
Sesampainya di rumah Naya, aku bergegas turun dari motor bang Agus, dan menyuruh nya untuk cepat-cepat pergi. Agar tidak ketahuan oleh Naya, sepupu bawel ku itu.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Nay."
"Wa'laikum salam, baru pulang, Yu?"
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Naya, dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah nya. Aku duduk di kursi ruang tamu, sambil memakan cemilan yang ada di atas meja.
"Ini anak gak sopan banget, sih! Main nyelonong gitu aja, masuk ke rumah orang." gerutu Naya.
Naya mendudukkan dirinya di samping ku, sambil memeluk bantal kursi nya. Dia memandangi ku, yang sedang asyik mengunyah cemilan milik nya, dengan tatapan curiga.
"Apa kau, tengok-tengok aku? Gak sor kau sama ku, hah? Kalo gak sor bilang, biar berantem kita!" canda ku.
"Dasar, gila!" sungut Naya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Naya. Sedang kan dia, malah geleng-geleng kepala melihat tingkah ku.
"Kau dari mana, Yu?" selidik Naya.
"Dari surga dunia, Nay." jawab ku asal.
Naya langsung terkejut, mendengar jawaban ku. Dengan ekspresi wajah nya yang lucu, dan menggemaskan.
"HAH, surga dunia itu maksudnya gimana sih, Yu? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan bertele-tele gitu!" desak Naya mulai kesal.
"Yee, nyolot pulak nih bocah! Mau minta di sumpal pake kaos kaki ya, muncung mu itu?" ledek ku.
Naya memanyunkan bibir nya, mendengar ledekan ku. Dia tampak semakin kesal, dengan kata-kata nyeleneh ku itu.
"Serius lah, Yu! Aku nanya nya serius ini, bukan lagi bercanda."
"Hahaha, oke oke! Aku akan jujur dengan mu. Tapi, ada syarat nya." balas ku
"Syarat apa an, tuh?" tanya Naya.
"Jangan bilang siapa-siapa, ya! Cukup kita berdua aja yang tau, gimana? Kau bisa pegang rahasia ku, gak?" tanya ku.
"Oh, kalo itu mah gampang. Kau gak usah khawatir, aku akan jaga sebaik mungkin rahasia mu itu!" jawab Naya.
"Betul, ya! Aku akan pegang janji mu itu. Kalau sampai rahasia ku ketahuan, gara-gara ulah muncung mu yang lancip itu. Awas aja, aku akan patah kan leher mu nanti, camkan itu baik-baik!" ancam ku.
"Widiih, sadis amat lu, nyet! Emang nya rahasia apa an, sih? Bikin jiwa kepo ku meronta-ronta aja, dari tadi." tanya Naya.
__ADS_1
Naya mencondongkan wajah nya ke hadapan ku, dia kembali menatap ku, dengan penuh tanda tanya. Aku tetap cuek, dan tidak menghiraukan nya sama sekali.
"Kau itu kenapa sih, Nay? Jauh-jauh duduk nya, sana! Jadi geli aku, kau dekati kayak gitu."
Aku mendorong pelan badan Naya, agar sedikit menjaga jarak dengan ku. Naya langsung menoyor jidat ku, dan bergeser sedikit dari tempat duduk nya.
"Yey, otak mu itu ngeres aja tau nya. Siapa juga yang mau, dekat-dekat dengan mu. Aku juga masih normal, tau gak!" balas Naya sewot.
"Lah, itu tadi apa, coba? Badan mu aja hampir nempel, dengan badan ku." balas ku.
"Ya ya ya, terserah kau aja lah. Jadi, gimana yang tadi?" tanya Naya.
"Yang tadi apa nya?" tanya ku pura-pura lupa.
"Hadehh, gini ini lah kalo udah tua, pikun!" jawab Naya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Hahaha,"
Aku tertawa lepas mendengar ocehan Naya, yang terlihat semakin kesal dan jengkel dengan ku. Setelah lelah mentertawai Naya, aku pun menarik nafas dalam-dalam. Lalu, aku pun mulai menceritakan semua rahasia ku pada nya.
"Gini loh, Nay. Sebenarnya kemaren itu, aku nginap di hotel dengan selingkuhan ku." jelas ku.
Mendengar ucapan ku barusan, Naya pun langsung memekik, dan membelalakkan mata nya selebar mungkin. Aku sampai tersentak, saking terkejut nya, mendengar suara cempreng nya itu.
"APA! Kau udah gila ya, Yu?" pekik Naya.
Aku menggerutu kesal, sambil mengelus-elus telinga ku yang berdengung, akibat pekikan Naya tadi. Naya langsung reflek menutup mulut nya, dengan kedua tangan nya.
Ups! Sorry, Yu. Aku gak sengaja, habis nya aku kaget banget sih. Dengar omongan mu tadi."
"Ya, gak papa. Aku maklum kok, kau pasti sangat terkejut dan tidak percaya, setelah mendengar kejujuran ku itu." balas ku.
Naya hanya manggut-manggut, mengiyakan ucapan ku. Setelah beberapa saat hening, Naya pun kembali bertanya pada ku.
"Trus, suami mu tau gak, kalo kau punya selingkuhan?" tanya Naya.
"Kau itu bego atau pe'ak sih, Nay? Kalo suami ku tau, itu nama nya bukan rahasia lagi. Tapi, udah ketahuan nama nya." jawab ku.
"Oh, iya juga ya. Kok aku gak kepikiran sampe kesitu, hahaha." gelak Naya.
"Emang nya, siapa lelaki gelap mu itu, Yu?" tanya Naya.
"Tetangga dekat rumah ku, cuma lima langkah aja jarak nya, dengan rumah lelaki itu." jawab ku santai.
"APA? Berani kali kau, Yu!" pekik Naya lagi.
__ADS_1
Aku langsung menutup mulut Naya, yang sedari tadi berteriak histeris tidak karuan.
"Sssttt, muncung mu itu berisik kali sih, dari tadi!" omel ku sambil menempelkan telunjuk di bibir ku.
"Lepasin tangan mu ini, bau tau!" oceh Naya. Dia langsung melepaskan tangan ku, dari mulut nya.
"Sembarangan, bilangin tangan ku bau. Tangan wangi gini kok, di bilang bau. Rusak hidung mu itu!" balas ku.
"Sukak mu lah situ, mau bilangin aku apa!" jawab Naya ketus.
Aku hanya tersenyum geli, mendengar ocehan ketus Naya, dan kembali memakan cemilan dengan santai. Melihat tingkah ku itu, Naya pun kembali bertanya pada ku.
"Apa alasan mu berselingkuh, Yu? Apa karena suami mu itu, udah loyo? Atau karena, uang pemberian suami masih kurang? Atau malah, kau sendiri yang kegatalan?"
Naya memberikan pertanyaan beruntun pada ku. Dia masih sangat penasaran, dengan perselingkuhan ku itu. Aku menghela nafas berat, dan kembali menjelaskan satu persatu pertanyaan Naya.
"Kalau masalah loyo, sebenarnya gak juga sih, Nay. Tapi suami ku itu, gak bisa tahan lama. Dia juga jarang menyentuh ku. Bahkan, dia juga sering menolak, kalau aku ajak bercinta."
"Kalau soal uang, itu juga sudah lebih dari cukup bagi ku."
"Kalau soal kegatalan, ya mungkin juga sih. Aku kan juga wanita normal, Nay."
"Aku juga butuh kehangatan, butuh kasih sayang, butuh belaian, dan juga butuh kepuasan batin. Sedang kan suami ku, tidak pernah memberikan semua itu pada ku."
Aku mengeluarkan semua keluh kesah ku, pada nya. Dan Naya pun tampak sangat fokus, mendengar kan semua ucapan ku tadi.
"Tapi kan gak harus selingkuh, Yu. Kau kan bisa ngomong baik-baik, dengan suami mu. Tentang kebutuhan, batin mu itu!" usul Naya.
"Udah, Nay. Aku udah sering ngomong, dengan suami ku. Bahkan, kami juga sering bertengkar dulu nya. Gara-gara suami ku, jarang menafkahi batin ku." balas ku.
Naya kembali menghembuskan nafas, dan mengelus-elus lembut bahu ku.
"Yang sabar ya, Yu! Mudah-mudahan aja, suami mu bisa berubah." ucap Naya memberikan semangat pada ku.
"Bukan cuma itu aja, masalah yang sedang aku hadapi sekarang, Nay."
"Loh, emang nya ada lagi, ya?" tanya Naya.
"Bukan cuma ada lagi, Nay. Tapi, masih banyak lagi." jawab ku.
"Soal apa lagi, Yu?" tanya Naya lagi.
"Soal anak dan mantan istri, suami ku. Mereka berdua selalu saja mengganggu kehidupan kami berdua."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku langsung merogoh tas, untuk mengambil rokok. Setelah mendapatkan nya, aku segera menyalakan rokok itu, dan menghisap nya perlahan.
__ADS_1
Aku mulai melamun dengan tatapan kosong, dan pandangan lurus ke depan. Sambil terus menghisap rokok, yang ada di tangan ku itu.