
Karena keenakan tidur, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Aku membuka mata perlahan, dan melirik ke arah jam dinding.
"Hah, udah setengah lima."
Mata ku membulat melihat jam dinding tersebut.
Aku bergegas beranjak dari ranjang, dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari tempelan syaiton.
Setelah selesai membersihkan diri, lanjut melaksanakan shalat ashar di kamar.
Selesai shalat, bang Darma pulang bersama motor kesayangan nya.
"Assalamualaikum."
Salam bang Darma sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Wa'laikum salam."
Balas ku mencium punggung tangan nya.
Bang Darma langsung menuju ke kamar mandi, lalu lanjut menunaikan shalat ashar.
Setelah semua nya selesai, bang Darma langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang. Dia memulai kegiatan wajib nya yaitu bermain ponsel.
Sedang kan aku, melanjutkan kegiatan sehari hari. Yaitu, menyapu halaman dan menyiram bunga yang ada di depan rumah.
Selesai menyapu dan menyiram bunga, bang Agus pun muncul dari dalam rumah nya.
Dia berdiri di depan pintu, sambil tersenyum dan membentuk love dengan kedua tangan nya, lalu di arah kan kepada ku.
"Itu tuyul kesurupan kali, yak?"
Aku menggeleng gelengkan kepala, melihat tingkah konyol bang Agus.
Setelah kerjaan beres, aku berjalan menuju kamar. Duduk di sisi ranjang, sambil menyalakan ponsel ku.
Bang Darma yang masih berbaring di belakang ku, dan masih asyik dengan ponsel nya itu, tidak menghiraukan keberadaan ku yang sedang duduk di samping nya.
__ADS_1
"Dasar kulkas." Gerutu ku dalam hati, melihat tingkah bang Darma yang tak pernah menghiraukan ku.
Tak lama kemudian, adzan maghrib pun berkumandang. Aku bergegas ke kamar mandi untuk berwhudu, dan segera menunaikan kewajiban ku sebagai umat muslim yaitu shalat maghrib.
Setelah aku Selesai menunaikan shalat maghrib. Selanjutnya, bang Darma yang menunaikan shalat maghrib tersebut.
Ya, kami shalat sendiri-sendiri, tidak pernah melakukan shalat berjamaah.
Bang Darma tidak pernah sekali pun, mengajak aku untuk shalat berjamaah. Begitu juga dengan ku.Kami seperti orang asing yang tinggal satu atap.
Saling acuh, saling tidak perduli, dan saling cuek. Kalau bahasa Jawa nya itu, "mbok Los kono." Begitu lah kira-kira.
"Mau makan sekarang atau nanti, bang?" tanya ku pada bang Darma.
"Sekarang aja lah, dek!" bang Darma berjalan ke ruang tamu, dan duduk bersila di lantai yang sudah di lapisi karpet permadani.
Aku langsung bergegas menghidangkan makanan tersebut, dan ikut duduk berhadapan dengan bang Darma. Kami pun makan bersama dengan lahap, dan hening tanpa percakapan apa pun.
Setelah selesai makan, aku segera mencuci piring dan menggulung kembali karpet yang di gunakan untuk duduk tadi. Sedang kan bang Darma, kembali lagi ke kamar dan memainkan ponsel nya.
"Dek, besok siang abang gak makan di rumah. Ada kerjaan di luar sampai malam!" ujar bang Darma, sambil terus memainkan ponsel nya, tanpa menoleh ke arah ku.
"Berarti, besok aku masak nya dikit aja lah, ya? Kan cuma untuk ku aja."
Lanjut ku lagi.
"Iya, masak dikit aja lah, kan besok abang makan di luar sampai malam!" ucap bang Darma.
Malam pun semakin larut, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kami berdua masih sibuk, dengan ponsel masing masing.
Posisi kami sama-sama saling memunggungi. Tak lama kemudian, Bang Darma meletakkan ponsel nya di atas meja, lalu memeluk tubuh ku dari belakang sambil merem*s bukit kembar ku.
Sebenarnya, aku sudah tau maksud dari tingkah nya itu. Tapi, karena sering di abaikan dan di tolak. Aku pun berusaha untuk cuek, dengan ulah nya itu.
Karena melihat ku tidak ada respon, tangan bang Darma semakin kuat merem*s bukit kembar ku tersebut. Sehingga aku meringis kesakitan.
"Adooh, sakit kali!" pekik ku melepaskan tangan jahil nya di bukit kembar ku.
__ADS_1
Setelah mendengar pekikan ku, dia langsung memberikan kode untuk menyuruh ku membuka pakaian tidur yang aku kenakan. Dia menarik narik pelan baju seksi ku itu, sambil membuka celana nya sendiri.
"Mau ngapain?" tanya ku pura pura heran, melihat bang Darma membuka celana nya, sampai polos tanpa sehelai benang pun.
Tak ada jawaban dari bibir bang Darma, tangan nya malah menarik tangan ku. Dan mengarah kan tangan ku itu, ke batang keras nya tersebut. Dia menyuruh ku untuk mengelus batang keras nya itu.
Aku menuruti keinginan nya. Aku mulai mengelus nya dengan malas. Dengan posisi kami yang sama sama telentang, menghadap ke langit kamar.
Setelah beberapa saat mengelus batang nya, aku mulai membuka pakaian tidur ku hingga polos. Sama seperti bang Darma. Dan setelah kami sama sama dalam keadaan polos, tanpa sehelai benang pun.
Bang Darma menarik lengan ku, untuk naik ke atas tubuh nya.
Dia memberi kode agar aku yang berpacu dan mengerjai tubuh nya. Aku pun menuruti keinginan nya itu.
Aku memasukkan batang nya itu ke dalam area sensitif ku.
Karena dari awal tidak ada cumbuan dari bang Darma, area sensitif ku pun sangat kesat kering kerontang seperti padang pasir. Tak ada cairan sedikit pun, yang membasahi di luar mau pun di dalam nya.
Aku sedikit meringis menahan sakit, saat memasuk kan batang nya itu ke dalam area sensitif ku yang kering tersebut.
Setelah beberapa kali memaju mundur kan pinggul ku, bang Darma pun memuncak dan mengeluarkan cairan hangat nya di dalam rahim ku.
Aku langsung terdiam, aku menatap kecewa pada bang Darma yang sudah memuncak. Sedang kan aku, jangan kan memuncak, bergairah aja pun belum.
Setelah bang Darma mengeluarkan cairan nya sampai habis di dalam rahim ku, aku segera turun dari tubuh nya dengan perasaan kecewa, kesal ,marah, emosi, greget. Semua lah pokok nya.
Setelah permainan tanggung itu selesai, aku mengambil tisu di atas meja dan memberikan nya kepada bang Darma. Dia membersihkan batang nya yang sudah mulai loyo tersebut.
Aku juga mengambil tisu untuk membersihkan area sensitif ku sendiri, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan nya.
Selesai membersihkan area sensitif ku di kamar mandi, aku kembali ke dalam kamar. Aku membaring kan diri di samping bang Darma, dia sudah mulai memejamkan mata nya. Dengan posisi miring menghadap tembok. Ya, dia memunggungi ku.
"Gimana aku tidak mencari kehangatan di luar, kalo sikap mu begini terus pada ku, bang."
Gumam ku dalam hati, sambil menatap punggung bang Darma yang sudah tidur itu.
"Hah." Aku menarik nafas panjang sambil merubah posisi tidur, kembali memunggungi bang Darma sambil memeluk guling.
__ADS_1
Tak lama kemudian, aku pun terlelap dan masuk ke alam mimpi.