
"Jangan di masukkan ke dalam hati permintaan Yuni tadi ya, dek!" pinta bang Darma.
"Iya," jawab ku singkat.
Jujur, sebenarnya aku sangat kesal dan marah saat mendengar permintaan Yuni. Tapi ya mau bagaimana lagi, nama nya juga anak sableng.
Dia hanya memikirkan keinginan nya saja, tanpa memperdulikan hati dan perasaan orang lain.
Tapi biar lah, aku tidak mau ambil pusing lagi tentang masalah itu.Yang terpenting bagi ku sekarang, bang Darma tidak terpengaruh dengan keinginan anak nya tersebut.
"Maafin abang ya, dek!" ujar bang Darma.
Aku yang sedari tadi termenung, langsung menoleh pada bang Darma karena mendengar permintaan maaf nya. Aku mengernyitkan dahi menatap wajah nya.
"Minta maaf, untuk..."
Aku sengaja menjeda ucapan ku. Karena aku yakin, bang Darma pasti sudah tau maksud dari kata-kata ku itu.
"Abang minta maaf atas semua masalah yang terjadi belakangan ini." jawab bang Darma.
"Oh," balas ku.
"Jawaban nya kok cuma oh sih, dek?" tanya bang Darma heran.
"Trus, aku harus jawab apa lagi? Apa aku harus marah-marah, atau mencak-mencak seperti orang kesurupan. Iya, gitu maksud, abang?" tanya ku ketus.
Bang Darma menatap ku bingung, dia tidak mengerti tentang jalan pikiran ku saat ini, karena aku tidak berkomentar apa pun tentang kejadian tadi.
Ya aku memang diam, aku malas membahas masalah itu. Karena takut nya, darah tinggi ku bisa naik nanti nya kalau membahas kejadian tadi.
"Bukan gitu maksud abang, dek." jawab bang Darma.
"Lah trus, maksud abang aku harus gimana sih sebenarnya?" tanya ku lagi.
"Emang nya adek gak marah, ya?" tanya bang Darma balik.
"Marah soal apa sih, bang? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan berbelit-belit gitu! Bikin tambah pusing kepala ku aja kalian semua." balas ku semakin kesal.
"Iya maaf, dek. Abang pikir adek bakalan marah-marah sama abang karena perbuatan Yuni akhir-akhir ini." balas bang Darma.
"Untuk apa lagi aku harus marah-marah?" tanya ku.Toh semua nya sudah terjadi. Mau marah pun udah percuma sekarang." balas ku.
"Gak ada yang perlu kita di sesali lagi, bang. Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tidak ada guna nya lagi." lanjut ku.
"Iya, dek. Abang paham, abang janji gak akan pernah mengulangi kesalahan ini lagi untuk ke depan nya." ujar bang Darma.
__ADS_1
"Ya, mudah-mudahan aja abang sudah kapok kali ini!" sindir ku pedas.
Bang Darma langsung tertunduk mendengar sindiran ku barusan. Mungkin dia merasa bersalah dan malu pada ku. Setelah beberapa saat hening, bang Darma pun kembali bersuara.
"Jadi besok abang gimana, dek?" tanya bang Darma.
"Besok gimana apa nya sih?" tanya ku pura-pura bingung.
"Abang bingung mau naik apa pergi kerja besok dan seterusnya?" jawab bang Darma ragu.
"Oh, itu." balas ku santai.
"Loh, kok cuma gitu aja jawaban nya sih?" tanya bang Darma semakin bingung.
"Ya, pikir aja lah sendiri. Udah gak usah di bahas lagi, tidur aja sana besok kerja!" balas ku.
Aku langsung membaringkan tubuhku sambil memeluk guling. Aku tidak lagi memperdulikan bang Darma yang masih menatap heran pada ku.
"Sukurin, bodoh kok di pelihara. Sekarang rasa kan lah sendiri akibat nya." umpat ku dalam hati.
Aku mulai memejamkan mata dan memunggungi bang Darma. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku pun tertidur pulas.
Sedangkan bang Darma, dia masih saja krasak- krusuk di belakang ku. Bang Darma masih gelisah tidak karuan, memikirkan nasib nya besok dan hari-hari berikutnya tanpa motor milik nya.
Aku tidak mau ikut-ikutan pusing memikirkan masalah itu. Biar kan saja bang Darma yang memikirkan nya sendiri. Dari pada bikin aku setres, mendingan masa bodo saja.
Setelah semua nya selesai, aku meletakkan sarapan itu di atas meja ruang tamu. Lalu duduk selonjoran di sofa sambil menonton tv.
Selesai mandi dan memakai pakaian kerja, bang Darma langsung duduk di hadapan ku. Dia mulai memakan pisang goreng dan sesekali meneguk teh nya.
"Dek, abang gimana ini pergi kerja nya?" tanya bang Darma.
"Ya gak gimana-gimana sih, bang. Tinggal naik ojek aja kok pake acara bingung segala." balas ku santai.
Aku mulai menyeruput teh dan ikut memakan pisang goreng dengan santai dan tenang, tanpa memperdulikan bang Darma yang sedang kebingungan memikirkan kendaraan nya.
"Kapok kau, bang. Pikir kan lah sendiri nasib malang mu itu, hihihi."
Aku membatin sambil terkikik geli, melihat raut wajah bang Darma yang kusut bagaikan baju yang belum di setrika.
"Dek, abang pakai..."
"Udah, pergi sana! Lihat, udah jam berapa tuh." ujar ku ketus.
Aku langsung memotong ucapan bang Darma, sambil menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.
__ADS_1
"Ya udah lah kalo gitu, abang berangkat sekarang, assalamualaikum." pamit bang Darma.
"Wa'laikum salam." balas ku.
Aku langsung beranjak dari tempat duduk untuk mengecup kedua pipi nya, dan mencium punggung tangan nya takzim.
"Bye, sayang. Hati-hati di jalan ya!" ujar ku.
Aku melambaikan tangan sambil tersenyum manis kepada bang Darma, yang sedang berjalan menuju pangkalan ojek.
Bang Darma sama sekali tidak menanggapi ucapan dan tingkah ku. Dia tetap terus berjalan dengan pandangan yang hanya fokus lurus ke depan.
Setelah melihat kepergian bang Darma, aku kembali mendudukkan tubuh ku di atas sofa. Beberapa menit kemudian, mbak Tuti si tetangga kepo pun datang untuk membayar hutang, juga mau mengumpi tentu nya.
"Hai, mbak Ayu." sapa mbak Tuti ramah.
"Hai juga, mbak Tuti." balas ku.
Mbak Tuti langsung nyelonong masuk tanpa aku persilahkan. Dia duduk di hadapan ku sambil memakan pisang goreng yang terletak di depan nya.
"Yang di depan ku ini manusia atau demit sih? Main embat gitu aja makanan orang lain."
Gerutu ku dalam hati sambil melihat tingkah manusia langka yang ada di depan ku. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku pun pura-pura menanyakan maksud kedatangan nya.
"Ada perlu apa pagi-pagi datang kesini, mbak?" tanya ku.
Mendengar pertanyaan ku, mbak Tuti langsung menoleh kepada ku. Dia terus saja mengunyah makanan itu dengan lahap tanpa rasa malu sedikit pun.
Aku hanya geleng-geleng kepala, melihat mulut mbak Tuti yang penuh dengan pisang goreng milik ku.
"Emang dasar kebo gak ada akhlak, hihihi." umpat ku.
Aku membatin sembari terkikik sendiri melihat kejadian aneh di hadapan ku. Setelah mulut mbak Tuti sedikit longgar tidak penuh seperti yang tadi, dia pun mulai menjawab pertanyaan ku.
"Aku kesini mau bayar hutang yang dua ratus ribu kemaren, mbak Ayu. Ini uang nya, mbak." jawab mbak Tuti.
"Oh, kirain tadi mau ngapain?" balas ku.
Aku langsung menerima uang yang di sodorkan mbak Tuti, lalu menyimpan nya di dalam saku celana panjang jeans yang sedang aku gunakan.
"Oke lah, mbak Ayu. Terima kasih banyak ya, aku mau balek dulu, bye." pamit mbak Tuti.
"Iya sama-sama, mbak Tuti." balas ku.
Selesai berpamitan, mbak Tuti langsung berjalan keluar pintu dan kembali ke rumah nya. Setelah kepergian mbak Tuti, aku kembali duduk di tempat semula.
__ADS_1
Aku langsung melongo menatap piring yang sudah kosong melompong di atas meja.
"Ck ck ck, dia itu lapar atau doyan sih. Masa pisang goreng segitu banyak nya bisa habis total?" Gumam ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.