
"Hufff, bikin tensi ku naik aja hantu gila satu ini." umpat ku sambil melemparkan ponsel ke atas ranjang.
Setelah perang mulut dengan bang Darma berakhir, beberapa menit kemudian bang Agus pun datang. Dia membawa cukup banyak bungkusan di tangan nya.
"Wah, banyak kali belanjaan nya, bang?" tanya ku.
"Iya, say. Abang memang sengaja beli banyak, untuk stok kita selama nginap disini." jawab bang Agus.
"Oh, gitu." balas ku.
Setelah meletakkan semua makanan itu di atas meja tv, bang Agus pun tercengang seketika saat melihat ponsel ku yang kembali berdering tanpa suara di atas ranjang.
"Ponsel mu nyala tuh, say. Ada yang nelpon kayak nya tuh." ujar bang Agus.
"Biarin aja, bang!" balas ku.
"Loh, kok malah di biarin. Emang nya siapa yang nelpon?" tanya bang Agus bingung.
"Hantu," jawab ku asal.
"Hah, masa sih hantu bisa main ponsel?" tanya bang Agus sedikit terkejut mendengar jawaban ku.
"Ya biasalah, hantu sekarang kan gaul- gaul." balas ku.
"Hahahaha, ada-ada aja." gelak bang Agus.
Aku hanya tersenyum melihat botak tuyul ku yang sedang terbahak-bahak, karena mendengar celotehan-celotehan aneh ku.
"Serius lah, say!" lanjut bang Agus.
"Iya serius, kalo gak percaya ya sudah." balas ku.
Bang Agus menggeleng-gelengkan kepala nya, lalu naik ke atas ranjang untuk mengambil ponsel ku yang sedari tadi terus saja berdering tanpa henti.
"Oalah, say...say...Yang nelpon suami mu kok malah di bilang hantu pulak, hahaha." ujar bang Agus kembali tergelak.
"Ya hantu kepala hitam maksud nya, hihihi." balas ku sembari cekikikan.
"Abang pikir tadi memang hantu beneran yang nelpon, ternyata hantu gila rupa nya, hahaha." lanjut bang Agus.
Aku kembali tersenyum melihat tingkah bang Agus yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak di depan ku.
"Kenapa gak di angkat, say? Angkat aja lah, mana tau dia ada perlu dengan mu!" ujar bang Agus.
Bang Agus memberikan ponsel yang sedang berdering itu ke tangan ku, kemudian dia pun mendudukkan dirinya di sebelah ku. Dengan berat hati, akhirnya aku pun kembali menerima panggilan dari bang Darma.
__ADS_1
Aku sengaja mengaktifkan pengeras suara nya, agar bang Agus juga bisa mendengarkan percakapan kami berdua.
"Ada perlu apa lagi kau telpan-telpon aku, hah?" tanya ku ketus.
"Ya tentang uang tadi lah, dek. Emang nya tentang apa lagi kalau bukan tentang uang itu. Cepat lah pulang, biar kita omongin di rumah aja!" balas bang Darma.
"Kuping mu itu pekak atau gimana sih? Tadi kan udah aku bilang, aku gak bakalan ngasih uang ku sepeser pun untuk mu. Apa belum jelas juga kata-kata ku tadi, HAH?" pekik ku.
Aku memekik dengan suara melengking hingga membuat bang Agus sampai tersentak, karena saking kaget nya mendengar suara ku barusan.
"Iya abang dengar, tapi kan..."
Tut tut tut...
Tanpa menunggu jawaban dari bang Darma, aku pun langsung memutuskan panggilan nya dan kembali melempar kan ponsel itu ke atas ranjang dengan kasar.
"Tuh, abang udah dengar sendiri kan dia ngomong apa barusan?" tanya ku.
"Iya, tapi uang apa yang di minta nya itu, say?" tanya bang Agus balik.
"Uang untuk biaya nikah mereka lah." jawab ku ketus.
"Astaga, masa sampe segitu nya sih sikap suami mu itu. Masa iya dia minta di biayain sama mu, udah bener-bener sinting tuh orang!" umpat bang Agus.
Bang Agus tampak sangat geram dan emosi, setelah mendengar percakapan ku dengan bang Darma tadi. Dia mengeratkan rahang nya dan genggaman tangan nya sendiri.
"Hah, ngapain ke sana?" tanya ku sedikit terkejut.
"Abang mau kasi pelajaran buat suami mu yang gak tau diri itu." jawab bang Agus.
"Ck, udah biarin aja lah, bang! Ngapain juga abang mesti repot-repot mikirin mereka. Mendingan kita makan aja yok, perut ku lapar banget nih." balas ku.
Setelah mendengar ucapan ku, bang Agus baru teringat dengan makanan yang sedari tadi di anggurin di atas meja tv.
"Astaga, karena saking geram nya dengan tingkah suami mu, abang sampe lupa kalo kita belum makan, hehehe." balas bang Agus sambil cengar-cengir.
"Gak usah kebanyakan nyengir gitu, serem tau gak. Ayo kita makan sekarang!" cibir ku sembari tersenyum miring meledek bang Agus.
"Hahaha, mana pulak serem. Orang ganteng gini kok di bilang serem. Udah mulai rabun mata mu ya, say?" balas bang Agus.
Bang Agus berceloteh sambil terus tertawa ngakak di samping ku. Setelah itu, dia juga menaik turunkan kedua alis nya dengan senyum yang mengembang lebar.
Aku kembali tersenyum geli melihat tingkah kocak selingkuhan lima langkah ku itu.
Setelah selesai bercanda ria dan berhaha-hihi berdua, aku dan bang Agus pun mulai memakan makanan yang di bawa nya tadi dengan lahap.
__ADS_1
Selesai makan, kami kembali duduk santai sambil menyalakan rokok masing-masing. Dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan, aku pun kembali membuka percakapan.
"Rumah tangga ku jadi berantakan seperti ini, akibat perbuatan ku sendiri. Aku yang duluan mengkhianati kepercayaan suami ku, hingga membuat nya berubah menjadi seperti sekarang ini." ujar ku panjang lebar.
"Gak semua nya salah mu kok, say. Kalau kau merasa bahagia hidup dengan nya, gak mungkin kau mencari kehangatan di luar, ya kan bener gak?" balas bang Agus.
"Iya, sih." jawab ku lirih.
"Udah gak usah sedih lagi, mendingan kita main lagi yok! Lihat nih dedek abang, udah tegak lurus gini!" ujar bang Agus sambil memperlihatkan benda milik nya pada ku.
Mata ku pun langsung membulat dengan mulut yang menganga lebar, saat melihat pemandangan yang sangat menggiurkan di hadapan ku saat ini.
Tanpa berkata apa pun lagi, aku langsung berjongkok di depan bang Agus yang sedang duduk di tepi ranjang. Setelah itu, aku pun langsung memasukkan nya ke dalam mulut ku.
Setelah beberapa saat memainkan benda itu di dalam mulut ku, akhirnya bang Agus pun mencapai puncak dan mengeluarkan nya di dalam mulut ku.
Aku pun langsung menelan nya dan dengan lahap, dan membersihkan area itu dengan lidah ku sampai bersih seperti semula.
Setelah selesai melakukan tugas ku, kini giliran bang Agus yang melakukan tugas nya. Dia mengangkat tubuh ku ala bridal style ke atas ranjang.
"Sekarang giliran abang yang akan memberikan pelayanan terbaik untuk mu, say." ujar bang Agus.
"Ya lakukan lah, bang. Berikan lah kepuasan itu pada ku. Aku sangat menginginkan saat ini." rengek ku manja.
"Oke, say. Abang akan turuti keinginan mu itu." balas bang Agus.
Dengan semangat yang menggebu-gebu, bang Agus pun mulai memanjakan area pribadi ku dengan lidah nya dengan durasi waktu yang cukup lama. Hingga membuat ku memuncak sampai berkali-kali.
Setelah merasa puas, bang Agus pun langsung menindih tubuh ku dan mulai melakukan permainan nya.
"Enak gak, say?" tanya bang Agus.
"Iya enak terusin aja, bang!" rengek ku dengan mata terpejam.
"Baik lah, sayang." balas bang Agus dengan senyum sumringah di bibir nya.
Aku terus saja memejamkan mata untuk menikmati permainan liar bang Agus. Setelah bermain selama kurang lebih hampir dua jam dengan berbagai gaya dan posisi, bang Agus pun akhirnya menyudahi kegiatan nya.
Dengan keadaan tubuh yang bermandikan keringat, bang Agus pun menjatuhkan dirinya di samping ku.
"Makasih ya, say. Abang puas banget dengan permainan kita tadi." ujar bang Agus.
"Iya sama-sama, bang. Aku juga sangat puas dengan pelayanan abang." balas ku sembari tersenyum bahagia.
Selesai bergumul ria di atas ranjang, aku dan bang Agus pun langsung membersihkan diri ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah itu, kami berdua masuk ke dalam selimut dan mulai memejamkan mata kembali.
Tak butuh waktu lama, aku dan bang Agus pun langsung tertidur pulas dengan posisi yang saling berpelukan, dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun di bawah selimut tebal.