
Darma sama sekali tidak menghiraukan rengekan Yuni. Dia sengaja melakukan itu, karena dia ingin Yuni terus membujuk nya, dan menyesali perbuatannya yang telah meninggal kan Darma sendirian di kamar.
"Pak, kok diem aja sih? Kuping bapak budeg ya? Di ajak ngomong kok diem terus dari tadi." gerutu Yuni.
Karena merasa kesal dengan tingkah Darma yang terus saja mendiami nya, akhirnya Yuni mempunyai ide untuk menggelitiki pinggang Darma.
Dengan senyum yang menyeringai di bibir nya, Yuni pun mulai melingkarkan satu tangan nya ke pinggang Darma, lalu mulai menggelitiki nya. Dan itu berhasil membuat Darma kegelian dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, udah hentikan, Yun! Lama-lama bapak bisa ngompol nanti kau buat." pekik Darma.
Mendengar pekikan Darma, Yuni pun menghentikan aksi nya. Dia tampak senang saat melihat Darma sudah kembali seperti semula.
"Maka nya jangan cuekin Yuni terus. Nanti Yuni gelitikin lagi, baru tau!" oceh Yuni.
"Siapa yang nyuekin? Mata bapak tadi udah ngantuk, makanya bapak tidur." bohong Darma.
"Heleh, alasan. Bilang aja lagi merajuk, gara-gara Yuni gak mau di ajak main, ya kan?" oceh Yuni lagi.
"Ya, itu juga salah satu nya." jawab Darma.
"Hmmmm, sudah ku duga." cibir Yuni.
"Jadi gimana?" tanya Darma sambil tersenyum dan menaik turun kan kedua alisnya.
"Gimana apa nya?" tanya Yuni bingung.
"Lah, tadi kata nya mau minta main. Kenapa bisa secepat itu sih melupakan nya?" gerutu Darma.
"Oh iya, hampir aja Yuni lupa, hihihi." jawab Yuni sembari cekikikan.
"Huuuuu, dasar pikun. Masa masih muda gini udah pikun, gimana kalau tua nanti?" ledek Darma.
Darma memandangi wajah Yuni dengan serius, sambil menjulurkan lidah nya untuk membasahi bibir nya sendiri. Akibat ulah nya itu, Yuni pun jadi salah tingkah dan tersipu malu di depan Darma.
"Iiihhhh, apaan sih." rengek Yuni memukul-mukul pelan dada Darma.
Melihat gelagat Yuni yang sedang malu-malu, Darma pun terus saja menggoda nya dengan gombalan-gombalan maut nya.
"Mau gak di manjain sama ini?" tanya Darma sambil terus menjulurkan lidah nya di bibir nya sendiri.
"Ma-mau." jawab Yuni gugup sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ya udah sini, biar bapak buat kau menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan!" seru Darma.
"Oke, siapa takut." balas Yuni lantang.
Yuni langsung menekuk kedua lutut nya, lalu membuka kaki nya lebar-lebar. Hingga terpampang jelas pemandangan indah, yang sangat menggiurkan di depan Darma.
__ADS_1
"Wow, indah sekali, sayang." pekik Darma.
Darma langsung mendekati Yuni, kemudian menenggelamkan wajah nya ke dalam milik Yuni. Dengan gairah yang sudah naik ke ubun-ubun, Darma pun mulai memanjakan Yuni.
Dan ternyata, apa yang di katakan Darma tadi benar ada nya. Yuni menggeliat-geliat kan badan nya, persis seperti cacing kepanasan akibat perbuatan Darma.
"Gimana, sayang? Mantap gak pelayanan bapak?" tanya Darma.
"Iya mantap banget, terusin aja, pak! Yuni masih mau lagi." rengek Yuni.
"Oke siap, sayang." jawab Darma.
Darma kembali melanjutkan kegiatan nya, hingga membuat Yuni memuncak hingga berulang-ulang kali.
"Udah cukup, pak! Yuni udah lemes banget nih." pinta Yuni.
"Ya udah, sekarang kita lanjutin permainan utama nya ya!" balas Darma.
"Oke, lakukan lah! Yuni juga udah pengen banget." desak Yuni.
"Oke, siap ya! Satu, dua, ti-ga." balas Darma.
Dalam hitungan ketiga, Darma langsung menerobos masuk ke dalam gawang Yuni dengan sedikit kasar. Hingga membuat Yuni sedikit tersentak kaget, mendapatkan serangan dari Darma.
Dengan senyum yang terus mengembang di bibir nya, Darma pun memulai kegiatan nya. Dia tampak begitu bersemangat dan bergairah untuk memacu gerakan nya.
Dengan nafas yang masih terasa sesak, Darma pun membaring tubuh basah nya di sebelah Yuni.
Begitu juga dengan Yuni, dia tampak begitu kelelahan setelah melakukan olahraga bersama Darma.
"Haduuh, Yuni capek banget, pak. Lutut Yuni pegel banget rasa nya." oceh Yuni dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Sama, lutut bapak juga gitu." balas Darma sambil memegangi kedua lutut nya.
Mereka berdua sama-sama kelelahan, akibat kegiatan yang sudah mereka lakukan barusan. Setelah merasa agak mendingan, Darma langsung beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Bapak mau kemana?" tanya Yuni.
"Mau bersihin ini dulu." jawab Darma sembari menunjuk ke arah junior nya.
"Kau mau bersihin juga gak?" tanya Darma.
"Iya, bentar lagi Yuni masih capek." jawab Yuni.
"Oh, ya udah kalo gitu. Istirahat lah dulu, kalo udah gak capek lagi baru di bersihin." ujar Darma.
"Ya," balas Yuni.
__ADS_1
Yuni yang masih terbaring lemas di atas ranjang pun kembali memijat-mijat kedua lutut nya.
"Aduuuh, kok bisa pegel kali gini sih? Tadi waktu lagi main, gak terasa apa-apa. Kenapa udah siap gini baru terasa pegel nya, aneh banget." gerutu Yuni.
Setelah selesai membersihkan diri nya, Darma kembali naik ke atas ranjang dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Udah mendingan belum?"
Tanya Darma sambil memandangi tubuh Yuni dari atas sampai bawah. Dia tersenyum miring melihat keadaan Yuni, yang tampak sangat kecapekan akibat ulah nya tadi.
"Belum," jawab Yuni.
"Sini bapak pijatin!" seru Darma.
Karena merasa kasihan, Darma pun melambaikan tangan nya ke arah Yuni. Dengan senang hati, Yuni pun langsung bergeser ke samping Darma. Lalu meletakkan kaki nya di atas pangkuan Darma.
Darma mulai memijat-mijat lutut Yuni dengan telaten. Bukan hanya lutut Yuni saja yang di pijat oleh Darma, tapi dia juga memijat seluruh badan Yuni.
Hingga membuat Yuni merasa rileks dan nyaman dengan sentuhan tangan Darma.
Setelah beberapa menit memijat tubuh Yuni, Darma pun menyudahi pijatan nya, lalu menyuruh Yuni untuk membersihkan hasil perbuatannya tadi.
"Gimana, udah mendingan belum?" tanya Darma mengulang pertanyaan nya.
"Udah, makasih ya, pak."
Jawab Yuni sembari menyunggingkan senyum manis nya pada Darma.
"Ya, sama-sama. Bersihin dulu gih, biar gak ngalir kemana-mana itu nya." seru Darma sembari menunjuk ke arah area pribadi Yuni.
"Iya," balas Yuni.
Yuni mulai bangkit dari ranjang secara perlahan, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Yuni kembali lagi ke atas ranjang dan membaringkan tubuh lelah nya di samping Darma.
"Pak, Yuni boleh nanya gak?" tanya Yuni ragu.
"Mau nanya apa lagi? Nanti ujung-ujungnya merajuk pulak kayak tadi." oceh Darma.
Darma memeluk Yuni dan membawanya ke dalam dekapan nya. Darma membelai rambut panjang Yuni dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Bapak sayang gak sama Yuni?" tanya Yuni.
"Ya, sayang lah. Emang kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu?" tanya Darma.
"Kalau bapak benar-benar sayang, kenapa tadi bapak tega bentak-bentak Yuni?" tanya Yuni lagi.
__ADS_1
"Tadi bapak gak sengaja, sayang. Bapak minta maaf ya, sudah membuat mu sakit hati." jawab Darma.