SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Bang Agus Curiga


__ADS_3

"Rendi, aku sakit, Ren! Sakiiit banget." jerit ku dalam hati.


Sedang asyik melamun sambil membersihkan area pribadi ku dengan tisu, bang Darma masuk kembali ke dalam kamar.


Tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun, dia langsung bergegas memakai semua pakaian nya. Kemudian dia berlalu pergi begitu saja dari kamar, dan berjalan keluar rumah,sambil membanting pintu utama dengan kuat.


Sehingga membuat ku terlonjak kaget, mendengar suara dentuman keras dari pintu tersebut.


"Dasar, laki-laki gila!" umpat ku kesal.


Setelah kepergian bang Darma, aku melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku kembali melangkah ke dalam kamar dan memakai pakaian ku kembali.


"Bang Agus apa kabar, ya?" gumam ku pelan.


Aku merebahkan diri di atas ranjang lalu mengaktifkan ponsel ku. Setelah aktif, ternyata banyak sekali pesan teks dan panggilan tak terjawab dari bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.


Aku membaca satu persatu pesan yang di kirim kan bang Agus pada ku. Dia tampak sangat khawatir dengan keadaan ku yang sedari kemarin jarang mengaktifkan ponsel.


"Lagi dimana, say? Kok rumah nya tutup terus, sih? Ada apa dengan mu, kenapa ponsel mu gak aktif-aktif, sayang?" dan bla-bla-bla...


Masih banyak lagi pertanyaan dari bang Agus yang belum aku baca. Karena merasa pusing dan lelah, aku pun meletakkan ponsel di atas dada dan mulai memejamkan mata.


Tak butuh waktu lama, aku langsung tertidur lelap dengan ponsel yang menempel di dada ku.


Setengah jam kemudian, aku tersentak kaget dan membuka mata secara tiba-tiba, karena mendengar dering ponsel yang sangat memekakkan telinga.


Dengan perasaan kesal, aku pun mengambil ponsel yang sedang berdering di atas dada ku. Lalu aku segera menerima panggilan tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Halo, siapa ini, hoam?" tanya ku.


Aku menempelkan ponsel di telinga sambil memeluk guling dan kembali menutup mata. Aku menguap berkali-kali karena masih sangat mengantuk dan lelah.


"Ini abang, say. Masa bisa lupa sih?" jawab bang Agus.


"Oh, botak tuyul rupa nya. Ada apa, bang?" tanya ku lagi.

__ADS_1


"Kok malah balik nanya? Seharusnya yang nanya itu abang bukan dirimu." jawab bang Agus sewot.


Aku kembali menguap dan menarik-narik rambut di bagian atas yang sedikit berdenyut nyeri, akibat terbangun secara tiba-tiba.


Sambil meringis kesakitan, aku pun kembali menjawab pertanyaan bang Agus si botak tuyul ku itu.


"Emang nya abang mau nanya apa an, hoam?" tanya ku.


"Dari tadi kok nguap-nguap terus sih, say? Emang nya lagi tidur ya?" tanya bang Agus.


"Iya." balas ku.


"Oh, maaf ya, say. Abang gak tau kalau dirimu lagi tidur. Hmmm, kira-kira abang mengganggu gak nih?" tanya bang Agus ragu.


"Iya," jawab ku jujur.


"Iiiisss, jahat kali sih dirimu, say. Tega bener bilangin abang mengganggu." jawab bang Agus kesal.


Karena sudah tidak tahan dengan sakit kepala yang semakin berdenyut, aku pun langsung bergegas bangkit dari ranjang. Lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, sambil terus memegangi ponsel yang masih menempel di telinga ku.


Setelah mengambil segelas air putih, aku kembali berjalan ke dalam kamar dan mengambil obat sakit kepala yang berada di dalam laci meja. Kemudian aku meminum obat itu dan duduk di sisi ranjang.


"Kepala ku lagi sakit, bang. Gara-gara terbangun tiba-tiba tadi." jelas ku.


"Apa karena nerima telpon dari abang ya, maka nya dirimu jadi sakit kepala gitu?" tanya bang Agus tidak enak hati pada ku.


Mendengar ucapan bang Agus yang seperti nya sedang merasa menyesal, karena sudah membuat ku menjadi sakit kepala, akhirnya aku pun mengalihkan pembicaraan dan menanyakan tentang hal lain kepada nya.


"Abang lagi dimana? Lagi di rumah atau di tempat kerja?" tanya ku.


"Di tempat kerja, say. Bentar lagi abang pulang. Emang nya kenapa, kangen ya sama abang?" tanya bang Agus.


"Gak lah, siapa juga yang kangen sama abang. Gak usah kegeeran jadi orang, hihihi." canda ku.


Aku terkikik geli sendiri sembari mengambil rokok dan menyalakan nya. Setelah beberapa kali menghisap rokok, aku menyandarkan punggung ku di bahu ranjang.

__ADS_1


Kemudian aku memijat-mijat kembali kepala ku yang semakin nyut-nyutan tidak karuan.


"Bah, ngeri kali jawaban nya, say. Makin hari kok makin menjadi-jadi aja kejam nya sama abang." jawab bang Agus.


Aku tidak menjawab kata-kata bang Agus. Aku masih tetap memijat-mijat kepala ku sendiri. Hingga membuat ku tidak fokus, dengan semua ucapan-ucapan yang di lontarkan bang Agus kepada ku.


Karena tidak mendengar jawaban ku, bang Agus pun kembali bertanya dengan nada heran dan bingung dengan sikap ku saat ini.


"Kok malah diam lagi, say? Sebenarnya dirimu itu kenapa sih? Hari ini sikap mu aneh gak kayak biasa nya." selidik bang Agus.


Aku langsung terpaku sejenak, setelah mendengar kan celotehan bang Agus, yang seakan-akan tahu dengan semua sikap dan tingkah laku ku.


"Andai saja kau tau betapa terluka nya hati ku saat ini, mungkin kau akan marah besar dengan suami ku itu, bang." batin ku pada bang Agus.


Dengan pandangan kosong dan mata yang sayu akibat sakit kepala, aku pun kembali membuka suara.


Aku berusaha menetralkan hati dan pikiran ku yang sedang acak adut ini, agar terdengar seperti biasa di telinga bang Agus.


Aku tidak mau bang Agus sampai curiga, atas apa yang sudah terjadi dengan ku hari ini. Aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah rumah tangga ku sendiri.


"Gak papa, bang. Itu cuma perasaan abang aja kali, aku baik-baik aja kok disini." balas ku dengan mata yang mulai berembun.


Dan pada akhirnya, air mata ku pun berhasil lolos jatuh membasahi kedua pipi ku. Aku menangis tanpa bersuara sedikit pun.


Aku juga berusaha semampu ku untuk bisa menahan tangisan ini, agar tidak mengeluarkan suara di telinga bang Agus.


Karena aku tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun, termasuk di depan selingkuhan ku yang satu ini.


Untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari bang Agus, aku pun berpura-pura kebelet dan ingin buang air besar ke kamar mandi.


"Bang, perut aku mules banget nih. Aku ke kamar mandi dulu ya. Nanti kita sambung lagi cerita nya oke, bye!" ujar ku.


"Tapi, say..."


Aku langsung menutup panggilan sepihak lalu menonaktifkan ponsel ku. Setelah itu, aku meletakkan ponsel itu di atas meja, dan kembali merebahkan diri di atas ranjang sembari bergumam...

__ADS_1


"Ya Allah, tolong ampuni dosa hamba mu yang hina ini. Tolong kuat kan jiwa dan raga ku agar aku bisa menghadapi segala ujian dari mu, ya Allah. Amin amin ya rabbal a'lamin."


Setelah selesai memanjatkan doa, aku mulai memejamkan mata kembali. Dan tak lama kemudian, aku pun langsung tertidur pulas dengan air mata yang masih mengalir di kedua pipi ku.


__ADS_2