SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Bertengkar


__ADS_3

"Tapi, pak..."


"Gak ada tapi-tapian lagi, sekarang kau PULANG!" pekik bang Darma.


Lagi-lagi, bang Darma membentak anak nya. Sebenarnya, aku kasihan melihat Yuni di bentak-bentak seperti itu. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Sikap Yuni juga sudah benar-benar keterlaluan, kepada kami berdua.


Setelah mendapatkan bentakan, yang menggelegar dari bapak nya. Yuni pun langsung angkat kaki, dan pulang ke rumah ibu nya. Dengan wajah kusut dan lecek.


Seperti uang kertas, yang jatuh ke dalam lumpur. Trus, terlindas oleh truk. Begitu lah kira-kira perumpamaan wajah Yuni, saat keluar dari rumah kami.


Setelah kepergian Yuni, bang Darma langsung mengunci pintu, dan berjalan ke dalam kamar. Aku pun turut mengekori langkah nya, dari belakang.


Sampai di dalam kamar, bang Darma merebahkan tubuh nya di atas kasur, dan kembali memainkan ponsel nya. Begitu juga dengan ku. Aku juga ikut membaringkan tubuh ku, di samping nya. Dan juga, memainkan ponsel ku.


Setelah beberapa saat hening, bang Darma pun mulai membuka suara nya. Dia berbicara tanpa menoleh pada ku.


Bang Darma tetap fokus, pada ponsel nya. Hanya mulut nya saja yang komat-kamit, menceritakan tentang masalah Yuni tadi.


"Jadi, gimana tentang Yuni tadi, dek?" tanya bang Darma.


"Gimana apa nya sih, bang?" balas ku.


Aku menoleh pada bang Darma, sambil mengerutkan kening. Aku sama sekali tidak mengerti, dengan maksud ucapan nya itu.


"Ya, tentang Yuni tadi. Gimana solusinya?" tanya bang Darma lagi.


"Solusi buat apa, bang? Abang mau belikan Yuni motor?" tanya ku.


"Emang nya, abang punya uang?" lanjut ku.


"Abang gak ada uang, dek." balas bang Darma.


"Lah trus, maksud abang itu sebenarnya apa? Ngomong itu yang jelas, jangan berbelit-belit gitu!" balas ku.


"Hmmm, abang mau belikan Yuni motor. Tapi..."


Bang Darma menjeda ucapan nya. Dia tampak ragu untuk mengungkapkan nya pada ku. Perasaan ku tiba-tiba menjadi tidak enak, menunggu bang Darma meneruskan ucapannya tersebut. Dan, aku pun kembali bertanya pada nya.


"Tapi apa, bang?" tanya ku.


"Tapi janji, adek jangan marah, ya!" ucap bang Darma.


"Ya, gak bisa janji lah!" balas ku.

__ADS_1


"Emang nya ada apa an, sih! Cepetan ngomong, bikin penasaran aja dari tadi!" desak ku.


"Hmmm, gimana kalau jual aja, emas-emas adek itu, buat belikan motor untuk Yuni!" balas bang Darma ragu.


"APA? Kau sudah gila ya, bang?" pekik ku.


Aku langsung memekik saking terkejutnya, mendengar penuturan bang Darma itu. Aku sama sekali tidak habis pikir, dengan jalan pikiran suami ku tersebut.


Bang Darma yang mendengar pekikan ku pun, langsung terperanjat kaget. Dia pun juga sama terkejutnya dengan ku. Bang Darma menatap wajah ku, yang sudah terlihat merah padam itu, dengan salah tingkah.


"Kau itu punya otak gak sih, bang? Hanya karena ingin membelikan motor, untuk anak dan mantan mu itu. Kau sampai tega, ingin mengorbankan aku? Di mana perasaan mu, BANG?" pekik ku lagi.


Aku langsung duduk, di hadapan bang Darma. Dan menatap tajam pada nya. Karena melihat aku duduk, dia pun juga ikut duduk. Dan meletakkan ponsel nya di meja, yang berada di samping ranjang.


"Ngomong nya kok gitu sih, dek?" tanya bang Darma.


"Apa salah nya, sih? Emas-emas milik mu itu, di jual dulu! Nanti, kalau abang ada uang lagi, kita bakalan beli lagi kok!" balas bang Darma santai.


Emosi ku menjadi semakin bertambah, mendengar semua ucapan bang Darma tersebut. Rasa nya, kepala ku ini sudah berasap, saking geram nya dengan tingkah suami ku itu.


"Kalo ngomong itu, pake otak! Jangan asal njeplak aja, muncung mu itu!" balas ku.


"Emang nya kenapa sih, dek? Nanti kan bakalan abang belikan lagi, ngalah dikit kenapa, sih?" balas bang Darma sewot.


"Iya, dek. Ngalah dikit lah, demi Yuni!" balas bang Darma.


"Hahaha, enak aja kau suruh aku ngalah! Sorry-sorry aja lah, aku gak akan pernah ngalah lagi, walaupun demi siapa pun itu. Gak akan pernah, ingat itu!" tegas ku.


"Jangan egois gitu lah, dek! Emas-emas milik mu itu kan, pembelian dari abang juga. Apa salah nya coba? Kalau abang pinjam dulu!"


"Aku egois kau bilang? Hello, yang egois itu aku atau kau, hah?" tanya ku lantang.


Bang Darma semakin lama semakin menjadi-jadi, dengan kata-kata itu. Dia semakin memojokkan ku, dan mengungkit-ungkit apa yang sudah di berikan nya pada ku.


Dan itu, berhasil membuat emosi ku semakin memuncak, dan berapi-api mendengar nya.


"Kalau tidak menjual perhiasan mu, dari mana lagi abang bisa mendapatkan uang, untuk membeli motor buat Yuni, dek?" tanya bang Darma.


"Pikir aja sendiri, jangan pernah libatkan aku lagi, dengan urusan anak mu, camkan itu!" balas ku penuh penekanan.


"Kok gitu sih, dek? Yuni itu kan, anak abang. Berarti, dia itu juga anak mu, dek." balas bang Darma.


"Kau juga harus menyayangi Yuni, seperti abang menyayangi nya, dek!" lanjut nya.

__ADS_1


Bang Darma masih tetap kekeuh, terus membujuk ku. Untuk menyerahkan semua perhiasan ku, pada nya. Hanya demi memenuhi permintaan, anak semata wayangnya tersebut.


"Dulu, dia memang aku anggap, seperti anak ku sendiri. Tapi sekarang, jangan harap aku akan berbaik hati lagi dengan nya." balas ku.


"Gak boleh gitu lah, dek! Biar bagaimanapun juga, Yuni itu tetap anak kita. Walau pun, tingkah dan perbuatannya selalu salah. Dia tetap anak abang, dek." jelas bang Darma.


"Terserah, aku gak perduli. Yang pastinya, jangan pernah mengganggu apa pun, yang sudah menjadi milik ku, ingat itu!" balas ku.


Aku semakin geram, dengan sikap suami ku itu. Dia sama sekali tidak menghargai ku, sebagai istrinya. Yang selama ini, sudah mengurus dan mendampingi hidup nya.


"Sekarang, aku mau tanya sama abang. Tapi, abang harus jawab dengan jujur, ya!" ucap ku.


"Iya, abang akan jawab jujur. Emang nya, mau nanya apa, dek?" tanya bang Darma mulai penasaran.


"Sebenarnya, abang kasihan sama Yuni, atau sama mamak nya?" tanya ku penuh selidik.


"Ya, sama Yuni lah, dek. Untuk apa lagi, abang harus kasihan sama mamak nya?" tanya bang Darma balik.


"Apakah itu, sudah jawaban yang paling jujur?" tanya ku.


"Iya, dek. Abang gak ada rasa apa pun lagi, pada mamak nya Yuni. Abang hanya kasihan lihat Yuni, kesana kemari naik ojek, karena tidak punya kendaraan sendiri, dek." balas bang Darma.


Aku menarik nafas dalam-dalam, dan membuang nya secara kasar. Setelah mendengar jawaban suami ku itu.


Jujur, sebenarnya aku sangat kasihan, dan tidak tega melihat suami ku. Yang selalu di manfaatkan, dan di bodoh-bodohin oleh kedua parasit tersebut.


"Sekarang gini aja ya, suami ku tersayang! Terserah abang, mau dapat kan uang dari mana. Untuk membelikan motor, buat anak kesayangan abang itu."ucap ku.


"Yang penting, jangan ganggu barang-barang ku lagi!" lanjut ku.


"Jangan seperti itu lah, dek! Abang kan cuma..."


Aku langsung memotong ucapan bang Darma, dengan cepat. Aku sudah malas memperpanjang perdebatan, yang ujung-ujungnya bakalan merugikan diri ku sendiri.


"Udah, gak usah di bahas lagi! Aku ngantuk, mau tidur. Abang, jangan ganggu aku lagi!" balas ku menutup percakapan.


Setelah itu, aku pun langsung membaringkan diri, dan mulai memejamkan mata sambil memeluk guling. Aku memiringkan tubuh ku, untuk membelakangi bang Darma.


Bang Darma hanya terdiam melihat ku, yang sudah berbaring memunggungi nya. Dia pun ikut merebahkan diri nya di belakang ku, dan mulai memejamkan mata nya.


Tak butuh waktu lama, dia pun tertidur pulas. Sedangkan aku, malah tidak bisa tidur. Aku kembali menghayal dan merenung, tentang masalah yang terjadi hari ini.


"Semoga saja hari esok, akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya, amin!" doa ku dalam hati.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, aku pun mulai tertidur dan masuk ke alam mimpi.


__ADS_2