
"Jangan sedih, dek! Abang janji, kalau abang akan berbuat adil kepada kalian berdua nanti nya." ujar bang Darma sambil membelai rambut panjang ku.
Setelah mendengar ucapan bang Darma, aku langsung melepaskan diri dari pelukan nya dan menghapus air mata ku dengan kasar, lalu berkata...
"Udah, pergi sana! Aku mau mengistirahatkan otak ku dulu." balas ku ketus.
"Loh, kok gitu sih, dek. Kita kan belum selesai membahas masalah ini, kok main pergi gitu aja sih!" gerutu bang Darma.
"Masalah apa lagi sih yang mau di bahas? Tadi kan udah aku bilang, kalau aku udah mengizinkan kalian untuk menikah. Trus apa lagi yang kurang, hah?" tanya ku geram.
"Uang yang abang minta tadi mana? Kalau gak ada uang itu, gimana abang bisa menikahi Dina?"
Tanya bang Darma balik sambil menadahkan telapak tangan nya kembali di hadapan ku. Dia tetap kekeuh meminta uang ku untuk biaya pernikahan nya dengan benalu itu.
"Dasar laki-laki gak punya otak! Kau pikir aku sebaik itu, sampai-sampai mau membiayai pernikahan mu, hah? Sorry, aku bukan perempuan sebaik yang kau kira." tolak ku tegas.
"Tolong bantu abang sekali niiiii aja, dek! Abang janji akan mengembalikan uang itu kalau abang udah kerja nanti." rengek bang Darma.
Tanpa menghiraukan rengekan bang Darma, aku pun segera beranjak dari tempat duduk dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Sampai di kamar, aku langsung menjatuhkan diri di atas ranjang dengan posisi telungkup. Aku membenamkan wajah ke bantal dan berpura-pura tidur, agar bang Darma tidak membahas mengenai masalah itu lagi dengan ku.
Sayup-sayup ku dengar suara telapak kaki bang Darma yang memasuki kamar dan mendekati ku. Dia berdiri di samping ranjang sambil terus memperhatikan ku, yang masih berpura-pura memejamkan mata di depan nya.
Setelah beberapa saat berdiam diri memandangi ku, bang Darma pun mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kamar dan berlalu pergi dari rumah.
Setelah kepergian bang Darma, aku langsung membalikkan badan menjadi telentang, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong menerawang.
Air mata pun kembali mengalir di kedua pipi ku. Entah apa yang sedang aku tangisi, aku juga tidak tahu. Yang pasti nya saat ini, hati ku remuk dan hancur berantakan akibat permintaan suami ku itu.
Setelah beberapa saat merenung, aku segera bangkit dari rebahan dan duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok.
"Dari pada berdiam diri disini, mendingan aku bersenang-senang di luar. Tapi tujuan nya kemana ya?" gumam ku bingung.
"Ah, main ke rumah Naya aja lah. Udah lama juga gak main ke sana." lanjut ku.
Aku segera bergegas mengambil dua pasang baju dari dalam lemari pakaian, lalu memasukkan nya ke dalam tas ransel yang tergeletak di atas ranjang.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung melangkah keluar dan mengunci pintu. Setelah itu, aku bergegas menaiki kendaraan roda dua ku yang terparkir rapi di teras depan rumah.
Sesampainya di rumah Naya, aku segera turun dari motor dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
__ADS_1
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Nay." salam ku.
"Wa'laikum salam, ya tunggu bentar!" pekik Naya dari dalam rumah nya.
Tak lama kemudian, Naya pun membuka pintu dan langsung terpaku melihat kedatangan ku yang secara tiba-tiba ke rumah nya.
"Hai, apa kabar?" sapa ku sembari tersenyum dan melambaikan tangan pada Naya.
"Helehh, gak usah pake acara basa-basi segala, ayo cepetan masuk!" balas Naya.
"Hahaha, judes banget sih hantu satu ini." gelak ku.
Aku melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi ruang tamu bersama Naya.
"Hmmmm, kau gak marah sama aku ya, Nay?" tanya ku ragu.
"Marah kenapa?" tanya Naya bingung dengan kening mengkerut.
"Soal Rendi." jawab ku.
"Oh, masalah itu. Ya gak lah, kenapa aku mesti marah? Kalau Rendi memang gak mau sama aku, ya aku juga gak bisa memaksa nya." jelas Naya santai.
"Ya gak lah, Yu. Gak usah berpikiran yang aneh-aneh deh!" ujar Naya.
"Ya udah, aku juga gak akan mikirin masalah itu lagi." balas ku.
Aku dan Naya sama-sama berdiam diri sejenak, kami sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing. Beberapa menit kemudian, Naya pun mulai melontarkan pertanyaan nya pada ku.
"Ngomong-ngomong, apa kabar rumah tangga mu sekarang, Yu? Masih baik-baik aja kan?" tanya Naya.
"Makin parah, Nay." jawab ku.
"Hah, makin parah gimana maksud nya?" selidik Naya.
Setelah menghembuskan nafas kasar, aku pun mulai menceritakan tentang rumah tangga yang sedang aku jalani saat ini kepada Naya.
"Suami ku mau rujuk lagi sama mantan istri nya, Nay. Mereka akan menikah siri dalam waktu dekat ini. Tadi suami ku sudah meminta izin dengan ku untuk menikahi mantan nya itu." jelas ku.
"HAH, yang bener, Yu?" pekik Naya sambil membelalakkan mata nya.
__ADS_1
"Iya bener, itu lah yang terjadi di dalam rumah tangga ku saat ini." jawab ku lirih.
"Ya Allah, Yu. Kok jadi makin parah kayak gini sih cerita nya." ujar Naya sambil menggeleng kan kepala nya.
"Trus kau jawab apa waktu suami mu minta izin untuk menikah lagi? Jangan bilang kalau kau sudah mengizinkan nya!" tanya Naya lagi.
"Ya habis nya mau bagaimana lagi, Nay. Mau gak mau, aku tetap harus mengizinkan mereka. Dari pada ribut terus gara-gara masalah itu, mendingan aku izin kan aja mereka bersatu lagi." jelas ku.
"Iya juga sih, Yu. Tapi kan batin mu bakalan makin tertekan kalau di madu kayak gitu." ujar Naya khawatir.
"Apa kau gak sakit hati kalau melihat suami mu bercinta dengan wanita lain?" tanya Naya.
"Ya pasti sakit hati lah, Nay. Biar pun udah gak ada rasa cinta lagi di hati untuk nya, tapi aku tetap aja gak rela kalau harus berbagi suami kayak gini." tutur ku menjelaskan.
"Ya iya lah, siapa juga yang mau berbagi suami kayak gitu bikin sakit hati aja." gerutu Naya.
"Kenapa gak pisah aja sih, Yu? Ngapain juga kau pertahankan laki-laki kayak gitu?" lanjut Naya mulai kesal.
Aku langsung terdiam seketika, kepala ku mendadak nyeri karena mendengar ocehan-ocehan sepupu bawel ku itu.
"Aduuuh, kepala ku sakit banget, Nay! Kau ada nyimpan obat sakit kepala gak?" tanya ku.
Aku meringis kesakitan sambil memegangi kepala yang semakin nyut-nyutan tidak karuan. Naya yang melihat reaksi ku seperti itu pun langsung panik dan gelagapan.
"Lololoh, kau kenapa, Yu? Kok tiba-tiba bisa sakit kepala gini sih?" tanya Naya heran.
"Udah gak usah banyak tanya lagi, cepat ambilkan obat nya sana!" omel ku.
"Oke, tunggu bentar ya!" balas Naya.
Naya langsung berjalan dengan langkah cepat ke dalam kamar nya untuk mengambil obat.
Setelah mendapatkan nya, dia segera mengambil air putih di dapur dan kembali menghampiri ku di ruang tamu.
"Nah, ini obat sama air nya!" ujar Naya.
Naya memberikan obat itu ke tangan ku dan meletakkan gelas yang berisikan air putih di atas meja.
"Oke, makasih ya, Nay." balas ku.
Aku langsung meminum obat pemberian Naya, dan meneguk air putih itu sampai habis satu gelas besar.
__ADS_1
"Haus ya, Yu?" ledek Naya sambil tersenyum miring.
"Sssttt, berisik!" balas ku cuek.