SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Geram


__ADS_3

"Iya lah," jawab ku cuek.


Setelah selesai berbincang dengan ku, bang pun Darma pamit untuk pergi keluar, ada urusan penting kata nya.


"Dek, abang keluar dulu ya. Ada urusan penting yang harus abang selesai kan." ujar bang Darma.


"Ya, pergi lah!" balas ku.


Bang Darma tidak langsung pergi, raut wajah nya dia tampak kebingungan. Seperti ada yang ingin di sampaikan nya pada ku.


"Kata nya tadi mau pergi, kenapa masih nonggok di situ terus?" tanya ku penasaran.


"Hhmmm, abang boleh pinjam motor mu gak, dek?" tanya bang Darma ragu.


"Abang kan bisa naik ojek. Kenapa harus pakai motor ku segala?" tanya ku lagi.


"Tambah boros pengeluaran abang, dek. Kalau kemana-mana harus naik ojek." jawab bang Darma.


"Ya itu resiko abang lah. Siapa suruh dulu ngasih pinjam motor, sama anak kesayangan mu itu." balas ku kesal.


Aku tidak akan mudah percaya begitu saja kepada bang Darma. Aku agak sedikit was-was, kalau bang Darma memakai motor ku.


Bukan karena aku pelit dengan suami sendiri. Tapi karena aku takut, motor ku akan di berikan bang Darma kepada anak nya lagi.


Jadi aku harus tetap berhati-hati dan waspada, terhadap mereka semua. Ya, walaupun bang Darma adalah suami ku, itu tidak menjamin keselamatan motor ku.


Bang Darma terlihat kesal mendengar jawaban ku. Wajah nya berubah murung seketika.


"Kau sekarang kok jadi perhitungan kali gitu sama abang, dek?" balas bang Darma tidak terima.


"Ya harus lah. Itu nama nya bukan perhitungan, tapi men-ja-ga, ingat itu! Aku gak mau, kalau sampai motor ku berpindah tuan nanti nya."


Aku menjawab dengan nada ketus, sambil mengeja dan memberikan penekanan dengan kata menjaga, di depan bang Darma. Bang Darma mulai tersulut emosi. Dia seakan-akan tidak terima, dengan kata-kata ku barusan.


"Kita itu suami istri, dek. Jadi, apa pun barang milik mu, itu artinya barang itu milik ku juga." ujar bang Darma geram.


"Whaaat? Apa kuping ku ini gak salah dengar?" ledek ku.


Aku tersenyum miring, mendengar penuturan bang Darma yang tidak masuk akal itu.


"Apa kau bilang tadi? Barang milik ku, berarti barang milik mu juga? Hahaha, jangan mimpi!" cibir ku.

__ADS_1


Mendengar cibiran ku, bang Darma pun semakin panas dan geram. Dia mengeratkan rahang nya, dengan mata yang menatap tajam pada ku.


"Nama nya suami istri, ya memang harus gitu lah. Kau itu dulu nya sekolah gak sih? Kok bodoh kali jadi orang." sindir bang Darma.


"Heh, dengar ya orang pintar! Aku memang gak makan bangku sekolahan. Tapi aku tau, mana yang menjadi hak ku, dan mana yang tidak." balas ku tak mau kalah.


"Apa kau gak capek, membahas masalah itu-itu terus, hah? Apa kau gak malu, mengakui barang yang bukan hak mu?" lanjut ku mulai emosi.


"Kenapa aku harus malu? Kau kan istri ku, aku kepala rumah tangga. Jadi, aku berhak mengatur hidup mu. Dan aku juga berhak mengatur segala nya di rumah ini." jawab bang Darma dengan bangga nya.


Aku yang sedari tadi berusaha untuk menahan diri, agar tidak terpancing emosi. Lama-kelamaan, akhirnya pertahanan ku itu pun roboh juga.


Aku berdiri di hadapan bang Darma, sambil berkacak pinggang. Emosi ku langsung meledak, dan naik sampai ke ubun-ubun. Sehingga membuat ku kalut dan mengamuk, di depan bang Darma.


"Heh, laki-laki gak tau diri. Kau dengar baik-baik ya! Aku tidak ada memakai uang mu sepeser pun, untuk membeli motor itu." pekik ku kuat.


"Jadi, jangan pernah kau ungkit-ungkit lagi tentang motor ku itu. Karena apa? Karena itu adalah hasil keringat ku sendiri. Tidak ada campur tangan mu sedikit pun waktu membeli nya, paham!" lanjut ku geram.


Aku menatap wajah bang Darma, dengan tatapan mata yang menusuk. Begitu juga dengan nya, dia menatap ku dengan wajah bengis nya.


Setelah meluapkan kemarahan dan kekesalan ku kepada bang Darma, aku pun kembali duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok.


"Aaagghhh, dasar perempuan keras kepala!"


Karena saking kuat nya suara pintu itu, aku sampai terkejut dan mengelus-elus dada.


"Astaga, kaget aku!" gumam ku pelan.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah laku suami ku itu. Setelah mematikan api rokok, aku pun langsung melangkah keluar dari kamar.


"Dari pada suntuk mikirin bang Darma, mendingan aku buka kios." gumam ku.


Sampai di dalam kios, aku segera membuka pintu nya, dan mulai merapikan barang-barang dagangan ku tersebut.


Sedang fokus membersihkan barang, tiba-tiba bang Agus muncul di depan pintu kios. Dia melangkah perlahan mendekati ku, sambil menyunggingkan senyuman aneh nya pada ku.


"Ck, dedemit satu ini mau ngapain lagi sih, datang kesini? Ganggu orang lagi kerja aja." gerutu ku dalam hati.


"Hai, sayang! Lagi ngapain, nih?" tanya bang Agus basa-basi.


"Lagi joget-joget, bang." jawab ku asal.

__ADS_1


"Hahahaha, gila. Lagi bersih-bersih gini kok, di bilang lagi joget-joget. Aneh-aneh aja dirimu itu, say."


Ujar bang Agus sambil tertawa terpingkal-pingkal, memegangi perut nya sendiri.


"Udah tau gitu pun, masih juga nanya. Sebenarnya, yang aneh itu abang atau aku?" balas ku sewot.


"Hehehe, maaf lah, say. Abang kan cuma basa-basi aja tadi. Di candain gitu aja kok langsung emosian gitu sih!" ujar bang Agus


"Basa-basi nya udah basi, bang. Udah gak enak lagi untuk di makan." jawab ku asal.


"Walaupun udah basi, tapi bagi abang tetap enak dan gurih kok, say. Hehehehe." goda bang Agus dengan senyum genit nya.


"Hmmmm, pikiran nya pasti traveling kemana-mana, tuh." cibir ku.


"Iya, bener dugaan mu itu, say. Abang jadi mikirin tentang permainan kita tadi." jawab bang Agus jujur.


"Kita main lagi yok, say!" lanjut bang Agus.


Mata ku langsung membulat sempurna, aku terkejut mendengar ajakan selingkuhan lima langkah ku itu.


"Males lah, badan ku masih terasa capek gini, malah di ajak main pulak. Lama-lama, bisa rontok semua tulang-tulang yang ada di badan ku ini, gara-gara ulah abang." jawab ku.


"Ya gak mungkin lah, say. Abang kan main nya pelan-pelan aja, mana mungkin bisa rontok." balas bang Agus.


"Pelan-pelan apa nya? Kasur abang aja, hampir roboh tadi abang buat." jawab ku.


"Mana pulak, ngarang aja dirimu itu." balas bang Agus.


"Siapa yang ngarang? Emang kenyataan nya gitu kok tadi. Kasur abang sampe bunyi, nyak-nyek nyak-nyek." ledek ku.


"Untung aja kasur nya gak roboh, waktu kita main tadi, hihihi." lanjut ku sambil terkikik geli.


"Kalau kasur abang roboh, kita sambung aja main nya di bawah. Kan malah enak, lebih leluasa gerak nya." ujar bang Agus.


Aku tidak lagi menanggapi ucapan bang Agus. Aku kembali menyibukkan diri dengan barang-barang dagangan ku, yang masih berserakan di atas rak nya masing-masing.


"Say, kok abang malah di cuekin sih, jahat banget." gerutu bang Agus.


"Bukan di cuekin, bang. Apa mata abang gak nampak, kalau aku lagi sibuk beberes?" jawab ku kesal.


"Lagian abang mau ngapain lagi sih, datang-datang kesini? Tadi kan abang udah aku kasih jatah." lanjut ku.

__ADS_1


"Hmmmm, abang mau..."


__ADS_2