama Darma.
"Waduh, bapak mau pulang ke rumah nya pulak. Nanti aku nyusul, ah. Aku mau nginap di sana aja."
Gumam Yuni sembari menghentikan intipan nya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar nya. Setelah berada di dalam kamar, Yuni bergegas berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi bersama Darma.
Setelah semuanya selesai, Yuni segera keluar dari kamar dengan langkah cepat menuju pintu utama. Kemudian dia berdiri di depan teras sambil membawa tas ransel di pundak nya.
Setelah selesai memesan taksi online, tak butuh waktu lama taksi yang di pesan pun tiba, dan berhenti tepat di depan Yuni.
Tanpa berkata apa pun lagi, Yuni langsung masuk ke dalam taksi sembari berkata...
"Tunggu sebentar ya, bang! Saya masih nungguin bapak keluar dari rumah." pinta Yuni.
"Oke, kak." balas si sopir taksi sambil menatap ke arah pintu rumah Dina.
Sedangkan Darma setelah berdebat dengan Dina, dia mulai beranjak dari tempat nya lalu memakai pakaian nya kembali.
Setelah itu, Darmalangsung berjalan keluar meninggalkan Dina sendirian di dalam kamar nya.
Sampai di luar rumah, Darma langsung terkejut saat melihat Yuni yang sudah stand by menunggu nya di dalam taksi.
"Ayo masuk, pak! Kita berangkat sekarang, mumpung mamak masih di dalam kamar nya."
Seru Yuni sembari membukakan pintu mobil untuk Darma. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Darma bergegas masuk ke dalam dan duduk di sebelah Yuni.
"Ayo, kita jalan sekarang, bang!" titah Yuni kepada si sopir taksi.
"Baik, kak." jawab nya.
Sopir taksi itu mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju alamat yang tertera di aplikasi ponsel nya.
"Kita mau kemana ini, Yun?" tanya Darma.
Darma sedikit bingung melihat jalan yang mereka tempuh, bukan jalan menuju ke arah rumah nya.
"Hotel," jawab Darma.
__ADS_1
Darma langsung terkejut dengan mata yang membulat sempurna, saat mendengar jawaban Yuni.
Karena merasa tidak enak untuk membahas ucapan Yuni di depan si sopir taksi, akhirnya Darma pun hanya bisa pasrah, dan mengikuti apa pun keinginan Yuni saat ini.
Setelah sampai di depan gedung hotel berlantai empat, Darma dan Yuni pun segera keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam hotel tersebut.
Sampai di meja resepsionis, Yuni langsung memesan kamar lalu mengeluarkan uang dari dalam dompet nya, untuk membayar sewa kamar yang akan mereka huni.
Setelah menerima kunci, Yuni dan Darma pun berjalan beriringan menuju lantai dua, tempat dimana kamar mereka berada.
Sesampainya di depan pintu, Yuni segera membuka kamar itu dengan kunci yang ada di tangan nya.
Setelah pintu terbuka, Yuni dan Darma langsung melangkah masuk ke dalam, lalu mengunci pintu nya kembali.
"Kita nginap disini aja ya, pak. Biar aman, biar gak ada yang mengganggu permainan kita lagi." tutur Yuni.
Yuni meletakkan tas ransel nya di atas meja tv. Setelah itu, dia membuka sepatu dan juga seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya.
Setelah keadaan nya sudah polos, Yuni pun mulai membaringkan tubuh nya di atas ranjang.
Darma yang sedari tadi hanya diam sambil terus memperhatikan gerak-gerik Yuni pun, langsung membelalakkan mata nya. Saat melihat pemandangan yang begitu menggiurkan di hadapan nya.
Darma mematung di tempat nya berdiri, sambil terus memandangi tingkah laku Yuni yang sedang menggoda nya, dengan menampilkan tubuh polos nya di depan Darma.
"Kok malah bengong sih, pak. Sini dong bapak ku sayang, kita nikmati lagi kebersamaan kita ini."
Rengek Yuni manja sembari melambaikan tangan nya ke arah Darma. Mendengar rengekan Yuni, Darma pun langsung tersadar dari lamunan nya, dan bergegas membuka semua pakaian yang dikenakan nya.
Setelah itu, Darma merangkak naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuh nya di samping Yuni.
Darma tidak langsung menyerang Yuni, dia memiringkan tubuh nya dan menopang kan kepala di tangan kanan nya, lalu berkata...
"Kenapa kau sampai senekat ini, Yun?" tanya Darma sembari membingkai wajah Yuni dengan jari tangan nya.
"Ya, karena aku ingin bersama bapak terus lah. Aku juga ingin terus merasakan pelayanan dari bapak." jawab Yuni jujur.
"Hanya karena itu?" tanya Darma.
"Iya, emang kenapa sih, pak? Kok bapak nanya nya gitu?" tanya Yuni balik.
"Ya habis nya bapak heran aja melihat aksi nekat mu ini. Kalau sampai mamak mu tau kita nginap di hotel seperti ini, bisa-bisa dia mengusir mu dari rumah nya." jelas Darma.
Setelah mendengar penuturan Darma, Yuni langsung menoleh sambil mengerutkan kening nya.
"Ya mamak jangan sampe tau lah, kalau kita nginap disini. Diem-diem aja ya, oke!" balas Yuni sembari tersenyum manis pada Darma.
"Oke, sayang." balas Darma.
Darma mulai mencium bibir Yuni dengan ganas, menyentuh tubuh Yuni dengan lembut dan mesra.
Mendapat serangan mendadak dari Darma, Yuni pun hanya bisa pasrah dan menikmati cumbuan dari tangan-tangan nakal Darma di tubuh nya.
Dan pada akhirnya, permainan panas pun terjadi di atas ranjang hotel tersebut. Yuni tampak sangat menikmati gerakan Darma.
Dengan mata yang terpejam, Yuni terus saja mengeluarkan suara-suara indah nya, hingga membuat Darma semakin bersemangat untuk memacu gerakan nya.
Setelah melakukan kegiatan nya selama hampir satu setengah jam, Darma pun menyelesaikan permainan nya.
"Makasih ya, Yun. Kau memang benar-benar hebat saat membalas permainan bapak tadi." tutur Darma sembari mengecup kening Yuni.
"Ya sama-sama, pak. Bapak juga sangat hebat dan perkasa. Bahkan Yuni sampe melayang-layang karena saking enaknya." balas Yuni sembari tersenyum genit pada Darma.
"Ah, masa sih sampe segitu nya?" tanya Darma.
__ADS_1
"Iya beneran, pak. Yuni gak bohong." jawab Yuni.