
* Kembali ke Ayu *
Setelah tertidur selama beberapa jam, aku terbangun secara tiba-tiba karena mendengar suara gedoran pintu yang sangat kuat.
"Hadeehh, hantu mana lagi sih yang gentayangan siang-siang bolong gini? Gedor-gedor rumah orang seenak jidat nya pulak tu?" gerutu ku kesal sembari mengucek-ngucek mata.
"Eh, tunggu dulu! Emang nya kalo hantu mau masuk ke rumah orang, gedor-gedor pintu dulu ya?" gumam ku bingung.
Aku berceloteh sendiri sembari menguap, dan celingukan kesana sini mencari keberadaan bang Darma.
"Lah, kemana pulak minggat nya setan satu itu?" gumam ku lagi.
Dengan pandangan yang masih kunang-kunang, aku segera beranjak dari ranjang lalu memakai sarung untuk menutupi tubuh polos ku.
Setelah itu, aku mulai berjalan dengan langkah sempoyongan menuju pintu utama. Setelah pintu terbuka lebar, Dina langsung nyelonong masuk dan melewati ku begitu saja, tanpa permisi atau berkata apa pun pada ku.
"Heh, hantu! Mau ngapain kau kesini, hah? Main nyelonong gitu aja masuk ke rumah orang, udah kayak maling aja lama-lama ku tengok tingkah mu itu." omel ku kesal.
Bukan menjawab atau pun menoleh pada ku, Dina malah semakin berani masuk ke dalam kamar pribadi ku dan bang Darma. Dia terlihat panik dan gelisah, seperti sedang mencari sesuatu di dalam kamar ku.
"Woy, setan! Pekak kuping mu ya? Gak sopan kali kau sembarangan masuk ke kamar orang. Apa mau minta ku siram air panas muka mu itu, hah?" pekik ku mulai tersulut emosi.
Aku mengikuti langkah Dina sampai ke kamar, sambil terus mengomel tiada henti.
Sampai di kamar, Dina langsung melongo saat melihat keadaan ranjang yang sedang berantakan seperti kapal pecah, akibat pergumulan ku dengan bang Darma tadi.
"Mana Darma?" tanya Dina.
"Mana ku tau, kau tanya aja sama mbah google." jawab ku asal.
Wajah Dina yang tadi nya sudah jelek, kini semakin bertambah jelek karena mendengar jawaban ku. Dia terlihat marah dan emosi karena tidak menemukan bang Darma.
"Dasar, perempuan sinting! Di tanya baik-baik, malah nyolot pulak." umpat Dina kesal.
"Hellooo, siapa yang nyolot? Perasaan situ aja kalee." cibir ku.
__ADS_1
"Hufff, memang susah ya kalau ngomong sama orang gak waras kayak kau ini, gak pernah nyambung." gerutu Dina sembari membuang nafas kasar.
"Hahahaha, udah tau gitu pun masih aja kau mau ngomong sama aku." gelak ku.
Dina tampak semakin kesal dan geram melihat tingkah ku yang terus saja meledek nya. Setelah lelah mentertawai Dina musuh bebuyutan ku itu, aku pun kembali mempertanyakan maksud kedatangan nya.
"Kau itu sebenarnya mau ngapain kesini, hah? Ada perlu apa kau sama suami gila ku itu?" tanya ku ketus sembari melipat kedua tangan di atas perut.
"Yuni kabur lagi dari rumah, sewaktu ku tinggal mandi. Aku yakin, pasti Darma yang membawa nya pergi." tuduh Dina.
"Whaaaattt? Kabur?"
Pekik ku pura-pura terkejut dengan mata yang terbelalak lebar, sambil menutup mulut dengan telapak tangan ku.
"Biasa aja lah muka mu itu, kayak orang kebakaran jenggot aja." cibir Dina.
"Oh, gitu ya. Ya udah deh, aku pasang muka santai aja, hihihi." ledek ku sembari cekikikan.
Aku terus meladeni Dina dengan candaan-candaan receh ku. Agar dia semakin emosi dan mencak-mencak seperti belatung nangka.
"Heh, perempuan gila. Dimana kau sembunyikan Darma, hah?" tanya Dina sembari berkacak pinggang di hadapan ku.
"Kurang ajar, berani kali kau bilangin anak ku gatal, hah! Mau minta di tabok pake sandal ya muncung mu itu." omel Dina.
"Coba aja kalo berani!" tantang ku.
Wajah Dina langsung memerah seperti tomat busuk, saat mendengar tantangan ku. Dia terlihat semakin murka, lalu melayangkan telapak tangan nya ke pipi ku.
Tapi, sebelum telapak tangan Dina sampai ke pipi ku, aku pun segera bertindak cepat. Aku menangkis nya lalu menghempaskan tangan nya dengan kasar, dan...
Plak plak plak...
Tiga cap tangan mendarat indah di pipi kanan dan kiri Dina. Aku memberikan pelajaran bertubi-tubi, kepada perempuan tidak tahu diri tersebut.
"Aaaaggghh, dasar perempuan luknut! Berani-beraninya kau memukul ku seperti itu. Awas kau, ya!" pekik Dina.
__ADS_1
Dina ingin membalas perbuatan ku dengan menarik rambut ku, tapi itu tidak dapat dia lakukan, karena aku langsung mengelak dan mendorong tubuh nya dengan sekuat tenaga. Hingga membuat nya terjatuh dan terduduk di lantai.
"Jangan coba-coba menyentuh ku dengan tangan kotor mu itu. Atau kalau tidak, aku akan menghajar mu habis-habisan disini, PAHAM!" ancam ku dengan suara menggelegar.
Aku membelalakkan mata dan memasang wajah sehoror mungkin di depan Dina. Aku ingin menakut-nakuti nya, agar dia tidak berani macam-macam lagi dengan ku, dan tidak memandang enteng tenaga ku.
"Coba aja kalau kau berani! Aku tau, kau itu sebenarnya hanya menggertak ku saja. Biar aku takut, trus kau bisa semena-mena dengan ku, iya kan?" oceh Dina.
"Oh, jadi kau mau bukti?" tanya ku dengan senyum menyeringai.
"I-iya," jawab Dina gugup dengan raut wajah sedikit ketakutan.
Melihat gelagat Dina yang mulai gelisah dan ketakutan melihat wajah horor ku, aku pun memanfaatkan keadaan itu dengan menggertak nya kembali.
Aku membungkuk kan badan dan mendekatkan wajah ku pada nya. Aku mencengkram kuat dagu Dina sembari berkata...
"Heh, perempuan gak tau diri. Kau dengar baik-baik ucapan ku ini ya! Anak mu dan suamiku itu udah gak bisa di pisahkan lagi."
"Jadi percuma aja kau buang-buang waktu dan tenaga mu, hanya untuk mengurus dua manusia luknut itu. Mendingan kau nikah kan aja mereka berdua, biar mereka senang." oceh ku panjang lebar.
"Kalau mereka berdua menikah, trus tinggal di rumah mu, kan ada untung nya juga buat mu. Kau juga bisa meminta Darma untuk melayani mu. Bahkan kalian juga bisa main tiga sekalian, hahahaha."
Lanjut ku sembari tertawa ngakak, lalu melepaskan dagu Dina dengan kasar. Mendengar tawa ku yang melengking, Dina langsung bangkit dari lantai, lalu berdiri tegak di hadapan ku dengan tatapan sinis nya.
"Gila kau, ya? Mana mungkin aku main tiga dengan anak ku sendiri." umpat Dina sembari mendorong tubuh ku hingga membentur pintu kamar.
"Ya, siapa tau aja kau mau melakukan nya. Kan enak tuh dua lawan satu, hahaha." balas ku kembali tertawa ngakak.
"Awas kau ya, tunggu aja pembalasan ku!" ancam Dina.
"Halah, kau itu udah kayak mak lampir aja lama-lama ku tengok. Mak lampir kan kalau udah kalah pasti gitu ngomong nya. Tunggu pembalasan ku, hihihi..."
Ledek ku sembari menirukan suara mak lampir di depan Dina.
Karena merasa kesal dan geram dengan celotehan receh ku, akhirnya Dina pun mengalah dan pergi meninggalkan ku begitu saja.
__ADS_1
Dina membanting pintu dengan kuat, hingga membuat dinding kamar sedikit bergetar. Aku hanya tersenyum miring dan menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah aneh mantan istri suamiku tersebut.
"Hufff, akhirnya selesai juga melawan belatung nangka satu itu." gumam ku lega sembari menghela nafas lega.