
* Kembali ke Ayu dan Rendi *
"Lololoh, kok malah beneran tidur pulak dia." oceh Rendi semakin kesal melihat tingkah ku yang tidak memperdulikan keinginan nya.
Aku tetap berdiam diri, tanpa bersuara atau pun bergerak sedikit pun.
"Ayo dong, sayang! Kita main sebentaaaar aja, pliiiiss!" rengek Rendi sembari menenggelamkan wajah nya di ceruk leher ku.
Karena bosan mendengar suara Rendi, akhirnya aku pun membalikkan badan lalu menyetujui permintaan nya.
"Oke, tapi janji ya jangan lama-lama." ujar ku.
"Yes, akhirnya... Oke, sayang. Gak lama-lama kok, palingan tiga jam aja, hehehe." balas Rendi dengan wajah berbinar-binar.
"APA, tiga jam? Udah gila ya? Bisa pingsan aku kalo sampe selama itu." umpat ku kesal.
"Hahahaha, di kasih enak kok malah pingsan, aneh-aneh aja." gelak Rendi.
"Dasar edan, udah ah gak usah haha hihi terus. Jadi gak nih? Kalau gak jadi, aku mau istirahat." oceh ku.
Saat aku hendak membalikkan badan untuk membelakangi Rendi, dengan gerakan cepat Rendi pun langsung naik ke atas tubuh ku.
"Eits, ya jadi dong, sayang. Gak sabaran banget sih, pengen cepat-cepat ngerasain dedek abang ini." ledek Rendi sembari tersenyum genit dan mengerlingkan satu mata nya.
Rendi menunjukkan milik nya yang sudah bangun, dan berdiri tegak seperti kayu. Melihat benda kesayangan ku yang sangat menggiurkan itu, mata ku pun langsung terbelalak dan menelan ludah dengan kasar.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera duduk dan sedikit menundukkan kepala, lalu memasukkan benda itu ke dalam mulut ku. Aku memanjakan milik Rendi dengan lembut dan mesra.
"Wow, nikmat banget, sayang. Kau memang bener-bener pandai dalam hal seperti ini." puji Rendi dengan nafas yang mulai memburu.
Aku tidak menanggapi celotehan Rendi. Aku terus saja melanjutkan kegiatan ku dengan gairah yang sudah mulai naik.
"Udah cukup, sayang! Sekarang giliran abang yang akan memanjakan tubuh indah mu ini." ujar Rendi dengan senyum menyeringai.
"Oke, puasin aku ya, bang! Layani aku dengan baik." rengek ku manja.
"Siap, nyonya. Saya akan memberikan pelayanan yang sangat memuaskan kepada nyonya." canda Rendi.
"Hahahaha, gemblung." umpat ku sembari tergelak.
Rendi hanya cengar-cengir menanggapi umpatan ku. Setelah itu, dia pun mulai mencium bibir ku dan seluruh wajah ku. Lalu ciuman nya pun mulai turun ke leher dan juga dada ku. Kemudian turun lagi ke perut, dan yang terakhir ciuman nya berhenti di depan milik ku.
Rendi menjulurkan lidahnya dan mulai bermain-main di sana. Dan itu berhasil membuat ku merasakan sensasi yang luar biasa. Rasa geli dan nikmat campur aduk jadi satu, akibat ulah nakal Rendi.
Beberapa menit kemudian, Rendi mengakhiri kegiatan nya, dan kembali naik ke atas tubuh ku. Dia mulai mengarahkan milik nya, lalu menerobos masuk hanya dengan satu hentakan saja.
__ADS_1
Rendi melakukan permainan nya dengan semangat empat lima. Dia tidak henti-hentinya memacu dengan gerakan cepat, hingga membuat ku semakin terlena dan terbuai oleh perbuatan nya.
Satu jam kemudian, Rendi pun menyelesaikan tugas nya. Dengan tubuh yang bermandikan keringat, dia mengecup kening ku lalu menjatuhkan diri di sebelah ku.
"Makasih ya, sayang." ujar Rendi.
"Ya," balas ku.
Aku segera turun dari ranjang dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku. Begitu juga dengan Rendi, dia mengikuti langkah ku dari belakang dan ikut membersihkan diri nya.
Setelah selesai, kami berdua kembali naik ke atas ranjang, dan langsung masuk ke dalam selimut tebal.
"Udah ya, jangan minta-minta jatah lagi. Remuk semua badan ku ini abang buat" oceh ku membuka perbincangan.
"Tapi enak kan? Hayo, ngaku!" balas Rendi sembari mencubit pelan hidung ku.
"Enak nya tuh, pas waktu lagi main aja. Kalo udah siap, baru terasa pegel nya." jawab ku.
"Iya juga sih, abang juga gitu. Pas lagi asyik-asyiknya, gak terasa capek nya. Tapi kalau udah selesai, baru terasa deh capek nya nih pinggang." ujar Rendi membenarkan ucapan ku.
"Naaah, tu tau. Ya udah, besok-besok lagi kita sambung ngobrol nya. Sekarang kita tidur ya, mata ku ngantuk banget berat nih." ujar ku.
"Oke, sayang." balas Rendi.
Rendi kembali mengecup kening ku, dan membawaku ke dalam dekapan hangat nya, lalu berkata...
"Love you to." balas ku.
Setelah mengucapkan kata pengantar tidur, aku dan Rendi pun mulai memejamkan mata. Tak lama berselang kami berdua pun terlelap, dan masuk ke alam bawah sadar masing-masing.
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari sudah siang. Suara berisik dari kendaraan bermotor yang berasal dari bawah gedung hotel pun, mulai mengganggu ketenangan tidur ku.
"Hoamm, berisik banget sih! Ganggu orang tidur aja." umpat ku kesal.
Aku menguap dan mengucek-ngucek mata, yang masih terasa perih akibat mengantuk. Karena terganggu dengan ocehan ku, Rendi pun ikut membuka mata nya. Dia menggeliatkan badan nya, dan juga mengucek-ngucek mata nya, lalu bertanya...
"Jam berapa, sayang?" tanya Rendi dengan suara serak khas bangun tidur.
"Entah, tapi kayak nya udah siang sih." balas ku.
"Ayo mandi, siap tu kita pulang!" ajak ku.
Aku segera bangkit dari ranjang, lalu menyambar handuk yang tergeletak di atas meja rias, kemudian menyampirkan nya ke bahu kiri ku.
Dengan gerakan malas, Rendi pun turut mengekori langkah ku dan bergabung bersama ku, di bawah guyuran air shower yang hangat.
__ADS_1
Selesai mandi, kami bergegas memakai pakaian dan menyimpan barang pribadi masing-masing ke dalam tas.
"Udah, sayang?" tanya Rendi sembari memakai sepatu sport nya.
"Udah, yok keluar!" jawab ku menyampirkan tas ransel ke pundak.
"Yok!" balas Rendi.
Aku dan Rendi keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga satu persatu dengan bergandengan tangan. Sampai di meja resepsionis, Rendi menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis laki-laki yang sedang bertugas.
Setelah itu, kami berdua kembali melangkah keluar dari gedung hotel dan berhenti di parkiran.
"Mau abang antar gak?" tanya Rendi.
"Gak usah, aku bawa motor sendiri kok." jawab ku.
"Oh, ya udah. Hati-hati di jalan ya, sayang. Ini uang belanja mu." ujar Rendi.
Rendi menyelipkan uang ke dalam genggaman tangan ku. Setelah itu, dia memeluk ku dan mendarat kan kecupan mesra nya di kening ku.
"Iya, makasih banyak ya, bang. Abang juga hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya." oceh ku sembari mewanti-wanti Rendi.
"Iya, sayang." balas Rendi.
Rendi melepas pelukannya dan segera masuk ke dalam mobil. Dia berlalu pergi meninggalkan ku, yang masih terpaku memandangi kepergian nya.
Setelah bayangan Rendi hilang dari pandangan, aku mulai naik ke atas motor, dan menjalankan nya menuju ke arah rumah bang Darma.
Tak lama kemudian, aku pun tiba di depan rumah suami gila ku tersebut. Sesudah memarkirkan motor di teras, aku mengambil kunci cadangan di dalam tas.
Setelah mendapatkan nya, aku segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam, sembari mengucapkan salam...
Ceklek...
"Assalamualaikum," salam ku.
"Wa'laikum salam," jawab bang Darma.
Aku langsung terlonjak kaget dengan mata membulat, saat mendengar suara bang Darma membalas salam ku.
"Loh, tumben-tumbenan hantu satu ini ada di rumah. Apa mungkin dia udah bosan ya, menemani para benalu itu." batin ku heran.
Aku menutup pintu kembali dan berjalan dengan langkah pelan menuju kamar. Saat hendak melewati ruang tamu, ku lihat bang Darma sedang duduk santai di atas sofa, sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Dari mana kau, hah?" bentak bang Darma.
__ADS_1
"Bukan nya ngurusin suami di rumah, malah kelayapan terus kerjaan mu. Laki-laki mana lagi yang kau ajak kencan, hah?" lanjut bang Darma dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
"Kepo," jawab ku cuek.