SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Jujur Pada Bang Darma


__ADS_3

"Syarat nya adalah, abang harus tegas kepada Dina dan juga Yuni. Kalau mereka berdua kesini, abang harus mengusir mereka. Gimana, sanggup gak?" tanya ku.


Bang Darma langsung terdiam. Dia tampak sedang berpikir, setelah mendengar kata-kata ku tadi. Bang Darma menghisap rokok nya berulang-ulang lalu menjawab pertanyaan ku kembali.


"Kalau Dina yang datang, abang pasti akan sanggup mengusir nya, dek." jawab bang Darma.


Bang Darma menghela nafas sejenak, dia terlihat sangat gusar jika harus di suruh memilih antara aku atau anak nya. Setelah beberapa saat terdiam, bang Darma pun melanjutkan kembali ucapan nya.


"Tapi kalo Yuni, abang gak mungkin sanggup mengusir nya. Biar bagaimanapun juga, dia tetap anak abang, dek." lanjut nya lagi.


"Huh, sudah ku duga. Jawaban mu pasti tidak akan sanggup." balas ku.


Aku membuang nafas kasar sambil menghisap rokok ku kembali. Sedari awal aku sudah bisa menebak, kalau bang Darma pasti tidak akan sanggup untuk memenuhi syarat ku itu.


"Oke, sekarang gini aja. Abang harus memilih satu di antara kami. Abang pilih aku atau Yuni?" tanya ku.


Mata bang Darma langsung membulat mendengar pertanyaan aneh ku. Dia semakin tampak frustasi, sambil mengacak-acak rambut nya sendiri. Dia juga mengusap-usap kan kedua telapak tangannya di wajah nya.


"Ya gak bisa gitu lah, dek! Kau itu istri ku, sedang kan Yuni itu anak ku. Aku tidak akan bisa memilih satu di antara kalian." jawab bang Darma.


"Kalian berdua itu sama berarti nya buat ku, dek." lanjut nya lagi.


Aku sama sekali tidak menanggapi ucapan bang Darma, aku hanya diam sambil terus menghisap rokok ku.


Suasana pun kembali hening, aku dan bang Darma sama-sama diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Udah lah, dek. Jangan di permasalahkan lagi tentang mereka berdua, yang penting mulai sekarang mereka gak akan menggangu kita lagi. Abang bisa jamin itu!" ucap bang Darma.


Bang Darma berusaha meyakinkan ku, untuk tidak membahas masalah anak dan mantan istri nya lagi. Dia tampak sangat bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya barusan.


"Oke lah kalo gitu. Mulai detik ini, aku tidak akan perduli lagi dengan urusan anak mu. Dan aku juga tidak akan perduli dengan mu dan juga mantan mu yang gila itu."


Jawab ku tegas sambil mematikan api rokok di dalam asbak.

__ADS_1


"Jangan gitu lah, dek. Kalo adek gak perduli lagi dengan abang, trus yang ngurusin abang siapa?" tanya bang Darma.


"Urus diri masing-masing. Kalo gak, suruh aja mereka berdua yang ngurusin abang!" jawab ku santai.


Bang Darma langsung terdiam, ekor mata nya melirik sedikit ke arah ku yang masih tampak tenang dan santai di samping nya.


Beberapa menit kemudian, bang Darma mulai mendekati ku. Dia memeluk tubuh ku dan mencium pipi ku.


"Nanti aja kita bahas lagi ya. Sekarang abang mau minta jatah dulu." ujar bang Darma.


Aku tidak menjawab sepatah kata pun permintaan suami ku itu. Aku tetap saja diam, saat bang Darma merebahkan tubuh ku di atas ranjang. Dia menciumi wajah dan juga leher ku.


Setelah itu, bang Darma pun memulai aksinya.Tidak sampai lima menit, bang Darma menyudahi permainan nya.


Kemudian dia langsung beranjak dari ranjang, dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Dia meninggal kan ku begitu saja yang masih terlentang di atas ranjang dengan keadaan polos.


Aku merentang tangan ke atas meja untuk mengambil kotak tisu. Kemudian aku membersihkan hasil perbuatan nya tadi dengan tisu, sambil bergumam...


"Gimana aku gak selingkuh kalo permainan mu seperti ini? Kau hanya mementingkan hasrat mu sendiri, tanpa memperdulikan kepuasan ku." gumam ku pelan.


"Semalam nginap dimana, dek?"


Bang Darma bertanya sembari memiringkan badan nya menghadap ke arah ku. Di menopang kan kepala nya di atas telapak tangan nya.


Aku yang sedari tadi masih dalam keadaan polos dan sedang membersihkan bekas permainan bang Darma pun, langsung menjawab pertanyaan nya dengan jujur.


"Di hotel, emang nya kenapa?" tanya ku balik tanpa menoleh sedikit pun pada nya.


"Hah, di hotel? Sama siapa di sana?" tanya nya lagi.


Bang Darma tampak sangat terkejut mendengar kejujuran ku. Dia langsung duduk di samping ku dan menatap wajah ku dengan serius.


"Sama laki-laki lah, gak mungkin sama perempuan. Emang nya aku perempuan gak normal, nginap di hotel dengan sesama jenis?" jawab ku masih santai.

__ADS_1


Bang Darma membelalakkan mata nya. Dia semakin penasaran dengan kata-kata ku barusan. Dia mendekat kan wajah nya di depan ku, sambil berkata...


"Serius lah, dek! Abang nanya nya serius ini, bukan lagi main-main." desak bang Darma.


"Iya, aku serius. Maka nya jangan macam-macam sama aku, jangan abang pikir aku udah gak laku lagi dengan lelaki lain. Aku bukan seperti Dina yang mengejar-ngejar cinta lelaki." jawab ku jujur.


Mendengar nama Dina di sebut, bang Darma pun langsung tersulut emosi. Dia membentak ku dengan kata-kata yang cukup kasar bagiku.


"Yang aku tanya itu, KAU! Kenapa malah bawa-bawa nama Dina?" bentak bang Darma.


Wajah bang Darma tampak merah padam akibat emosi yang sudah memuncak. Dia mengeratkan rahang nya dan menatap ku dengan tatapan yang sangat tajam.


Mendengar bentakan bang Darma yang menggelegar, aku pun segera bangkit dari ranjang dan menyambar handuk yang tergantung di samping pintu. Lalu melilitkan handuk itu di dada ku.


"Emang nya kenapa kalau aku bawa-bawa nama dia, hah?" tanya ku lantang.


Aku berdiri di depan bang Darma sambil berkacak pinggang. Aku menatap dengan mata yang penuh kebencian kepada bang Darma.


Melihat reaksi ku yang juga tersulut emosi, bang Darma pun beranjak dari tempat duduk nya dan berdiri tepat di hadapan ku.


"Jadi sekarang mau mu apa, hah?" tanya bang Darma.


"Seharusnya yang bertanya itu aku, bukan kau! Apa mau mu sekarang?" tanya ku balik.


Aku mendongak ke atas, untuk menatap mata suamiku yang sedang melihat ku dengan wajah geram nya. Dia kembali mengeratkan rahang nya dan menarik kuat tangan ku.


Kemudian, bang Darma menghempaskan tubuh ku ke atas ranjang. Tubuh ku langsung terpelanting kuat di atas ranjang, dengan posisi miring dan handuk yang terlepas dari tubuh polos ku.


"Kau memang perempuan gak tau diri! Sudah berapa banyak laki-laki yang menyentuh tubuh mu ini, hah?" tanya bang Darma.


Aku hanya tersenyum miring menanggapi ucapan bang Darma. Aku mengambil handuk yang yang tergeletak di samping ku, dan melilitkan nya kembali ke tubuh ku.


Setelah itu, aku segera turun dari atas ranjang dan kembali berdiri di depan bang Darma.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar ingin tau, seberapa banyak lelaki yang sudah menyentuh tubuh ku ini, Darma?" tanya ku santai.


__ADS_2