
"Sabar, sayang. Kita tunggu sampe mamak mu pulang." ujar Darma menyemangati Yuni.
Yuni tidak menjawab ucapan Darma. Dia menunduk sambil meringis, menahan rasa gatal yang sangat luar biasa di wajah dan juga tangan nya.
Darma semakin prihatin dengan kondisi Yuni, dan terus memperhatikan gadis kecil nya itu dengan tatapan sayu. Karena merasa tidak tega dan kasihan, akhirnya Darma pun berinisiatif untuk mengobati Yuni.
"Kita ke kamar, yok! Biar abang obati pake bedak tabur." ujar Darma.
"Emang bisa sembuh pake itu?" tanya Yuni dengan kening mengkerut.
"Ya, gak tau juga sih. Kita coba aja dulu, siapa tau bisa mengurangi rasa gatal nya." jawab Darma ragu.
"Oh, ya udah deh, yok!" balas Yuni menyetujui saran Darma.
Yuni dan Darma beranjak dari kursi masing-masing, lalu melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Yuni. Sampai di dalam, Yuni mengambil bedak tabur yang terletak di meja rias, kemudian menyerahkan nya kepada Darma.
"Nah, ini bedak nya." ujar Yuni sembari mendudukkan diri di tepi kasur.
"Oke," balas Darma.
Darma menerima bedak itu, lalu menaburkan nya ke tangan dan wajah Yuni dengan telaten. Setelah selesai, Darma meletakkan bedak itu ke atas meja rias, lalu kembali duduk di sebelah Yuni.
"Gimana? Udah agak mendingan belum?" tanya Darma.
"Ya belum lah, kan baru aja naburin nya. Emang nya kayak di iklan tv, baru di tabur langsung sembuh?" oceh Yuni sewot.
"Hehehe, iya juga sih." balas Darma terkekeh geli.
Suasana pun hening sejenak, Yuni dan Darma sama-sama saling berdiam diri. Mereka berdua hanyut dalam lamunan dan isi kepala masing-masing. Setelah beberapa menit bungkam, akhirnya Darma pun kembali berceloteh.
"Emang mamak mu kemana sih? Dari tadi kok gak pulang-pulang? Betah kali ngeluyur nya." tanya Darma kesal.
"Entah, tadi kan abang lihat sendiri, dia gak ada ngomong apa-apa. Langsung nyelonong pergi gitu aja." jawab Yuni.
"Iya sih, tapi kok betah banget ya, sampe jam segini belum balek-balek juga." omel Darma.
"Udah gak heran sih, dia memang gitu orang nya. Suka lupa waktu kalau udah ngeluyur keluar." balas Yuni santai.
"Ini sih masih mending dia masih ingat pulang, biasa nya malah lebih parah dari ini." lanjut Yuni.
Yuni sudah terbiasa dengan tingkah laku ibu nya, yang suka keluyuran sampai tidak ingat waktu. Dia sama sekali tidak heran ataupun terkejut, dengan kelakuan buruk ibu nya tersebut.
Mendengar penjelasan Yuni, Darma langsung menautkan kedua alisnya menatap Yuni. Dia tidak menyangka, jika selama ini mantan istri nya seliar dan senakal itu.
"Ah, masa sampe segitu nya sih?" selidik Darma.
"Iya beneran, Yuni gak bohong. Mamak memang jarang tidur di rumah. Malahan kalau di hitung-hitung, lebih sering tidur di luar dari pada di rumah." jelas Yuni.
__ADS_1
"Kalau gak tidur di rumah, trus dia tidur dimana? Di hotel?" selidik Darma penasaran.
Yuni membuang nafas kasar, lalu menjatuhkan tubuh nya di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Entah lah, Yuni juga gak tau mamak tidur dimana. Setiap kali Yuni tanya, mamak pasti marah-marah, trus ngurung diri seharian di kamar nya." jawab Yuni.
"Loh, kok gitu? Emang kau gak pernah nyelidiki, apa saja tingkah mamak mu di luar sana?" tanya Darma lagi.
"Enggak, biarin aja. Yuni males nyelidiki masalah pribadi nya. Nanti ujung-ujungnya pasti bentrok, trus ngomel-ngomel gak jelas sama Yuni." jawab Yuni lirih.
Darma hanya manggut-manggut menanggapi penuturan Yuni. Dia jadi semakin penasaran, apa sebenarnya yang di lakukan mantan istri nya itu luaran sana.
"Apa dia ada berhubungan dengan lelaki lain ya, untuk memuaskan hasrat nya?" batin Darma menduga-duga.
Melihat Darma hanya berdiam diri, Yuni pun menyuruh nya untuk berbaring bersama nya di atas kasur.
"Baring sini, bang!" seru Yuni sembari menepuk-nepuk kasur di sebelah nya.
Darma menoleh ke arah Yuni, lalu mengangguk kan kepala nya. Dia menuruti keinginan Yuni, dan ikut membaringkan tubuh nya di sebelah gadis kecil nya tersebut.
"Udah, gak usah di pikirkan lagi masalah mamak. Biarin aja dia berbuat semaunya, yang penting dia tidak menggangu hubungan kita lagi." ujar Yuni.
"Iya," balas Darma.
Darma memiringkan badan nya untuk memeluk tubuh Yuni. Setelah itu, Darma mengecup kening Yuni sembari berkata...
"Iya, tapi kita buka pakaian dulu lah, biar makin enak tidur nya." usul Yuni.
"Loh, kok di buka sih? Nanti kalau abang pengen gimana coba?" tanya Darma pura-pura bingung.
"Ya tinggal masukin aja lah, gitu aja kok repot." jawab Yuni santai.
"Oh, iya juga ya, hehehe." balas Darma.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Darma pun langsung mempereteli seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya. Setelah selesai, Darma beralih membuka semua pakaian Yuni sampai polos tak bersisa.
Setelah itu, Darma membaring kan tubuh nya dan kembali memeluk Yuni. Darma mengambil tangan Yuni, lalu meletakkan nya di tombak kenikmatan nya.
"Loh, belum di apa-apain kok udah bangun gini, bang?" tanya Yuni heran, saat melihat mainan kesayangan nya sudah berdiri tegak di genggaman tangan nya.
"Iya, sayang. Kayak nya dia lapar tuh, pengen makan punya mu. Gimana, mau gak?"
Tanya Darma sambil tersenyum genit, dan menaik turun kan kedua alisnya. Mendapat rayuan maut dari Darma, Yuni pun langsung tersipu malu lalu menjawab...
"Yuni sih mau banget, tapi keadaan Yuni masih kayak gini. Gimana dong?" tanya Yuni.
Yuni terlihat kecewa dengan kondisi nya, yang masih bentol-bentol dan sedikit gatal. Melihat wajah murung Yuni, Darma pun langsung naik ke atas tubuh gadis kecil nya, dan menyunggingkan senyum manis nya
__ADS_1
"Gak papa, sayang. Abang ngerjain yang bawah aja. Kau tidak usah membalas nya, cukup menerima dan merasakan pemberian abang aja, oke!" ujar Darma.
"Ya udah deh, terserah abang aja." balas Yuni sembari menggigit bibir bawahnya.
Setelah mendengar jawaban Yuni, Darma pun mulai melakukan aksinya. Dia menenggelamkan wajah nya dan menjulurkan lidah nya, di dalam milik Yuni.
Dan itu berhasil membuat Yuni semakin gelisah dan meliuk-liukkan badan nya. Suara-suara indah dari bibir Yuni pun mulai menggema, di setiap sudut kamar tersebut.
Setelah beberapa menit memanjakan milik Yuni dengan lidah nya, kini tiba saatnya untuk melakukan kegiatan yang paling utama. Darma mulai merangkak naik ke atas, lalu mengarahkan tombak nya tepat di depan milik Yuni.
"Kau siap, sayang?" tanya Darma dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
"Iya, mulai lah!" jawab Yuni dengan mata terpejam, dan kedua tangan yang menggenggam erat seprai kasur milik nya.
"Oke, sayang." balas Darma dengan senyum yang mengembang di bibir tebal nya.
Setelah mendapat izin dari si empunya badan, Darma pun langsung menghentakkan tombak nya ke dalam milik Yuni dengan kuat. Dan itu berhasil membuat Yuni sedikit tersentak, dan semakin mempererat genggaman tangan nya di kain seprai tersebut.
Darma mulai memacu gerakan liar nya di atas tubuh Yuni dengan semangat tinggi. Dia melayani Yuni dengan durasi waktu yang lama, dan dengan berbagai gaya dan posisi. Hingga membuat Yuni sedikit kewalahan, menghadapi hasrat lelaki pujaan nya tersebut.
"Apa kau menikmati nya, sayang?" tanya Darma di sela-sela permainan nya.
"Iya, bang. Aku sangat menikmati nya. Abang memang yang terdebest lah pokok nya." jawab Yuni masih dengan mata terpejam.
"Syukur lah kalo gitu." balas Darma sambil terus memacu gerakan nya.
Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, Darma pun menghentikan kegiatan nya. Dia menjatuhkan diri di sebelah Yuni, dengan nafas yang masih naik turun tidak karuan.
"Huh, capek banget, sayang. Lutut abang sampe pegel gini di buat nya." tutur Darma sembari memegangi kedua lutut nya.
"Kapok, siapa suruh main lama-lama, hihihi." balas Yuni cekikikan.
"Kalau cuma sebentar, ya gak puas dong sayaaaang! Gimana sih, masa gitu aja gak paham. Emang kau mau, kalau abang main nya kayak ayam?" tanya Darma.
"Kayak ayam? Maksud nya?" tanya Yuni bingung.
"Iya, kayak ayam. Baru nempel udah keluar. Emang mau kayak gitu, hm?" tanya Darma lagi.
"Gak mau, ah. Pasti gak puas lah, kalo cepat gitu main nya." oceh Yuni.
"Tu lah, maka nya jangan meledek terus kerjaan nya. Bukan nya di pijatin, malah di ledekin pulak." gerutu Darma pura-pura merajuk.
Darma memasang wajah masam dan memanyunkan bibir nya ke depan. Dia sengaja melakukan itu, untuk menarik perhatian Yuni. Agar Yuni mau memijat lutut nya yang pegal dan sedikit kram, akibat kegiatan panas nya barusan.
Melihat wajah kusut Darma, Yuni mulai bangkit dari baring nya, dan mengulurkan tangan nya ke arah lutut Darma lalu berucap...
"Ya udah, gak usah pake acara merajuk segala. Udah bau tanah gini pun, tingkah nya masih aja kayak bocil. Sini, Yuni pijatin lutut nya!" oceh Yuni.
__ADS_1