
Setelah terlelap selama beberapa jam, Ayu pun mulai membuka mata dan menggeliat kan badan nya ke kanan dan ke kiri. Karena merasa ada pergerakan di sebelah nya, Darma pun ikut membuka mata dan menguap lebar.
"Eh, udah bangun rupanya sayang ku ini, hoam." ujar Darma sambil terus menguap.
Ayu tidak menghiraukan ucapan suaminya, ia hanya menoleh sekilas lalu beranjak dari ranjang. Setelah menyampirkan handuk di pundak nya, Ayu pun melangkah keluar menuju kamar mandi.
"Loh, mau kemana, dek? Di ajak ngobrol kok malah pergi sih? Gak sopan banget." gerutu Darma kesal.
"Mandi," jawab Ayu sambil terus melangkah kan kaki nya.
"Tunggu lah, dek. Abang mau ikut mandi juga." pekik Darma.
Lalu ia pun bergegas turun dari ranjang, dan melilitkan handuk ke pinggang nya. Dengan langkah lebar, Darma pun menyusul Ayu ke kamar mandi.
Sedangkan Ayu, ia sama sekali tidak menggubris ucapan Darma, ia terus saja melenggang pergi meninggalkan suami nya.
Selesai mandi, Ayu dan Darma pun kembali ke dalam kamar, hanya dengan menggunakan handuk pendek di tubuh mereka masing-masing.
Saat hendak membuka lemari pakaian, Darma pun mendekati Ayu dan memeluk tubuh istri nya itu dari belakang.
"Dek, abang boleh minta jatah gak? Lagi pengen nih." tanya Darma, lalu menciumi tengkuk leher Ayu dengan nafas yang mulai memburu.
Ayu terdiam sejenak, ia memandangi Darma yang sedang asyik menikmati kegiatan nya dari pantulan cermin.
"Kalau aku tolak, pasti ujung-ujungnya jadi berantem. Huh, males banget kalau harus cekcok lagi sama dia." gerutu Ayu dalam hati, lalu menghela nafas panjang.
Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya Ayu pun menyetujui permintaan suami nya.
"Oke, tapi jangan lama-lama ya!" balas Ayu.
"Gak lama kok sayang, palingan tiga jam doang." canda Darma sembari menggigit pelan telinga Ayu.
"Hah, tiga jam? Udah gilak kau ya? Bisa rontok lah semua tulang-tulang ku ini kau buat." omel Ayu dengan mata terbelalak.
Darma tidak membalas perkataan Ayu. Ia tetap sibuk menciumi leher dan pundak Ayu dari belakang. Karena sudah tidak sanggup menahan hasrat nya, Darma pun mengangkat tubuh Ayu ke atas ranjang.
Setelah itu, Darma membuka handuk yang melilit di tubuh mereka berdua, dan mencampakkan nya ke sembarang arah.
"Hari ini kau terlihat sangat cantik, sayang." gombal Darma, sembari tersenyum menyeringai memandangi wajah istri nya.
"Halah, modus." cibir Ayu lalu memalingkan wajah nya ke samping.
Melihat tingkah Ayu yang sedang malu-malu kucing, Darma pun semakin melebarkan senyumnya. Dengan posisi yang sedang mengungkung tubuh Ayu, Darma pun mulai mendekat kan wajah nya, dan mencium bibir ranum Ayu dengan mesra.
Mendapat perlakuan lembut dari Darma, Ayu pun mulai terlena dan membalas cumbuan suami nya dengan hasrat yang mulai tinggi.
Darma tampak bahagia, ketika melihat reaksi Ayu yang sudah mulai bergairah akibat cumbuan nya. Setelah puas menciumi bibir Ayu, Darma pun beralih kearah dua benda kenyal yang sangat padat dan berisi tersebut.
Dengan wajah berbinar, Darma pun mulai menempelkan bibir nya di ujung benda kenyal itu, dan melahap nya dengan rakus.
__ADS_1
"Ahh," desah*n-desah*n nikmat pun mulai keluar dari bibir Ayu.
Ayu tampak sangat menikmati kegiatan suaminya dengan mata terpejam. Ia terus saja mendes*h dan meliuk-liukkan tubuh nya. Saat Darma hendak melanjutkan cumbuan nya ke arah gua Ayu, tiba-tiba ia menarik lengan Darma sembari berkata...
"Udah cukup bang, gak usah di terusin lagi! Langsung masukin aja, aku udah gak tahan lagi nih." rengek Ayu dengan suara serak, akibat terbakar gairah nya sendiri.
Mendengar suara seksi Ayu, Darma pun langsung tersenyum dan menyetujui permintaan istri nya tersebut.
"Baik lah, sayang. Abang akan menuruti keinginan mu. Abang akan melayani mu sampai kau merasa puas." ujar Darma.
"Oke, lakukan lah! Buktikan kata-Kata mu itu." balas Ayu sembari menggigit bibir bawah nya.
"Siap, sayang." balas Darma dengan semangat empat lima.
Setelah percakapan selesai, Darma pun mulai mengarah kan belalai nya ke depan bibir gua Ayu. Setelah di rasa sudah tepat sasaran, Darma pun langsung memasukkan dengan satu hentakan kuat.
Tanpa basa-basi lagi, Darma pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Ayu semakin melayang-layang menikmati permainan nya.
Setelah saling memberi dan menerima selama hampir dua jam, Darma pun semakin mempercepat laju gerakan nya, hingga akhirnya...
"Aaakkkhhh," erangan mereka berdua pun menggema di setiap sudut ruangan kamar itu.
Selesai melakukan penyatuan, Darma pun menjatuhkan tubuh nya yang penuh dengan keringat di sebelah Ayu. Setelah beberapa menit beristirahat, Ayu pun mengajak Darma untuk membersihkan diri kembali.
"Mandi lagi yok, bang!" seru Ayu lalu bangkit dari ranjang, dan memungut handuk yang berserakan di lantai lalu memakai nya.
"Oke, yok!" balas Darma.
Selesai merapikan diri dan berdandan tipis, Ayu pun duduk di pinggir ranjang lalu menyalakan rokok nya. Begitu pun dengan Darma, ia duduk di samping Ayu, dan ikut menyalakan rokok nya. Setelah beberapa saat hening, Ayu pun mulai membuka suara nya.
"Jadi gimana rencana pindahan nya? Apa udah ada orang yang mau membeli rumah ini?" tanya Ayu membuka percakapan.
"Belum ada, abang belum tawarkan ke siapapun. Abang masih ragu untuk menjual rumah ini." jawab Darma lalu menghisap rokok nya.
"Loh, kenapa mesti ragu? Kan abang sendiri yang ngajak aku pindah dari sini, kenapa jadi ragu sendiri, aneh." oceh Ayu heran.
Ayu tidak habis pikir dengan jalan pikiran suami nya. Ia terus saja memusatkan pandangan nya kepada Darma, dengan tatapan menyelidik. Karena merasa di perhatikan, Darma pun menoleh dan menautkan kedua alisnya.
"Ada apa? Kenapa nengokin aku kayak gitu?" tanya Darma heran.
Bukan nya menjawab, Ayu malah semakin menajamkan tatapan nya, lalu bertanya...
"Jangan-jangan kau ragu karena tidak sanggup berpisah dengan para benalu mu itu?" selidik Ayu.
Wajah Darma langsung berubah pias, setelah mendengar penuturan Ayu barusan. Ia sama sekali tidak menyangka, jika istri nya akan menuduh nya seperti itu.
"Jangan mengada-ada! Siapa juga yang berat meninggalkan mereka? Yang abang berat kan itu cuma rumah ini, bukan mereka, paham!" bantah Darma tegas.
__ADS_1
Visual : Darma
"Helehh, alasan. Kau pikir aku bakalan percaya dengan mulut berbisa mu itu, hah? Jangan harap Ferguso!" balas Ayu ketus, lalu tersenyum sinis menatap Darma.
"Kalau gak percaya, ya sudah." balas Darma tak kalah ketus.
Visual : Ayu
Ayu semakin melebarkan senyum nya, ketika melihat wajah kesal Darma yang tampak lucu menurut nya. Setelah itu, ia pun menghisap rokok nya kembali lalu berkata...
"Kalau memang kau merasa berat untuk melepaskan mereka, lebih baik kau ajak saja mereka tinggal bersama mu." ujar Ayu dengan santai nya.
"Lah, trus kau gimana? Apa kau mau, tinggal satu atap dengan mereka berdua?" tanya Darma bingung.
"Cih, ora sudi!" jawab Ayu dingin.
"Lah, trus karep mu piye sih, nduk?" tanya Darma dengan bahasa Jawa.
"Kalian bertiga aja yang tinggal bersama, biar aku pulang kampung aja." jawab Ayu.
Darma langsung mengerutkan kening nya, ketika mendengar penuturan Ayu. Ia sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran istri nya saat ini.
"Gak boleh, enak aja mau pulang kampung. Trus nasib abang gimana, kalau dirimu pulang kampung? Masa tega sih, ninggalin abang sendirian disini." omel Darma kesal dan memasang wajah masam nya.
"Siapa yang bilang sendirian? Kan masih ada dua ekor parasit itu yang akan menemani mu disini." balas Ayu masih dengan mode santai nya.
"Males lah, abang mau nya dirimu, bukan mereka berdua." balas Darma lalu mematikan api rokok nya ke dalam asbak.
Setelah itu, ia pun merangkul pundak Ayu dan mengecup kening nya dengan lembut, lalu berucap...
"Jangan pernah tinggalin abang ya, dek! Abang gak akan sanggup berpisah dari mu. Cuma kau lah satu-satunya wanita yang abang cintai, untuk saat ini dan selama nya." ujar Darma dengan mimik wajah serius.
"Halah, ora coyo." cibir Ayu ketus.
Aku melepaskan rangkulan Darma, dan sedikit menjaga jarak dari suami nya. Ia tidak akan mudah meleleh dan tergoda, dengan gombalan-gombalan receh lelaki yang ada di hadapan nya tersebut.
Darma menghembuskan nafas kasar, mendengar ucapan Ayu. Ia tampak bingung, harus bagaimana lagi cara untuk meluluhkan hati istri nya itu.
Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan, Darma pun berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan.
"Dari pada suntuk di rumah, mendingan kita jalan-jalan aja yok, dek!" usul Darma.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Ayu.
"Terserah mau kemana aja, yang penting jalan-jalan. Gimana, mau gak?" tanya Darma balik.
Ayu terdiam sesaat, ia tampak sedang memikirkan ajakan suami nya. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Ayu pun menyetujui usulan Darma.
__ADS_1
"Boleh lah," jawab Ayu.