SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Sedikit Rasa Penyesalan


__ADS_3

"Ooohhh, gitu." balas Rendi sembari manggut-manggut.


Aku dan Rendi terdiam sejenak. Kami sibuk dengan lamunan dan isi kepala masing-masing. Beberapa menit kemudian, Rendi pun kembali bertanya pada ku.


"Kalau suami mu ada di rumah, berarti kita gak bisa nginap lah ya?" tanya Rendi dengan wajah serius.


"Ya gak bisa, lain kali aja kalau mau nginap. Soal nya tadi aku pamit mau ke rumah sepupu." jawab ku.


"Yaaaahh, padahal tadi niat nya mau nginap dua malam sama mu. Eeehh, malah gak bisa pulak." tutur Rendi kecewa.


"Sabar, tunggu waktu yang tepat." lanjut ku.


"Huh, oke lah." balas Rendi pasrah sambil membuang nafas kasar.


Kami berdua pun kembali terdiam, aku dan Rendi sama-sama menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.


"By the way, gimana langkah mu selanjutnya, Yu?" tanya Rendi kembali membuka perbincangan.


"Maksudnya?" tanya ku balik, lalu menoleh pada Rendi dengan kening mengkerut.


Rendi membalas tatapan mata ku, lalu kembali menghela nafas. Dia tampak ragu untuk mengungkapkan isi hati nya pada ku.


"Sampai kapan kau mau hidup seperti ini? Apa gak ada niat di hati mu untuk meninggalkan laki-laki brengsek, seperti suami mu itu?" tanya Rendi balik.


"Niat sih ada, cuma belum waktu nya aja." jawab ku lirih.


Rendi menautkan kedua alisnya setelah mendengar jawaban ku. Dia terlihat bingung atas kata-kata ku barusan.


"Emang nunggu apa lagi sih? Setiap di tanya, pasti jawaban nya itu-itu terus. Bosan lama-lama abang dengar nya." oceh Rendi kesal.


"Loh, kok gitu? Aku yang jalani aja gak bosan, kenapa malah abang pulak yang bosan? Benar-benar aneh bin ajaib nih orang." jawab ku sewot.


Setelah mendengar penuturan ku, Rendi pun langsung bangkit dari rebahan nya, lalu memakai pakaian nya kembali. Begitu juga dengan ku, aku juga ikut bangkit dan duduk di tepi ranjang, sambil terus memperhatikan gerak-gerik Rendi dengan tatapan heran.


"Mau kemana?" tanya ku penasaran.


"Kita pulang aja, yok! Takut nya nanti suami mu kelamaan nunggu nya." jawab Rendi tanpa menoleh pada ku.


Dia masih tampak sibuk merapikan diri nya, dan memakai sepatu nya. Aku menautkan kedua alis saat mendengar ucapan Rendi. Aku semakin bingung dan tidak mengerti, dengan tingkah nya yang langsung berubah drastis seperti itu.


"Ini orang kenapa sih? Kok tiba-tiba aneh gitu? Apa dia tersinggung ya dengan kata-kata ku tadi?" batin ku.

__ADS_1


Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, akhirnya aku pun mengalah dan menuruti keinginan nya.


"Ya udah deh." balas ku pasrah.


Tanpa bertanya apa pun lagi, aku segera bergegas memakai pakaian dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar hotel tersebut. Setelah semua nya selesai, Rendi pun mulai mendekati ku dan memeluk erat tubuh ku.


"Kangen nya aja belum hilang, eh malah udah berpisah lagi." ujar Rendi sambil mempererat pelukannya, lalu mencium kening ku.


"Ya memang begini lah resiko nya, kalau menjalin hubungan dengan istri orang. Nama nya juga minjam barang orang, ya harus cepat di kembalikan sama yang punya." tutur ku.


"Iya, aku ngerti. Maka nya cepatlah kalian bercerai, biar kita bisa menikah secepatnya!" desak Rendi.


"Sabar, kalau memang kita berjodoh, pasti di pertemukan kok." balas ku.


"Iya lah." jawab Rendi lirih.


Rendi mulai merenggang kan pelukan nya, lalu mengambil dompet dari dalam saku celana nya. Setelah itu dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah, lalu menyerahkannya ke tangan ku.


"Nah, ini uang belanja mu." ujar Rendi.


"Oke, makasih ya, bang." balas ku.


"Iya, tapi hati-hati nyimpan uang nya. Takut nya nanti di colongin lagi sama suami gila mu itu." ujar Rendi memberi peringatan pada ku.


Melihat tingkah konyol ku, Rendi pun langsung tertawa ngakak dan mengacak-acak rambut ku, sembari berkata...


"Dasar, bocah gemblung!" umpat Rendi dengan senyum sumringah di wajah tampan nya.


"Hihihi," aku hanya cekikikan mendengar umpatan Rendi pada ku.


"Masih ada gak barang-barang mu yang tertinggal disini?" tanya Rendi sembari celingukan kesana kesini.


"Gak ada, udah di sini semua kok." jawab ku sembari menunjuk tas ransel yang ada di bahu kiri ku.


"Oh, ya udah kalo gitu. Yok, kita keluar!" seru Rendi.


"Oke," balas ku lalu menggandeng tangan Rendi.


Selesai berbincang-bincang, kami berdua pun melangkah keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju ke lantai dasar.


Setelah menyerahkan kunci kepada resepsionis, aku dan Rendi kembali melangkah keluar dari gedung hotel. Sampai di parkiran, Rendi menawarkan diri untuk mengantarku pulang ke rumah.

__ADS_1


"Abang antar sampai ke rumah mu ya, Yu?" tawar Rendi.


"Gak usah repot-repot, aku bawa motor sendiri kok." tolak ku.


Oh, ya udah deh. Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut bawa motor nya!" pesan Rendi.


"Iya, abang juga hati-hati." balas ku lalu memakai helm dan naik ke atas motor.


"Oke," balas Rendi mengangguk kan kepala dan masuk ke dalam mobil nya.


Selesai berpamitan, aku pun menyalakan mesin motor dan melajukan nya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di depan rumah, aku segera memarkirkan motor di teras, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.


Ceklek...


"Assalamualaikum," salam ku.


Tidak ada jawaban salam dari bang Darma. Suasana rumah masih terlihat sepi, sama seperti saat ku tinggal untuk menemui Rendi tadi.


"Kok sepi? Apa hantu gila itu masih tidur ya? Atau jangan-jangan, dia udah minggat ke rumah mereka?" batin ku menduga-duga.


Setelah mengunci pintu utama, aku berjalan menuju kamar sambil celingukan kesana kemari, untuk mencari keberadaan bang Darma.


Sampai di kamar, aku langsung menggeleng-gelengkan kepala, ketika melihat bang Darma yang masih tampak anteng dengan mimpi indah nya.


"Oalah, masih molor rupanya kebo satu ini. Kirain udah pergi ngeluyur tadi." gumam ku sembari tersenyum miring.


Karena tidak ingin mengganggu tidur nya, aku pun berjalan pelan dan berjinjit-jinjit ke arah meja yang berada di samping ranjang. Persis seperti maling yang ingin mencuri di rumah orang.


Setelah menyimpan tas di dalam laci meja, aku pun mendudukkan diri di tepi ranjang lalu menyalakan rokok.


Sambil menghisap rokok, sesekali ekor mata ku melirik ke arah bang Darma, yang masih tertidur pulas dengan posisi telentang, dan masih polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh nya.


"Dia ini tidur atau pingsan sih? Kok gak bangun-bangun dari tadi?" gumam ku heran.


Aku memperhatikan wajah teduh bang Darma dengan tatapan sayu. Dia tampak tenang dan damai, dengan deru nafas yang naik turun secara teratur.


Tanpa ku sadari, tiba-tiba air mata ku mulai menetes dan membasahi kedua pipi ku. Ada sedikit rasa penyesalan di hati ku, karena sudah mengkhianati cinta nya.


"Andaikan saja aku tidak bermain api di belakang mu, mungkin sampai saat ini hubungan kita masih baik-baik aja bang." gumam ku pelan.


"Ini semua memang salah ku. Aku lah penyebab kehancuran rumah tangga kita." lanjut ku sembari menghapus air mata dengan punggung tangan ku.

__ADS_1


"Maaf kan aku, bang. Maaf kan aku." tambah ku lagi.


__ADS_2