
"Aku hanya ingin kau tetap di sisi ku, dek. Terlepas dari apa pun yang sudah terjadi di antara kita, tolong jangan pernah tinggalkan aku, dek!" ujar bang Darma lirih.
Bang Darma mulai merenggang pelukan nya. Dia memegang kedua bahu ku, dan mencondongkan wajah nya pada ku. Bang Darma menatap wajah ku dengan tatapan sayu, dan mata yang berair.
"Maafkan kesalahan abang ya, dek! Selama kita bertengkar, abang sudah berusaha untuk melupakan mu, dan mencari wanita lain sebagai pengganti mu."
"Tapi ternyata, abang tetap gak bisa, dek. Gak ada satu pun wanita yang bisa menggantikan mu di hati abang, dek."
Bang Darma mengungkapkan perasaan nya pada ku. Dia terlihat begitu rapuh dan putus asa, menghadapi masalah yang sedang terjadi di dalam rumah tangga kami saat ini.
Aku tetap saja bungkam, tanpa berucap sepatah kata pun pada nya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi masalah ini. Di satu sisi, aku tidak ingin berpisah dari bang Darma.
Tapi di sisi lain, aku juga sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi ujian dan cobaan, yang selalu saja datang menghampiri rumah tangga ku.
"Rumah tangga kita sudah terlanjur berantakan. Sulit untuk di perbaiki lagi. Mendingan kita pisah aja, biar anak mu itu senang, kalau kau kembali dengan mamak nya." balas ku.
Bang Darma mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Lalu, dia pun kembali menggenggam tangan ku. Aku yang sedang berdiri di depan nya pun langsung menunduk, melihat ke arah tangan ku yang sedang di genggam oleh bang Darma.
"Abang gak bisa, dek. Abang sudah mencoba mendekat kan diri dengan Dina. Tapi, abang tetap gak bisa membuka hati abang lagi untuk nya." jawab bang Darma.
Aku mengerutkan kening, mendengar penuturan bang Darma yang cukup aneh bagi ku.
"Kalau abang gak bisa membuka hati untuk Dina, kenapa kemarin kalian bisa melakukan kegiatan panas itu?" selidik ku.
"Abang terpaksa melakukan itu, dek. Abang hanya ingin membuat mu cemburu dan marah. Abang sengaja membayar Dina, untuk memanas-manasi dirimu, dek." ungkap bang Darma.
"Kalau hanya ingin memanas-manasi ku, kenapa kalian bener-bener melakukan nya." tanya ku semakin penasaran.
"Abang khilaf, dek. Abang tidak sadar melakukan itu dengan Dina. Kemarin, abang sedang mabuk. Dan Dina terus saja menggerayangi tubuh abang."
Bang Darma membuang nafas kasar, dia menghentikan ucapan nya.
"Trus, apa lagi?" desak ku.
"Niat awalnya, abang hanya ingin berpura-pura main dengan Dina. Tapi, karena Dina terus menerus memancing gairah abang, jadi akhir nya abang pun tergoda dan melakukan hal itu dengan nya." jelas bang Darma lagi.
"Helehh, alasan. Bilang aja kalau abang juga menikmati permainan itu, iya kan? Ngaku aja deh, ngapain di tutup-tutupi lagi!" desak ku.
"Ya maklum aja lah, dek. Nama nya juga abang lagi mabuk, abang jadi gak bisa kontrol diri abang sendiri." jawab bang Darma.
__ADS_1
"Tuh, bener kan dugaan ku. Abang pasti menikmati nya. Aku bisa lihat, dari cara abang berpacu di atas badan Dina kemarin. Gak usah ngeles lagi lah." cibir ku.
Bang Darma menunduk kan kepala nya. Dia tampak sedang merenung, memikirkan masalah ini. Beberapa menit kemudian, bang Darma kembali menatap wajah ku, dan menarik paksa tubuh ku ke atas ranjang.
"Tolong tinggalkan semua selingkuhan mu itu, dek! Tolong turuti lah keinginan abang, sekali niiiii aja." pinta bang Darma.
Setelah bang Darma selesai mengucapkan kata-kata nya, tiba-tiba ponsel nya berdering nyaring di atas meja.
"Ck, siapa sih yang nelpon itu? Ganggu kesenangan orang aja." gerutu bang Darma.
Dengan gerakan malas, bang Darma pun beranjak dari ranjang, dan mengambil ponsel nya.
Setelah panggilan itu tersambung, bang Darma langsung mengeraskan suara ponsel nya, agar aku juga bisa ikut mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Ada apa lagi, sih Yun? Kau itu gak ada berhenti-berhenti nya, ganggu ketenangan bapak! Buat masalah terus kerjaan nya." omel bang Darma pada anak semata wayang nya.
"Bapak kok ngomong nya gitu, sih? Emang nya bapak lagi sama siapa di situ? Sama istri bapak yang gila itu ya, atau bapak lagi sama mamak?" tanya Yuni.
"Ya sama istri bapak lah, ngapain pulak sama mamak mu." jawab bang Darma ketus.
"Loh, kok malah sama dia lagi sih, pak. Bapak kan udah janji, gak bakalan mau balikan lagi sama perempuan gila itu. Gimana sih bapak ini!" gerutu Yuni.
Aku yang sedang menguping pembicaraan mereka pun, mulai sedikit curiga dengan bang Darma. Aku menatap tajam ke arah bang Darma, yang masih menempel kan ponsel di telinga nya.
Melihat tatapan mata ku, bang Darma pun mulai salah tingkah. Dia tampak gelisah di tempat duduk nya, sambil sesekali melirik ke arah ku.
"Ka-kau itu ngo-ngomong apa sih, Yun? Bapak gak ngerti maksud mu."
Bang Darma terlihat sangat gugup, dan terbata-bata menjawab pertanyaan anak nya. Keringat dingin pun mulai bermunculan di kening nya.
"Gak ngerti gimana sih, pak? Kan bapak sendiri yang merencanakan semua ini. Masa bapak lupa sih, aneh banget!" omel Yuni.
"Kan bapak sendiri yang bilang. Bapak akan berpura-pura mendekati perempuan gila itu, hanya untuk mengambil uang dan perhiasan nya aja."
"Kalo udah berhasil mendapatkan nya, bapak akan segera menceraikan nya, dan rujuk lagi sama mamak."
Jedeeerr...
Bagai kan di sambar petir di siang bolong, setelah mendengar penuturan Yuni, yang dengan santai nya menjelaskan, tentang rencana busuk mereka bertiga( bang Darma, Yuni, Dina).
__ADS_1
Dada ku langsung terasa sesak, setelah mengetahui kebenaran nya dari mulut Yuni. Bang Darma langsung reflek menoleh pada ku.
Dia tampak sangat terkejut dan wajah nya terlihat pucat pasi. Karena melihat ekspresi wajah ku yang sudah berubah menjadi zombie, yang siap menerkam dan menghisap darah nya.
Dengan gerakan cepat, bang Darma pun langsung menutup panggilan nya dengan Yuni, sambil berkata...
"Udah lah, kau ini lama-lama ngomong nya makin ngelantur aja!" ujar bang Darma kesal.
"Tapi, pak..."
Tut tut tut...
Panggilan pun langsung terputus secara sepihak. Setelah itu, bang Darma cepat-cepat menonaktifkan ponsel nya, dan meletakkan nya kembali ke tempat semula.
"Jangan salah sangka dulu, dek! Apa yang di katakan Yuni tadi, itu semua nya gak bener. Yuni hanya ingin memanas-manasi mu saja, dek." jelas bang Darma.
"CUKUP, BANG!"
Aku merentang telapak tangan ku di depan wajah bang Darma, dan aku juga membentak nya, dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
Mendengar suara ku yang melengking, bang Darma langsung terperanjat kaget, dan menggeser posisi duduk nya. Dia sedikit menjaga jarak dengan ku.
Prok prok prok...
"Sempurna sekali rencana kalian bertiga untuk menipu ku, ya! Hampir saja aku terperdaya oleh mulut busuk mu itu. Salut aku."
Aku bertepuk tangan sambil tersenyum sinis kepada bang Darma. Raut wajah nya tampak semakin kusut dan gusar, karena mendapatkan tatapan yang menusuk dari mata ku.
Bang Darma seakan-akan terlihat malu dan kebingungan, karena rencana yang sudah mereka siapkan untuk ku, kini hancur berantakan hanya karena mulut ember anak nya sendiri.
"Rencana apa sih, dek? Gak usah kau dengar kan ocehan Yuni tadi! Dia itu hanya ingin membuat mu marah, dan pergi meninggalkan abang." jelas bang Darma.
"Oh, ya?" cibir ku.
"Iya, dek. Tolong percaya sama abang, dek!" lanjut bang Darma.
"Aku gak akan semudah itu, percaya dengan orang-orang seperti kalian bertiga. Mulut kalian terlalu berbisa, dan itu bisa membahayakan ku nanti nya." balas ku.
"Jangan gitu lah, dek! Abang bener-bener masih mencintai mu, dan abang juga gak bisa jauh-jauh dari mu, sayang." ujar bang Darma.
__ADS_1
"Halah, modus!" balas ku ketus.