
"Kau kan banyak duit, pasti kau gak doyan makan yang beginian." balas Darma cuek, sambil terus memakan makanan nya.
"Siapa bilang aku gak doyan? Aku tuh dari kecil udah terbiasa hidup susah. Makan pakai minyak jelantah pun, aku juga udah pernah merasakan nya." jelas Ayu sewot.
Ayu segera beranjak dari tempat duduk nya, dan melangkah ke arah dapur untuk mengambil piring. Setelah itu dia kembali lagi ke ruang tamu, dan ikut makan bersama suami nya tersebut.
Darma sama sekali tidak memperdulikan ucapan Ayu, dia tetap saja melanjutkan acara makan nya, tanpa berkata apapun lagi.
"Eeggh, alhamdulillah." Darma bersendawa sambil memegang perut nya yang sudah kenyang.
Darma duduk selonjoran di lantai lalu menyalakan rokok nya. Dia memperhatikan istri nya yang tampak sangat lahap memakan masakan nya tersebut.
Sedangkan Ayu, dia terlihat santai dan tenang menyantap makanan itu, tanpa menghiraukan tatapan aneh Darma pada nya.
Setelah selesai, Ayu segera membereskan sisa makanan itu ke dalam lemari makan. Kemudian lanjut mencuci piring, serta alat-alat dapur yang sudah di gunakan Darma, sewaktu memasak tadi.
Setelah semua nya beres, Ayu kembali duduk di tempat semula, dan juga menyalakan rokok nya. Sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya, Ayu pun kembali membuka percakapan.
"Gimana kabar para benalu mu itu? Masih hidup kah mereka berdua?"
Tanya Ayu tanpa menoleh sedikit pun kepada Darma. Tatapan nya hanya fokus menatap layar tv yang ada di depan nya.
Mendengar pertanyaan Ayu, Darma pun langsung mengalihkan pandangannya, dan menjawab pertanyaan istri nya dengan nada ketus.
"Ya masih lah, malah tambah sehat pun padaan." jawab Darma.
"Ooohhh, kirain udah pada innalillahi." balas Ayu sembari tersenyum miring meledek Darma.
"Hush, sembarangan! Kalo mereka innalilahi, trus nasib aku gimana?" tanya Darma.
"Ya... Gak gimana-gimana lah. Kau itu kan playboy cap kadal, kau masih bisa mencari wanita lain di luaran sana, gitu aja kok repot!" cibir Ayu.
"Gak lah, aku udah malas yang begitu-begituan. Aku mau fokus sama yang ada aja." jawab Darma santai.
"Halah, gaya mu. Bilang aja kau gak mampu membiayai wanita lain, ya kan? Pake alasan fokus segala, basi tau gak." cibir ayu lagi.
"Buaya buntung itu gak bakalan bisa tobat. Kalau dia kelaparan, dia pasti akan mencari mangsa lagi di luar sana." sindir Ayu.
Darma menautkan kedua alisnya, dan menajamkan pandangan nya kepada Ayu. Dia tampak tersinggung dengan sindiran Ayu barusan.
__ADS_1
"Jangan asal njeplak kalo ngomong. Siapa juga yang mau nyari mangsa lagi? Jangan sama kan aku dengan mu, beda jauh soal nya." balas Darma sembari tersenyum sinis kepada Ayu.
"Emang aku kenapa?" tanya Ayu tidak mengerti.
"Kau itu kan perempuan rakus, suka celap-celup sana sini. Beda jauh sama aku." jawab Darma sambil menghisap rokok nya kembali.
"Lah, apa beda nya dengan mu? Kau juga suka gonta-ganti pasangan. Itu artinya nya kita sama dong, sama-sama rakus." oceh Ayu.
"Ya enggak lah, mana pulak sama. Kita itu udah beda kelas. Kau itu menjual, sedangkan aku hanya memuaskan." bantah Darma.
"Berarti masih jauh berkelas aku dong, dari pada kau. Aku di bayar, sedangkan kau gratisan, hahaha." gelak Ayu.
Wajah Darma langsung memerah, ketika mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Ayu. Dia tidak terima jika harga dirinya di injak-injak seperti itu, oleh istri nya sendiri.
"Heh, istri gila. Asal kau tau ya, aku melakukan itu hanya untuk kesenangan semata. Bukan kayak kau, yang rela melayani semua lelaki hanya untuk mendapatkan uang." cibir Darma.
"Hahahaha, Darma...Darma... Kau itu bego atau oon sih? Aku mau melayani mereka, bukan karena menginginkan duit nya saja, tapi karena kesenangan juga." jelas Ayu.
"Kurang enak apa lagi coba? Udah dapat kenikmatan, dapat duit lagi." lanjut Ayu sembari tersenyum miring.
"Cih, menjijikkan. Dasar, pelac*r murah*n! Mudah-mudahan aja, suatu saat nanti kau kena penyakit." umpat Darma geram.
"Heh, hantu belau. Jangan asal kalo ngomong! Ngaca diri dulu, baru ngata-ngatain orang." cibir Ayu.
Ayu tidak terima saat Darma menyumpahinya terkena penyakit. Hati nya terasa perih, saat mendengar kata-kata menyakitkan tersebut.
Sedangkan Darma, dia malah tersenyum sinis melihat wajah Ayu yang tampak sangat tersinggung, dengan ucapan nya barusan.
"Mampus kau kan, emang enak di sumpahi, hahaha!" batin Darma girang.
Ayu mengerutkan kening nya, saat melihat Darma yang sedang senyam-senyum tak jelas di depan nya.
"Apa kau tengok-tengok? Muka kayak kain lap aja pake senyam-senyum segala. Bukan nya tambah bagus, tambah serem lah iya." ledek Ayu ketus.
"Idih, siapa juga yang senyam-senyum sama mu. Gak usah kepedean kali jadi perempuan, orang aku lagi ngayalin tentang Yuni kok." bantah Darma.
"Halah, alasan." cibir Ayu.
"Gak percaya ya sudah." balas Darma cuek.
__ADS_1
Darma beranjak dari tempat duduk nya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Dia meninggalkan Ayu begitu saja di ruang tamu, tanpa berkata apapun lagi pada nya.
Sampai di dalam kamar, Darma merebahkan tubuh nya di atas ranjang, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong menerawang.
"Kenapa sih kalau udah jumpa sama dia, pasti bawaan nya emosiiiii terus, heran?" gumam Darma sembari memijat-mijat dahi nya.
"Oiya, hampir aja aku lupa. Aku pulang kesini kan, karena ingin mengambil uang untuk Yuni." lanjut Darma menepuk jidat nya.
"Kira-kira, dimana ya dia menyimpan uang dan perhiasan nya?" lanjut Darma, sembari mengedarkan pandangan nya ke seluruh sudut kamar.
Darma segera bangkit dari rebahan nya, dan mendudukkan diri di pinggir ranjang. Dia terus saja memperhatikan sekeliling kamar dengan teliti. Dan tiba-tiba, pandangan mata nya langsung terhenti, saat melihat lemari pakaian yang sedang terkunci rapat.
"Loh, kok tumben lemari itu di kunci? Biasa nya kan gak pernah. Apa jangan-jangan di situ ya, dia nyimpan nya?" batin Darma mulai curiga.
"Gak salah lagi, pasti di lemari itu dia menyimpan semua uang nya. Tapi gimana cara membuka nya ya? Kunci nya aja gak ada nyantol disitu." lanjut Darma bingung.
Dengan pikiran yang terus menduga-duga, Darma pun mulai berjalan mengendap-endap, menuju lemari kayu yang berada di sudut kiri kamar nya tersebut.
Sampai di depan lemari tiga pintu itu, Darma pun mulai celingukan kesana kesini untuk mencari kunci nya.
"Ck, dimana sih dia nyimpan kunci nya? Bikin pusing kepala ku aja nyariin nya." gerutu Darma sambil mengacak-acak kasar rambut nya sendiri.
Saat sedang sibuk memikirkan cara untuk membuka lemari itu, tiba-tiba Darma di kejutkan dengan tepukan di pundak nya. Dia terlonjak kaget, saat melihat Ayu yang sudah berdiri tegak di belakang nya, dengan memasang wajah horor nya.
"Mau ngapain kau disini, hah? Mau nyuri uang ku lagi ya?" tebak Ayu sembari melipat kedua tangan nya di atas perut.
"Ya...Ya gak lah, untuk apa juga aku nyuri uang haram mu? Ora sudi tau gak!" balas Darma gugup.
"Halah, gak usah sok suci lah. Dari awal aku udah tau kok, tentang niat busuk mu itu. Kau pasti mau nyuri uang ku lagi. Ya kan, ngaku aja deh!" desak Ayu.
"Jangan asal nuduh, kalau gak ada bukti. Aku bisa aja laporin kau ke polisi, atas tuduhan pencemaran nama baik." ancam Darma.
Mendengar ocehan Darma, tawa Ayu pun langsung pecah seketika.
"Hahahaha, coba aja kalo bisa. Aku gak bakalan takut dengan ancaman receh mu itu!" tantang Ayu sambil tertawa terpingkal-pingkal di depan suami nya tersebut.
"Oke, kita lihat aja nanti. Suatu hari nanti, aku pasti akan buktikan kata-Kata ku itu." lanjut Darma.
"Silahkan aja, aku akan tunggu dengan senang hati, hahaha." ujar Ayu kembali tertawa.
__ADS_1