
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Setelah terlelap cukup lama akhirnya pagi pun menjelang.
"Hoamm, jam berapa ini ya?" gumam ku sambil menguap dan melirik jam dinding.
"Waduh, udah jam tujuh rupa nya."pekik ku kembali menguap dan mengucek mata.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu membuat kan sarapan untuk bang Darma. Dia itu kalau di tanya mau sarapan apa pasti selalu menolak.
Alasan nya tidak biasa sarapan pagi. Tapi kalau sudah di buat kan sarapan tanpa sepengetahuan nya, mau tidak mau dia terpaksa harus memakan nya juga.
Selesai membuat kan mie goreng dan menyeduh teh manis hangat untuk sarapan bang Darma, aku membuka kios dan menata barang dagangan ku dengan rapi.
Tak berselang lama, bang Darma pun bangun dari tidur nya dan melangkah masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, dia memakai pakaian kerja nya dan duduk di sofa.
Karena sarapan sudah tersedia di hadapan nya, dengan terpaksa bang Darma langsung memakan mie goreng itu tanpa bertanya lagi padaku.
Selesai sarapan, bang Darma menghampiri ku yang masih sibuk berkutat dengan barang dagangan di dalam kios.
"Dek, abang berangkat ya!" pamit bang Darma sambil berjalan ke depan pintu kios.
"Iya, bang. Hati-hati di jalan ya!" balas ku sembari mengecup kedua pipi nya dan mencium punggung tangan nya.
Setelah berpamitan dengan ku, bang Darma segera mengeluarkan motor nya dari teras lalu menyalakan mesin motor.
Beberapa menit kemudian, bang Darma pun berlalu pergi dengan mengendarai kendaraan roda dua nya itu.
Setelah kepergian bang Darma, aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku menyeduh teh untuk diri ku sendiri.
Aku juga sama seperti bang Darma, tidak biasa sarapan pagi. Cukup teh manis hangat saja sampai jam makan siang tiba.
Selesai menyeduh teh, aku duduk santai di sofa sambil menyalakan tv sambil sesekali menyeruput teh.
Lagi asyik menonton tv, tiba-tiba bang Agus datang dan langsung menarik tangan ku untuk masuk ke dalam kamar pribadi ku dan bang Darma.
"Nekat betul ini orang." umpat ku dalam hati.
Sesampainya di dalam kamar, bang Agus langsung mengunci pintu dan duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
"Suami mu udah pergi kerja kan, say? Tadi aku nampak dia lewat. Maka nya aku langsung ke sini." ujar bang Agus pelan.
"Lain kali jangan nekat kayak gini lagi ya, bang aku takut." balas ku yang masih berdiri di hadapan nya.
"Aku kangen, say. Maka nya aku nekat melakukan semua ini. Kalau pun kita ketahuan, ya gak papa lah kita nikah aja!" balas bang Agus.
Bang Agus memeluk pinggang ku dan menenggelamkan wajah nya di perut ku dengan posisi duduk nya.
"Gak semudah itu, bang." balas ku sembari melepaskan pelukannya.
"Emang nya kenapa, say? Kamu gak mau ya menikah dengan ku?" tanya bang Agus mendongakkan kepalanya melihat wajah ku.
"Jodoh itu ada di tangan Tuhan, bang. Kalo memang kita di takdir kan untuk berjodoh, suatu saat nanti kita pasti akan bersatu." jawab ku.
"Tapi untuk saat ini, tolong jangan memaksa ku. Kita jalani aja dulu apa ada nya!" lanjut ku sembari duduk di samping bang Agus.
"Iya, aku ngerti maksud mu. Maaf kan aku ya, say. Aku tau kalo aku salah. Tidak seharusnya aku terlalu nekat seperti ini." balas bang Agus sambil menundukkan kepalanya.
"Iya, bang. Kali ini aku maafkan.Tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya!"
Balas ku memberikan peringatan pada nya, agar tidak berbuat nekat seperti ini lagi.
"Say, aku boleh minta jatah gak?" tanya bang Agus mulai mengecupi leher ku.
"Jatah apa?" tanya ku pura-pura bingung dengan kening mengkerut menatap nya.
"Jatah itu, say. Masa gak paham sih." balas nya lagi sambil menunjuk ke arah area pribadi ku.
"Jangan di sini lah, bang. Aku takut nanti bang Darma pulang." tolak ku secara halus.
"Suami mu kan lagi kerja, say. Gak mungkin lah dia pulang sekarang." balas bang Agus masih tetap ngotot.
Aku terdiam sejenak, lalu aku pun pasrah dan mengangguk kan kepala sebagai jawaban. Setelah mendapatkan persetujuan dari ku, tanpa aba-aba lagi bang Agus pun langsung menyerang ku.
Bang Agus merebahkan tubuh ku di atas ranjang dan mulai mengecup kening, pipi dan bibir ku. Setelah puas bermain di wajah ku, dia melanjutkan kembali kegiatan nya itu ke bagian leher ku.
Bang Agus mengecup dan mengigit-gigit kecil bagian leher ku, persis seperti drakula penghisap darah.
__ADS_1
Kedua tangan nya pun tidak tinggal diam, bang Agus memasukkan tangan nya ke dalam baju kaos putih ku.
Karena mendapat kan sentuhan itu, aku mulai memejamkan mata sambil menggeliat tidak karuan.Tubuh ku meliuk liuk seperti cacing kepanasan karena ulah bang Agus.
Jujur ku akui, bang Agus memang pandai memanjakan tubuh ku dengan sentuhan dan belaian nya. Sehingga membuat ku selalu melayang-layang dengan cumbuan nya.
Setelah selesai mencumbui ku dari atas sampai bawah, bang Agus pun mulai melancarkan aksi selanjutnya dengan ganas dan nafas yang memburu.
Selesai melakukan pergumulan panas bersama bang Agus, aku pun kembali memakai pakaian. Begitu juga dengan bang Agus, dia juga langsung memakai pakaian nya.
"Aku balek ya, say." pamit bang Agus kembali memeluk dan mengecup kening dan juga pipiku.
"Iya, bang. Tapi aku lihat situasi di luar dulu ya.Takut nya banyak orang di luar." balas ku.
Aku segera melangkah keluar dari kamar dan melihat situasi di sekitaran rumah ku.
"Sepi," batin ku.
Aku kembali ke dalam kamar dan menyuruh bang Agus bergerak cepat, untuk keluar dari rumah ku mumpung lagi sepi.
"Sepi, bang. Keluar lah!" bisik ku.
Setelah mendapat kan aba aba-dari ku, bang Agus langsung bergegas melangkah kan kaki nya menuju ke pintu utama dan berjalan ke luar.
Dia kembali ke rumah nya yang berjarak hanya lima langkah dari rumah ku.
Setelah kepergian bang Agus, aku kembali menjatuhkan tubuh ku di atas ranjang sambil merenung menatap langit-langit kamar.
"Lagi-lagi aku menyakiti hati mu, bang. Maaf kan aku bang Darma. Seandainya kau tidak mengabaikan ku, tidak mengabaikan kebutuhan batin ku. Pasti semua ini tak akan pernah terjadi, bang."
Aku berbicara sendiri sambil terus menatap langit-langit kamar. Tanpa aku sadari, air mata mengalir membasahi pipi ku.
Entah apa alasan ku untuk bersedih, aku juga tidak tahu. Apakah karena aku menyesal telah mengkhianati bang Darma? Atau karena sikap bang Darma yang selalu mengabaikan kebutuhan batin ku?
Ah entahlah, hanya Tuhan lah yang tau tentang perasaan ku saat ini. Aku dilema, aku bingung harus bagaimana.
Apakah aku harus mengakhiri hubungan ku dengan bang Agus dan kembali setia dengan suami ku? Atau tetap berhubungan dengan bang Agus, sampai waktu yang entah kapan akan berakhir.
__ADS_1
"Hah, mudah mudahan semua ini hanyalah mimpi. Dan semoga aku cepat tersadar dari mimpi ku ini." gumam ku.
Aku menghela nafas panjang dan mulai memejamkan mata perlahan.Tak lama kemudian, aku tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi.