
"APA? Berani sekali kau mempermainkan ku, wanita bodoh!" bentak Yuni pada ku.
Yuni berdiri di hadapan ku, sambil berkacak pinggang. Gaya nya yang pongah, sudah mirip seperti ibu nya. Dia tampak sangat marah, dan geram dengan ku.
Sedang kan aku, tetap santai sambil terus berkipas-kipas ria, dengan uang ku itu. Aku sama sekali tidak menghiraukan dedemit, yang ada di hadapanku itu.
Melihat reaksi ku seperti itu, Yuni pun terlihat semakin emosi. Saat dia hendak melayangkan telapak tangan nya, ke arah pipi ku, aku pun langsung membuka suara kembali.
"Berani kau sentuh aku sedikit saja. Aku akan melaporkan mu ke polisi, sekarang juga!" ancam ku.
Setelah mendengar ancaman ku, Yuni pun langsung terpaku di tempat. Dengan telapak tangan, yang masih melayang di udara. Raut wajah nya tampak sangat terkejut dan ketakutan, karena ucapan ku barusan.
"Heh, perempuan gila. Cepat berikan uang itu pada ku, sekarang juga!"pekik Yuni.
"Seharusnya, aku yang paling berhak atas uang itu, bukan kau. Karena uang itu, adalah hasil keringat dari bapak ku." lanjut Yuni lantang.
"Oh, ya? Coba kau tanya kan sendiri, sama bapak mu itu! Ada gak, uang hasil keringat dia di sini?" balas ku.
Aku menggeprok-geprok kan uang itu di tangan ku, sambil tersenyum sinis pada anak tiriku itu.
Setelah lelah berdiri, Yuni pun kembali duduk di tempat nya semula. Dia menyilang kan satu kaki nya, dan melipat kedua tangan nya di perut. Dia melihat ku dengan wajah yang cemberut, dan tatapan mata yang tajam.
Setelah beberapa saat suasana sunyi mencekam. Yuni pun kembali bersuara, dengan nada angkuh dan sombong nya.
"Aku heran, lihat bapak ku! Kok bisa-bisanya, dia menikah dengan perempuan licik dan gila, seperti mu?" cibir Yuni.
Mendengar celotehan Yuni barusan, aku pun langsung menoleh pada Yuni, sambil tersenyum manis pada nya.
"Ya, karena aku cantik lah. Badan ku juga masih oke dan seksi. Apa mata mu udah rabun, ya? Sampe gak bisa lihat, kelebihan ku itu!" balas ku tak mau kalah.
"Cih, kepedean kali jadi orang! Badan kayak tong bodol gitu kok, di bilang seksi. Ngaca dong, ngaca!" cibir Yuni lagi.
"Seharusnya yang ngaca itu kau, bukan aku! Badan udah kayak triplek gitu, gak ada montok-montok nya dikit pun." balas ku.
"Kalo jalan hati-hati, ya! Takut nya nanti di kejar-kejar guguk, karena di kira tulang berjalan, hahaha!" lanjut ku.
Aku tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi wajah Yuni. Yang tampak sangat murka dan merah padam, seperti tomat busuk.
__ADS_1
"Dasar, perempuan GILA!" pekik Yuni.
Yuni beranjak dari tempat duduk nya, dan berjalan mendekati ku. Dia ingin mencakar wajah ku, dengan kuku-kuku tajam nya itu.
Aku pun tidak tinggal diam, aku langsung berdiri dan mencengkram dengan kuat, kedua tangan Yuni. Lalu, memiting tangan nya kebelakang. Yuni pun tampak meringis kesakitan, akibat ulah ku itu.
Dengan posisi Yuni yang sedang membelakangi ku, aku pun mulai membisik kan kata-kata manis, di telinga nya.
"Jangan terlalu lancang dengan ku, anak kurang ajar!"
"Kalau sampe sekali lagi, kau berani berbuat kasar dengan ku. Maka, aku tidak akan segan-segan lagi. Untuk mematahkan kedua tangan mu ini, camkan itu!" ancam ku.
Selesai berbisik manja di telinga Yuni, aku langsung mendorong pelan tubuh nya, hingga membuat nya terhuyung ke depan.
Setelah terlepas dari cengkraman ku, Yuni pun langsung mengelus-elus pergelangan tangan nya, sambil menatap tajam pada ku.
"Apa kau? Biji mata mu itu, mau minta di congkel, ya?" tantang ku sambil berkacak pinggang, di hadapan Yuni.
Mendengar ancaman gila ku itu, Yuni langsung bergidik ngeri, dan reflek menjaga jarak dengan ku.
"Kalian para benalu, sering ngata-ngatain aku perempuan gila kan? Apa sekarang kau mau melihat, kegilaan ku yang sebenarnya?"
Raut wajah nya, begitu tampak sangat gelisah. Yuni terus saja berjalan mundur. Hingga akhirnya, badan nya pun sudah menempel sampai ke dinding.
Aku mulai menghentikan langkah ku, dan berdiri tepat di hadapan Yuni. Yang hanya berjarak sekitar, satu jengkal saja dengan nya.
"Ka-kau mau nga-ngapain, hah?" tanya Yuni.
Keringat dingin pun, mulai bermunculan di kening Yuni. Dia bertanya dengan wajah yang terlihat gugup, dan terbata-bata.
"Jangan pernah bermain-main dengan ku, anak kecil! Atau, kau akan merasakan akibat nanti!" balas ku.
Aku mengancam Yuni, sambil menendang meja kayu yang berada tepat di samping nya, dengan sekuat tenaga ku.
"Praaang,"
Meja itu pun langsung terjatuh miring. Sehingga, membuat asbak rokok dan ponsel Yuni, serta barang-barang lain nya. Yang ada di atas meja itu pun pecah, dan jatuh berserakan di lantai.
__ADS_1
Melihat perbuatan ku itu, Yuni pun langsung terlonjak kaget dan berteriak histeris. Dia sangat ketakutan, dengan aksi gila ku itu.
"Aaaaaaaaa!" pekik Yuni.
Badan nya langsung merosot ke bawah, dan terduduk lemas di lantai. Yuni mulai menangis, bahkan sampai sesegukan di depan ku.
Melihat keadaan Yuni, yang tidak berdaya seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa kasihan sedikit pun, dengan nya.
"Sudah cukup selama ini, kalian menghina dan merendahkan ku, ya!" ucap ku.
"Mentang-mentang aku hanya diam, jangan kalian pikir aku itu lemah! Jangan kalian kira, aku itu bodoh!" bentak ku.
Yuni tidak berani menjawab apa pun pada ku. Dia tetap duduk kelesotan di lantai, sambil menangis. Aku menundukkan kepala untuk melihat Yuni, yang tampak masih setia dengan air mata buaya nya itu
Setelah menghela nafas dalam-dalam, aku pun kembali mengoceh pada Yuni.
"Lebih baik, kau angkat kaki dari sini sekarang juga! Sebelum batas kesabaran ku habis, dan mencabut nyawa mu disini." ancam ku.
Tanpa bersuara lagi, Yuni pun langsung berdiri dan berlalu pergi dari hadapan ku, karena mendengar kata-kata ku barusan.
Setelah melihat kepergian Yuni, aku kembali rebahan di atas sofa panjang, sambil memijat-mijat pelan kening ku. Aku sama sekali tidak menghiraukan, barang-barang yang masih berserakan di lantai.
"Oh iya, hampir saja aku lupa. Ponsel ku tadi masih merekam, gak ya?"
Aku menepuk jidat, sambil mengambil ponsel. Yang terselip di ujung sofa, tepat di bawah kaki ku.
"Alhamdulillah, ternyata ponsel ku masih menyala. Dan merekam semua kejadian tadi!" gumam ku.
Setelah menyimpan rekaman itu di galeri ponsel, aku segera berjalan masuk ke dalam kamar. Untuk menyimpan uang lima juta itu, ke dalam lemari pakaian.
Setelah itu, aku mulai membersihkan ruang tamu, yang terlihat sangat berantakan, akibat ulah ku tadi.
"Huh! Gara-gara si bocah tengik itu, rumah ku udah kayak kapal pecah gini, jadi nya."
Aku menggerutu kesal, sambil membereskan meja dan barang-barang, yang pecah berserakan dimana-mana. Setelah semua beres, aku kembali membaringkan diri di sofa.
"Hah, capek juga ternyata!" gumam ku.
__ADS_1
"Mudah-mudahan aja, setelah kejadian tadi. Mereka tidak berani lagi, mengganggu hidup ku." batin ku penuh harap.