SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Di Hotel


__ADS_3

Setelah kepergian Nur, aku kembali rebahan di atas sofa panjang. Sambil meneruskan hayalan dan lamunan, yang sempat tertunda tadi.


Karena keasyikan melamun, lama kelamaan mata ku pun mulai terasa berat. Tak butuh waktu lama, akhirnya mata ku berhasil menutup dengan sempurna.


Baru saja setengah jam terlelap di sofa, aku pun langsung tersentak karena mendengar suara deringan ponsel yang berada di atas meja.


Kring kring kring...


"Hadeh, siapa lagi, siiih! Gak bisa lihat orang tenang sebentar, apa? Mau istirahat aja pun, susah kali. Ada aja yang ganggu, huh!"


Aku menggerutu kesal, sambil merentangkan tangan untuk meraih ponsel, yang sedang berdering tersebut.


"Ck, ini si botak tuyul ngapain lagi, sih! Ganggu ketenangan ku aja, kerjaan nya."


Aku kembali menggerutu, setelah melihat nama "BOTAK TUYUL GILAK" yang tertera di layar ponsel ku itu. Dengan malas, aku pun menerima panggilan dari kekasih gelap ku tersebut.


"Ya, halo! Ada apa lagi sih, botaaak? Emang nya gak bosan ya, gangguin aku terus?" omel ku.


"Kok malah nanya sih, say!" balas bang Agus bingung.


"Lah, emang nya ada apa, sih?" tanya ku heran.


"Ya, ampuuun! Wanita ku ini sekarang sudah pikun, ternyata." jawab bang Agus kesal.


Mendengar kata pikun, aku langsung naik pitam. Emosi ku pun memuncak sampai ke ubun-ubun.


"Eh, botak. Muncung mu itu jangan asal nyerocos aja, kalo ngomong! Enak aja bilangin orang pikun, mau minta di tabok pake sandal, ya?" omel ku.


"Widiih! Makin hari, makin kejam aja wanita ku ini. Lagi dapet ya, say?" tanya bang Agus.


"Ya, lagi dapet masalah." jawab ku ketus.


"Ada masalah apa lagi sih,sayang ku? Perasaan, masalah kalian itu kok gak siap-siap sih, dari zaman baholak dulu!" tanya bang Agus.


"Masalah duo lalat ijo itu lah, bang. Kan cuma mereka berdua aja, yang selalu cari-cari masalah dengan kami!" jelas ku.


"Oh, emang nya mereka buat masalah apa lagi, say?" tanya bang Agus mulai kepo.


"Yuni minta di belikan motor, sama bang Darma. Trus, karena bang Darma gak ada uang, dia nyuruh aku untuk menjual semua perhiasan ku." jelas ku lagi.


"Loh, apa hubungannya sama perhiasan mu, say? Anak nya yang minta belikan motor, kok malah perhiasan mu yang mau di jual?" tanya Agus.


Bang Agus mulai bingung, untuk mencerna masalah yang sedang aku hadapi itu. Dia menjadi semakin penasaran, dengan kata-kata ku tersebut.

__ADS_1


"Itu lah sekarang yang jadi masalah nya, bang. Bang Darma dari semalam diemin aku. Gara-gara, aku gak ngasi perhiasan ku itu!" lanjut ku.


"Kok jadi aneh gitu sih, sikap suami mu itu, say? Dia sendiri, yang mau belikan anak nya motor. Tapi, kok harus mengorbankan istri nya pulak. Itu yang bikin aku heran, say!" balas bang Agus.


"Jangan kan abang, aku sendiri pun juga heran kok." balas ku


"Ya udah lah, say. Gak usah di pikirkan lagi, masalah itu. Sekarang, kita keluar, yok! ajak bang Agus.


"Kemana?" tanya ku bingung.


"Ya ke hotel lah, sayang ku! Emang mau kemana lagi, kalo bukan ke hotel?" tanya bang Agus.


Aku langsung terdiam sejenak, mendengar permintaan bang Agus barusan. Setelah beberapa saat berpikir, akhir nya aku memutuskan untuk memenuhi permintaan nya tersebut.


"Apa, aku turuti aja ya keinginan nya itu? Biar jernih dikit, isi kepala ku ini. Lagian, bang Darma juga sudah lama, tidak menyentuh ku." batin ku.


"Oke lah, bang. Abang tunggu di taman, ya! Bentar lagi aku nyusul, naik ojek." jawab ku.


"Oke, say. Abang berangkat sekarang, ya!" balas bang Agus.


"Iya, tunggu aja di sana! Ntar lagi, aku pasti nyampe kok." balas ku.


Aku langsung memutuskan panggilan dari bang Agus, dan bergegas menutup kios. Setelah itu, aku segera berganti pakaian dan memoles sedikit wajah ku.


Setelah semua selesai, aku langsung melangkah keluar dan mengunci pintu rumah. Lalu, berjalan ke arah pangkalan ojek, dan langsung berlalu menuju taman kota.


Setelah tukang ojek itu pergi, dari hadapan ku. Aku mulai celingukan kesana kemari, mencari sosok bang Agus di tengah keramaian taman tersebut.


"Si botak ini, nunggu nya dimana, sih! Dari tadi kok belom kelihatan, batang hidung nya?" gumam ku.


Aku menggerutu kesal, sambil terus memperhatikan di sekeliling ku. Lima menit kemudian, bang Agus pun muncul dan berhenti tepat di depan ku.


"Ayok, say!" ajak bang Agus.


Aku segera naik ke atas motor bang Agus, dengan raut wajah cemberut, dan bibir yang manyun ke depan.


"Hehehe, kenapa muka nya berubah jadi zombie gitu sih, say? Abang jadi serem lihat nya, tau!" canda bang Agus.


"Udah, gak usah banyak bacot lagi, cepat jalan! Takut nya nanti, ada orang yang kenal dengan kita." balas ku ketus.


"Oke, say."


Bang Agus pun mulai melajukan motor nya, menuju hotel terdekat. Sampai di depan hotel, kami berdua langsung bergegas masuk ke dalam, dan memesan kamar pada resepsionis hotel tersebut.

__ADS_1


"Ada kamar kosong, mas?" tanya bang Agus.


"Ada, bang. Tunggu sebentar ya, bang!" jawab resepsionis laki-laki tersebut.


"Oke" jawab bang Agus singkat.


Tak lama kemudian, resepsionis itu pun menyerahkan kunci kepada bang Agus. Sedang kan aku, hanya berdiam diri di belakang bang Agus, sambil memakai masker, untuk menutupi sebagian wajah ku.


"Ini kunci nya, bang. Kamar no 15 di lantai dua ya, bang!" ucap resepsionis.


"Oke, mas." balas bang Agus.


Setelah mendapatkan kunci, bang Agus langsung menggenggam tangan ku, dan mengajak ku untuk naik ke lantai dua.


"Ayok, say!" ucap bang Agus.


"Iya," balas ku.


Kami berdua mulai berjalan beriringan menuju ke lantai dua sambil bergandengan tangan. Setelah menapaki beberapa anak tangga, kami langsung celingak-celinguk mencari kamar no 15 tersebut.


"Itu kamar nya, say. Ayok, kita kesana!"


Bang Agus menunjuk satu kamar, yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, kembali berjalan menuju kamar tersebut.


Sampai di depan kamar, bang Agus segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam. Aku pun turut mengikuti langkah nya, dari belakang.


Setelah mengunci pintu, bang Agus langsung menyergap tubuh ku. Dia memeluk ku dengan sangat erat, dan mengangkat tubuh ku ala bridal style ke atas ranjang. Lalu, bang Agus membaringkan tubuh ku, dengan sangat hati-hati.


"Abang kangen banget dengan mu, say." ucap bang Agus.


Dia menyibakkan anak rambut ku, yang menutupi sebagian wajah ku. Kemudian, dia mulai menciumi wajah, bibir, serta leher ku.


"Kita mulai sekarang ya, say. Abang udah gak tahan lagi nih!" rengek bang Agus.


Bang Agus merengek manja di telinga ku dengan mata sayu dan nafas yang memburu. Raut wajah nya, tampak sudah di selimuti oleh gairah nya sendiri, yang sudah tidak terkendali tersebut.


"Iya, bang." jawab ku


Aku hanya pasrah, menerima segala macam perbuatan bang Agus. Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus langsung melancarkan aksinya. Dan akhirnya, permainan panas nan nikmat itu pun terjadi, di atas ranjang hotel tersebut.


Bang Agus sangat memanjakan tubuh ku. Dia begitu lihai dan perkasa, mengendalikan permainan. Sekitar kurang lebih satu jam, bang Agus berpacu di atas tubuh ku. Dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.


Tak lama kemudian, kami berdua pun terbaring lemas, dengan nafas yang ngos-ngosan, akibat kelelahan.

__ADS_1


"Makasih ya, sayang."


Bang Agus mengecup kening ku dengan mesra. Dan kembali membaringkan tubuh nya, di samping ku. Aku hanya mengangguk, menanggapi ucapan nya tersebut.


__ADS_2