
Mendengar ucapan Yuni yang semakin ngelunjak, emosi Ayu pun langsung pecah seketika. Ia membelalakkan mata nya dan membusungkan dada nya ke depan, lalu berkata...
"Heh, anak demit! Ngaca dong ngaca. Udah jelas-jelas kau yang kegatalan sama suamiku, masih aja gak sadar diri, heran gue."
Ayu mencibir Yuni lalu tersenyum miring meledek nya. Ia juga memandangi penampilan Yuni dari atas sampai bawah, dengan tatapan merendahkan.
Karena merasa di sepelekan, Yuni pun ikut tersulut emosi dan melawan ucapan wanita yang ada di hadapannya.
"Jaga mulut mu perempuan gila! Yang kegatalan itu bukan aku, tapi suami mu. Asal kau tau ya, dia yang tergila-gila dengan ku, dan dia juga yang mengejar-ngejar cinta ku, paham!" balas Yuni tak mau kalah.
Tawa Ayu langsung pecah seketika. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Yuni yang sangat tidak masuk akal menurut nya.
"Hahahaha, gak usah kepedean kali kau jadi manusia! Suamiku tidak akan mungkin mengejar mu, kalau kau tidak menawar kan barang busuk mu itu kepada nya," cibir Ayu ketus.
Wajah Yuni semakin memerah akibat menahan emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun. Ia tampak sangat murka atas semua hinaan dan ejekan Ayu kepada nya. Yuni mengepalkan tangan nya dan menatap tajam ke arah Ayu.
Sedangkan Ayu, ia tampak senang ketika melihat ekspresi wajah bocah tengik yang ada di depan nya. Setelah beberapa saat memandangi wajah aneh Yuni, Ayu pun melanjutkan perkataan nya kembali.
"Heh, gombreng! Dengerin baik-baik ya. Kau pikir aku ini anak kecil apa? Yang bisa kau tipu-tipu seenak jidat mu? Hahahaha, aku tidak sebodoh itu Ferguso," lanjut Ayu lalu kembali tertawa ngakak.
Emosi yang sedari tadi di tahan-tahan oleh Yuni, kini akhirnya meledak juga. Dengan wajah memerah seperti tomat busuk, Yuni pun melayang kan kepalan tangan nya ke pipi Ayu.
Tapi sebelum tangan itu mengenai sasaran nya, Ayu dengan sigap menepis nya lalu melintir nya dengan kuat. Dan itu berhasil membuat Yuni menjerit kesakitan.
"AAUUWW, LEPASIN, SAKIIIIIT! teriak Yuni dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
"Apa, lepasin? Hahahaha, jangan harap! Aku tidak sebaik itu bocah gatal," balas Ayu kembali tertawa puas.
Bukan nya melepaskan tangan Yuni, Ayu malah semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya. Ia semakin menguatkan pelintiran nya, lalu mendorong tubuh cungkring itu dengan sekuat tenaga. Hingga membuat Yuni jatuh terjengkang di lantai teras.
"Auuww," pekik Yuni sambil memegangi pinggang nya, dan duduk kelesotan dengan wajah jelek nya.
Melihat keadaan Yuni yang sedang acak adut seperti itu, Ayu sama sekali tidak merasa iba atau kasihan sedikit pun.
__ADS_1
Ia malah merasa puas dan bahagia, karena sudah membalas kan sakit hati nya selama ini kepada Yuni, orang yang sudah menjajakkan tubuh nya kepada suaminya tersebut.
Setelah beberapa saat terduduk di lantai, Yuni pun mulai bangkit dan kembali berdiri di hadapan Ayu.
"Kurang ajar, berani sekali kau berbuat seperti itu pada ku, hah! Sudah bosan hidup kau ya?" pekik Yuni dengan suara lantang dan mata membulat.
"Bukan aku yang bosan hidup, tapi KAU!" bentak Ayu tak kalah garang, sambil menunjuk wajah lusuh Yuni.
"Kalau kau masih terus mengusik rumah tangga ku, maka jangan panggil nama ku Ayu, jika kau tidak ku buat cacat seumur hidup, ingat itu baik-baik!" ancam Ayu dengan penuh peringatan.
Ayu berjalan perlahan mendekati Yuni dengan senyum menyeringai. Wajah nya tampak sangat menyeramkan, hingga membuat Yuni bergidik dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kenapa mundur? Takut ya?" tanya Ayu sambil terus mendekati Yuni.
"Eng-enggak lah, nga-ngapain juga aku harus takut dengan wanita bodoh seperti mu?" jawab Yuni sedikit gugup.
Walau pun dengan hati yang berdebar-debar tidak karuan, Yuni tetap melawan perkataan Ayu. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan musuh bebuyutan nya.
"Kalau tidak takut, kenapa harus mundur? Maju sini, lawan aku!" tantang Ayu masih dengan wajah sangar nya.
"Whaaaattt? Gak level?" pekik Ayu pura-pura terkejut, dengan ekspresi wajah meledek.
"Iya, emang kita gak level. Kenapa rupanya, hah? Pasti kau merasa malu kan, karena tidak selevel dengan ku?" cibir Yuni.
Yuni berusaha untuk tetap santai dan tenang, dalam mengahadapi lawan bicara nya. Ia tidak ingin terus-terusan di tindas oleh rival nya tersebut.
Lagi-lagi, tawa Ayu di buat pecah oleh celotehan Yuni. Ayu merasa geli mendengar penuturan bocah bau kencur yang ada di depan nya.
"Hahahaha," Ayu tergelak sambil memegangi perut nya.
Setelah puas mentertawai Yuni, Ayu pun kembali bersuara.
"Ya ya ya, kau benar sekali. Kita memang tidak selevel. Karena level mu sangat jauh di bawah ku," tutur Ayu sembari tersenyum miring.
__ADS_1
Raut wajah Yuni kembali memerah seperti kepiting rebus, setelah mendengar hinaan demi hinaan yang terlontar dari mulut pedas Ayu. Karena sudah tidak sanggup menahan kemarahannya, Yuni pun menunjuk wajah Ayu dengan geram, lalu berucap...
"Dasar, perempuan luknut! Awas kau ya, akan ku buat kau menyesal seumur hidup mu. Akan aku..."
Belum sempat Yuni melanjutkan kata-katanya, Ayu pun langsung menyambar nya dengan cepat.
"Udah, gak usah pake acara ngancem-ngancem segala. Gak bakalan mempan juga buat ku. Dari pada bikin semak disini, mendingan balek ke kandang mu sana! Aku sudah eneg dan bosan nengok muka jelek mu itu," usir Ayu.
"Gak, aku gak akan pergi dari sini sebelum bertemu dengan kekasih ku," tolak Yuni mentah-mentah.
Ayu mengerutkan kening nya, saat mendengar ucapan Yuni. Ia kembali memandangi sosok penampakan yang ada di hadapannya, dengan tatapan tidak biasa.
Karena merasa di perhatikan, Yuni pun bersidekap dan membalas tatapan Ayu dengan tak kalah bengis nya.
"Apa kau tengok-tengok, hah? Kalau gak sor bilang? Biar gelut kita disini," tantang Yuni dengan pongahnya.
Mendengar kesombongan Yuni, Ayu pun langsung tersenyum dan bertepuk tangan.
Prok prok prok...
"Wah wah wah, ternyata besar juga nyali mu bocah ingusan," cibir Ayu.
"Oke lah, kalau memang itu mau mu, aku akan meladeni mu dengan senang hati. Ayo sini, kita adu kekuatan, one by one!" tantang Ayu balik.
Kemudian Ayu pun mengeratkan kepalan tangan nya. Ia memasang kuda-kuda dan bersiap-siap untuk menyerang Yuni. Melihat kesiapan Ayu seperti itu, nyali Yuni pun mendadak ciut seketika.
Ia bergidik ngeri melihat lawan nya, yang sudah tampak siap ingin beradu otot dengan nya.
"Waduhhh, serem juga nih perempuan. Bisa-bisa nanti remuk semua tulang-tulang ku, kalau berantem sama dia," batin Yuni mulai gelisah.
Yuni terperangah dengan mulut terbuka. Ia tidak menyangka, jika Ayu memiliki kepribadian ganda yang sewaktu-waktu bisa menjadi lembut, dan juga bisa berubah menjadi sangat menakutkan seperti saat ini.
"Dari pada bonyok sia-sia disini, mendingan aku kabur aja lah. Aku masih muda, aku belum mau mati sekarang," batin Yuni semakin panik.
__ADS_1
Melihat keterdiaman Yuni, Ayu pun semakin mendekat dan menakut-nakuti nya dengan ancaman receh nya.
"Kok diem? Sini, lawan aku! Tadi kata nya mau gelut sama aku? Sini lah, biar aku ladeni! Tangan ku juga udah pada gatel nih, pengen nonjok muka sok cantik mu itu," oceh Ayu sembari menunjukkan kepalan tangan nya kepada Yuni.