
Selesai membeli perhiasan, bang Agus membawa ku keliling-keliling melewati toko-toko yang berjejer menjual berbagai macam baju dan lain-lainnya.
"Mau makan gak, say?" tanya bang Agus sambil terus menggenggam tangan ku.
"Boleh, cacing ku juga udah nyanyi-nyanyi nih di dalam." jawab ku sembari nyengir kuda.
"Hahaha, gila." balas bang Agus mengacak-acak rambut ku.
"Iiihhhh, apaan sih. Jadi kusut nih rambut ku abang buat."
Rengek ku sambil memanyunkan bibir dan menghentak-hentakkan kaki.
"Hehehe, maaf ya, say. Abang reflek tadi." ujar bang Agus.
"Ya," balas ku.
Setelah beberapa saat berkeliling mencari tempat makan, akhirnya kami berdua pun tiba di lantai tiga gedung mall tersebut.
Di lantai tiga ini hanya di khususkan untuk berjualan makan. Berbagai macam jenis makanan ringan atau pun berat, semua nya ada di lantai tiga tersebut.
"Kita mau makan apa, bang?" tanya ku sembari celingukan kesana sini.
"Hhmmm, makan nasi goreng seafood enak kayak nya." jawab bang Agus.
"Oh, ya udah aku ngikut aja." balas ku.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus pun tersenyum lalu berkata...
"Yok, kita kesana." seru bang Agus sambil menunjuk ke arah kiri nya.
"Oke," balas ku.
Aku dan bang Agus kembali melangkah beriringan, menuju tempat makan yang di tunjuk bang Agus tadi.
Setelah masuk ke dalam, dan duduk bersebelahan di kursi kayu yang sudah tersedia, seorang pelayan wanita pun datang menghampiri meja kami sembari bertanya...
"Mau pesan apa, kakak?" tanya si pelayan kepada ku.
"Nasi goreng seafood nya dua porsi, sama jus wortel nya dua juga ya, mbak!" jawab ku.
"Oke, kakak. Mohon di tunggu ya!" balas si pelayan dengan ramah lalu meninggalkan meja kami.
"Oke," balas ku.
Setelah pelayan itu pergi, aku dan bang Agus pun kembali membuka percakapan. Aku membuka dompet perhiasan yang di beli kan bang Agus tadi, dari dalam saku celana jeans ku.
Kemudian aku memakai gelang itu di pergelangan tangan kiri ku. Setelah itu, aku juga memakai cincin love ke jari manis kiri ku.
"Bagus gak, bang?" tanya ku.
"Bagus kok, pintar juga rupanya milih yang cantik." puji bang Agus sembari tersenyum manis pada ku.
"Ya iya lah, siapa dulu dong yang milih. Ayu gitu loh, hihihi." jawab ku cekikikan.
Bang Agus kembali mengacak-acak rambut ku gemas. Dia hanya tersenyum melihat tingkah aneh ku barusan.
"Haritu emas mu banyak, say. Kenapa sekarang kosong melompong gini?" tanya bang Agus heran.
"Oh, jadi abang beli kan aku emas, karena nengok badan ku kosong?" tanya ku balik.
"Ya gak juga, sih. Sebenarnya dari dulu abang udah ada niat mau belikan dirimu emas."
"Ya walaupun gak seberapa, tapi abang memang sengaja ngumpulin uang buat membelikan mu perhiasan." jelas bang Agus panjang lebar.
__ADS_1
"Oh, kirain cuma karena kasihan lihat aku gak pake emas apa pun." balas ku.
"Ya, enggak lah." balas bang Agus.
"Emang nya perhiasan mu kemana semua, say? Apa jangan-jangan di ambil sama suami mu ya?" tebak bang Agus.
"Enggak lah, mana mau aku ngasih dia secuil pun." jawab ku.
"Lah, trus kemana?" selidik bang Agus.
"Masih ada kok, abang tenang aja. Aku udah simpan di tempat yang aman. Aku memang sengaja mengosongkan badan ku, biar bang Darma gak bisa mengambil nya secara paksa lagi." jelas ku.
"Loh, emang nya dia mau merampas perhiasan mu juga ya?" tanya bang Agus.
"Iya, dia di pengaruhi sama dua benalu itu untuk merampas uang dan perhiasan ku. Tapi gak jadi, karena keburu aku kabur haritu." jawab ku.
"Ya Allah, say. Kok sampe segitu nya sih suami mu itu. Tega kali sama istri sendiri." ujar bang Agus menggelengkan kepala nya.
"Ya begitu lah, bang. Nama nya juga udah kerasukan setan gila, ya gitu lah jadi nya." jawab ku asal.
"Iya juga sih, setan nya yang dua ekor itu kan?" tanya bang Agus.
"Yups, betul betul betul. Pintar abang nebak nya, hahaha." jawab ku sembari cekakakan.
"Hehehe, abang udah paham sih. Pasti mereka berdua yang udah mencuci otak suami mu." ujar bang Agus.
"Iya, kedua setan itu lah yang selalu bergelantungan di badan bang Darma. Makanya sikap nya bisa berubah, dan jadi gak sadar diri seperti saat ini." lanjut ku.
Bang Agus manggut-manggut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir ku. Dia sama sekali tidak menyangka, jika bang Darma akan melakukan hal sekejam itu dengan ku.
"Udah ah, gak usah bahas mereka lagi! Bikin darah tinggi ku kumat aja jadi nya." ujar ku kesal.
"Oke oke, abang gak akan bertanya apa pun lagi tentang mereka." balas bang Agus.
"Silahkan di nikmati hidangan nya, kakak!" ujar si pelayan.
"Oke, makasih ya, mbak." jawab ku sembari menyunggingkan senyum pada nya.
"Sama-sama kakak." balas nya sembari berlalu pergi dan melayani pelanggan lain nya.
"Ayo di makan, say!" seru bang Agus.
"Iya, botak." jawab ku.
Aku dan bang Agus mulai memakan makanan itu dengan santai, sambil memperhatikan orang-orang yang juga memakan hidangan nya di tempat tersebut.
Setelah selesai makan, kami berdua beranjak dari kursi masing-masing, lalu berjalan menuju meja kasir, untuk membayar tagihan makanan yang sudah sudah kami lahap tadi.
Selesai pembayaran, bang Agus kembali menggandeng tangan ku lalu bertanya...
"Ada yang mau di beli lagi gak, say?"
Tanya bang Agus sembari membawa ku menaiki lift menuju ke lantai dua. Aku yang sedari tadi melamun pun langsung tersentak, lalu menoleh kepada bang Agus.
"Eh iya, abang nanya apa tadi?" tanya ku balik.
"Hmmmm, pasti tadi melamun lagi ya?" tanya bang Agus lagi.
"Hehehe, iya." jawab ku cengar-cengir salah tingkah.
Bang Agus menggeleng-gelengkan kepala nya, lalu mencubit ujung hidung ku dengan gemas.
"Udah di bawa sampai kesini pun, masih aja melamun mikirin mereka." oceh bang Agus.
__ADS_1
"Entah lah, bang. Aku juga bingung dengan isi kepala ku sendiri. Susah kali rasa nya untuk melupakan kejadian yang menyakitkan itu." jawab ku lirih.
"Udah udah, ngapain mikirin hal yang gak penting. Buang-buang energi aja, mending kita happy-happy aja disini." oceh bang Agus.
"Iya sih, bener yang abang bilang tu." jawab ku pelan.
"Naaah, gitu dong. Kira-kira ada yang mau di beli lagi gak?" tanya bang Agus mengulang pertanyaan nya.
"Gak ada, kita balek ke hotel aja yok! Mata ku udah mulai ngantuk nih, hoam." jawab ku sembari menguap.
"Ya udah deh, kita balek ke hotel." balas bang Agus.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa terasa kami berdua pun sudah berada di lantai dasar gedung mall. Bang Agus terus saja menggandeng ku sampai ke parkiran motor.
Sampai di depan motor nya, bang Agus langsung menyerahkan helm ke tangan ku, dan menyuruh ku untuk naik ke motor nya.
"Ayo, naik!" seru bang Agus.
"Ya," jawab ku.
Setelah kami berdua berada di atas motor, bang Agus langsung melajukan kendaraan roda dua nya menuju ke arah hotel, tempat kami menginap.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun sudah tiba di depan gedung hotel. Setelah memarkirkan motor, aku dan bang Agus kembali melangkah masuk ke dalam, dan menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua, tempat kamar kami berada.
Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi telentang dan kaki yang menjuntai ke bawah.
Melihat posisi baring ku seperti itu, bang Agus pun mulai mendekati ku dengan senyum aneh nya.
"Heh heh heh, mau ngapain?" tanya ku curiga.
"Mau minta jatah." jawab bang Agus santai.
"Oh, ya udah silahkan aja." balas ku pasrah.
"Tumben langsung di kasih, biasa nya harus berantem dulu baru di kasih." sindir bang Agus.
"Gak usah kebanyakan drama lagi, mau atau enggak nih? Kalau gak mau ya udah, aku mau tidur aja." balas ku ketus.
"Eits, enak aja mau tidur. Kasih jatah dulu lah, baru kita tidur bareng." ujar bang Agus dengan senyum menyeringai.
"Ya, terserah abang aja." jawab ku.
Setelah mendengar penuturan ku, bang Agus pun langsung melancarkan aksinya. Dia mulai mencumbui ku dari atas sampai bawah.
Dia sangat lihai dalam memainkan lidah dan jari-jari nya, di bagian-bagian tertentu yang ada di tubuh ku.
Bang Agus kembali memanjakan tubuh ku dengan sentuhan-sentuhan nakal nya. Dan itu berhasil membuat ku melayang-layang sampai ke alam nirwana.
Setelah memacu gerakan nya selama hampir dua jam, bang Agus pun menyudahi permainan nya, setelah kami berdua mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
"Ah, lega nya, say." bisik bang Agus.
"Ya sama, aku juga udah lega." balas ku.
"Kamu puas gak sama permainan abang tadi, say?" tanya bang Agus.
"Ya puas lah, sayang. Mana mungkin aku gak puas, kalau main nya sampe hampir dua jam gitu." jawab ku sembari tersenyum.
"Oh, syukur lah kalo dirimu puas. Ya udah sekarang kita bobok ya, besok kita sambung lagi main nya." ujar bang Agus.
"Oke, botak." balas ku sembari mengecup kilat bibir bang Agus.
Setelah selesai melakukan pergumulan panas yang menguras keringat, aku dan bang Agus pun mulai memejamkan mata dan tertidur pulas, dengan posisi yang masih polos di bawah selimut.
__ADS_1