SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Perang Lagi


__ADS_3

"Apakah benar, yang di katakan ibuk mu itu, YUN?" bentak bang Darma.


Yuni langsung menunduk ketakutan, mendengar bentakan bapak nya, yang cukup memekakkan telinga tersebut.


Raut wajah nya, tampak kepanikan. Sedangkan aku, hanya tersenyum miring, melihat reaksi Yuni itu. Karena tidak ada jawaban dari Yuni, bang darma pun kembali bertanya kepada, anak semata wayangnya itu.


"Jawab, YUN! Kenapa kau diam aja, hah?" bentak bang Darma lagi.


Yuni terlonjak kaget, dia langsung mendongak kan kepala nya. Menatap bang Darma yang sedang berdiri, tepat di hadapan itu.


"Ga-gak, pa-pak. I-itu se-semua gak bener, pak." jawab Yuni.


Yuni menjawab dengan terbata-bata. Dia terlihat sangat gugup sekaligus cemas, menghadapi kemarahan bapak nya tersebut.


Bang yang mendengar jawaban Yuni pun, langsung bernafas lega. Dan mendudukkan diri nya kembali, di samping ku.


Setelah melihat respon bapak nya, yang sudah tampak tenang. Yuni malah berbalik menyerang ku, dengan suara lantang nya.


"Ibuk gak usah sok tau-tauan, tentang hidup ku! Jangan sembarangan menuduh, yang tidak-tidak! Mana buktinya, kalau aku pernah tidur dengan laki-laki, hah!" ucap Yuni.


"Ibuk juga gak usah terlalu ikut campur, urusan pribadi ku! Emang nya ibuk siapa, sudah berani mengatur, dan mengendalikan hidup ku?" tambah Yuni.


Yuni berucap, sambil menatap sinis kepada ku. Dia memberikan ku tantangan, untuk membuktikan ucapan ku tersebut. Dan dia juga memperingatkan ku, agar tidak mencampuri hidup nya.


"Jaga ucapan mu, YUN! Kau tidak boleh bicara kasar seperti itu, kepada ibuk mu!" bentak bang Darma.


"Emang nya kenapa sih, pak? Dia itu kan, bukan siapa-siapa ku. Untuk apa, aku harus bersikap baik dengan nya?" balas Yuni.


Yuni menjawab, sambil menunjuk ke arah ku. Dia merasa tidak terima, dengan kata-kata bapak nya tersebut.


Aku yang mendengar perdebatan mereka pun, tidak tinggal diam. Aku kembali membuka suara, dengan santai dan tenang.


"Oh, jadi selama ini kau belum tau ya, siapa aku yang sebenarnya?" tanya ku.


"Kalo iya, emang nya kenapa, hah?" tantang Yuni.


"Kalau kau mau tau, siapa aku. Dan apa status ku, di rumah ini. Kau bisa tanya kan, pada bapak mu sendiri!" balas ku.


"Biar bapak mu yang menjawab, semua pertanyaan mu itu!" tambah ku.

__ADS_1


Yuni menoleh kepada bang Darma. Dia meminta penjelasan, kepada bapak nya itu, dari tatapan mata nya.


Bang Darma langsung membuang nafas kasar. Kemudian, dia mulai menjelaskan sampai sedetail-detailnya, kepada anak nya tersebut.


"Kau dengar baik-baik ya, Yun. Kau itu tidak boleh bersikap seperti itu, pada ibuk mu. Dia itu istri bapak, ibuk sambung mu, paham!" jelas bang Darma.


"Jadi, kau juga harus menghormati nya. Seperti kau menghormati, orang tua mu sendiri."


"Apa kau lupa, gimana sikap ibuk mu ini. Sebelum kau menjual, semua emas pemberian nya itu, hah?" tanya bang Darma.


"Apa kau tidak ingat, ibuk mu ini sering membelikan mu pakaian, dan juga memberikan mu uang jajan?"


"Apa kau juga lupa, kalau ibuk mu ini sampai rela menabung. Mengumpulkan sedikit demi sedikit, uang dari hasil jualan nya. Hanya demi membelikan mu, perhiasan?" tambah bang Darma.


Yuni hanya tertunduk, mendengar celotehan bapak nya. Dia sama sekali tidak bersuara, atau pun menjawab, semua ucapan bapak nya tersebut.


Melihat Yuni menundukkan kepalanya, bang Darma pun kembali berceloteh ria, di depan anak kandung nya itu.


"Kau itu seharusnya mikir, Yun! Kau selalu bersikap kasar, kepada orang yang selama ini selalu berbuat baik, dengan mu."


"Jangan yang kau pandang, hanya kesalahan dan keburukan nya saja, Yun! Tapi, kau juga harus mengingat, semua kebaikan nya selama ini pada mu, Yun!"


"Tapi, ibuk sudah menuduh ku yang tidak-tidak tadi, pak! Ibuk juga sudah terlalu mencampuri, urusan pribadi ku." ucap Yuni.


Setelah menjawab ucapan bapak nya, Yuni beralih menatap ku. Dia melontarkan berbagai macam pertanyaan, untuk ku.


"Dan, untuk ibuk! Apa bisa, ibuk memberikan bukti atas tuduhan ibuk tadi?" tanya Yuni.


"Kalau memang tuduhan ibuk itu benar, mana buktinya?Jangan bisa nya, cuma ngomong doang! Ibuk sudah memfitnah ku, karena sudah menuduh ku tanpa bukti!" tegas Yuni.


"Oh, jadi kau perlu bukti, ya?" tanya ku santai.


"Ya iya lah! Enak aja, ibuk berani nuduh-nuduh aku kayak gitu." balas Yuni cuek.


Yuni menatap tajam padaku. Sedangkan bang Darma, dia juga ikut-ikutan menoleh pada ku. Bang Darma seolah-olah meminta jawaban, dari tatapan mata nya tersebut.


"Apakah, abang juga meminta ku, untuk membuktikan ucapan ku tadi?" tanya ku pada bang Darma.


Bang Darma hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan ku barusan. Aku langsung mengerutkan kening, melihat respon bang Darma seperti itu.

__ADS_1


"Anak sama bapak ini, oon nya kok bisa berjamaah gini, ya? Seharusnya, mereka berdua kan bisa mikir. Gak mungkin, aku harus memeriksa area sensitif Yuni. Untuk membuktikan, dia masih virgin atau tidak!" batin ku.


"Oke lah, kalo gitu. Kalau memang kalian berdua ingin bukti, aku akan buktikan sekarang!" balas ku.


"Sekarang kau berdiri, Yun! perintah ku.


"Hah, emang nya ibuk mau ngapain, nyuruh aku berdiri segala?" tanya Yuni.


Yuni terkejut mendengar perintah ku itu. Dia sampai bingung, dan sangat penasaran. Apa yang bakalan aku lakukan, pada nya.


"Gak usah banyak bacot. Cepat, berdiri sekarang!" balas ku tegas.


Yuni pun menurut, dan langsung berdiri dari tempat duduk nya. Setelah melihat Yuni berdiri, aku pun kembali memberikan perintah, pada nya.


"Buka celana mu, sekarang!" perintah ku lagi.


"APA?"


Bang Darma dan Yuni, langsung terpekik secara berjamaah. Mereka berdua sangat terkejut, mendengar ide gila ku itu.


"Kau sudah gila ya, dek?" tanya bang Darma.


"Ya, aku memang sudah gila. Aku gila, karena ulah anak dan mantan mu itu!" jawab ku.


Yuni langsung berontak, dan menjawab ucapan ku barusan. Dia juga tidak terima, kalau aku menyalahkan, dia dan ibu nya itu.


"Maksud ibuk, apa? Berani-beraninya, ibuk ngata-ngatain mamak ku!" tanya Yuni.


"Siapa, yang ngata-ngatain?" tanya ku.


"Ya, ibuk lah! Emang nya siapa lagi, kalau bukan ibuk?" balas Yuni.


Bang Darma hanya bisa terbengong, tanpa mengeluarkan suara. Melihat perdebatan ku, dengan anak nya itu.


Setelah beberapa menit menonton perang dunia, antara istri dan anak nya. Bang Darma pun kembali angkat bicara, untuk meredakan emosi, aku dan Yuni.


"Udah, jangan ribut-ribut lagi! Kalian berdua ini, kayak kucing sama anji*g aja." bentak bang Darma.


"Dan kau, Yun. Lebih baik, kau pulang sekarang!" perintah bang Darma.

__ADS_1


"Tapi, pak..."


"Gak ada tapi-tapian, lagi. Sekarang kau, PULANG!" pekik bang Darma.


__ADS_2