SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Tendangan Super


__ADS_3

"Kepo," jawab ku cuek.


Aku kembali melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menyimpan tas ransel ku ke dalam laci meja. Kemudian, aku merebah tubuh lelah ku di atas ranjang.


Aku sama sekali tidak memperdulikan bang Darma, yang masih mengoceh panjang lebar di ruang tamu.


"Heh, istri gak tau diri. Kalau di tanya suami itu ya di jawab, bukan nya di cuekin gitu." umpat bang Darma kesal.


Melihat reaksi ku yang tidak menghiraukan nya, bang Darma pun beranjak dari sofa dan menyusul ku ke dalam kamar. Dia mendudukkan diri di pinggir ranjang, lalu memandangi wajah ku dengan tatapan sinis.


"Mana uang hasil kencan mu? Sini, berikan semua nya pada ku!" pinta bang Darma sembari menadahkan tangan nya di depan wajah ku.


Mendengar ucapan bang Darma yang cukup menyinggung perasaan ku, aku pun langsung membentak nya dengan suara yang cukup menggelegar.


"GILA KAU, YA?" bentak ku.


Aku segera bangkit dari rebahan, lalu duduk bersila di depan bang Darma. Dengan mata yang mendelik dan wajah yang ku buat sehoror mungkin, aku pun mulai memaki-maki suami gila ku itu dengan kata-kata yang cukup menusuk.


"Kalau kau mau duit, ya minta lah sama gendak'an mu itu. Ngapain pulak kau minta sama ku!" cibir ku sinis.


"Kau kan sama juga kayak aku, sama-sama jual harga diri. Mana hasil mu? Masa gak ada hasil nya sih? Atau jangan-jangan cuma barang gratisan ya, hahaha." lanjut ku tertawa ngakak.


"Berarti, kau gak ada harga nya lah kalo gitu. Masih mending aku lah, aku di bayar mahal untuk sekali kencan. Sedangkan kau, cuma gratisan alias diskonan, hahaha."


Aku kembali mentertawai bang Darma dengan suara yang cukup kuat. Aku sengaja menghina dan merendahkan nya, agar dia tidak meremehkan ku dan terus-menerus menginjak harga diri ku.


Wajah bang Darma langsung memerah seperti kepiting rebus, setelah mendengar kata-kata ku barusan. Dia tampak sangat marah dan geram, karena merasa terhina dan di rendah kan oleh ku.


"Kurang ajar, berani sekali kau merendahkan ku seperti itu, hah! Mau minta di sobek mulut mu itu, ya!" bentak bang Darma.


"Coba aja kalau berani. Aku gak akan pernah gentar sedikitpun, untuk menghadapi ulat bulu seperti mu, paham!" bentak ku tak mau kalah.


Mendengar kata ulat bulu, bang Darma pun semakin emosi. Dia tampak tidak terima, jika di sama kan dengan binatang yang bulu nya gatal tersebut.


"Dasar, istri luknut! Makin lancang aja muncung mu itu, sampai ngata-ngatain aku ulat bulu segala. Cocok nya yang jadi ulat bulu itu kau, bukan aku." omel bang Darma geram.

__ADS_1


"Kau itu kan perempuan gatal, sama siapa aja mau. Cuih, entah udah berapa banyak laki-laki, yang menikmati tubuh kotor mu itu." cibir bang Darma lalu membuang ludah nya ke lantai.


Mendengar cibiran bang Darma, tawa ku pun langsung pecah. Aku kembali tertawa terbahak-bahak, lalu membalas ucapan nya tersebut.


"Hahahaha... Helloooo, sadar woy! Apa beda nya kau sama aku, hah?" tanya ku.


"Kau bahkan lebih bejat dari aku. Bisa-bisanya anak beranak pun kau embat semua, rakus banget. Kayak gak ada perempuan lain aja, hahaha." ledek ku lagi.


"Sukak ku lah, kenapa rupanya? Iri bilang bos." cibir bang Darma sembari tersenyum miring, dan melipat kedua tangan di atas perut nya.


"Whaaaattt? Aku iri?" pekik ku pura-pura terkejut.


"Iya, pasti kau iri kan? Ngaku aja deh, ngapain pake acara malu-malu segala sih! Tinggal bilang iya aja kok susah kali." sindir bang Darma.


"Hahahaha, Darma...Darma... Tinggi betul tingkat kepedean mu itu ya! Ck ck ck, salut aku." oceh ku sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Bang Darma masih saja tersenyum miring, sambil terus memandangi ku dengan mata elang nya. Dia seolah-olah sedang mencemooh ku di dalam hati nya.


"Gak usah di pandangi terus istri cantik mu ini. Entar kau kepincut pulak sama aku, akibat termakan ajian susuk yang ada di muka ku ini." oceh ku asal.


Bang Darma terus saja berusaha memojokkan ku, dan mengolok-olok ku dengan kata-kata pedas nya. Dia sama sekali tidak mau mengalah atau pun berhenti menghina ku.


Karena sudah merasa lelah berdebat dengan bang Darma, yang sudah pasti tidak akan ada ujung nya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengalah, dan tidak meladeni kegilaan nya lagi.


"Ya ya ya, terserah kau aja lah mau ngomongin aku apa. Udah, pergi sana! Aku mau istirahat dulu. Nanti aja kita lanjutkan lagi perang nya, oke." oceh ku sembari membentuk jari ku menjadi huruf O di depan wajah nya.


Aku berbaring miring menghadap tembok, lalu memeluk guling di dada ku. Aku berpura-pura memejamkan mata, tanpa menghiraukan bang Darma yang masih tampak setia dengan wajah aneh nya.


Karena merasa di abaikan, bang Darma pun kembali berceloteh ria. Dia juga menarik tangan ku, dan membalikkan badan ku secara paksa untuk menghadap pada nya.


"Eh eh eh, enak kali kau mau kabur gitu aja. Gak bisa, kita harus selesai dulu masalah ini sampai tuntas." oceh bang Darma.


"Ck, masalah apa lagi, siiiiihh? Apa gak bosan kau ngomongin masalah itu-itu terus, hah? Aku aja udah bosan denger nya, masa kau enggak sih!" omel ku semakin kesal.


"Aku gak akan pernah bosan, sampai kau mau memberikan semua uang mu pada ku." ujar bang Darma sembari tersenyum sinis.

__ADS_1


"Hahahaha, jangan mimpi laki-laki bodoh. Kau pikir aku sebaik itu ya, sampai rela memberikan hasil jerih payah ku untuk mu? Jangan harap, camkan itu baik-baik!" ujar ku tegas.


Lagi-lagi, wajah bang Darma tampak memerah. Dia terlihat sangat murka, saat mendengar kata laki-laki bodoh yang keluar dari bibir ku.


Dia ingin melayangkan telapak tangan nya ke wajah ku. Tapi sebelum itu terjadi, aku lebih dulu menendang badan nya dengan kekuatan super. Dan itu berhasil, membuat badan besar nya jungkir balik ke bawah ranjang.


"ADOOOH, sakit pinggang ku ini kau buat, bangs*t!" pekik bang Darma dengan suara menggelegar.


"Hahahaha, mampos! Maka nya jangan macam-macam sama aku, kualat kan jadi nya, hahaha." cibir ku sembari tertawa terbahak-bahak.


"Dasar, istri durhaka. Awas kau ya, tunggu aja pembalasan ku. Aku akan membuat mu merasakan sakit yang lebih dari ini, ingat itu!"


Ancam bang Darma sembari meringis kesakitan memegangi pinggang nya. Dia mulai bangkit dari lantai secara perlahan, lalu kembali duduk di tempat semula.


Saat hendak memaki ku lagi, tiba-tiba ponsel nya berdering nyaring tanda panggilan masuk.


"Kau memang..."


Kring kring kring... Kring kring kring


"Aaagghhh, siapa lagi sih? Ganggu orang aja." pekik bang Darma kesal, lalu mengambil ponsel yang ada di saku celana nya.


Aku hanya tersenyum miring, saat melihat tingkah aneh suami gila ku tersebut. Dia menggaruk-garuk kasar kepala nya, sambil terus memandangi layar ponsel yang sedang menyala di tangan nya.


"Kenapa gak di angkat? Emang nya siapa yang nelpon?" tanya ku penasaran.


"Bukan urusan mu." jawab bang Darma ketus.


"Ooohhh, ya udah kalo gitu. Pergi sana jauh-jauh, aku mau tidur!" balas ku santai.


Aku kembali memiringkan badan untuk menghadap tembok, dan mulai memejamkan mata. Sedangkan bang Darma, dia beranjak dari tempat duduk nya, lalu melangkah keluar dari kamar untuk menerima panggilan tersebut.


"Palingan yang nelpon benalu-benalu itu. Ah, biarin aja lah. Masa bodo aja." batin ku.


Aku mulai mengistirahatkan otak dan tubuh lelah ku, tanpa memperdulikan bang Darma yang sedang asyik berbincang-bincang, dengan seseorang di ponsel nya.

__ADS_1


__ADS_2