SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Dilema


__ADS_3

"Gimana kalau kita diem-diem aja nikah nya, mau gak?" tanya Darma.


Yuni terdiam sejenak, dia memikirkan ucapan Darma yang cukup beresiko menurut nya. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Yuni, Darma pun kembali mengulang pertanyaan nya.


"Gimana, sayang? Kau setuju gak dengan rencana abang tadi?" tanya Darma dengan mimik wajah serius.


"Yuni pikir-pikir dulu lah, pak. Eh, bang." balas Yuni gugup sembari menutup mulut dengan telapak tangan nya.


Yuni merasa sedikit aneh dengan panggilan bang untuk Darma. Sedari kecil dia sudah terbiasa memanggil Darma dengan sebutan pak.


Melihat gelagat Yuni yang tampak gugup, Darma pun hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Maaf, pak. Eh, bang. Yuni belum terbiasa dengan panggilan itu." ujar Yuni lirih.


"Ya gak papa, abang paham kok. Lama-kelamaan, kau pasti akan terbiasa juga nanti nya." balas Darma sembari mengelus-elus rambut Yuni.


Suasana hening seketika, Darma dan Yuni sama-sama terdiam. Mereka sibuk berperang dengan isi kepala masing-masing.


Setelah beberapa saat saling berdiam diri, Yuni pun kembali melontarkan pertanyaan nya kepada Darma.


"Trus, gimana dengan buk Ayu? Apakah dia mengizinkan kita untuk menikah?" tanya Yuni.


"Kalau masalah Ayu sih gampang. Kau gak perlu khawatir, dia pasti mengizinkan kita kok, percayalah." jawab Darma dengan santai nya.


"Oh, syukur lah kalo gitu. Berarti penghalang kita tinggal mamak aja ya?" tanya Yuni.


"Iya, tinggal mamak mu aja." jawab Darma membenarkan ucapan Yuni.


Mereka berdua pun kembali terdiam, Yuni sibuk memikirkan ibu nya. Sedangkan Darma, dia sibuk memikirkan bagaimana cara membujuk Dina dan Ayu, agar mengizinkan nya untuk menikahi Yuni.


Di tengah kegalauan nya, Darma terus saja memandangi wajah manis Yuni dengan tatapan sayu nya. Darma sangat dilema dengan keadaan nya saat ini.


Di satu sisi, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Yuni. Tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin kehilangan Ayu.


"Kalau kehilangan Dina sih gak masalah. Tapi kalau kehilangan Ayu, aku benar-benar gak sanggup. Aku masih sangat mencintai nya, aku gak mau berpisah dari nya." batin Darma.


"Pak, eh, bang. Aduuuuh, ini mulut kenapa sih? Kok salah terus dari tadi!" gerutu Yuni sembari menepuk-nepuk pelan bibir nya sendiri.

__ADS_1


Mendengar ucapan Yuni, Darma pun langsung tersadar dari lamunannya dan reflek menoleh ke arah Yuni.


"Ya, ada apa?" tanya Darma.


"Hmmmm, emang a-abang yakin mau menikahi Yuni?" tanya Yuni gugup.


"Ya, yakin lah. Kenapa emang nya? Kau gak mau ya, nikah sama abang?" tanya Darma balik.


"Bu-bukan gitu, ta-tapi Yuni gak nyangka aja kalau kita bakalan jadi suami-istri. Padahal sedari aku kecil, a-abang udah aku anggap sebagai bapak ku sendiri." jelas Yuni masih dengan nada gugup nya.


"Huh, iya juga sih. Pasti bakalan beda suasananya kalau kita jadi suami-istri." balas Darma sembari menghembuskan nafas kasar.


"Iya bener, itu lah yang Yuni pikirkan dari tadi." balas Yuni.


"Jadi sekarang mau mu gimana? Apa kita gini-gini aja, atau kau ada solusi lain untuk hubungan kita?" tanya Darma sembari menjalar kan tangan nya ke milik Yuni dan mengelus-elus nya dengan lembut.


"Lebih baik, kita seperti ini aja dulu. Nanti aja kita pikirkan langkah selanjutnya." jawab Yuni dengan mata terpejam.


Yuni mulai menikmati kenakalan tangan Darma, yang sedang bermain-main di dalam milik nya.


"Oh, ya udah kalo itu mau mu." balas Darma sambil terus mengacak-acak milik Yuni dengan jari-jari nakal nya.


"Udah cukup, bang. Lanjutin pake mulut abang aja, biar makin enak Yuni merasakan." rengek Yuni manja.


"Oke, sayang. Dengan senang hati abang akan melakukan nya." balas Darma dengan senyum yang mengembang di bibir nya.


Darma langsung menarik jari-jari nya dari milik Yuni, lalu menggantinya dengan mulut nya. Darma kembali memanjakan milik Yuni dengan permainan lidah nya.


Dan itu berhasil membuat Yuni semakin tidak terkendali akibat perbuatan Darma. Setelah merasa puas, Darma langsung menghentikan perbuatan nya, lalu merangkak naik ke atas tubuh Yuni.


"Abang mulai ya, sayang!" bisik Darma.


"Iya, bang. Mulai lah, Yuni juga udah pengen nih!" balas Yuni dengan suara serak akibat terbakar oleh gairah nya sendiri.


"Oke siap, sayangku." balas Darma.


Tanpa basa-basi lagi, Darma pun langsung melakukan gerakan cepat nya dengan semangat yang tinggi.

__ADS_1


Darma terus memacu gerakan nya dengan sedikit kasar dan cepat, hingga membuat Yuni semakin tidak karuan. Yuni sampai menjerit-jerit tertahan, karena perbuatan Darma.


Setelah sama-sama merasakan kepuasan, akhirnya Darma pun menyudahi aksinya dan menyemburkan lahar hangat nya ke dalam milik Yuni.


"I love you, sayang." bisik Darma.


"Abang sangat mencintai mu, Yuni ku sayang." lanjut Darma lalu mencium bibir Yuni dengan waktu yang cukup lama.


"Yuni juga sayang sama abang." balas Yuni setelah Darma melepaskan ciumannya.


"Apakah kau merasa puas dengan pelayanan abang tadi, sayang?" tanya Darma sembari memberikan kecupan-kecupan kilat di wajah Yuni.


"Iya, bang. Yuni puas banget. Abang memang laki-laki hebat dalam hal memuaskan pasangan." jawab Yuni sembari tersenyum manis pada Darma.


"Ya pasti dong, sayang. Kalau abang tidak hebat, mana mungkin kau sampai klepek-klepek kayak gini sama abang. Ya, kan?" ledek Darma sembari tersenyum miring.


"Hehehe, iya sih." jawab Yuni tersipu malu.


Darma terus saja tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya, saat melihat tingkah Yuni yang sedang malu-malu kucing di hadapan nya.


Setelah selesai menggoda Yuni, Darma pun mulai beranjak dari ranjang, dan langsung mengangkat tubuh wanita kecil nya itu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Yuni tidak berontak atau pun menolak perlakuan Darma kepada nya. Dia hanya menurut lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Darma, dengan senyum yang sumringah di bibir tipis nya.


Selesai dengan urusan kamar mandi, Yuni kembali naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh nya dengan selimut tebal.


Sedangkan Darma, dia duduk di tepi ranjang lalu menyalakan rokok nya. Pandangan nya kosong menatap lurus ke depan meja cermin yang ada di hadapan nya.


"Ada apa, bang? Kenapa abang melamun gitu?" selidik Yuni.


"Gak ada apa-apa, sayang. Abang cuma mikirin keadaan Ayu aja. Tadi waktu abang tinggal, dia sedang tidur di dalam kamar." jawab Darma.


"Kalo dia sedang tidur, trus kenapa abang mesti mikirin dia? Ya, biarin aja lah." ujar Yuni ketus.


Yuni paling tidak suka jika Darma terus memikirkan Ayu, di saat mereka sedang bersama seperti saat ini. Yuni langsung cemburu dan emosi jika menyangkut masalah Ayu.


"Bukan gitu, Yun. Abang cuma khawatir aja, karena tadi dia tidur gak pakai apa-apa soal nya. Cuma kain sarung aja yang abang selimut kan tadi ke badan nya."

__ADS_1


"Abang takut kalau nanti ada orang jahat yang masuk ke rumah, trus berbuat yang tidak-tidak dengan Ayu." balas Darma.


"Halah, lebay. Mana mungkin ada orang yang bisa masuk ke dalam, kalau pintu nya di kunci." balas Yuni masih ketus.


__ADS_2