SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kejujuran Yuni


__ADS_3

Malam pun tiba, aku dan bang Darma bermain ponsel masing-masing, sambil rebahan di atas ranjang. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ternyata yang datang itu adalah Yuni.


Dia kembali datang, untuk menemui bang Darma. Yuni mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Bang darma langsung beranjak dari ranjang, dan berjalan ke luar kamar untuk membukakan pintu.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," salam Yuni.


"Wa'laikum salam," balas bang Darma.


Setelah membukakan pintu, bang Darma mempersilahkan Yuni masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah mendengar suara Yuni, aku langsung bergegas keluar dari kamar, dan duduk di samping bang Darma.


"Sekarang, tolong kau jelaskan yang sejujur-jujur nya tentang motor bapak itu, Yun!" ujar bang Darma.


Bang Darma meminta Yuni untuk berkata jujur, tentang apa sebenarnya yang terjadi dengan motor bang Darma. Yuni langsung tertunduk lemas, mendengar ucapan bapak nya barusan.


"Maaf kan Yuni, pak. Yuni sangat menyesal, telah melakukan hal itu pada bapak," jawab Yuni pelan.


"Bukan itu yang bapak tanya kan, YUN! bentak bang Darma.


"Bapak nggak butuh maaf dari mu. Bapak hanya menyuruh mu untuk jujur, apa sebenarnya yang terjadi dengan motor bapak itu, hah?" tanya bang Darma dengan geram.


Yuni mendongak kan kepala nya, dia menatap bang Darma dengan wajah sayu dan mata yang mulai berembun. Aku hanya berdiam diri, sambil terus mendengar kan percakapan anak dan bapak itu.


"Sebenarnya, mamak yang menyuruh Yuni untuk meminjam motor itu pada bapak," ucap Yuni lirih.


"Trus, motor itu sekarang ada dimana?" tanya bang Darma.


Bang Darma mulai emosi dan murka, terlihat dari wajah nya yang sudah memerah dan menakutkan. Aku sampai bergidik ngeri, melihat wajah nya seperti itu.


"Udah di jual sama mamak, pak. Yuni juga gak tau, mamak menjual motor itu dimana?" jawab Yuni.


"Kurang ajar! Lancang sekali kalian menjual motor bapak, hah? Udah bosan hidup kalian, ya?" bentak bang Darma.


Yuni langsung tersentak kaget dan menangis, mendengar bentakan bang Darma yang sangat menggelegar. Sedang kan bang Darma, dia mengeratkan gigi nya dan mengepalkan kedua tangannya.


"Dasar manusia gak tau diri! Nggak ada kapok-kapok nya dia menjual barang milik orang lain," umpat ku dalam hati.

__ADS_1


Aku melihat Yuni dengan tatapan tajam. Aku juga merasa sangat marah dan geram, atas perbuatannya yang sudah sangat kelewatan.


"Kau itu sebenarnya punya otak gak sih, Yun? Apa kau nggak mikir, gimana susah nya bapak kalau nggak ada motor itu, hah?" tanya bang Darma.


Bang Darma berucap sambil beranjak dari tempat duduk nya. Dia hendak melayangkan telapak tangan nya ke pipi Yuni.


Aku yang melihat tindakan bang Darma itu pun, langsung menangkap pergelangan tangan nya, dan menghempaskan nya dengan kasar. Bang Darma langsung menoleh pada ku dengan mata yang merah dan membulat.


"Apa kau mau masuk ke penjara hanya gara-gara memukul dia, BANG?" teriak ku.


Aku membentak bang Darma, sambil menunjuk kepada Yuni yang masih berurai air mata di tempat duduk nya. Bang Darma langsung terpaku ketika mendengar ucapan ku.


Yuni tampak sangat ketakutan, melihat tindakan bapak nya tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka, karena perbuatannya itu bisa berakibat fatal seperti ini.


"Ampun, pak! Yuni minta maaf, Yuni benar-benar sangat menyesal, pak."


Yuni langsung bergegas beranjak dari sofa, dan bersimpuh di kaki bapak nya. Dia meminta maaf sambil menangis sesenggukan.


"Permintaan maaf mu itu, sudah tidak ada guna nya lagi, Yun," ucap bang Darma ketus.


"Bapak sangat kecewa dengan perbuatan mu yang sudah sangat keterlaluan," lanjut bang Darma.


Aku duduk kembali di sofa sambil terus menatap mereka berdua. Sedang kan bang Darma, dia masih berdiri di depan Yuni sambil bersidekap, melipat kedua tangannya di atas perut.


"Kau itu sudah dewasa, Yun. Bukan anak kecil lagi, yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," ujar bang Darma.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, bang Darma pun langsung terdiam sejenak. Dia menoleh ke arah Yuni yang masih bersimpuh di bawah kaki nya.


"Kenapa kau bisa berbuat setega itu kepada bapak mu sendiri, Yun?" tanya bang Darma.


"Apa kesalahan yang sudah bapak perbuat dengan mu, sehingga kau sanggup menipu bapak mu ini, hah? Jawab, YUN!"


Bang Darma kembali membentak anak nya, dengan suara yang cukup memekakkan telinga.


"Astaghfirullah, sampe kaget aku, bang!" gumam ku.


Aku beristighfar sambil mengelus dada karena terkejut mendengar suara nya. Bang Darma menoleh sekilas pada ku, dan kembali menunduk kan kepala nya untuk menatap Yuni.

__ADS_1


Yuni kembali mendongak kan kepala nya, dia menatap wajah bang Darma dengan mata merah dan sembab.


"Yuni hanya ingin bapak dan mamak kembali bersatu, pak," jawab Yuni lirih.


Aku langsung terperangah, mendengar jawaban Yuni yang tidak masuk akal menurut ku. Aku langsung reflek menoleh pada bang Darma, yang terlihat syok dengan permintaan anak semata wayang nya.


"Kau sudah gila ya, YUN?" bentak bang Darma.


"Bapak gak akan pernah sudi untuk rujuk kembali dengan ibu mu itu, paham!" ucap bang Darma tegas.


"Tapi kenapa, pak? Kenapa bapak tidak mau hidup bersama kami lagi?" tanya Yuni.


Aku langsung menatap sinis kepada Yuni. Bisa-bisa nya dia berpikiran meminta seperti itu kepada bang Darma. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan isi kepala Yuni.


"Jodoh itu tidak bisa di paksakan. Kalau masalah tentang bapak dan mamak mu berpisah, itu artinya kami tidak berjodoh, paham!" jawab bang Darma tegas.


"Tapi kan, pak..."


Bang Darma langsung memotong ucapan Yuni, dengan cepat.


"Gak ada tapi-tapian lagi! Udah, gak usah di bahas lagi. Lebih baik sekarang kau pulang sana!" usir bang Darma.


"Iya, pak. Yuni akan pulang sekarang. Tapi, tolong bapak pikirkan permintaan Yuni tadi ya, pak! Karena itu semua demi kebahagiaan Yuni, pak," ucap Yuni dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


Yuni berucap sambil beranjak dari lantai, dan berdiri tepat di hadapan bang Darma. Yuni menoleh sekilas ke arah ku, lalu memalingkan wajah nya kembali untuk menatap bang Darma.


"Tolong bapak pertimbangkan lagi permintaan Yuni tadi ya, pak!" pinta Yuni lagi.


Selesai mengucapkan hal itu, Yuni pun mulai melangkah kan kaki nya keluar pintu. Dia memanggil ojek pangkalan yang berada tidak jauh dari rumah kami.


Setelah tukang ojek itu datang, Yuni langsung naik ke atas motor matic itu dan mereka berdua pun berlalu pergi. Setelah melihat kepergian Yuni, bang Darma langsung menutup pintu dan menguncinya.


Aku beranjak dari sofa, dan melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu pula dengan bang Darma, dia juga mengikuti langkah ku dari belakang.


Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas ranjang. Aku memijat-mijat pelan kepala ku yang mulai berdenyut nyeri. Bang Darma yang melihat ku sedang memijat kepala pun langsung mendekati ku.


"Jangan di masukkan ke dalam hati permintaan Yuni tadi ya, dek!" pinta bang Darma.

__ADS_1


"Iya," jawab ku singkat.


__ADS_2