
*Kembali ke Ayu dan Agus*
Setelah tertidur lelap selama beberapa jam, tanpa terasa ternyata hari sudah gelap. Aku mengguncang-guncang bahu bang Agus, untuk membangun nya dari tidur lelap nya.
"Botak, bangun, botak! Udah gelap tuh." ujar ku sambil terus mengguncang bahu nya.
"Hhhmmm, apa sih, say? Orang lagi enak-enak nya mimpi kok malah di bangunin." omel bang Agus.
"Emang nya lagi mimpi apaan? Pasti mimpi yang aneh-aneh ya, hayo ngaku?" desak ku.
"Hehehe, tau aja dia." jawab bang Agus sambil menggaruk-garuk botak licin nya.
"Kan udah sering ku bilang, kalau aku ini anak dukun. Jadi aku bisa baca pikiran orang, termasuk isi kepala botak abang ini, hihihi." balas ku asal.
Aku menoyor pelan jidat bang Agus sambil cekikikan. Aku geli melihat wajah bantal bang Agus yang tampak kusut dan lecek, persis seperti kain lap yang ada di dapur ku.
"Halah, bohong. Abang gak pernah percaya sama hal-hal yang begituan." cibir bang Agus.
"Gak percaya ya sudah, gak di paksa juga kok." balas ku cuek.
Selesai otot-ototan dengan si botak tuyul, aku mulai beranjak dari ranjang dan melangkah ke arah jendela untuk menutup gorden.
Setelah itu, aku duduk di pinggir ranjang lalu menyalakan rokok. Dengan pandangan kosong menatap lurus ke arah cermin, aku kembali mengingat perbuatan bang Darma yang sangat menyakitkan hati ku.
Walau pun sudah berusaha untuk melupakan nya, namun bayangan bang Darma yang sedang bergumul ria dengan Yuni, selalu saja terngiang-ngiang di ingatan ku.
"Ck, kenapa mesti teringat kejadian itu lagi sih? Bikin mood ku rusak aja." gerutu ku kesal.
"Pergi aja kenapa sih dari ingatan ku. Lagian kok betah kali memori ku ini, menyimpan kejadian yang menyakitkan itu." lanjut ku lagi.
Aku menepuk-nepuk jidat ku sendiri dengan telapak tangan ku. Aku sangat kesal dan geram, karena tidak bisa melupakan perbuatan bang Darma dengan Yuni.
Bang Agus yang sedari tadi masih berbaring di belakang ku pun langsung mendekat, dan meletakkan kepala nya di atas paha ku.
"Ingat kejadian apa sih, say? Dari tadi kok abang perhatiin, dirimu ngedumel terus gak siap-siap. Emang lagi mikirin apaan?" tanya bang Agus.
Sebelum bercerita, aku membuang nafas terlebih dahulu. Aku berusaha menetralkan pikiran ku yang sedang kacau akibat ulah bang Darma.
Setelah pikiran ku sedikit lebih tenang, aku pun mulai menceritakan tentang isi kepala ku kepada bang Agus, si botak tuyul ku itu
"Aku kesal dengan ingatan ku sendiri, bang." ujar ku.
"Kesal kenapa?" tanya bang Agus heran sembari menautkan kedua alisnya.
"Huh, padahal aku udah bersusah payah untuk melupakan kejadian itu. Tapi tetap aja bayangan mereka selalu hadir, dan terngiang-ngiang terus di pandangan mata ku." jawab ku.
Aku mendongak dan menghela nafas dalam-dalam, kemudian membuang nya secara kasar.
Melihat ekspresi wajah ku yang sedang pusing tujuh keliling, bang Agus pun berinisiatif untuk mengajak ku makan di luar. Agar aku bisa sedikit lebih tenang, dan juga bisa melupakan kejadian itu walau hanya sejenak.
"Udah, gak usah kayak orang stres gitu. Mendingan kita makan di luar, yok! Kalau gak, kita belanja ke mall aja. Gimana, mau gak?" tanya bang Agus.
__ADS_1
"Untuk apa belanja segala? Barang-barang dagangan ku juga banyak kok di kios." jawab ku.
"Kalau urusan baju, tas, sandal, dan sepatu, aku udah gak perlu lagi beli-beli yang begituan. Aku bisa ambil dari kios ku aja." lanjut ku panjang lebar.
"Iya abang tau, say. Maksud abang itu, kita belanja-belanja lain nya. Seperti emas, alat-alat tempur buat wajah mu, dan juga belanja makanan." jelas bang Agus.
"Oohh, gitu. Kirain tadi mau ngajak belanja baju, hehehe." balas ku malu-malu kucing.
"Ya enggak lah, abang juga tau kok kalau di kios mu banyak baju." ujar bang Agus.
"Oke lah kalo gitu, ayo kita let's go!"
Seru ku dengan semangat empat lima, dan senyum yang sumringah tentunya. Melihat ekspresi wajah ku yang tadi nya stres sudah berubah ceria, bang Agus pun langsung duduk lalu berkata...
"Naaah, gitu dong, say. Ceria, senang, bahagia. Jangan di tekuk terus muka nya, jelek tau gak!"
Ledek bang Agus sembari mencubit gemas hidung ku. Mendapat cubitan kecil dari bang Agus, aku pun langsung mempunyai ide untuk mengerjainya. Aku ingin berpura-pura memekik kesakitan, untuk membuat nya terkejut.
"Adoooh, sakit hidung ku, botaaaakkk!" pekik ku dengan suara menggelegar.
Dan ternyata dugaan ku benar, bang Agus langsung terlonjak kaget dengan mata yang terbelalak lebar. Dia mengelus-elus dada nya sembari berucap...
"Astaga, say. Untung aja jantung abang masih sehat. Kalau aja jantung abang udah bermasalah, pasti abang langsung pingsan mendengar suara mu tadi." omel bang Agus.
"Hehehehe, maaf ya, bang. Aku gak sengaja tadi, maka nya jangan nyubit-nyubit sembarangan gitu lah! Nakal kali pun tangan nya ini." oceh ku sambil menepuk punggung tangan bang Agus.
"Udah ah, gak usah ngomel terus. Ayo kita siap-siap, biar gak kemalaman kali nanti pulang nya!" seru bang Agus.
Selesai berhaha-hihi dan bercekcok ria berdua, kami pun segera beranjak dari ranjang dan membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah selesai, aku dan bang Agus bergegas memakai pakaian masing-masing, lalu keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.
Dengan perasaan yang sedikit berdebar-debar, aku celingukan kesana kemari untuk memperhatikan situasi, di sekitaran hotel tempat kami menginap.
"Kenapa ketakutan gitu, say?" tanya bang Agus.
Dia tampak bingung melihat gelagat aneh ku, yang sedari tadi tidak bisa tenang di samping nya.
"Aku lagi mantau situasi, botaaak. Takut nya nanti kepergok bang Darma pulak disini." jawab ku pelan.
"Ngapain mesti takut? Kalau memang terlanjur ketahuan, ya kita langsung nikah aja lah. Beres kan jadi nya." jawab bang Agus dengan enteng nya.
"Belum saat nya, bang. Aku masih ingin memberikan pelajaran berharga dulu, kepada tiga hantu itu. Biar mereka pada kapok karena sudah berurusan dengan ku." balas ku geram.
"Ya udah lah, terserah dirimu aja!" balas bang Agus pasrah.
Setelah percakapan selesai, aku dan bang Agus pun sudah tiba di parkiran motor. Sesudah mengeluarkan motor nya dari parkiran, aku dan bang Agus pun langsung naik dan menggunakan helm masing-masing.
Aku melingkarkan kedua tangan di pinggang bang Agus dan menempel badan ku di punggung nya. Kemudian, aku juga meletakkan dagu ku di atas bahu nya.
Karena merasa dingin akibat terkena terpaan angin, aku pun semakin mengeratkan pelukan ku ke tubuh bang Agus.
__ADS_1
"Dingin ya, say?"
Tanya bang Agus sembari menggenggam erat tangan ku, yang sedang melingkar cantik di atas perut nya.
"Iya," jawab ku.
"Sabar ya, bentar lagi kita nyampe kok!" ujar bang Agus.
Dia melajukan motor nya hanya dengan satu tangan saja. Sedangkan tangan satu nya lagi, masih tetap setia menggenggam tangan ku.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh menitan, kami berdua pun sudah tiba di depan gedung salah satu mall besar, yang berada di tengah-tengah kota ini.
"Ayo turun, say! Kita udah nyampe nih." seru bang Agus.
"Eh iya, bang." jawab ku gugup.
Aku kembali melamun memikirkan bang Darma, yang tidak pernah membawaku ke mall sebesar ini selama hidup bersama nya.
Setelah turun dari motor, bang Agus kembali menggandeng tangan ku dan mengajak ku berjalan beriringan bersama nya.
Sesampainya di dalam mall, bang Agus langsung membawa ku ke arah toko emas, yang berada di lantai dua gedung tersebut.
Setelah sampai di tempat tujuan, bang Agus menyuruh ku untuk memilih perhiasan yang aku inginkan.
"Pilih lah, say! Ambil aja mana yang kau mau." seru bang Agus.
"Beneran, bang?" tanya ku ragu.
"Iya beneran, sayang. Pilih lah, nanti abang yang bayar!" ujar bang Agus lagi.
Dengan wajah yang berbinar cerah, aku pun langsung memandangi etalase kaca yang ada di depan ku. Setelah beberapa menit memilah-milih, akhirnya aku menetap pilihan pada gelang rantai dan cincin berbentuk love.
Sesudah mencocokkan nya ke tangan ku, aku pun menyerahkan perhiasan itu kembali ke tangan si penjual.
Setelah mentotal harga perhiasan pilihan ku, si penjual itu pun langsung memperlihatkan harga yang sudah di buat nya, dia atas kertas tagihan tersebut.
"Ini total tagihan nya, kak." ujar si penjual.
"Oh iya, mbak." balas ku gugup.
Mata ku langsung mendelik, ketika melihat harga yang harus di bayar bang Agus.
"Hah, sembilan juta enam ratus." pekik ku tertahan sembari menutup mulut dengan kedua tangan ku.
Melihat keterkejutan ku, bang Agus pun langsung mengambil kertas tagihan emas itu dari tangan ku. Setelah melihat jumlah nya, bang Agus langsung mengeluarkan kartu ajaib nya, lalu menyerahkan nya kepada si penjual.
Tak lama kemudian, si penjual itu pun mengembalikan kartu ajaib bang Agus kepada ku, sembari berkata...
"Makasih ya, kak. Sudah mampir di toko kami." ujar si penjual sambil mengatupkan kedua tangan nya di dada.
"Iya, sama-sama, mbak." jawab ku.
__ADS_1