
Setelah permainan panas selesai, bang Agus membaringkan tubuh nya di samping ku. Nafas nya masih terlihat ngos-ngosan, akibat kegiatan yang menguras keringat tadi.
Begitu juga dengan ku, aku berbaring telentang dengan nafas, yang juga masih ngos-ngosan tidak karuan.
Setelah beberapa saat, menetralkan nafas dan tenaga. Aku memiringkan tubuh, dan menopang kepala dengan tangan, untuk menghadap bang Agus.
"Jadi gimana menurut, abang? Tentang masalah ku, dengan bang Darma itu?" tanya ku.
"Masalah emas mu, yang mau di jual itu ya, say?" tanya bang Agus balik.
"Iya," balas ku
Aku kembali membaringkan tubuh ku, sambil menghela nafas berat. Walau pun sudah di beri kenikmatan, oleh bang Agus. Pikiran ku tetap saja masih keruh dan kacau, karena mengingat pertengkaran ku, dengan bang Darma semalam.
"Kalau menurut abang sih, jangan di kasi lah, say! Biar suami mu itu cari uang sendiri, untuk memenuhi keinginan anak nya itu." balas bang Agus.
"Mau nya sih gitu, bang. Tapi, bang Darma jadi diemin aku terus sejak semalam, gara-gara masalah itu!" jawab ku.
"Biarin aja, dia diemin dirimu! Kan masih ada abang, yang akan selalu menghibur mu, say." balas bang Agus.
"Iya, tapi kan beda sih, bang. Tetap aja, aku merasa seperti tidak di anggap, di rumah itu!" jawab ku.
"Ya udah, nanti kita cari solusinya, ya. Sekarang, kita main sekali lagi, yok! Abang masih pengen nih, say." pinta bang Agus.
Bang Agus kembali meminta jatah pada ku. Dan aku, hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah mendapat kan persetujuan dari ku, bang Agus pun kembali menyerang tubuh ku, dengan berbagai gaya dan posisi.
"Kau memang lelaki perkasa, bang. Kau mampu membuat ku merasakan kepuasan, yang selama ini tidak pernah aku dapatkan, dari suami ku itu." batin ku.
Aku berucap dalam hati, sambil memandangi wajah bang Agus, yang sedang berpacu dengan cepat di atas tubuh ku tersebut. Aku tersenyum bahagia, dan kembali memejamkan mata.
Aku mulai menghayati dan menikmati, semua sentuhan yang di berikan, oleh selingkuhan lima langkah ku itu.
Setengah jam kemudian, bang Agus kembali menjatuhkan diri nya di atas tubuh ku. Dia tampak sangat kelelahan, dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh nya.
__ADS_1
"Udah puas belum, say? Kalau belum, biar abang gempur lagi, nih?" tanya bang Agus.
Aku terdiam sejenak, mendengar tawaran bang Agus barusan. Di satu sisi, aku masih ingin merasakan permainan itu. Tapi di sisi lain, aku malu meminta nya lagi. Dan akhirnya, aku pun kembali mengangguk, sambil tersenyum malu.
"Oke, say. Abang akan terus melayani mu. Sampai kau merasa benar-benar puas, dengan pelayanan abang." balas bang Agus.
Bang Agus seakan mengerti, tentang kebutuhan batin ku, yang sedang menggebu-gebu tersebut. Setelah itu, bang Agus pun kembali mengulang kegiatan nya. Dia semakin bersemangat, melakukan aksinya itu di atas tubuh ku.
Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Kamar hotel itu menjadi berisik dan riuh, dengan suara-suara indah, yang keluar dari bibir ku.
Setelah beberapa kali melakukan kegiatan panas itu, kami berdua pun memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku kembali membuka kios, dan merebahkan diri di atas sofa panjang.
"Huh, lelah nyaaa!" gumam ku.
Aku membuang nafas kasar, dan menatap ke arah langit-langit ruang tamu, dengan pandangan kosong. Aku kembali memikirkan sikap bang Darma, yang semakin hari semakin bertambah kebodohan nya itu.
Tak lama kemudian, orang yang sedang di pikirkan pun pulang. Bang Darma melangkah masuk ke dalam rumah, dengan raut wajah yang masih di tekuk lesu.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Seperti biasa, aku menyambut kepulangan nya, dengan mencium punggung tangan nya takzim. Setelah itu, bang Darma pun langsung duduk di sebelah ku. Dia kembali mempertanyakan, tentang niat nya semalam.
"Jadi gimana, dek?" tanya bang Darma.
"Gimana, apa nya?" tanya ku balik.
"Tentang yang abang bilang semalam lah, dek. Masa gitu aja lupa, sih!" balas bang Darma kesal.
Kening ku langsung mengkerut, mendengar ucapan nya yang cukup ketus menurut ku. Aku pun menarik nafas dalam-dalam, lalu menjawab pertanyaan nya tersebut.
"Keputusan ku masih tetap sama, seperti yang aku katakan semalam. Aku gak akan memberikan perhiasan ku, walau secuil pun pada abang, ingat itu!" tegas ku.
Mendengar penuturan barusan, bang Darma langsung emosi. Dia membentak ku, dengan suara yang cukup memekakkan telinga bagi ku.
__ADS_1
"Kau mau jadi istri durhaka ya, DEK? Semakin lama, sikap mu itu kok semakin keras kepala gitu, sih!" bentak bang Darma pada ku.
Aku pun langsung tersentak kaget, mendengar suara nya tersebut. Dada ku berdegup kencang tidak karuan di buat nya. Mata ku langsung membulat sempurna, menatap wajah garang suamiku itu.
"Ya Allah, ada apa dengan suami ku ini? Kenapa semakin menjadi-jadi seperti ini, sikap nya dengan ku?" batin ku.
Dengan nafas yang sudah tidak beraturan, aku pun menjawab semua pertanyaan bang Darma. Aku berdiri tepat di hadapan nya, sambil berkacak pinggang.
"Maksud mu itu apa, hah? Kalau memang kau ingin berpisah dari ku, tidak begini caranya, BANG!" pekik ku dengan suara lantang.
"Aku juga tidak akan melarang, atau pun menahan mu untuk hidup dengan ku." lanjut ku.
"Jika memang kau ingin kembali, dengan mantan mu yang gila itu, silahkan! Sekarang juga, aku akan melepaskan mu untuk mereka!" tambah ku lagi.
Bang Darma langsung terdiam seketika, karena mendengar kemarahan ku yang meledak-ledak seperti itu. Dia menatap mata ku, dengan tatapan yang tajam.
Sedangkan aku, malah membuang muka ke arah lain. Aku tidak ingin melihat tatapan nya, yang sangat menakutkan tersebut. Karena melihat aku membuang muka, bang Darma pun kembali berceloteh ria kepada ku.
"Kok malah jadi menjalar kemana-mana sih, dek? Abang itu, cuma ingin meminjam perhiasan mu, bukan nya malah berpisah dengan mu, dek!" balas bang Darma.
"Kau itu sudah salah mengartikan, ucapan abang tadi. Abang gak ada maksud sedikit pun, untuk berpisah dengan mu, dek! lanjut bang Darma.
"Trus, kalau aku tidak mengizinkan abang, untuk meminjam perhiasan ku. Apa yang akan abang lakukan dengan ku, hah?" tanya ku.
Bang Darma kembali membisu, dia terpaku di tempat duduk nya, sambil terus menatap mata ku. Setelah membuang nafas dengan kasar, bang Darma pun kembali membuka suara nya.
"Ya udah, gak papa. Biar abang cari pinjaman uang, di luar aja! Abang gak akan pernah ganggu, perhiasan adek lagi." balas bang Darma pasrah.
"Bagus lah, kalo gitu! Semoga aja, abang cepat sadar. Atas kebodohan yang sudah mendarah daging, di dalam tubuh abang itu." balas ku ketus.
"Apa maksud mu ngomong seperti itu, dek?" tanya bang Darma.
"Pikir aja, sendiri!" balas ku menutup percakapan.
__ADS_1