SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Bersama Rendi Di Hotel


__ADS_3

Setelah Rendi mengunci pintu, dia langsung memeluk ku dari belakang. Aku yang sedang berdiri, untuk menyetel suhu AC pun, langsung terlonjak kaget. Karena mendapat kan serangan mendadak dari Rendi.


"Aku kangen, dek." ucap Rendi.


Rendi mengecup ceruk leher ku. Aku hanya terdiam dan terpaku di tempat, mendengar penuturan Rendi barusan.


"Kalo kangen, kenapa meninggalkan ku begitu lama?" tanya ku dingin.


"Aku kan sedang berusaha, dek. Aku kerja, untuk masa depan kita.Tapi, malah kenyataan pahit yang aku terima." tutur Rendi.


"Setelah aku mendapat kan, segala impian ku. Sekarang, malah wanita yang aku cintai, di ambil orang." lanjut Rendi.


"Sakit hati aku, dek. Sakiiit banget."


Rendi semakin mempererat pelukannya. Sedang kan aku, hanya bisa terdiam. Tidak menjawab apa pun pada Rendi.


Soal nya, aku bingung mau menjawab apa. Di satu sisi, aku merasa bersalah kepada bang Darma suami ku.


Tapi di sisi lain nya, ada bang Agus yang sangat mengharap kan ku, untuk hidup dengan nya.


Dan sekarang, mantan yang pernah menghilang. Kini kembali lagi, dengan harapan ingin memiliki ku.


Aduh, kepala ku mendadak pusing memikirkan mereka semua. Aku bingung, harus mempertahankan yang mana.


"Maaf kan aku, bang Darma. Aku merasa berdosa sekali pada mu." aku membatin dalam hati.


"Dek, apakah tidak ada lagi harapan, untuk aku memilikimu?" tanya Rendi memelas,


Rendi bertanya sambil membalikkan badan ku, untuk berhadapan dengan nya. Aku tetap diam, menatap mata nya yang sayu. Setelah itu, aku langsung memeluk tubuh nya sambil menangis.


"Kenapa kau baru datang sekarang, bang? Kenapa kau datang, di saat aku sudah menjadi milik orang lain, bang. Kenapa?"


Tangisan ku pun langsung pecah seketika, di dalam pelukan nya. Aku merasa sangat kecewa, atas kepergian Rendi dulu.


"Maafkan aku, dek! Aku juga tidak tau, bakalan seperti ini jadi nya." balas Rendi.


"Ini semua memang salah ku, karena aku tidak memberikan kabar apa pun pada mu." lanjut Rendi.


"Aku bermaksud, ingin memberikan kejutan untuk mu. Tapi sekarang, malah aku yang mendapatkan kejutan dari mu, dek."


"Aku sangat menyesal, dek." tambah Rendi semakin mempererat pelukannya.


" Udah lah, bang! Menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Semua nya sudah terlambat, sekarang aku sudah menjadi istri orang lain. Jadi, tolong jauhi aku!" aku melepaskan pelukan Rendi.


"Aku harap, ini pertemuan kita yang pertama, dan juga untuk yang terakhir. Tolong hargai keputusan ku ini!" ucap ku tegas.


Aku duduk di tepi ranjang, dengan pandangan kosong, dan lurus ke depan.


Seketika, Rendi berlutut di hadapan ku. Dia merenggang kan kedua paha ku, dan mendekati tubuh ku. Kemudian, Rendi memeluk pinggang ku, dan menenggelamkan kepala nya di perut ku.


"Dek, boleh kah aku memilikimu seutuhnya, hari ini?" tanya Rendi


Rendi bertanya dan mendongakkan kepalanya, untuk menatap wajah ku. Aku reflek menundukkan kepala, dan menatap wajah nya dengan kening yang mengkerut.


"Maksud, abang?" tanya ku bingung.


"Aku ingin..."

__ADS_1


Rendi mengangkat tubuh ku ke atas ranjang, dan menindih nya. Aku langsung terpekik saking terkejutnya, dengan perlakuan Rendi yang mendadak itu.


"Aaaaaaa!" pekik ku.


"Aku masih sangat mencintai mu, dek." ucap Rendi.


Rendi berbaring miring di samping ku, dia menopang kan kepala nya, dengan tangan kiri. Kemudian, dia menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah ku.


Aku hanya bisa diam terpaku, mendengar ungkapan isi hati nya itu. Aku menatap nya dalam dan melihat, ada kejujuran di kedua mata indah nya itu.


"Dek, apakah aku boleh melakukan nya, sekarang?" tanya Rendi


Rendi mulai menggerayangi tubuh ku. Aku hanya mengangguk dua kali, sebagai jawaban. Setelah mendapatkan persetujuan dari ku, Rendi pun tidak ingin menyiakan kesempatan, yang telah aku berikan pada nya.


Dia segera membuka pakaian ku satu persatu, sampai polos tanpa sehelai benang pun. Lalu, mulai mencumbui ku dengan lembut, dan penuh kasih sayang.


Dan akhirnya, permainan panas pun terjadi di atas ranjang hotel tersebut. Kamar hotel ini, adalah saksi bisu. Yang sudah menyaksikan permainan panas, Rendi dan diriku.


Karena rasa rindu, yang sudah bertahun tahun terpendam, di hati kami berdua. Hari ini, semua rasa itu pun sudah tercurahkan, dan sudah terobati.


Lega rasa nya hati ini, setelah melepaskan segala kerinduan, yang selama ini terpendam.


Setelah selesai melakukan pergumulan panas, yang berulang-ulang kali. Aku meminta Rendi, untuk mengantar kan pulang ke rumah. Rendi pun langsung menyetujui nya.


Setelah selesai membersihkan diri, kami berdua berjalan beriringan, keluar kamar hotel tersebut.


Sesampai nya di meja resepsionis, Rendi menyerahkan kunci kamar itu kepada resepsionis, yang sedang bertugas.


Kami berjalan kembali, menuju parkiran mobil. Sesampainya di dalam mobil, Rendi melajukan kendaraannya tersebut, menuju rumah ku.


Di sepanjang perjalanan pulang, aku hanya berdiam diri sambil menatap jalanan. Aku bingung, mau ngomong apa lagi pada Rendi.


"Tolong ampuni aku ya, Allah." aku berdoa dalam hati.


Di tengah perjalanan menuju rumah ku, Rendi berhenti dan memarkir mobil nya di pinggir jalan.


Dia merogoh saku celana nya untuk mengambil dompet, dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah. Kemudian, menyelipkan uang itu ke tangan ku.


"Untuk beli bedak ya, dek!" ucap Rendi mencium kening ku.


"Makasih ya, dek. Untuk waktu nya, hari ini. Aku sangat bahagia, bisa bersama mu hari ini." ucap Rendi


Setelah mengucap kan itu, Rendi pun kembali menyalakan mesin mobil nya. Lalu, melajukan kendaraan nya itu, menuju rumah ku.


"Iya, bang sama-sama." balas ku pelan dan kembali menatap jalanan.


Sampai di depan rumah, aku bergegas keluar dari mobil Rendi. Aku mengambil kunci pintu, di saku depan celana panjang, yang aku gunakan.


Setelah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, aku segera membuka kios kembali. Setelah itu, lanjut menyapu dalam dan luar rumah sampai bersih.


Setelah beres, aku pun lanjut menanak nasi untuk makan malam. Berhubung lauk masih banyak, aku tidak perlu repot lagi untuk memasak di dapur.


"Huh akhirnya, selesai juga semua nya."


Aku menghela nafas panjang, dan mendudukkan tubuh ku, di atas sofa ruang tamu.


Tak lama kemudian, bang Darma pulang dan memarkir motor nya di depan kios.

__ADS_1


" Assalamualaikum," ucap bang Darma.


Bang Darma mengucap salam, sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Aku pun membalas salam nya, dan mengecup punggung tangan nya.


"Wa'laikum salam," balas ku.


"Beli cincin nya jadi gak, dek?" tanya bang Darma.


"Jadi, bang." balas ku.


"Ya udah kalo gitu, tutup lah kios tu!


Siap shalat nanti, kita langsung pergi ke sana!" perintah bang Darma


"Iya, bang." jawab ku.


Bang Darma berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri nya. Mendengar perintah bang Darma, aku langsung bergegas menutup kios lembali, dan merapikan barang-barang dagangan ku.


Setelah selesai mandi, bang Darma lanjut menunaikan shalat ashar di dalam kamar. Selesai itu, dia langsung bersiap untuk mengantarkan ku ke toko emas, yang berada di taman kota tersebut.


"Udah di bawa uang nya, dek?" tanya bang Darma,


"Udah, bang." jawab ku.


Dia mulai berjalan keluar rumah, menuju motor yang terparkir di depan kios. Aku juga mengikuti langkah nya keluar, dan menutup pintu lalu mengunci nya.


"Bismillahirrahmanirrahim," aku langsung naik ke atas motor.


Bang Darma mulai melajukan motor nya dengan santai. Tak lama kemudian, kami sudah tiba di taman kota tersebut.


Sesampainya di depan toko emas, aku segera turun dari motor, dan berjalan menuju etalase toko tersebut.


Sedang kan bang Darma, dia memarkirkan motor nya dan duduk di atas motor itu, sambil menyalakan rokok nya.


Setelah beberapa menit memilih model, dan ukuran yang pas, untuk jari manis ku. Akhirnya, pilihan jatuh pada cincin yang berbentuk love, dengan satu mata di tengah nya.


setelah selesai memilih, aku segera melakukan pembayaran cincin tersebut. Dan kembali menghampiri bang Darma, untuk mengajak nya pulang.


"Ayo balek, bang!" ajak ku setelah sampai di tempat parkir.


"Udah siap, ya? Ada yang mau di beli lagi gak, dek?" tanya bang Darma memutar posisi motor nya.


"Gak ada, bang. Kita pulang aja!" balas ku.


"Oh, ya udah." ucap bang Darma.


Aku mulai naik ke atas motor, sambil memakai helm. Bang Darma mulai menyalakan mesin motor nya, dan melajukan kendaraan roda dua tersebut dengan santai, untuk kembali ke rumah.


Di sepanjang perjalanan, aku sempat merenung sejenak. Betapa baik nya suami ku ini.


Dia yang tidak pernah marah, dia yang tidak pernah mengeluh, dengan tingkah laku ku yang terkadang menjengkelkan.


Dia yang tidak pernah neko neko, dia yang selalu menuruti semua keinginanku. Dan dia yang tidak pernah protes, apa pun yang aku lakukan.


Tapi, hanya karena satu kesalahan nya saja. Aku tega mengkhianati nya. Dia bisa menerima dengan ikhlas, semua kekurangan dan kelebihan ku, yang begitu banyak kesalahan.


Kenapa, hanya karena satu kekurangan nya, aku tidak bisa menerima nya?

__ADS_1


"Ya Allah, aku sungguh berdosa kepada suamiku ini. Maaf kan aku, bang."


Aku memeluk erat tubuh bang Darma, dari belakang boncengan motor, yang sedang kami kendarai.


__ADS_2