SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Curiga


__ADS_3

Bang Darma terus saja mentertawai ku, lalu beranjak dari duduk nya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Aku menatap sinis pada nya, sambil bergumam...


"Dasar, wong edan!" umpat ku dengan suara pelan, tapi masih terdengar oleh telinga bang Darma.


"Heh heh heh, kuping abang belum budeg ya, dek. Abang dengar kata-kata mu tadi." pekik bang Darma dari dalam kamar.


"Lah, denger juga dia rupanya. Kirain gak denger tadi, hihihi." gumam ku sembari cekikikan.


Karena merasa bosan dan jenuh, aku pun mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, dan mulai terjun di media sosial. Sedang asyik melihat-lihat berita terkini, tiba-tiba masuk satu pesan yang berasal dari Rendi.


Ting...


"Gimana, Yu? Apa ada masalah?"


Bunyi pesan dari Rendi, dia tampak sangat mengkhawatirkan keadaan ku. Aku hanya tersenyum, saat membaca pesan dari mantan kekasih ku tersebut.


"Gak ada, bang. Semua baik-baik aja kok." balas ku.


"Oh, syukurlah kalo gitu. Dari tadi abang kepikiran terus dengan mu. Abang khawatir banget, takut terjadi apa-apa dengan mu." balas Rendi lega.


"Abang tenang aja, aku gak papa kok." balas ku berusaha meyakinkan Rendi, agar dia percaya kalau keadaan ku baik-baik saja.


Setelah mengetahui tentang keadaan ku, Rendi pun mengakhiri percakapan pesan nya.


"Oke lah kalo gitu, jaga diri baik-baik ya! Kalau terjadi apa-apa, cepat hubungi abang!" pesan penutup dari Rendi.


"Ya," jawab ku singkat.


Selesai berbalas pesan dengan Rendi, aku pun kembali berselancar di media sosial.


Sedang fokus-fokus nya membaca berita, tiba-tiba muncul lagi satu pesan yang berasal dari bang Agus, selingkuhan lima langkah ku tersebut.


"Lagi dimana, say?" bunyi pesan dari bang Agus.


"Lagi di kampung. Kenapa rupanya?" ujar ku asal.


"Hah, beneran?" tanya bang Agus tidak percaya.


"Iya beneran, botaaaakkk." jawab ku.


"Ah, gak mungkin. Jangan mengada-ada gitu lah, say. Bohong dosa loh." balas bang Agus.


"Gak percaya ya sudah." balas ku.


karena penasaran dengan ucapan ku, akhirnya bang Agus pun memiliki ide untuk memancing kejujuran ku.


"Ke warung lah, say! Abang pengen lihat dirimu." pinta bang Agus.


"Males," balas ku.

__ADS_1


"Ck, kok males sih? Ya udah deh kalo gak mau, biar abang aja yang datang ke rumah mu." balas bang Agus.


"Eh eh eh, jangan! Ada bang Darma di rumah." balas ku.


"Nah loh, ketahuan sekarang kan. Tadi kata nya lagi di kampung, kenapa sekarang ada di rumah?" balas bang Agus.


Aku tertegun sejenak, saat membaca pesan dari bang Agus. Beberapa detik kemudian, aku pun tersenyum-senyum sendiri, karena sudah ketahuan bohong oleh bang Agus.


"Hihihi, ketahuan juga akhirnya. Pintar juga ternyata botak ku ini." batin ku sembari cekikikan.


"Jangan senyum-senyum sendiri, say. Entar kesambet loh." lanjut bang Agus.


Kening ku langsung mengkerut, ketika melihat pesan yang di kirim bang Agus barusan.


"Loh, kok si botak bisa tau sih, kalau aku lagi senyum-senyum sendiri?"


Batin ku bingung, sambil terus menatap layar ponsel yang sedang menyala di tangan ku. Setelah beberapa saat termenung, aku pun kembali membalas pesan bang Agus.


"Siapa yang senyum-senyum? Gak usah sok tau deh." balas ku.


Tak lama kemudian, pesan bang Agus pun kembali muncul di layar ponsel ku.


"Halah, gak usah bohong lah! Abang bisa nengok dari sini kok, kalau dirimu lagi senyum-senyum sendiri di sofa." balas bang Agus.


"Hahaha, pintar juga rupanya abang nerawang ya. Kok gak jadi dukun aja sekalian, biar bakat terpendam nya itu keluar." balas ku.


Aku kembali tersenyum, menanggapi pesan dari bang Agus. Sedang asyik-asyiknya berbalas pesan dengan si botak tuyul, tiba-tiba bang Darma keluar dari kamar, dan memperhatikan gelagat aneh ku dengan alis yang saling bertautan.


"Lagi chattingan sama siapa sih? Kok senyam-senyum gitu?" tanya bang Darma penasaran.


Aku langsung tersentak kaget, ketika mendengar suara bang Darma yang secara tiba-tiba. Dengan cepat, aku pun langsung menghapus percakapan ku dengan bang Agus dan juga Rendi. Setelah selesai, aku pun kembali memasang wajah datar di depan bang Darma.


"Chattingan sama Naya. Dia ngajak aku jalan-jalan ke mall besok." bohong ku.


Aku menoleh sekilas ke arah bang Darma, lalu kembali fokus menatap layar ponsel yang masih ada di genggaman tangan ku. Melihat ekspresi wajah ku yang sedikit panik, bang Darma pun menajamkan pandangan nya lalu kembali bersuara.


"Helehh, bohong. Kau pikir aku gak tau apa, kalau kau lagi chattingan dengan para selingkuhan mu itu. Ya kan, ngaku aja deh!" bantah bang Darma.


"Jangan asal nuduh, kalau gak ada bukti yang jelas." balas ku ketus.


Mendengar ucapan ku, wajah bang Darma pun tampak emosi. Dia mulai mendekati ku, lalu merampas paksa ponsel yang ada di genggaman tangan ku.


Setelah mendapatkan nya, dia pun langsung memeriksa kotak pesan yang ada di ponsel ku tersebut. Aku hanya tersenyum miring, saat melihat bang Darma yang sedang sibuk mencari bukti perselingkuhan ku.


Karena tidak mendapatkan bukti apapun di dalam ponsel ku, akhirnya bang Darma pun pasrah dan menyerahkan ponsel itu kembali pada ku.


"Udah puas belum meriksa nya? Kalau belum puas, nah periksa lagi!" cibir ku sembari menyodorkan ponsel itu kepada bang Darma.


"Gak usah, percuma aja di periksa, gak bakalan nemu apa-apa lagi. Aku yakin, pasti tadi udah kau hapus semua chat nya, ya kan?" tuduh bang Darma dengan mata membulat.

__ADS_1


"Mana ada, seuzon aja otak mu itu." cibir ku ketus.


Bang Darma yang masih berdiri di depan ku pun, langsung melipat kedua tangan nya di perut. Kemudian dia tersenyum sinis menanggapi jawaban ku.


Setelah beberapa saat memandangi ku dengan wajah aneh nya, dia pun kembali berceloteh ria pada ku.


"Sampe kapan pun, maling gak akan pernah mengakui kesalahan nya. Kalau semua maling ngaku, penjara bakalan penuh." sindir bang Darma.


"Yupz, betul sekali. Termasuk kau salah satu nya." cibir ku.


"Kok aku pulak? Emang salah ku apa?" tanya bang Darma, seolah-olah tidak menyadari akan kesalahan yang sudah di lakukan nya.


Aku memutar bola mata malas setelah mendengar pertanyaan bang Darma, yang seakan-akan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun selama hidup nya.


"Pikir aja sendiri!" balas ku ketus.


Karena tidak ingin memperpanjang masalah, aku pun segera beranjak dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamar, tanpa memperdulikan bang Darma yang sedang terbengong menatap kepergian ku.


"Lololoh, kok malah pergi sih? Urusan kita kan belum selesai? Kenapa langsung melarikan diri gitu?" omel bang Darma sambil mengikuti langkah ku sampai ke dalam kamar.


"Siapa juga yang melarikan diri? Aku tuh ngantuk, mau tidur." jawab ku.


Aku merangkak naik ke atas ranjang, dan berbaring miring menghadap tembok sambil memeluk guling. Karena merasa di abaikan oleh ku, akhirnya bang Darma pun pasrah. Dia langsung terdiam dan mematung di samping ranjang.


Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba aku merasakan ada sepasang tangan yang menjalar di badan ku.


"Ck, mau ngapain lagi sih setan satu ini? Ganggu aja kerjaan nya." umpat ku kesal, lalu menghempaskan tangan bang Darma ke belakang dengan sekuat tenaga.


"Mau minta jatah." jawab bang Darma dengan enteng nya.


"Hah, ngomong apa tadi? Coba ulangi lagi!" tanya ku pura-pura tidak mendengar.


Bang Darma langsung berdecak kesal, karena mendengar pertanyaan ku tadi. Dia melingkar kan tangan nya di pinggang ku, dan memeluk erat tubuh ku, lalu berkata...


"Halah, gak usah pura-pura budeg gitu lah. Nanti budeg beneran, baru tau." oceh bang Darma.


"Siapa yang pura-pura sih? Orang aku memang gak denger kok. Kalau aku denger, untuk apa juga aku nanya lagi." elak ku.


Setelah mendengar penuturan ku, bang Darma pun mendekatkan mulut nya ke samping telinga ku, lalu berbisik...


"Mau minta jatah, sayaaaang."


Ujar bang Darma lalu mulai menciumi leher ku, dan meninggalkan beberapa jejak merah di sana.


"Ogah ah, badan ku masih capek nih. Besok aja kalau mau main." tolak ku mentah-mentah, lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan erat bang Darma.


"Eits, gak boleh gitu dong, sayang! Kalo nolak permintaan suami, dosa loh. Masa lapar nya sekarang, makan nya besok? Aneh-aneh aja." omel bang Darma.


"Bodo," balas ku ketus sambil terus menggeliat untuk melepaskan diri.

__ADS_1


__ADS_2