SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Aku bergegas keluar dari kamar, dan berjalan dengan langkah cepat menuju kios. Setelah selesai menutup pintu kios, aku kembali ke dalam kamar dan menghampiri bang Darma.


"Udah siap, bang." ujar ku.


"Ya udah kalo gitu, ayo kita berangkat sekarang! Mumpung masih jam segini, takut nya nanti keburu maghrib di jalan."


Bang Darma berucap sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Ya," balas ku.


Aku mengekori langkah bang Darma dari belakang dan keluar dari kamar menuju pintu utama. Setelah mengunci pintu, aku menyerahkan kunci motor ku ke tangan bang Darma.


"Ini kunci nya, bang!" ujar ku.


Bang Darma hanya mengangguk dan menerima kunci itu dari tangan ku. Setelah motor menyala, aku langsung naik di boncengan belakang sambil melingkarkan kedua tangan ku di pinggang nya.


"Udah, dek? tanya bang Darma.


"Udah, jalan lah!" jawab ku.


"Oke," balas bang Darma


Setelah mendengar jawaban ku, bang Darma pun mulai melaju kan motor nya dengan kecepatan sedang menuju taman kota.


Lima menit kemudian, kami berdua sudah tiba di tempat tujuan. Selesai memarkirkan motor, aku dan bang Darma berjalan beriringan masuk ke dalam warung bakso.


Sampai di dalam, ternyata pelanggan yang makan di tempat itu cukup banyak. Aku dan bang Darma sampai bingung celingukan kesana sini untuk mencari kursi yang masih kosong.


"Di sana masih ada yang kosong, bang!" ujar ku.


Aku menunjuk ke arah pojok ruangan yang tampak ada dua kursi yang masih kosong. Bang Darma langsung mengikuti arah telunjuk ku sambil berkata...


"Ya udah, ayo kita kesana!" balas bang Darma.


Aku pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Kami berdua mulai berjalan melewati orang-orang yang tampak sedang asyik memakan makanan nya.


Mereka terlihat sangat bahagia bercengkrama dengan pasangan, dan keluarga nya masing-masing.


Sesampainya di kursi yang di tuju, aku dan bang Darma langsung duduk berhadapan. Dan tak lama kemudian, pelayan warung pun datang menghampiri meja kami.


"Mau pesan apa, mas?" tanya si pelayan laki-laki.


"Bakso beranak nya dua porsi ya, bang! Minum nya es teh manis dua." jawab bang Darma.


"Oke siap, di tunggu ya, mas!" balas si pelayan.


"Oke, bang." jawab bang Darma lagi.

__ADS_1


Setelah pelayan itu pergi menyiapkan pesanan kami, aku menatap nanar wajah bang Darma yang masih terlihat sedikit linglung.


"Bang, apa aku boleh menanyakan sesuatu dengan mu?" tanya ku ragu.


"Boleh, mau nanya apa?" jawab bang Darma.


Aku mendongak ke atas sambil memejamkan mata sejenak. Setelah itu, aku menghela nafas dalam-dalam dan akhirnya dengan perasaan ragu dan bimbang, aku pun mulai membuka suara kembali.


"Akhir-akhir ini kejadian apa saja yang kau ingat?" tanya ku.


Mendengar pertanyaan ku, bang Darma langsung terdiam sesaat. Dia tampak sedang berpikir dan mengingat-ingat sesuatu. Mata nya juga terpejam dengan kening yang mengkerut.


Setelah beberapa saat berpikir keras, akhir nya bang Darma pun mulai menjawab pertanyaan ku.


"Yang abang ingat sih, waktu si Yuni minta uang lima juta buat beli motor bekas kata nya." jawab bang Darma.


"Trus, abang ingat apa lagi?" tanya ku penasaran.


Bang Darma pun kembali terdiam dan berpikir. Dia berusaha mengingat kejadian yang sudah terjadi dalam kurun waktu sebulan ini.


"Trus, adek marah sama Yuni. Karena saking marah nya, adek sampai nendang meja di ruang tamu." jawab bang Darma lagi.


"Trus, apa lagi?" desak ku.


"Hmmm, udah itu aja. Kalo yang lain nya sih abang gak ingat lagi." jawab bang Darma.


Aku menautkan kedua alis setelah mendengar penuturan bang Darma. Aku masih tidak begitu percaya dengan jawaban nya barusan.


Aku membatin sambil terus menatap mata bang Darma dengan penuh rasa curiga. Aku masih ragu dengan gelagat suami yang ada di depan ku saat ini.


"Kenapa, dek? Kok malah bengong gitu. Emang nya ada masalah apa lagi?" tanya bang Darma.


"Gak ada, bang. Udah ah, lupakan aja!" jawab ku.


"Oh, ya udah." balas bang Darma.


Setelah selesai tanya jawab dengan bang Darma, sang pelayan pun datang dengan nampan di tangan nya.


"Silahkan di nikmati, mas, mbak!" ujar si pelayan.


"Oke makasih ya, bang." jawab kami serempak.


Selesai menghidangkan makanan dan minuman di atas meja, pelayan itu pun kembali melayani pelanggan lain nya.


"Ayo di makan, dek! Habis tu kita langsung pulang." ujar bang Darma.


"Ya," jawab ku.

__ADS_1


Aku dan bang Darma mulai memakan bakso beranak itu dengan santai dan hening, tidak ada percakapan apa pun lagi di antara kami berdua.


Selesai makan, aku dan bang Darma berjalan beriringan menuju meja kasir yang berada di depan warung, tepat nya di samping steling jualan mereka.


Setelah membayar, kami berdua langsung berjalan menuju parkiran dan segera naik ke atas motor.


"Ada yang mau di beli lagi gak, dek?" tanya bang Darma.


"Hmmm, beli apa ya?" gumam ku sambil berpikir di belakang boncengan motor.


"Ada gak?" desak bang Darma.


"Gak ada, bang. Lagian perut ku udah kenyang banget nih. Udah gak selera apa-apa lagi. Besok-besok aja kita cari makanan lagi ya!" jawab ku.


"Oke," jawab bang Darma sambil menyalakan mesin motor matic ku.


Setelah mendengar ucapan ku, bang Darma pun mulai melajukan kendaraan roda dua nya kembali ke jalan raya.


Setibanya di depan rumah, aku bergegas turun dari motor dan berjalan ke depan pintu lalu membuka nya.


Kemudian aku melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sedikit berat. Karena merasa sedikit lelah, aku pun langsung mejatuhkan diri di atas ranjang.


"Uuuhh, pegel nya badan kuuu." gumam ku.


Aku menggeliat kan badan ke kanan dan ke kiri, kemudian aku juga berguling-guling untuk merenggang kan otot-otot yang pegal dan kaku.


Entah kenapa tiba-tiba badan ku terasa sangat aneh. Seperti ada beban berat yang sedang ku pikul di atas kedua bahu ku ini. Kaki ku juga terasa sangat berat untuk melangkah saat memasuki rumah.


Sedangkan bang Darma, dia sedang sibuk memarkirkan motor di teras. Setelah selesai, dia langsung masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu kembali.


Sampai di depan pintu kamar, bang Darma tampak heran melihat tingkah ku yang sedang menggeliat dan berguling-guling di atas ranjang.


"Kau itu lagi ngapain sih, dek? Kayak anak kecil aja guling-guling kayak gitu!"


Bang Darma bertanya sambil mendudukkan diri nya di tepi ranjang. Lalu dia mulai menyalakan rokok dan menyandarkan punggung nya di sisi ranjang.


"Entah lah, bang. Tiba-tiba badan ku terasa sakit semua." jawab ku.


"Mau abang pijatin, gak?" tanya bang Darma.


"Hmmm, mau sih. Tapi jangan macam-macam ya, jangan minta yang aneh-aneh!" jawab ku.


"Iya iya, abang gak akan macam-macam. Cukup satu macam aja, hahaha!" jawab bang Darma sembari tergelak.


Bang Darma tertawa karena mendengar ocehan ku. Sifat dan tingkah nya terlihat sangat berbeda dari hari-hari sebelum nya.


"Buka lah baju nya, biar abang pijatin sekarang!" ujar bang Darma.

__ADS_1


"Oke, bentar!"


Jawab ku sambil beranjak dari ranjang dan membuka pakaian ku satu persatu.


__ADS_2