SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Keluar dengan si Botak


__ADS_3

"Ck, kok bahas mereka lagi sih! Bikin mood ku rusak aja." gerutu bang Darma.


"Huuuuu, dasar biawak kepala dua. Kalau di depan ku, sok-sokan kau jelek-jelekin mereka. Coba kalau di belakang ku, pasti aku yang kau jelek-jelekin, ya kan?" oceh ku.


"Gak lah, aku gak pernah kok jelek-jelekin kau di depan siapa pun. Kau itu kan masih istri ku, gak mungkin lah aku menghina mu atau pun menjelekkan mu di depan orang lain." jelas bang Darma.


Aku tersenyum miring menanggapi ucapan bang Darma. Aku sama sekali tidak percaya, atas semua kata-kata yang keluar dari mulut berbisa nya.


"Ya lah, sukak mu lah situ." balas ku sembari memutar bola mata malas.


Aku dan bang Darma terdiam sejenak, kami sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Setelah saling berdiam diri selama beberapa menit, bang Darma pun kembali bersuara.


"Jadi gimana, dek? Boleh gak abang minjam uang mu buat pegangan?" tanya bang Darma.


"Kalo ku bilang enggak ya enggak, budeg kuping mu ya!" jawab ku ketus.


"Ya udah lah kalo gak boleh minjam. Aku minta seratus ribu aja buat beli makanan, perut ku laper banget nih." ujar bang Darma masih tetap kekeuh meminta uang ku.


"Hadehh, ini orang kok gak ada malu nya sama sekali. Udah di tolak pun masih aja ngemis-ngemis." batin ku mulai kesal.


Karena sudah capek berdebat dengan bang Darma, akhirnya aku pun memberikan uang seratus ribu kepada nya, sembari berucap...


"Nah, ini uang haram ku. Makan lah sama kau situ. Sekarang, cepat pergi dari sini. Aku udah muak lihat muka jelek mu itu!" usir ku.


Aku mencampakkan uang itu ke wajah bang Darma, lalu membaringkan tubuh ku kembali di atas ranjang.


"Kok gitu sih cara ngasih nya, dek? Gak sopan banget." gerutu bang Darma menatap sinis pada ku.


"Udah, gak usah banyak bacot. Masih syukur aku mau ngasih. Kalau kau gak mau, ya udah. Sini, balikin uang nya!" jawab ku sembari menadahkan tangan pada nya.


"Gak mau, enak aja minta di balikin. Udah di kasih kok mau di minta lagi, aneh." balas bang Darma ketus.


"Maka nya gak usah nyerocos terus muncung mu itu, bosan aku denger nya."


"Gimana gak nyerocos coba, kalau cara ngasih nya di campakkan gitu?" omel bang Darma kesal.


"Udah ah, minggat sana! Ngapain juga masih nonggok di situ? Bikin sakit mata ku aja." cibir ku sedikit meninggi.


"Ya udah lah, dari pada gak ada. Ini pun jadi lah. Lumayan, buat makan hari ini." gumam bang Darma.

__ADS_1


Setelah melewati percekcokan yang cukup menguras emosi, akhirnya bang Darma pun keluar dari kamar dengan wajah kusut nya.


Tak lama kemudian, terdengar suara bang Darma membanting pintu utama dengan cukup kuat. Hingga mengeluarkan dentuman yang cukup memekakkan telinga.


"Dasar, gila!" umpat ku.


Setelah kepergian bang Darma, aku kembali duduk di tepi ranjang lalu menyalakan rokok. Sambil menghisap rokok, aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, dan mulai mengotak-atik nya.


Sedangkan asyik bermedia sosial, tiba-tiba ponsel yang ada di tangan ku itu pun berdering nyaring.


Kring kring kring...


Aku menghela nafas panjang, saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.


"Halah, botak tuyul maneh. Ini orang ngapain sih telpan-telpon terus? Kayak gak ada kerjaan lain aja." gerutu ku kesal.


Dengan gerakan malas, aku pun mulai menerima panggilan dari selingkuhan lima langkah ku tersebut.


"Ya, ada apa?" tanya ku langsung to do point.


"Kalau nerima telpon itu, harus ngucapin salam dulu, say. Jangan langsung marah-marah gitu!" oceh bang Agus.


"Iya iya, bawel banget sih. Assalamualaikum, botak ku yang paling guanteng sejagat raya." ujar ku.


"Edan," umpat ku lagi.


"Loh, kok edan sih, say? Kan bener sih, apa yang abang bilang tadi?" protes bang Agus.


"Ya ya ya, terserah abang lah situ." balas ku mulai kesal.


"Hahahaha, ngambek niyeee!" ledek bang Agus.


"Udah ah, gak usah bercanda terus! Ada perlu apa abang nelpon aku, hah?" tanya ku sewot.


"Gak ada apa-apa, sayang. Abang cuma kangen aja. Kita keluar, yok! Abang pengen peluk dirimu." jawab bang Agus.


"Emang abang udah pulang kerja ya?" tanya ku.


"Udah, ini abang udah di parkiran mau pulang ke rumah. Jadi gimana? Bisa gak kita ketemuan, biar abang langsung berangkat ke hotel?" tanya bang Agus lagi.

__ADS_1


Aku terdiam sesaat, aku bingung harus menerima tawaran bang Agus atau tidak. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun menyetujui ajakan bang Agus.


"Dari pada boring sendirian di rumah, mendingan aku happy-happy aja sama si botak tuyul." batin ku sembari manggut-manggut.


"Oke, abang duluan aja. Aku siap-siap dulu." balas ku.


"Ya udah kalo gitu, abang kesana sekarang ya. Nanti abang kirim kan nomor kamar nya." ujar bang Agus menutup panggilan nya.


"Ya," balas ku singkat.


Setelah panggilan terputus, aku pun mulai mempersiapkan segala keperluan untuk menginap di hotel nanti. Setelah selesai, aku keluar dari kamar dan berjalan dengan langkah cepat menuju pintu utama.


Sesudah mengunci pintu, aku segera naik ke atas motor dan melajukan nya menuju hotel. Tak butuh waktu lama, aku pun sudah tiba di depan gedung hotel, tempat biasa kami menginap.


Selesai memarkirkan motor, aku segera merogoh tas untuk mengambil ponsel. Setelah mendapatkan nya, aku segera melihat pesan yang di kirimkan oleh bang Agus.


"Kamar nomor 17 lantai dasar ya, say." pesan bang Agus.


"Oke," balas ku.


Aku menyimpan ponsel kembali, lalu melangkah masuk ke dalam gedung hotel tersebut. Setelah melewati beberapa kamar, akhirnya aku pun tiba di depan kamar nomor 17.


Tok tok tok...


Aku mengetuk-ngetuk pintu tanpa mengeluarkan suara. Setelah beberapa kali ketukan, akhirnya pintu pun terbuka lebar. Mata ku langsung terbelalak, saat melihat tubuh bang Agus yang masih basah, dan handuk yang melilit di pinggang nya.


"Loh, abang baru siap mandi ya?" tanya ku sembari melangkah masuk ke dalam kamar.


"Iya, badan abang gerah banget tadi. Maka nya abang langsung mandi aja biar segar." jawab bang Agus lalu menutup dan mengunci pintu kembali.


Aku meletakkan tas di atas nakas, lalu mendudukkan diri di pinggir ranjang. Saat hendak menyalakan rokok, tiba-tiba bang Agus melepaskan handuk nya dan berjalan mendekati ku.


"Nanti aja merokok nya, say. Abang mau minta jatah dulu."


Ujar bang Agus sembari berdiri di depan ku, dan mengarahkan milik nya yang sudah berdiri tegak itu ke mulut ku.


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan nya. Setelah itu, aku pun mulai memakan es krim lezat, yang ada di depan ku itu dengan sangat lahap. Hingga membuat bang gelisah tidak karuan, akibat perbuatan ku tersebut.


Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya bang Agus pun memuncak dan mengeluarkan lahar hangat nya di dalam mulut ku.

__ADS_1


"Abang keluar, say!" pekik bang Agus.


Aku langsung menghentikan kegiatan ku, dan menelan habis pemberian bang Agus tersebut. Setelah membersihkan sisa-sisa lahar nya sampai bersih tak bersisa, kini saat nya giliran bang Agus yang memanjakan milik ku.


__ADS_2