
Nama ku Yuni Setiawati, usia ku 17 tahun saat ini. Aku tinggal bersama ibu dan kakak ku di sebuah rumah kontrakan. Kakak ku seorang janda anak dua, dan hubungan kami adalah satu ibu beda bapak.
Ibu ku bernama Dina dan bapak ku bernama Darma. Kedua orang tua ku itu berpisah di tahun 2014 silam. Sejak saat itu lah, aku memutuskan untuk tinggal bersama ibu dan kakak ku.
Alasan orang tua ku berpisah, karena ibu ketahuan berselingkuh dengan sopir truk. Maka dari itu bapak memutuskan untuk menceraikan ibu saat itu juga.
Setelah setahun perceraian mereka, bapak menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Ayu lestari. Bapak tampak sangat bahagia dengan pernikahan nya.
Ya, itu bisa terlihat dari kehidupan mereka sekarang yang bisa di bilang sudah berkecukupan. Buk Ayu orang nya baik, dia selalu menuruti semua keinginan ku.
Dia juga selalu memberikan apa pun permintaan ku. Dia tidak pernah berkata kasar atau pun marah kepada ku. Buk Ayu juga masih muda dan wajah nya juga lumayan cantik menurut ku.
Jujur ku akui, sebenarnya aku menyukai ibu tiri ku itu. Sifat baik dan royal nya itu lama kelamaan membuat ku bisa menerima nya sebagai ibu sambung ku.
Seiring berjalan nya waktu, sifat baik buk Ayu berubah drastis. Itu semua karena ulah ibu kandung ku sendiri, yang sudah berani menjual semua emas pemberian buk Ayu.
Beberapa bulan yang lalu, buk Ayu memberikan anting-anting dan kalung beserta mainan nya pada ku. Aku merasa sangat bahagia menerima emas tersebut.
Aku juga sudah berjanji kepada buk Ayu, kalau aku tidak akan pernah menjual emas itu walau apa pun yang terjadi.
Tapi kenyataan lain dengan harapan. Baru saja beberapa hari aku memakai emas itu, tiba-tiba ibu menyuruh ku untuk menjual nya.
Awal nya aku menolak keinginan ibu ku itu. Tapi ibu malah mengancam akan mengusir ku dari rumah jika aku tidak menuruti perintah nya. Dengan terpaksa aku pun harus merelakan emas itu untuk di jual oleh ibu ku.
"Yun, buka semua emas mu itu!" perintah ibu.
"Loh, kok di buka sih, mak. Emang nya mau di apain?" tanya ku bingung.
"Mamak mau ambil motor baru tapi uang mamak masih kurang nih!" jawab ibu ku.
Ibu menunjukkan beberapa lembar uang merah ke hadapan ku. Setelah memperlihatkan uang itu, ibu pun mengantongi nya kembali dan duduk di samping ku.
"Mamak cuma ada uang satu juta aja. Masih kurang empat juta lagi untuk uang muka nya," jelas ibu ku.
__ADS_1
"Trus, kenapa harus emas-emas ku yang di jual? Mamak kan ada emas juga tuh kalung sama cincin. Kenapa bukan itu aja yang di jual?" tanya ku.
"Kalau kalung sama cincin mamak di jual, trus mamak pakai apa?" tanya ibu ku balik.
"Lah, apa beda nya dengan Yuni? Kalau emas ini di jual, trus Yuni pakai apa lagi?" balas ku tak mau kalah.
"Ya gak usah pakai apa-apa lah," jawab ibu dengan santai nya.
"Gak bisa gitu lah, mak! Yuni juga kan pengen pakai emas. Masa dari dulu gak pernah pakai emas. Sekali nya pakai, masa mau di jual lagi sih?" balas ku sewot.
"Lagian ini kan pemberian buk Ayu, gak mungkin lah aku menjual nya. Bisa-bisa kena marah aku nanti sama dia," tambah ku lagi.
"Gak mungkin ibu tiri mu itu berani memarahi mu," balas ibu.
"Aku gak berani, mak. Lagian buk Ayu itu orang nya baik kok. Gak mungkin lah aku ngadu yang tidak-tidak tentang dia." ujar ku.
"Dia itu cuma pura-pura baik aja dengan mu. Kau itu jangan bodoh kali jadi orang. Kau harus bisa bedain, mana yang baik betulan dan mana yang cuma pura-pura," jelas ibu.
"Dan sekarang, dia membelikan emas buat ku. Kalau buk Ayu cuma pura-pura baik, gak mungkin dia mau membeli kan emas-emas ini untuk ku," sambung ku lagi.
"Heleh, cuma emas gitu aja kok di bangga-bangga in sih," cibir ibu sembari memiringkan bibir nya.
Aku menghela nafas panjang, setelah mendengar cibiran ibu. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibu yang selalu menjelek-jelekkan buk Ayu di depan ku.
"Ya udah pasti bangga lah, mak. Dari pada mamak, dari dulu gak pernah belikan aku emas apa pun," balas ku kesal.
Ibu langsung emosi karena mendengar kata-kata ku barusan. Beliau marah besar, dan langsung memaki-maki ku dengan sumpah serapah nya.
"Kurang ajar kau ya. Berani sekali kau ngata-ngatain mamak mu sendiri seperti itu," bentak ibu.
"Maaf, mak. Yuni gak sengaja, bukan maksud Yuni untuk ngata-ngatain mamak. Tapi kenyataan nya memang seperti itu ada nya," balas ku membela diri.
Ibu semakin murka dengan perkataan ku. Ia membentak ku, dan kembali memaki-maki ku dengan kata-kata yang cukup kasar.
__ADS_1
"Udah berani kau melawan orang tua sekarang ya. Apa udah bosan kau tinggal di rumah ini, hah?" tanya ibu dengan suara lantang.
Aku langsung terlonjak kaget, mendengar suara ibu yang lumayan memekakkan telinga itu. Wajah ibu berubah jadi sangar dan menakutkan saat ini. Aku saja sampai bergidik ngeri melihat wajah horor ibu ku itu.
"Ma-maksud mamak a-apa nanya gitu sama Yuni?" tanya ku bingung sambil terbata-bata.
Masih dengan wajah horor dan mata mendelik, ibu pun kembali berceloteh.
"Kalau kau tidak mau menjual emas itu, dan masih membela perempuan gila itu, lebih baik kau angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!" usir ibu ku dengan suara yang semakin menggelegar.
Aku langsung syok, setelah mendengar ucapan ibu barusan. Aku tidak pernah menyangka, jika ibu akan murka dan marah besar seperti ini kepada ku. Hanya karena aku tidak mau memberikan emas itu untuk kepada nya, dan karena aku memuji-muji buk Ayu di depan beliau.
"Maaf kan Yuni, mak. Yuni janji, Yuni gak akan pernah ngomongin buk Ayu lagi di depan mamak," ujar ku dengan wajah memelas.
Aku berucap dengan suara serak dan mata yang mulai berembun. Tanpa sadar, air mata ku jatuh menetes membasahi kedua pipi ku.
Aku langsung bersimpuh di hadapan ibu sambil menangis sesenggukan. Tapi ibu malah membuang muka nya sambil cemberut. Ibu tidak mau melihat wajah ku yang sedang bersimpuh di hadapan nya.
"Kalau kau tetap mau tinggal disini, buka semua emas mu itu sekarang!" perintah ibu tanpa menoleh sedikit pun pada ku.
"Iya, mak. Yuni akan membuka nya sekarang," balas ku.
Aku menjawab sambil melepaskan anting-anting dan kalung yang baru beberapa hari aku pakai. Lalu kemudian, aku menyerahkan semua emas itu ke tangan ibu ku.
Tanpa pikir panjang lagi, ibu langsung beranjak dari duduknya dan bergegas pergi keluar, untuk menjual emas-emas pemberian buk Ayu itu ke toko emas terdekat.
Tak lama kemudian, ibu kembali dengan senyum sumringah, karena sudah berhasil menjual semua emas milik ku. Dan uang hasil penjualan nya, ia gunakan untuk uang muka pengambilan motor baru.
Sebenarnya, aku sangat kecewa dengan tindakan ibu ku itu. Tapi ya apa boleh buat. Mau tidak mau, aku harus pasrah dan menurut kepada ibu ku. Karena walau bagaimanapun sifat nya, beliau tetap lah ibu kandung ku yang sudah melahirkan ku ke dunia fana ini.
"Semoga saja buk Ayu tidak marah atas kejadian ini."
Gumam ku sambil melihat ibu yang sedang tersenyum bahagia, dari hasil pemberian buk Ayu itu.
__ADS_1